Pagi ini Radhit sudah duduk di meja makan, seperti biasanya, sebelum memulai sarapan dia akan membaca beberapa informasi dari tab nya.
"kopinya tuan" Inah meletakkan kopi milik Radhit dengan hati-hati.
Radhit mengangguk, lalu menutup tabnya. Dia meletakkan benda kotak itu di sebelah kiri, dekat dengan kopi.
Radhit mengambil roti, mengolesinya dengan selai kacang. Pagi ini Radhit memang tidak memesan menu khusus untuk sarapan.
Inah kembali datang membawa sepiring nasi goreng, di letakkannya piring itu di sebelah kanan meja, tempat Kaylia duduk.
"saya kira kamu hanya menyipakan roti" ucap Radhit sambil melirik nasi goreng.
"ini nyonya sendiri yang memasak, tuan. Karena tuan tidak memesan menu jadi kami hanya siapkan roti, apa tuan ingin makanan yang lain?" tanya Inah.
"nasi goreng yang dibuat Kaylia juga" jawab Radhit. Dia tidak bohong jika tampilan nasi goreng itu benar-benar menggugah seleranya.
"maaf tuan, tapi nyonya hanya membuat untuk satu porsi saja"
Radhit sedikit terkejut, lalu setelahnya dia berdecak"yasudah, tidak perlu"
"apa perlu saya buat kan tuan?"
"tidak"
Inah mengangguk, lalu pergi.
Sambil kesal, Radhit memulai sarapannya, dengan malas-malas dia mengunyah roti selai kacang ditangannya. Matanya masih melirik nasi goreng yang menyebarkan bauh harum. Dia mau itu!!
Kania datang, tampilannya sudah cukup rapih meskipun hanya mengenakan celana jeans dan kaos putih yang di tutupi cardigan. Gaya busana yang benar-benar berubah dari sebelumnya -menurut Sumi-. Lebih santai dan tidak mewah meskipun masih terlihat mahal.
Tanpa menyapa, Kania duduk di tempatnya. Dia masih marah kepada Radhit.
Lagi, Radhit sesekali kembali melirik istrinya itu yang sudah mulai sarapannya. Tanpa dia sadari, dia menelan ludahnya sendiri. Kenapa masakan istrinya semakin membuat dia gila? dia benar-benar tidak tahu sisi lain yang dimiliki istrinya tersebut. Jika tahu, mungkin Radhit akan bersikap sedikit lebih baik. Atau, istrinya itu ternyata memasukan pelet kedalam masakan yang dia buat?
"kenapa kamu? gila?" Tanya Kania.
Radhit mengerjap, sial. Karena memikirkan hal bodoh itu, tanpa sadar dirinya menggeleng-gelengkan kepala. "kamu ngatain suami sendiri? kamu mau punya suami gila?!" Sewot Radhit.
Kania mengangkat bahunya tak acuh. "kalau udah gila, tinggal di buang aja. Gampang" jawabnya santai sambil tetap fokus kepada makanannya. Sedikitpun tidak melirik Radhit.
Mata Radhit membulat "memangnya saya sampah?! gak sopan kamu sama suami sendiri!"
Kania menghentikan makannya lalu menatap Radhit "suami tukang selingkuh itu gak lebih dari sebuah sampah. Satu lagi, saya akan sopan kepada orang yang menghargai saya." tegas Kania lalu bangun. Menyudahi sarapannya.
Radhit menghela napas, tidak percaya. "mau kemana kamu! kita belum selesai bicara!" bentak Radhit.
Kania menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menatap Radhit yang terlihat kesal "ke kebun binatang. Liat kembaran kamu. Monyet!" jawab Kania lagi lalu tersenyum meledek.
"KAYLIA!"
Seolah tuli, Kania terus melangkah menuju carport. Menaiki mobil dan menyuruh sopir segera membawanya pergi dari rumah itu.
"kita mau kemana nyonya?" mobil sudah bergerak keluar rumah.
Kania membalikan tubuhnya, melihat Radhit dari jendela belakang mobil dimana laki-laki itu terliht kesal lalu memasuki mobilnya. "kebun binatang" jawab Kania kemudian.
"maaf nyonya" sang sopir memastikan jika dia tidak salah dengar.
"kebun binatang pak, yang di puncak. Tahu kan?" Demi apapun, Kania memang butuh hiburan.
"ta-tahu, nyonya"
"bagus"
***
Kaylia send picture
Ini monyet. Kaya kamu!
Kaylia send picture
Ini buaya. Kaya kelakuan kamu!
Kaylia send picture
Ini b-a-b-i. Kamu baabiii!!!!! fucek youuuuu!!!!
Radhit menggenggam ponselnya dengan keras setelah membuka pesan beruntun yang dikirimkan sang istri. Istrinya benar-benar pergi ke kebun binatang! Bukan main!
Radhit langsung menghubungi Kaylia, dan tanpa menunggu lama langsung terhubung.
"Kaylia" geram Radhit.
"apa? udah ngaca belum? udah ngerasa mirip sama mereka?"
"Kaylia!" bentak Radhit.
"apa?!" Kaylia balas membentak hingga Radhit menjauhkan ponselnya dari telinga. Kaylia sekarang benar-benar menguji kesabarannya.
"jangan berteriak, Kaylia" suruh Radhit dengan suara terdengar dingin.
"kamu duluan bentak saya! kamu kira saya gak punya mulut? gak bisa balas bentakan kamu?!"
"stop. Kaylia"
"oke. Bye" dan Kania langsung menutup sambungan telepon dengan Radhit.
"siaaaal!" Radhit memukul meja kerjanya. Dia benci Kaylia yang dulu dan dia kesal dengan Kaylia yang sekarang!
Dilain tempat, Kania tertawa puas. Akhirnya, setelah sejak awal dia tinggal di tubuh Kaylia, selalu Radhit yang membuatnya kesal, kini hal itu berbalik, dendamnya terbalaskan.
Dia bukan Kaylia yang hanya akan diam, dia Kania. Si mantan bocah petualang. Melawan ular sungguhan saja dia bisa, apalagi melawan ular jadi-jadian. Sekali tebas, tamat!
"kita pulang sekarang pak" pinta Kania kepada sopir.
"baik nyonya"
***
Pulang dari kebun binatang di kawasan puncak, Kania tidak jadi langsung pulang ke rumah, dia memilih untuk pergi ke mall, sudah lama dia tidak cuci mata.
Ponselnya berdering tepat saat pelayan pergi setelah mencatat pesanannya.
"Zaki?" setelah ponsel milik Kaylia bisa digunakan kembali, Kania memang memilih untuk menggunakannya. Menjadikan salah satu alat untuk membantunya.
Meskipun tidak kenal dengan nama yang tertera di layar ponsel, Kania memutuskan untuk mengangkatnya, karena dia tahu, Kaylia pasti kenal orang itu.
"god, Kaylia! aku benar-benar rindu kamu. Aku gak bisa nurut sama perintah kamu untuk tidak menghubungi kamu."
Kania memilih diam dan mencerna ucapan cepat laki-laki bernama Zaki tersebut.
"Kaylia, please. Jangan diam. Aku bener-bener rindu kamu." suara Zaki kembali terdengar.
"Kay, aku beneran gak bisa menjauh dari kamu. Jangan usir aku dalam hidup kamu"
Oke. Kania sekarang mengerti. Jadi si Zaki ini suka Kaylia, tapi Kaylia tolak. Kasian, tapi memang kedengeran melow dan lebay sih, pantas Kaylia tolak.
"aku sibuk. Aku tutup" ucap Kania lalu menutup panggilan telepon. Dia hanya tidak ingin salah langkah dan menjawab ucapan si Zaki.
Pesanan Kania datang, dia tersenyum lebar saat melihat wafle dengan es krim vanila diatasnya "yang manis memang bisa menenangkan" ucap Kania, siap menyantap wafle tersebut.
Satu suapan masuk kedalam mulutnya, lumernya es krim berhasil memuaskan lidahnya.
Lanjut ke suapan ke dua, tapi harus langsung terhenti saat matanya melihat seorang perempuan yang Kania ingat sebagai salah satu selingkuhan Radhit. Bukan si Utaran alias Utari, karyawan centil dan menyebalkan. tapi si perempuan yang Kania lihat di cafe.
Hingga saat perempuan itu akan melewati mejanya, Kania langsung berdiri dan menghadangnya.
"permisi" ucap Kania sopan.
Perempuan itu mengerutkan kening, menatap bingun kepada Kania yang menghalangi langkahnya.
"saya pernah lihat kamu sama Mas Radhit, kamu kenal Mas Radhit?" tanya Kania dengan intonasi yang dia buat se sopan mungkin.
"maksud mba, Radhit Erlangga Harsono?" tanya balik wanita itu.
Kania tersenyum sambil mengangguk "iya. Mba kenal?"
"pasti kenal dong" jawabnya dengan ramah.
"kalau begitu, bisa gak kalau kita ngobrol sebentar?" tanya Kania lagi. Perempuan di hadapannya ini tidak memberikan pandangan menyebalkan seperti si Utaran. Jadi dia juga akan memulainya dengan ramah terlebih dahulu, jika perempuan itu kemudian ngelunjak seperti si Utaran, Kania juga tidak akan segan. Kania langsung sikat di tempat pokoknya.
"tentu" jawabnya lalu duduk di kursi -di hadapan Kania-.
Kania tersenyum ramah, lalu memanggil pelayan untuk mencatat pesanan perempuan itu.
"maaf ya mba kalau ganggu waktunya."
"iya gak apa-apa. Mau bicara apa ya mba?"
"mba pacarnya mas Radhit ya, atau teman?" Tanya Kania langsung pada inti.
"iya, bisa dibilang aku pacarnya, kamu tahu? kamu adiknya ya? aku Zara. Salam kenal" jawab perempuan itu ramah. Tidak tahu masih akan ramah atau tidak jika dia tahu wanita di hadapannya ini istri Radhit.
"aku Kaylia, mba. Oh iya, aku mau tanya, Mba tahu kalau Mas Radhit punya selingkuhan?"
"hah? Radhit selingkuh?" perempuan bernama Zara tersebut begitu terkejut. Jangan-jangan Zara juga tidak tahu jika Radhit memiliki istri. Wah! si kutil memang!
Kania mengangguk "maaf mba"
"iya gak apa-apa. Terus kamu tahu apa lagi?"
"mba apa tahu kalau Mas Radhit udah punya istri?"
"ISTRI?!" teriak Zara kencang membuat Kania langsung merasa malu karena banyak yang melihat ke arah mereka.
"kamu gak lagi bohongin saya kan?" Wajah Zara terlihat benar-benar terkejut. Mungkin, seperti tersambar petir di siang yang cerah.
Kania menggeleng "saya gak bohongin mba, saya tanya, cuma mau memastikan, mba tahu status aslinya Mas Radhit atau tidak. Karena sejujurnya, saya bukan adiknya Mas Radhit, saya sitrinya"
"ISTRINYA?!" lagi, Zara kembali berteriak.
"iya, saya istrinya. Kaylia Aureli Wijaya"
"bukti apa kalau kamu istrinya Mas Radhit?" wajah Zara benar-benar terlihat masih terlihat sangat terkejut.
Kania meraih ponsel, membuka galeri lalu menunjukkan foto pernikahan Kaylia dengan Radhit, tidak satu, tapi cukup banyak.
Bukan hanya terkejut, kini Zara terlihat sangat terpukul.
"maaf. Tapi ini kenyataannya. Radhit memang selingkuh dari saya, bukan cuma sama kamu, tapi sama perempuan lain juga"
Zara menghela napas, lalu menatap Kania penuh rasa bersalah.
"saya yang harusnya minta maaf mba. Kalau tahu mas Radhit udah punya istri, saya pasti gak akan mau sama dia, meskipun dia memang tipe saya. tapi saya masih punya harga diri untuk tidak menjadi pelakor." jelas Zara.
Kania tersenyum, sekarang dia benar-benar tidak memiliki alasan untuk marah dan membentak Zara karena menjadi selingkuhan Radhit. Dia perempuan baik. Radhit yang kurang asem karena membohonginya.
"terima kasih, kamu sudah mengerti" ucap Kania lalu tersenyum singkat.
"iya mba, saya paling benci namanya perselingkuhan, kaget rasanya saat saya tahu jika ternyata saya malah menjadi selingkuhan"
Kania meraih tangan Zara, menggenggamnya untuk menenangkan. "saat ini saya sedang memperbaiki hubungan saya dengan Radhit. Apa kamu bersedia memutuskan hubungan kamu dengan dia?"
"tentu mba. Saya akan langsung putus dengan Mas Radhit" Zara merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Jarinya langsung bergerak cepat mengetik sesuatu.
"lihat mba, sudah saya putuskan dan nomornya sudah saya blokir" Zara menunjukkan polsenya kepada Kania.
Kania tersenyum saat melihat pesan yang dikirim Zara kepada Radhit, dia memutuskan hubungan dan memaki Radhit di akhir kalimat.
"Terima kasih ya"
"iya mba, mba juga yang sabar ya"
"iya. Dalam kehidupan rumah tangga, pasti tidak selalu berjalan baik, begitupun saya dan Radhit. Salahnya adalah kami tidak menyelesaikannya dengan baik dan Radhit memilih untuk pergi kepada wanita lain."
Kali ini Zara yang mengeratkan genggaman "mba sabar. Saya belum menikah, tapi sebagai perempuan, saya bisa merasakan sakit hati mba. Saya harap hubungan mba dan Mas Radhit bisa kembali membaik. Mba sudah punya anak?"
Kania menggeleng.
"saya doakan agar segera punya anak ya mba. Ada suami yang benar-benar berubah setelah memilik anak"
"terima kasih ya Zara. Boleh saya minta nomor telepon kamu?"
"tentu. Mba bisa sebutkan nomor mba dan saya akan misscall"
Kania langsung menyebutkan nomor telepon Kaylia yang sudah dia ingat, lau tidak lama ponselnya berdering dari nomor tanpa nama.
"itu nomor saya mba"
"iya, saya save ya"
"iya"
"sekali lagi, terima kasih ya Za, kamu perempuan baik. Maaf karena suami saya sudah bohongin kamu dan sakitin hati kamu. Terima kasih juga sudah mengalah dan menyudahi hubungan kamu. Semoga kamu bisa mendapat pasangan yang sempurna untuk melengkapi hidup kamu dan pastinya setia"
"iya mba. Saya senang membantu sesama perempuan. Semoga selingkuhan Mas Radhit yang juga bisa mundur ya mba. Jahat kalau perempuan malah merusak kebahagiaan perempuan lain"
"aamiin, saya juga berharap begitu. Seperti kamu yang mendukung saya. Bukan malah sebaliknya, berdiri tegak dan meminta saya melepaskan Radhit"
***
Kania tersenyum lega dalam perjalanan menuju pulang. Rasanya beruntung karena bertemu perempuan yang masih peduli kepada perempuan lain. Kania tahu jika Zara juga pasti sakit hati mengetahui fakta yang ada, apalagi dia juga memang memiliki perasaan kepada Radhit. Alih-alih bertahan disisi Radhit karena cinta, Zara memilih mundur dan mendukung posisi Kaylia.
Ponselnya kembali berdering, mengetahui jika Zaki kembali menghubungi, Kania langsung menghela napas dan menolak panggilan tersebut.
"ganggu aja itu manusia" kesal Kania lalu menatap kemacetan yang terjadi.
Hingga tiba-tiba Kania merasa seolah ada lampu yang menyala dikepalanya. Kania langsung mengirim pesan kepada Zaki.
"gue comblangin lu!" ucapnya puas setelah pesan kepada Zaki dibaca laki-laki itu.
***