Hari sudah berlalu, dan seharusnya Lavender sudah melupakan kekesalannya karena ditolak universitas itu. Tapi nyatanya, bahkan ketika dia sudah mau mendekati ujian akhir seperti ini, rasa sakit itu tidak juga bisa ia hilangkan. Terlebih, beberapa universitas di mana dia ingin mendaftar, akan membuka sesi wawancara dan tesnya setelah ujian akhir, sehingga bisa dibayangkan bagaimana Lavender kini mencoba tenang sekalipun harap-harap cemas. Ditambah, Elijah seolah tidak menunjukkan simpatinya pada Lavender. Oh, tidak-tidak, Lavender tidak ingin dikasihani. Hanya saja, bukankah Elijah seharusnya mampu memberikan dukungan moral padanya dan mengatakan kalau ketakutan Lavender ini hanya sementara. Bukan hanya terus mengatakan soal kebanggaannya dan usahanya yang tidak sia-sia. Bukannya menenang

