Setelah berpamitan dengan teman-teman barunya, Kania masuk kedalam rumah sambil menggandeng tangan Radhit. Jujur saja, meskipun dia senang karena bisa bebas beberapa hari kebelakang, tapi dia juga tidak memungkiri jika dia juga rindu. Mungkin karena sudah terlalu biasa dengan sosok itu. "kangen gak?" tanya Kania sambil keduanya melangkah menuju dapur. Kania haus. "biasa aja" jawab Radhit yang tanpa protes mengikuti langkah istrinya. Kania berdecak "emang, begini nih resiko punya suami gak ada manis-manisnya. Kalah sama galon!" Radhit tersenyum mendengarnya, saat istrinya tidak ada, dia merasa sepi, seperti ada yang kurang jika tidak mendengar teriakannya atau omelannya. Apa itu bisa di kategorikan rindu? mungkin, iya. Melepas genggaman dengan tangan Radhit, Kania melangkah menuju kulk

