Amnesia

1519 Kata
Dua puluh menit berlalu dokter akhirnya keluar setelah mengecek keadaan Haris. "Bagaimana keadaannya?" Helena bertanya dengan khawatir. "Tuan Haris sudah membaik, tapi..." Dokter terdiam sejenak sambil menatap ragu kearah Helena yang menunggunya. "Tapi apa, Dok? Apakah ada kondisi khusus yang perlu dikhawatirkan?" "Mari bicarakan di ruangan saya." Mereka pun beranjak pergi dan masuk ke dalam ruangan dokter. Secarik kertas diberikan pada Helena. Cukup lama dokter berbincang dengan Helena didalam sana sampai terasa sudah lebih dari setengah jam berlalu dan barulah dia keluar. Helena mengetuk pintu ruang inap Haris. Didalam sana sudah ada Pedro yang senantiasa menjaga Haris. "Pedro," panggil Helena lirih. Dari ranjang Haris memperhatikan Helena dengan senyuman manis yang tak pernah sedikitpun dilihatnya. "Tolong simpan ini," pinta Helena menyerahkan secarik kertas tersebut pada Pedro. Pedro menerimanya, "Apakah Tuan baik-baik saja, Nyonya?" "Dia mengalami amnesia. Dokter hanya menyarankan kita untuk tetap mendampinginya." "Bagaimana kalau-" "Istriku, kenapa kamu masih disana? Apa kamu tidak merindukan aku?" Haris menyela dan bertanya dengan nada manja. Baik Helena ataupun Pedro, mereka sama-sama dibuat merinding oleh ucapan Haris. Reaksi keduanya tentu menarik perhatian Haris yang sudah memendam rasa kesal karena, Helena telah mengabaikannya sejak satu jam yang lalu. "Kamu tidak ingin menanyakan keadaan aku? Aku baru saja terbangun," lanjutnya manja. Tiga detik Helena tidak beraksi sampai Haris berniat beranjak dari ranjang untuk menggapai Helena. "Jangan bangun dulu!" Helena menahan Haris dan memintanya untuk duduk kembali. "Istirahatkan dirimu dulu." Haris menepuk-nepuk tepi ranjangnya, "Duduklah disini. Peluk! Aku kedinginan." Wanita itu tampak ragu untuk naik ke ranjang. Merasa situasi ini sangatlah jauh berbeda dengan kebiasaan yang mereka lakukan dulu. "Saya akan menjagamu disini. Kamu segeralah tidur, saya tidak akan kemana-mana lagi." Helena menjauhkan tangan Haris yang menggenggam tangannya. Raut wajah Haris berubah. Sebelumnya yang tampak ceria, berubah muram setelah mendengarkan penolakan halus dari Helena. "Kamu tidak menginginkan aku lagi? Kenapa kamu terus mengabaikan aku? Aku punya salah padamu, istriku?" Pertanyaan beruntun itu membuat Helena semakin pusing menghadapi tingkah manja suaminya. "Dengarkan saya, Haris." Kedua tangan Helena menangkup wajah tampan suaminya, "Saya bukan lagi istrimu. Kita sudah menandatangani perjanjian perceraian. Jadi, jangan buat aku dalam keadaan sulit." "Bercerai?! Mana mungkin aku menceraikan kamu, istriku. Jangan pernah berpikir untuk melakukannya. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu!" Haris menggeleng tegas menolak pernyataan Helena. Helena menghela nafasnya panjang. Dalam situasi saat ini tidak mungkin baginya memaksa Haris untuk mengingat apa yang sudah mereka lalui. Dokter pun tidak menyarankannya. "Katakan pada saya. Apa kamu ingat siapa dirimu?" Haris menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca, "Aku tidak ingat." "Baiklah. Dengarkan saya baik-baik." Helena memperbaiki posisi duduknya, "Kamu adalah Haris Bamantara. Ibumu sudah meninggal saat usiamu enam tahun. Kamu dibesarkan oleh Damon dan Riana, Kakek dan Nenekmu." Haris mengangguk-angguk mengerti. Dengan seksama dia mendengarkan penjelasan Helena. Tak sadar diapun turut tersenyum melihat ekspresi istrinya yang menurutnya sangatlah menggemaskan. "Kamu hanya perlu mengingat itu. Selebihnya kami akan menjelaskannya perlahan padamu." Haris tersenyum manis lalu memeluk tubuh Helena, "Aku merindukanmu. Tidurlah bersamaku disini. Aku ingin memelukmu semalaman." "Jangan! Tubuhmu belum pulih. Saya akan menjagamu dari sofa. Tidurlah sekarang, besok dokter akan memeriksa mu lagi." Pria itu ingin sekali menolak, tapi Helena lebih dulu menegaskan apa yang sudah dikatakannya. "Selamat malam, istriku. Semoga aku datang kedalam mimpimu, begitupun aku yang ingin memimpikanmu." Helena menarik selimut dan mengusap-usap kening Haris sesuai keinginan pria itu. Setelah Haris tertidur, barulah Helena beranjak dan tidur diatas sofa. Keesokan harinya Damon dan Riana datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar dari Pedro kalau cucu kesayangan mereka telah siuman. "Haris, mereka adalah Nenek dan Kakekmu. Sapalah mereka," pinta Helena dengan senyuman. Riana mendekat untuk melihat, "Nenek senang melihatmu sudah siuman. Apakah masih ada yang sakit, Nak?" "Aku baik, Nek. Istriku menjagaku dengan sangat baik. Dia juga membantuku ke kamar mandi-" Helena menutup mulut Haris dengan telapak tangannya, kedua pipinya sudah memerah menahan malunya. "Haris baik-baik saja, Nek. Kata dokter pun jika tidak ada masalah selama seminggu kedepan dia sudah bisa kembali ke rumah." Riana dan Damon saling berpandangan dengan senyuman. Mereka sedikit bersyukur atas musibah yang menimpa cucu mereka, setidaknya dengan kecelakaan itu membuat Haris bersikap baik dengan Helena. Walaupun mereka juga sedih karena, Haris harus mengalami kerugian fisik. "Kenapa menutup mulutku, istriku? Aku hanya membicarakan hal-" "Berhentilah. Katakan hal-hal yang normal saja. Tidak perlu membicarakan yang tidak wajar." Riana hampir tertawa terbahak-bahak melihat interaksi cucu-cucunya, "Yang dikatakan Haris benar. Hal yang wajar dilakukan oleh suami dan istri pada umumnya." Haris memeluk tubuh Helena dari samping lalu mengusap-usap rambut istrinya yang sengaja dibiarkan terurai dengan indah. "Istriku sangat cantik," puji Haris kemudian mengecup pipi Helena dihadapan Damon dan Riana. Damon menggandeng tangan Riana, "Kami ada urusan sebentar di perusahaan. Siang nanti kami akan datang kembali menjenguk kalian. Jagalah Haris ya, Nak. Kami selalu percaya padamu." Riana menyatukan tangan Haris dan Helena. Seketika senyuman lebar terukir pada bibir Haris, "Nenek tidak perlu khawatir. Istriku pasti akan selalu menjagaku. Begitupun aku yang akan menjaganya." Damon dan Riana pergi dengan gelak tawa. Tingkah baru Haris sungguh membuat mereka terhibur. Setelah memastikan Damon dan Riana pergi. Helena langsung menjauhkan tubuhnya dari Haris. "Jangan menjauh. Aku masih ingin memelukmu, istriku." Helena menahan tubuh Haris yang ingin kembali memeluknya, "Berhenti disitu. Kita tidak perlu lagi berpura-pura, mereka sudah pergi." "Apa maksudmu?" Helena pergi begitu saja tanpa berniat menjelaskan ucapannya. Berselang sesat kemudian barulah Pedro masuk. "Selamat pagi, Tuan." "Kemarilah. Ada yang ingin saya tanyakan padamu," suruh Haris. Pedro pun mendekat dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Haris, "Silakan. Apa yang ingin Anda tanyakan?" "Kenapa istriku sangat ingin menjauh dariku? Apa yang sudah terjadi pada kami?" Haris bertanya dengan rasa penasaran yang teramat besar. Pedro terdiam sejenak. Jika seperti ini dia berada dalam situasi yang serba salah, jika mengatakannya beresiko dengan kesehatan Haris tapi jika tidak mengatakannya maka akan beresiko juga dengan pekerjaannya. "Katakan saja. Saya tidak akan mengatakannya pada istriku." "Nyonya dan Tuan menikah sudah tiga tahun. Pernikahan ini tidak diinginkan oleh Anda, karena tidak menyukai adanya Nyonya-" Haris mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk Pedro berhenti, "Jadi maksudmu pernikahan ini bukan yang saya inginkan?" Pedro mengangguk, "Benar, Tuan." "Lanjutkan!" Pedro melanjutkan penjelasannya. Sementara dari luar ruangan Helena tampak enggan untuk masuk dan menghentikan Pedro yang berusaha menjelaskan mengenai hubungan rumah tangganya dan Haris. Biarlah, apapun keputusannya nanti dia sudah siap menghadapinya. Sejak pagi tadi Helena belum kunjung menemui Haris lagi. Dia justru kembali ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan barang Haris. Barulah setelah Damon dan Riana datang dia memutuskan kembali lagi ke rumah sakit. "Istriku! Kamu dari mana saja?" Haris menyambut kedatangan Helena dengan wajah cemberut. Helena meletakkan tas yang dibawanya, "Mengambil pakaianmu." "Kemarilah, Nak. Kami membawakan makan siang untuk kalian berdua," ajak Riana meraih tangan Helena untuk bergabung dengan mereka. "Terimakasih, Nek." Riana memberikan kotak makan pada Helena, "Seharusnya kamu minta saja Pedro mengambil pakaian Haris. Jangan repotkan dirimu." "Tidak repot, Nek. Pedro juga belum pulih kembali, aku bisa mengatasinya sendiri." Haris beranjak dari ranjangnya dengan dibantu Pedro lalu duduk disamping Helena, "Aku merindukanmu. Kenapa kamu tidak memberitahuku dulu?" "Tidak sempat. Aku lihat kamu sedang sibuk berbincang dengan Pedro, jadi aku pergi begitu saja." Sebuah pelukan diberikan Haris untuk Helena. Dengan manja Haris meletakkan kepalanya pada bahu milik istrinya, "Aku mengkhawatirkan kamu. Jika ada sesuatu dijalan bagaimana?" "Aku tidak sendirian. Ada supir yang mengantarkan aku," sahut Helena. Riana dan Damon hanya mampu tersenyum memperhatikan setiap obrolan mereka. Setitik harapan muncul dalam benak mereka agar Haris dan Helena bisa kembali bersama dan melupakan perceraian. "Dokter sudah datang kesini?" Helena bertanya pada Haris. "Sudah. Dokter mengizinkan aku pulang lusa, jadi aku bisa pulang ke rumah kita." Haris menjawabnya dengan sumringah. "Kamu sudah tidak merasakan sakit lagi?" Helena menyentuh pucuk kepala Haris untuk memastikan. Haris menggeleng manja, "Tidak. Aku sudah sembuh, istriku." Panggilan barunya dari Haris sungguh membuat dia merasa berbeda. Bukan hanya berdebar, tapi juga mengejutkan. Kabar Haris yang siuman rupanya sudah terdengar di telinga Elgan. Di rumahnya dia tampak mulai gelisah mengkhawatirkan posisinya di perusahaan. Terlebih Damon begitu melindungi dan mendukung Haris sebagai pewaris tunggal dari Bamantara Company. "Apa pekerjaan semudah itu tidak bisa kalian lakukan?" Elgan menggebrak meja kerjanya. Lima orang yang berdiri didepan Elgan tampak tertunduk ketakutan saat melihat Tuan mereka marah besar atas kegagalan. "Saya hanya meminta kalian mencelakakannya. Apa perlu saya turun tangan sendiri?!" Teriak Elgan sebelum melemparkan vas keramik kearah orang-orang itu. "Ma-maafkan kami, Tuan. Kami-" "Saya muak mendengar permintaan maaf kalian. Tidak mau tahu, saya ingin kalian mencelakakannya lagi sebelum rapat dewan direksi berlangsung. Dua minggu, saya memberi waktu kalian dua minggu! Mengerti?!" "Me-mengerti, Tuan." Mereka pun pergi setelah mendapat perintah dari Elgan. Beberapa saat kemudian seorang wanita dewasa masuk ke dalam ruangannya dengan membawa secangkir kopi. "Sayang," panggilnya dengan lembut. Elgan yang sedang memijat keningnya pun menoleh, "Kemarilah." "Jangan repotkan dirimu dengan mengurusi hal-hal yang tidak penting. Biarkan Gilen saja yang melakukannya." Saran wanita itu dengan senyumannya. Elgan menggeleng tegas, "Tidak! Gilen tidak sebanding dengan Haris. Kapan saja Haris bisa menyingkirkannya dengan mudah, apalagi Ayah berada di pihaknya." "Lalu kamu akan membiarkan Haris berkuasa dengan mudah di perusahaan keluarga?" Elgan kembali menggeleng tegas. Dia sudah berpikiran jauh-jauh hari untuk menyingkirkan Haris dari posisinya di perusahaan. "Biarkan aku yang menyingkirkannya. Aku sangat tahu apa kelemahannya," bisik Elgan sebelum mengecup bibir wanitanya. TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN