10. Sebuah Rencana

1711 Kata
Seperti biasanya, Kania bersantai sambil menatap layar ponsel. Dia tengah melihat salah satu celebrity chef memasak. Telungkup di kasur, sesekali Kania mengangguk karena mengerti saat mendapat ilmu baru dari sang chef. "boleh di coba" ucapnya lalu melakukan screenshoot pada bagian bahan-bahan dan step by step yang tertulis di description box. Dia ingin membuat pempek tanpa ikan. Salah satu makanan kesukaannya. Tapi karena dia kurang suka dengan bau ikan tenggiri yang menyengat, dia jadi lebih suka membeli pempek tanpa ikan atau ikan tenggirinya di ganti dengan udang. Itupun hanya bentuk kapal selam saja yang dia beli dan dia suka. "oke gampang" Setelah video selesai, Kania langsung bangun dari telungkupnya. Tidak terlalu lama untuk dia menyerap resep baru. Entahlah, mungkin karena dasarnya dia memang bisa masak. Melirik jam, dia masih memiliki banyak waktu untuk memasak. Siang ini dia juga akan kembali ke kantor Radhit untuk mengantarkan makan siang. Berharap setelah ucapannya semalam di ruang kerja, Radhit mau mulai mencoba lebih ramah. Ya, meskipun gak berharap banyak juga sih, tapi setidaknya makan siang yang dia bawa nanti tidak di abaikan lagi. Turun dari tempat tidur, Kania kemudian keluar kamar dan langsung menuju dapur. "halo Inah" sapa Kania santai, Inah sedang mengupas kulit bawang untuk persediaan, jadi ketika masak, tidak perlu mengupas kulitnya lagi. Bisa menghemat waktu meskipun sedikit. "nyonya perlu sesuatu?" tanya Inah. "saya mau masak. Ayam sama kentang, ada-kan?" Inah mengangguk "ada nyonya, perlu saya bantu?" "kalau kamu bisa, saya gak keberatan" Inah tersenyum, jika dulu tatapan sang nyonya selalu berhasil membuatnya ketakutan, kini dia melihat tatapan itu sudah lebih ramah. "tentu saya bisa, apa yang perlu saya bantu, nyonya?" Kania mengangguk "tolong kamu cuci ayam sama kupas kentang ya. Saya mau siapkan bumbunya. Abis itu kamu pisahin ayam sama tulangnya, mau saya hancurkan" "baik nyonya" jawab Inah semangat. Dia suka nyonya-nya yang sekarang. Kania menyiapkan bumbu untuk ayam, mulai dari lada,  bubuk biji pala, garam, penyedap juga telur. Ayam akan dia olah menjadi bistik bola dan kentang akan dia buat balado. Sementara untuk kentang, dia menyiapkan bawang merah, bawang putih, cabai merah dan rawit. Jangan lupa garam, penyedap dan juga gula putih. Pertama Kania menghaluskan bumbu untuk kentang balado, lalu menyimpannya ke wadah dan lanjut mendidihkan air untuk bistik. "ayamnya sudah selesai nyonya. Ini kentang di potong-potong?"  "iya Nah, kamu potong dadu ya, mau saya buat balado" "siap nyonya" Mengambil daging ayam yang sudah terpisah dari tulangnya, Kania lanjut menghaluskan daging tersebut dengan food processor, bisa juga dengan blender. Setelah halus, daging di campur dengan lada, bubuk biji pala, garam, penyedap juga telur. Diadon hingga bisa di bentuk bulat dan di masukan kedalam air yang sudah mendidih. Untuk mengetahui apakah sudah matang atau belum sangat mudah, jika bola daging tersebut sudah naik dan tidak lagi tenggelam, itu artinya matang. "sudah nyonya" lapor Inah. "lanjut kamu goreng ya Nah" "oke nyonya" Bola bistik sudah selesai di buat, tinggal bumbu kuahnya, kentang juga sudah selesai di goreng. "tolong kamu goreng bumbu yang sudah saya blender ya nah, sampe harum tapi jangan gosong" "baik nyonya" Inah langsung menggoreng bumbu balado yang sudah disiapkan sedangkan Kania menyiapkan untuk kuah semur bistik.  Bahannya, sama seperti membuat semur pada umumnya cuma Kania buat lebih kental dan gurih menggunakan santan kental. "terus aduk ya, jangan sampe gosong bawahnya" suruh Kania saat kentang sudah dimasukkan kedalam bumbu, dia juga sudah menambahkan garam, penyedap dan juga gula pada bumbu tersebut sebelum di tambahkan kentang. "baik nyonya." Inah mematuhi segala perintah sang nyonya dengan baik, tidak ingin mengecewakan karena ini momen pertama yang luar biasa didalah hidupnya. "sudah Nah, kamu matikan ya" suruh Kania setelah mencicip kentang balado. Inah mengangguk, langsung mematikan kompor. Ditatapnya hasil masakan yang benar-benar menggugah selera. Lanjut Kania fokus ke bistiknya, setelah dirasa pas, dia langsung mematikan kompornya.  "semua tolong kamu pindahkan ke piring dulu ya, saya mau lanjut bikin pempek" "baik nyonya" "oh iya, tolong sekalian siapin kotak makannya juga ya" "siap nyonya" Kania mengangguk, lalu memulai season ke dua, memasak pempek. *** Kania melangkah dengan percaya diri saat memasuki kantor Radhit, beberapa kali dia membalas sapaan para pegawai. Menaiki lift khusus, Kania berhenti di lantai ruangan Radhit. "bu"  Kania mengerutkan kening saat melihat wajah sekretaris Radhit ketakutan. "kenapa? kamu liat setan?" "didalam. Bapak. Itu-" "ngomong yang bener, ada apa?" "itu bu, di dalam ada Utari" Kania hanya mengangguk, bukan dirinya jika dia harus mundur dan kembali pulang, tapi pelakor tersebutlah yang harus tahu diri. Tanpa takut Kania langsung mebuka pintu ruangan Radhit. Dia langsung tersenyum sinis saat melihat Radhit tengah makan siang bersama si Utari. Raut terkejut terlihat di wajah Radhit. Terus melangkah mendekati pasangan itu Kania lalu menatap tajam Utari. "bisa kamu keluar?" ucap Kania dingin. "tapi saya sedang makan bu"  Kania berdecih, sungguh pelakor yang semakin tidak tahu diri. "apa susahnya tinggal bawa makanan kamu dan keluar?" "apa saya bisa menghabiskannya dulu disini?" "keluar atau saya yang lempar kamu keluar" tegas Kania. Utari menatap Radhit, seolah meminta pembelaan. Hal itu benar-benar membuat Kania muak. Radhit mengangguk, sebagai arti bahwa Utari memang harus keluar.  Dengan bibir cemberut, Utari bangun dan melangkah pergi. "bawa sampah kamu!" ucapan Kania menghentikan langkah Utari. "sebelum saya lempar ke wajah kamu" lanjutnya lagi. Radhit menelan ludahnya, seharusnya dia bisa santai dan biasa saja saat sang istri memergokinya dengan Utari, sejak dulu dia tahu jika istrinya mengetahui perselingkuhan yang terjadi, tapi berpura-pura tidak tahu dan itu membuat Radhit ingin sekali melihat istrinya memergoki dirinya. Jahat memang, tapi dia memiliki tujuan. Memperlihatkan sifat asli istrinya yang kejam dan penuh muslihat. Tapi kenapa sekarang rasanya dia yang jadi takut? aura istrinya benar-benar menyeramkan.  Dengan wajah kesal, Utari kembali, mengambil makanan yang belum dia habiskan lalu melangkah keluar ruangan. Radhit diam, rasanya bibirnya kaku dan sulit di gerakkan. Kenapa bisa seperti ini? kenapa dia menjadi seperti bocah yang tertangkap tangan tengah mencuri permen yang disembunyikan di lemari penyimpanan sang ibu? Tanpa mengucapkan kata apapun Kania duduk di sofa, tepat di hadapan Radhit. Dia mengeluarkan kotak makan yang dia bawa, menyusunnya di meja hingga harumnya memenuhi ruangan. Radhit yang melihatnya kembali menelan ludah. Semua masakan istrinya benar-benar menggiurkan. Dia ingin! Lanjut Kania mengambil ponselnya dari dalam sling bag, menekan sebuah kontak untuk memulai panggilan telepon. "kamu sudah makan?" "belum bu, ini baru mau" "ke ruangan sekarang"  "baik bu" Radhit mengerutkan kening melihat istrinya yang menghubungi seseorang. Sungguh dia tengah menunggu istrinya menawari masakan yang di bawa. Makanan yang sebelumnya dia makan  bersama Utari benar-benar tidak menarik. Pintu ruangan terbuka. Istrinya itu ternyata menghubungi Dinda, sekretarisnya. "kamu belum makan kan? duduk. Kita makan bareng" suruh Kania santai. Radhit yang mendengar sontak membulatkan mata. Kenapa malah orang lain yang ditawari?!!! "tapi bu?" "duduk, masakan saya enak loh" suruh Kania lagi. Dengan ragu Dinda duduk.  "itu nasi kamu, ambil lauknya sendiri"  Dinda mengangguk "baik bu" dengan canggung dia menarik nasi yang ada dalam kotak, lalu menambahkan bistik dan kentang balado. Berharap dalam suasana seperti ini dia masih bisa menelan makanannya. "bagaimana, enak?" tanya Kania setelah Dinda menyuapkan makanannya. Dinda tersenyum senang "enak banget bu. Ini bener ibu yang masak?" Kania tersenyum, lalu melirik Radhit dengan sinis. Laki-laki itu sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka. "iya, kalau enak. Habiskan" "kalau tidak habis, boleh saya bawa pulang?" pertanyaan spontan yang membuat Kania tertawa. "boleh. Kamu tuh jadi kaya anak kos ya" "bu, kalau ada makanan enak dan gratis, ya manfaatkan" Kania mengangguk "betul. Sekarang lanjut makan" Keduanya makan hingga nasi habis, tersisa bistik dan kentang balado. "terima kasih ya bu, berkah sekali hari ini" "sisanya kamu bawa pulang ya" suruh Kania. Dinda langsung tersenyum senang, rasa masakan sang ibu bos memang benar-benar enak, seperti masakan di hotel berbintang. "terima kasih" "oh iya, itu puding sama pempeknya juga kamu bawa aja ya" suruh Kania lagi. "tapi bu, buat bapak?"  "suami saya lagi gak bisa makan banyak. Kamu bawa aja" suruh Kania. Dia malas harus berbagi makanan dengan Radhit. Sakit hati diatuh. Padahal tadi pagi dia sengaja membuat puding saat mengetahui puding yang dia buat kemarin habis oleh Radhit. Tapi melihat Radhit yang makan siang dengan si Utaran, jangankan untuk makan, mencicipinya saja Kania haramkan. "terima kasih banyak bu" ucap Dinda begitu senang. Diberi makanan enak dan gratis? berkah. Setelah Dinda keluar dan pintu kembali tertutup. Kania langsung menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. Sedangkan Radhit benar-benar tidak melanjutkan makannya lagi. "sepertinya ucapan saya semalam tidak kamu anggap serius. Saya pikir, setelah saya bilang ingin mempertahankan pernikahan ini, kamu juga bisa sama. Tapi mungkin itu pikiran konyol saya terhadap kamu." Kania menarik napas dalam dan mengembuskannya, dia sudah berusaha bicara dengan ramah menggunakan kata 'aku' agar jarak keduanya bisa bergerak mendekat, tapi sepertinya itu tidak ada gunanya lagi. Meraih Sling bag di sampingnya, dia bangun dan melangkah pergi. Jujur, dia pikir setelah dia berbicara serius tentang pernikahan mereka, tentang Radhit yang selingkuh, dia berharap Radhit bisa ikut berubah dan memutuskan selingkuhannya. Tapi ternyata? mereka semakin tidak malu untuk mengumbarnya di kantor.  "kalau cara itu gak bekerja, gue akan bikin rencana lain buat ngusir mereka. Liat aja, gue pastikan bahwa rumah tangga Kaylia akan tetap utuh!" geram Kania dari dalam lift. *** Radhit sampai di rumah lebih terlambat, bukan karena bersama Utari tapi pekerjaan yang masih banyak. Masuk kedapur untuk mengambil minum, mata Radhit tidak sengaja melihat masakan yang sama seperti yang dibawa istrinya siang tadi. "Bi, saya mau makan sama itu. Siapkan ya" suruh Radhit kepada Inah. "tapi tuan, itu masakan sisa siang tadi" "itu Kaylia yang buat kan?" "iya tuan" "siapkan" "baik tuan" "Sekarang Kaylia dimana?" "setelah makan, nyonya kembali ke kamar" "dia sudah makan lebih dulu?" "iya tuan" Radhit mengangguk, lalu melangkah menuju kursi makan.  Inah dengan cepat menyusun masakan di depan Radhit. Radhit langsung memasukan satu bistik bola kedalam mulutnya tanpa ditambah nasi. Lagi, dia dibuat terkejut dengan rasanya yang benar-benar enak. Tanpa pikir panjang, Radhit langsung menyantap semua dengan lahap. Semuanya enak, tidak ada yang tidak enak. Sempurna, perutnya kenyang dan lidahnya senang. "bi!" panggil Radhit. "iya tuan" sahut Sumi menghampiri Radhit. "dikulkas masih ada puding kan? tolong ambil kesini ya" suruh Radhit, saat dia membuka kulkas untuk mengambil minum, dia memang melihat puding didalam sana. "maaf tuan, tadi nyonya bilang kalau pudingnya tidak boleh dimakan oleh tuan" jawab Sumi membuat Radhit terkejut. "kenapa?" "karena nyonya sedang marah kepada tuan" Radhit berdecak. Gagal sudah dia memakan puding yang dia inginkan sejak tadi siang. ***   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN