Keputusan

1288 Kata
Pagi hingga menjelang siang Helena hanya menunggu Haris yang tengah sibuk dengan jadwal kerjanya. Tak jarang dirinya dihinggapi rasa bosan yang memuakkan. Lebih dari empat jam berlalu, tapi entah kenapa itu membuatnya jenuh. "Sampai kapan aku menunggunya?" Gumam Helena sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang. Sekejap rasa kantuk menyerangnya. Baru kali ini dia merasakan kantuk di siang hari. Padahal di hari-hari biasanya dia pastinya sedang sibuk dengan urusan rumah atau kantor. Belum sempat menutup matanya. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang berarti ada seseorang yang masuk. "Maaf aku mengganggumu. Beristirahatlah jika memang kamu lelah," ucap Haris mendekati Helena yang berada di sofa. Helena beralih duduk. Rasa kantuknya berganti rasa kesal yang sejak pagi dipendamnya. "Bolehkah aku pergi dari sini?" "Kamu bosan menungguku, ya?" "Sudah empat jam aku menunggu tanpa melakukan apapun. Sudah pasti membosankan," jawab Helena dengan sewot. Haris tersenyum lebar, "Aku senang kamu mulai menunjukkan perasaanmu padaku." "Jangan mengalihkan pembicaraan." Lagi-lagi Haris hanya mampu tersenyum. Menggemaskan sekali melihat Helena nya kesal. "Aku pergi saja. Sore nanti jika sempat aku akan kembali, itupun kalau ingat." Helena beranjak pergi dengan membawa tasnya. Haris berniat menahan Helena. Namun tak mengejar karena, Pedro menahannya lebih dulu. "Maaf, Tuan. Ada Pak Robby menunggu Anda di ruang rapat," beritahu Pedro segera. Tak ada pilihan lain Haris pun memilih membiarkan istrinya mencari udara segar. Sementara dirinya fokus dengan pekerjaannya. Di tengah hari yang begitu terik membuat Helena kian kesal karena, cuaca yang panas dan suasana hati yang tak kunjung membaik. Tak ingin berpergian seperti orang bodoh. Helena pun memilih pergi ke kantornya untuk mengecek pekerjaan yang menghantui pikirannya sejak pagi tadi. Mengingat pekerjaannya yang semakin banyak setiap harinya membuat dia harus bekerja lebih keras dari sebelumnya. Repot sudah pasti tapi tidak mungkin dia menyerah begitu saja dengan apa yang sudah ia dirikan dan perjuangkan selama ini. Sejak usianya yang masih muda Helena telah bercita-cita menjadi desainer interior ternama. Memang tak mudah membangun bisnisnya, tapi tak kalah sulit untuknya membujuk kedua orang tuanya terutama sang Ayah agar mengizinkannya mendirikan bisnis. Apalagi Ayahnya sangat protektif terhadapnya sekalipun dia sudah menikah dengan Haris pada saat ini. Jika mengingat kebersamaannya dengan sang Ayah terkadang dia merindukan masa-masa di mana Ayahnya masih hidup. Memang sudah cukup lama, tapi sejujurnya tak mudah baginya untuk bangkit dan memulai lembaran baru dalam hidupnya tanpa sang Ayah disisinya. Belum lagi dia juga harus berjauhan dengan sang Ibu yang memilih kembali ke kota kelahirannya untuk mengenang kembali masa indah bersama suaminya. "Apa yang mengganggu pikiranmu?" Helena menoleh ke arah sumber suara. Sudah lebih dari dua tahun dia tak mendengarkan suara lembut ini secara langsung. "Hanya merindukan Ayah. Duduklah, Bu." Seorang wanita paruh baya yang tampak anggun dengan gaun coklat dan senyumannya yang hangat menyimpan kerinduan pada putri semata wayangnya. "Putriku, Ele." Juwita memeluknya erat merasakan rindunya mulai terobati. Panggilan yang selalu didengar Helena sejak kecil itu akhirnya kembali diucapkan oleh Juwita setelah sekian tahun berduka atas kepergian mendiang suaminya. Pasalnya panggilan ini bermula dari Akbar yang selalu kesulitan memanggil Helena dengan nama lengkapnya. "Ele lebih merindukan Ibu. Maafkan Ele yang jarang datang ke Surabaya untuk menjenguk Ibu." Pelukan yang hangat ini begitu didambakan Helena usai banyaknya badai dalam kehidupan rumah tangganya. Terlebih selama ini dia hanya memilih diam tanpa ingin membagi masa terpuruknya dengan sang Ibu juga mengalami masa sulit. "Ibu sudah mendengarnya, El." Helena melonggarkan pelukannya dari Juwita, "Apa yang Ibu maksud?" Juwita tersenyum lembut dengan kedua mata yang sembab. Perlahan tangan kanannya terangkat membelai lembut rambut Helena. "Pulanglah bersama Ibu kalau memang sudah tidak sanggup mempertahankannya. Ibu selalu siap menerima kehadiranmu, Nak. Jangan berpikir untuk menyembunyikannya lagi dari Ibu. Kamu masih punya Ibu disini, mengadulah pada Ibu sekalipun kamu tak mampu mengungkapkannya dengan kata." "Setelah ini minta Haris datang menemui Ibu di rumah. Apapun itu alasannya minta dia datang, jika dia tidak datang maka Ibu akan membawamu ke Surabaya tanpa persetujuannya." Kedatangan Juwita ke Jakarta tentu mengejutkan Haris. Terutama setelah tahu kalau Ibu mertuanya datang untuk menemuinya secara langsung. Kesekian kalinya rasa takut itu datang kembali menghantui pikiran dan menggundahkan batinya yang tak pernah siap dengan kehilangan. Dengan cepat Haris sampai di rumah mereka kemudian buru-buru masuk menemui Ibu mertuanya yang tampaknya sudah sangat tidak sabar menemuinya. "Duduk, Ar. Ada yang perlu Ibu sampaikan padamu." Seketika tubuh Haris memaku. Bulu-bulu halus dikulitnya berdiri tegap seiring nafasnya yang tak teratur. Berharap cemas dengan menunggu Juwita memulai pembicaraan. "Ibu turut khawatir atas apa yang dialami kamu dua bulan belakangan ini. Setelah mendengar kamu mengalami kecelakaan Ibu ingin sekali menjenguk, tapi belum sempat karena ada urusan di Surabaya yang harus cepat-cepat diselesaikan." Haris mengangguk dengan senyuman yang kaku, "Aku mengerti, Bu." Juwita diam sebentar. Mempertimbangkan setiap kata yang akan dia ucapan pada Haris nantinya. Tidak mudah baginya membuat keputusan ini, apalagi ini menyangkut masa depan anak semata wayangnya. Sebagai seorang Ibu dan iatri. Tentu tidak mudah membayangkan Helena akan mendapatkan akibat atas keputusannya. Tapi disisi lain, Ibu mana yang ingin melihat putrinya berpisah dengan suaminya? Bimbang, namun keputusannya tidak dapat diurungkan. "Sudah tiga tahun kalian menikah. Sebenarnya Ibu sudah tahu seperti apa hubungan pernikahan selama ini, tapi Ibu memilih bungkam untuk memenuhi kebahagiaan Helena." Haris tertunduk lemas. Tak sanggup mendengarkan ucapan Juwita selanjutnya, sekalipun tak tahu apa itu. "Jika memang kalian tidak dapat bersama lagi, maka Ibu tidak memaksa. Semua keputusan ada pada kalian, tapi sebelumnya Helena sudah lebih dulu memutuskan-" Cukup. Haris tidak ingin mendengarnya lagi, tidak sanggup menerima keputusan istrinya. "Haris tidak akan pernah melepaskannya. Helena akan tetap menjadi istri Haris." Juwita terdiam. Rupanya yang dikatakan Helena sesuai dengan apa yang dilihatnya sekarang. Cukup terkejut dengan Haris yang begitu bersikeras mempertahankan pernikahan mereka yang bahkan tak mampu membahagiakan dua belah pihak selama bertahun-tahun. "Itu keputusanmu, tapi tidak dengan keputusan Helena. Putriku masih bersikeras untuk menceraikanmu." Haris mengangguk mengerti. Tak menyalahkan Helena karena, memang yang sepenuhnya salah ada dirinya sendiri. "Biar Haris yang meyakinkannya. Ibu bisa mempercayai Haris kali ini," mohon Haris. Sejenak Juwita berpikir. Bagaimanapun perceraian tidak bisa diputuskan pada masa yang singkat. "Bagaimana jika nanti kamu gagal?" Sebuah pertanyaan yang mengguncang batinnya. "Haris akan menerima keputusan Helena, Bu. Tapi perlu diingat kalau Haris tidak akan pernah lelah untuk memperjuangkan Helena," tuturnya dengan penuh keyakinan. Juwita mengangguk tenang, kemudian bangkit dari duduknya. "Ibu pamit, Ar. Sampaikan pada Helena, besok Ibu akan datang lagi untuk mengajaknya pergi. Kamu izinkan?" "Tentu. Kapanpun Ibu bisa datang untuk menemui Helena. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk Ibu." Seutas senyuman manis muncul pada bibir merah milik Juwita. Tak ingin berlama-lama di sana, dia pun pamit pergi meninggalkan Haris seorang diri. Usai Juwita pergi. Haris beranjak naik ke kamar Helena. Sebelumnya dia mengetuk pintu lebih dulu, namun entah kenapa tak kunjung dibukanya. "Istriku," panggilnya lembut. Satu, dua, tiga dan empat ketukan. Tapi anehnya Haris tak kunjung mendapat sahutan dari dalam. "Helena. Kamu didalam, sayang?" Tanpa basa-basi lagi Haris langsung mengambil kunci cadangan yang ada di kamarnya. Lalu segera membuka pintu kamar Helena. Disaat pintu terbuka Haris melihat Helena keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang menutupi d**a hingga pahanya. Pemandangan itu tentu menjadi hal yang baru untuk Haris. Baru kali ini dia mendapati Helena hanya menggunakan handuk. Beberapa detik mereka beradu tatap. Sampai Helena mendorong Haris menjauh dan berteriak kencang. "Keluar!" Haris segera mendekat dan membungkam mulut Helena dengan tangan kirinya. Sementara tangan satunya meraih pinggang Helena. "Jangan berteriak. Orang-orang akan salah paham." Helena memberontak dalam dekapan Haris. Beberapa kali mencoba dengan susah payah sampai dia menggigit jari tengah Haris. "Lepaskan! Menjauhlah dariku." "Kenapa aku harus menjauh darimu? Kita adalah suami dan istri. Hal yang wajar untuk kita saling berpelukan seperti ini," goda Haris. Mual, itulah yang dirasakan Helena mendengar godaan menyebalkan dari Haris. "Lepaskan! Tidak ada hal yang wajar diantara kita, Ris." Haris menjatuhkan tubuh Helena ke kasur. Sementara dia berada diatasnya. "Kalau seperti ini wajar, kan?" TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN