Perceraian
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan panjang Helena. Bergegas dia lari kearah pintu dan membukanya. Siapa sangka dihadapannya saat ini adalah sang suami yang selalu dinantikan kedatangan olehnya.
"Kamu tidak membiarkan aku masuk?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang datar.
Helena tersenyum manis lalu mengajak suaminya masuk ke dalam kamar mereka. Haris duduk ditepi ranjang menunggu Helena menghampirinya dengan membawa segelas air minum.
"Diminum, Ar. Setelah ini mandilah, aku akan membawakan makan malam untukmu." Helena berniat beranjak dari ranjang, namun sudah lebih dulu ditahan oleh Haris. "Ada apa? Kamu-"
Belum sempat Helena melanjutkan kalimatnya tiba-tiba saja Haris mencium bibirnya. Tubuh Helena seketika mematung dalam pelukan erat milik Haris. Perlahan matanya terpejam menikmati setiap sentuhan bibir yang diberikan Haris pada bibir miliknya.
Merasa cukup Haris menyudahi ciumannya lalu melepaskan pelukan diantara mereka. "Ini bukan yang kamu inginkan?"
"A-apa maksudmu?"
Jari-jari Haris terangkat menyentuh paha mulus milik istrinya yang sengaja dibiarkan terbuka. Dengan gerakan perlahan dia merabanya hingga pinggul Helena.
"Setelah kita melakukannya, apakah kamu bersedia menceraikan aku?"
Helena menatap mata suaminya dengan air matanya yang mulai berlinang membasahi pipinya. Kebahagiaan yang semula menghinggapi hatinya perlahan berubah menjadi rasa kecewa yang teramat besar.
"Jangan harap aku akan luluh dengan air mata palsumu. Setuju atau tidak kamu harus bercerailah denganku. Besok Pedro akan mengantarkan berkas-berkas lengkapnya padamu. Sekarang tandatanganilah." Haris melemparkan secarik kertas berisi surat perceraian mereka, "Aku akan memberikan apapun yang kamu mau sebagai syarat perceraian. Katakan harta apa yang kamu butuhkan, aku akan memberikannya dengan suka rela termasuk rumah ini."
Helena mengambil secarik kertas tersebut lalu menandatanganinya tanpa mempedulikan keinginan hatinya.
"Mulai malam ini kita bukan lagi sepasang suami istri. Aku bebas.." Helena menghela nafasnya dengan berat, "Begitupun kamu. Terimakasih atas kebaikan hatimu selama pernikahan kita."
Bukannya tersentuh Haris justru tersenyum puas dengan keputusan Helena yang memudahkannya. Tanpa banyak berkata lagi dia berlalu pergi meninggalkan Helena yang sudah meraung-raung meratapi nasibnya yang malang.
Kedua kakinya tertekuk kaku untuk meredam suara tangisnya yang menggema di kamar itu. Sementara tangan kanannya membekap mulut serta menghapus air matanya yang tak kunjung mampu dituntaskannya.
"Apa kesalahan yang telah aku lakukan di kehidupan sebelumnya? Kenapa tidak ada satupun orang didunia ini yang mampu dengan tulus memberikan aku sebuah cinta? Ak-aku juga menginginkannya," isaknya tersedu-sedu.
Malam semakin larut tapi tangisan Helena tak kunjung mereda sampai tak sadar tubuhnya kian melemah dan kedua matanya terpejam.
Pagi-pagi sekali Pedro sudah berada di kediaman Bamantara dengan membawa berkas tebal yang berisi rincian perjanjian perceraian yang diminta oleh Haris sejak beberapa bulan yang lalu.
Usai kepulangan mereka dari Jepang lima hari yang lalu Haris terus saja mendesak Pedro untuk mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan perceraian termasuk pemisahan harta yang sudah dijanjikan Haris pada Helena sebelum pernikahan.
"Selamat pagi, Tuan Haris."
"Pagi. Dimana berkas yang saya minta?"
Pedro mengambil sebuah berkas dari tas jinjing lalu menaruhnya diatas meja ruang tamu, kemudian barulah Haris membacanya sambil menunggu Helena bangun dari tidurnya.
"Saya puas. Terimakasih atas kerja kerasnya, Pedro. Siang ini pergilah ke departemen SDM dan minta kenaikan gaji yang sudah saya janjikan padamu. Anggap saja itu bonus atas kerja kerasmu belakangan ini." Haris tersenyum puas melihat hasil pekerjaan Pedro.
"Terimakasih banyak, Tuan."
Haris meletakkan berkas tersebut lalu mengajak Pedro sarapan bersama di meja makan.
"Dimana Helena?" Haris bertanya sambil mengamati sekitar yang tampak tenang tanpa suara sang istri.
Bu Runi meletakkan hidangan terakhir diatas meja, "Nyonya belum bangun. Anda ingin saya bangunkan Nyonya, Tuan?"
Haris mengerutkan keningnya bingung. Jarang sekali Helena tertidur sampai waktu keberangkatannya ke kantor. Padahal hari sebelumnya wanita itu selalu berusaha bangun pagi untuk sekedar sarapan bersama dengannya, walaupun dia tidak pernah memperdulikan keberadaan sang istri.
"Tidak perlu. Beritahu Helena kalau saya menunggunya di kantor pada jam makan siang." Haris beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan sarapannya, begitupun dengan Pedro.
"Baik, Tuan."
Haris pergi setelah begitu lama mengharapkan Helena yang menyambutnya seperti dulu lagi. Kali ini dia berangkat ke kantor dengan perasaan sedikit kecewa yang tak mampu digambarkan baik oleh perasannya. Berbeda dari sebelumnya, dia merasa kalau Helena memang berniat bercerai seperti kemauannya.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
Sejak keberangkatan mereka dari rumah, entah mengapa Pedro merasa kalau Tuannya ini lebih banyak melamun dan tidak fokus seperti hari biasanya. Maka tak heran kalau dirinya mengkhawatirkan keadaan Tuannya.
"Bagaimana dengan kesehatan Nenek?" Haris mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Nyonya Riana sudah membaik. Saya dengar kalau Beliau sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Mungkin beberapa bulan kedepan Nyonya hanya perlu melakukan pengecekan rutin pada kesehatannya."
Sedikit rasa lega muncul dari benak Haris. Kekhawatirannya pada kesehatan sang Nenek perlahan memudar. Setidaknya dengan kesehatan Neneknya yang membaik, dia bisa lebih mudah dalam menyelesaikan urusan perceraiannya. Meskipun, dia tahu akan ditentang habis-habisan oleh Kakek dan Neneknya.
Pada pukul sembilan pagi Bi Runi berhasil membangunkan Helena yang tampak lesu diatas ranjangnya. Kedua matanya yang bengkak dan sayu membuat Bi Runi tak tega melihatnya. Walau bagaimanapun dia sudah menganggap Helena seperti putri kandungnya sendiri.
"Nyonya belum sempat makan malam kemarin. Jadi, saya buatkan bubur untuk sarapan Nyonya." Bi Runi menghidangkan semangkuk bubur hangat diatas nampan.
Helena tersenyum lembut dikala merasakan kehangatan perhatian dari sosok wanita paruh baya itu. Setiap kali dia menatap sosok Bi Runi, dia pasti akan teringat dengan mendiang ibunya yang sudah lama meninggal sejak usianya sembilan tahun. Merindukan sosok ibu tentunya membuat rasa kesepian dalam diri Helena kian meningkat, sehingga tidak jarang dia melampiaskannya dengan mencoba bermanja-manja dengan sang suami.
"Nyonya jangan kebanyakan melamun, nanti buburnya keburu dingin. Gimana kalau Bi Runi suapi?"
Tanpa basa-basi lagi Helena mengangguk mengiyakan. Suap demi siap dihabiskan oleh Helena dengan susah payah. Apalagi setelah merasa tenggorokannya menjadi sakit dan sulit untuk menelan makanannya.
"Terimakasih, Bi."
"Sudah menjadi tugas saya melayani Anda, Nyonya." Bi Runi memberikan segelas air hangat pada Helena.
Setelah membereskan semua pekerjaan rumah Bi Runi kembali mendatangi kamar Helena untuk mengecek keadaannya. Suhu tubuh Helena memang tak setinggi sebelumnya, tapi masih terasa hangat dikala menyentuh tangan dan kencingnya.
"Saya panggilkan dokter saja, ya?"
Helena menggeleng lemah sambil bersandar pada penyangga ranjang.
"Nyonya butuh sesuatu? Biar Bi Runi ambilkan." Bi Runi tak mampu lagi menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Ngga usah, Bi. Helena cuma butuh istirahat, sore nanti juga sudah membaik." Helena menyentuh punggung tangan Bi Runi untuk menyakinkan wanita itu.
Bermenit-menit kemudian Bi Runi kembali beranjak dari kamar Helena dan kembali ke dapur. Sebelum itu dia berniat menghubungi Haris untuk memberitahukan bahwa Helena sedang sakit sekarang.
"Ada apa, Bi?"
"Nyonya sedang sakit, Tuan. Saya tidak bisa memberitahu pesan Anda pada Nyonya."
Beberapa saat tidak ada balasan dari Haris, "Sudahlah. Biar nanti Pedro yang datang kesana."
Siang harinya Helena turun setelah merasa pusing di kepalanya mulai mereda. Dengan dipapah oleh BI Runi dia turun dan duduk di meja makan.
"Silakan dimakan, Nyonya. Saya buatkan sup ayam kesukaan Anda."
Helena memakan sup itu sambil mengamati Bi Runi yang sibuk di dapur membuatkannya ramuan herbal. Sudah menjadi hal yang biasa baginya menikmati ramuan herbal buatan Bi Runi dikala tubuhnya merasa kurang fit.
"Selamat siang, Nyonya." Pedro tiba-tiba datang menghampiri Helena dengan membawa berkas yang dijanjikan oleh Haris kemarin malam.
"Siang, Pedro. Sudah makan siang?"
"Sudah, Nyonya. Maaf menganggu waktu makannya, saya datang kesini untuk menyampaikan berkas dari Tuan Haris." Pedro meletakkan berkas tersebut diatas meja. "Silakan dibaca setelah Nyonya selesai. Saya bisa menunggu."
Helena mengambilnya, "Saya sudah selesai. Tidak perlu menunggu, kamu pasti punya pekerjaan lebih penting daripada menunggu saya."
Dengan gerakan cepat Helena membaca satu persatu isi dari berkas tersebut, merasa tidak ada yang merugikannya segera dia menandatanganinya dan menyerahkan kembali pada Pedro tanpa banyak bertanya.
"Kapan gugatan akan diajukan ke pengadilan?" Helena bertanya dengan santainya, seperti bukan dirinya dimasa lalu yang berambisi besar mempertahankan rumah tangganya.
"Hari ini sudah bisa saya ajukan."
"Baguslah. Terimakasih sudah membantu saya selama ini Pedro. Saya harap dikemudian hari kita bisa masih berkomunikasi dengan baik." Helena beranjak dari meja makan dan berjalan kearah kamarnya.
Pedro menatap kepergian Helena dengan tidak enak hati. Membayangkan kekecewaan yang dimiliki oleh Helena pada keputusan pernikahan yang diambil oleh Haris secara sepihak.
Selama tiga tahun terakhir dirinya tentu tahu bagaimana upaya Helena mempertahankan dan mencoba mendapatkan hati dari suaminya. Meskipun, harus mendapati cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Nak Pedro sudah mau pergi?" Bi Runi menghampiri Pedro yang masih berdiri kaku disamping meja makan.
"Sudah, Bi."
Bi Runi mendekat dan mempersempit jarak dengan Pedro sambil berbisik dia berkata, "Apa Tuan dan Nyonya benar-benar akan bercerai?"
"Iya, Bi. Tuan Haris sudah mengajukan gugatan ke pengadilan sejak kemarin, namun baru sekarang bisa diproses." Pedro mengambil nafas panjang setelahnya.
Pada pukul dua siang Pedro kembali ke kantor setelah menyelesaikan pengajuan gugatan perceraian dari Haris. Sebelum kembali Pedro lebih dulu membelikan makan siang untuk Haris yang nampaknya belum ada niatan untuk mengisi perut.
"Apa Helena sudah menandatanganinya?" Haris bertanya dengan cemas.
"Sudah, Tuan. Nyonya sudah menandatangani semua surat perjanjian dalam berkas tersebut." Pedro mengangguk seraya menyajikan makan siang untuk Haris.
Haris mengamati makanannya yang disajikan Haris diatas mejanya, "Apa Helena masih bersikeras membawakan saya makan siang? Bukankah say-"
"Saya yang membelinya, Tuan." Potong Pedro setelah selesai menyajikan makanan.
Haris memandangi lama Pedro dengan perasaan gundah. Kedua alisnya tertaut bingung setelah menerima situasi yang tidak pernah dialaminya sebelum ini.
"Jangan berbohong. Saya tahu Helena akan menyuruhmu-"
"Tidak, Tuan. Saya yang membelinya tanpa ada suruhan dari Nyonya. Bahkan saat saya sampai di rumah Nyonya masih dalam keadaan kurang sehat. Nyonya juga tidak memberikan pesan apapun pada Anda."
Bagai sebuah batu yang menimpa dirinya. Ego dalam diri Haris merasa dipermainkan oleh Helena yang bersikap sok acuh dengan dirinya.
'Mencoba bermain trik sulit untuk didapatkan, Lena? Kamu pikir saya akan tertarik menanggapinya?' pikirnya diakhiri senyuman miring.