Chapter 3

1066 Kata
"Mau pergi keluar bersamaku?" Lavender yang sedari tadi memilih untuk menundukkan pandangannya dan fokus pada makanannya, terlonjak ketika Elijah menawarinya hal itu. Dia mendongak dan lagi-lagi kembali guguup ketika tatapan mereka bertemu. Lavender tersenyum simpul. "Apa boleh?" Elijah dengan santainya melirik kedua ibu mereka yang asyik mengobrol riang. Dia mengangguk. "Ayo." Elijah bangkit lebih dulu dari duduknya. Derit kursinya menarik perhatian dari Ivy dan Akana. "Kamu mau kemana, El?" tanya Ivy dengan nada yang sangat lembut. Nada yang biasa diucapkan dari seorang ibu ke anaknya, namun tidak pernah didapatkan Lavender dari ibunya sendiri. Elijah tersenyum manis. "Aku ingin mengajak Lavender ke taman, apa tidak apa-apa?" Lelaki itu masih sempat menoleh pada Akana, secara tidak langsung meminta izin. "Oh iya, silakan." Ivy tertawa kecil. Merasa sangat lucu melihat interaksi keduanya yang terlihat canggung dan malu-malu. "Ayo," ajak Elijah sekali lagi dan lebih dulu melangkahkan kakinya. Sementara itu, Lavender masih terdiam di tempatnya dan menoleh pada ibunya. Tatapan mereka bertemu dan Lavender tahu bahwa ibunya sekarang sedang mengancamnya. Tatapannya itu bisa diartikan; jangan membuat onar dan membuat Ibu malu! Lavender mengangguk samar dan bangkit untuk menyusul Elijah setelah sebelumnya dia membungkukkan badannya pada Ivy dan Akana sebagai rasa hormatnya. "Akana, anakmu sangat sopan." Akana hanya tersenyum malu mendengarnya. "Iya, aku tidak gagal membesarkannya, bukan?" Ivy tertawa kecil. "Tentu, aku suka dengan perilakunya. Wajahnya juga sangat cantik, ya." Akana tersanjung. Yap. Setidaknya anak itu berhasil membuat dirinya terlihat seperti Ibu yang baik. Di lain tempat, Lavender sudah duduk di samping Elijah di bangku taman itu. Tangannya tertaut satu sama lain. Lavender benar-benar gugup saat ini. Untuk diketahui saja, ini adalah kali pertama dia duduk bersama pria dan berdekatan seperti ini. Astaga, tolong jaga jantungnya agar baik-baik saja. "Lavender." Lavender menoleh pada Elijah. "Iya?" "Bagaimana bisa aku baru mengetahui kamu ada di sekolah yang sama denganku sekarang?" Elijah tidak tahu bahwa ada gadis cantik dan lugu yang dapat menarik perhatiannya di pertemuan pertamanya yang bersekolah di Sherman Oaks High School, sekolah yang sama dengannya. Lavender bingung harus menjawab apa. Akhirnya, dia hanya tersenyum malu-malu. Elijah yang melihatnya ikut tersenyum manis. Lavender sadar dia terlalu banyak tersenyum dan membuat pipinya pegal bukan main. "Oh, apa tidak apa-apa jika kita terlalu lama di sini?" Lavender takut jika ibunya marah karena dia terlalu lama menghabiskan waktu dengan Elijah. Elijah mengangguk. "Bukankah sangat membosankan di dalam sana? Hanya diam dan mendengarkan obrolan kedua ibu kita yang mana kita sama sekali tidak mengerti." Lavender tertawa kecil. "Iya." Setelahnya, keheningan kembali menghiasi atmosfer di antara mereka. Sial. Lavender merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa berbasa-basi apalagi dengan seorang lelaki yang belum dia kenal. Dia hanya menundukkan pandangannya dan melihat kakinya yang ia gerak-gerakkan kecil. "Apa rencana kamu setelah lulus?" tanya Elijah memecah keheningan di antara mereka. Mungkin lelaki itu tidak tahan jika terus berdiam diri ketika dia ingin tahu lebih banyak soal gadis di sampingnya ini. "Kuliah." Lavender menoleh kembali padanya. " ... dan mencari beasiswa." Elijah mengangguk-anggukkan kepalanya. "Universitas mana?" "Sebenarnya aku ingin masuk ke Duke University, karena orang tuaku ingin aku masuk ke sana. Tapi, aku masih harus melihat peluang lain dan beasiswa yang akan membiayai penuh." "Interesting." Elijah tersenyum. Tatapannya tidak lepas dari wajah Lavender yang sangat manis. Astaga, Elijah bisa gila! "Oh, bagaimana dengan kamu?" Lavender lupa bahwa dalam pembicaraan dua arah, tidak seharusnya dia terlalu pasif, atau dia akan menyinggung Elijah dan membuatnya berpikir bahwa dia tidak ingin mengobrol dengannya. "Sama, aku juga berencana untuk kuliah. Harvard yang menjadi tujuanku." Elijah tertawa canggung. Lavender menaikkan kedua alisnya, tertarik dengan ucapan Elijah. "Wonderful!" Lavender tahu, tidak sulit untuk Elijah memilih universitas. Orang tuanya pasti bisa membiayainya dan sudah pasti mendukungnya penuh. Ah, Lavender kadang lupa bersyukur dan terus membandingkan kondisinya dengan orang lain. "Tapi entahlah, Ibuku pernah melarangku untuk kuliah dan menyuruhku untuk bekerja saja." Lavender mengeryitkan dahinya. "Kenapa?" "Untuk mengurus perusahaan keluarga," ujarnya. Lavender menganggukkan kepalanya lagi. Elijah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Tujuan hidupnya sepertinya bisa disokong oleh orang tuanya dan tidak perlu lagi memikirkan beasiswa dan yang lainnya. Lavender pernah mendengar suatu ungkapan yang mengatakan; sebagian orang lahir dengan keberuntungannya masing-masing, satu terlahir di keluarga yang akan mendukung kesuksesannya, dan satu lagi terlahir untuk menjadi pejuang dan bekerja lebih keras untuk mencapai kesuksesannya. Elijah Theodore terlahir dari keluarga yang mampu menuruti semua pilihan hidupnya, mungkin keluarga lelaki itu akan selalu mendukung apapun keputusannya. Sementara Lavender, dia harus menuruti semua keinginan orang tuanya dan bekerja keras untuk mencapai itu semua. "Mengurus perusahaan keluarga bukanlah hal yang buruk, bukan?" Lavender melempar senyumnya pada Elijah. "Memang tidak, tapi aku lebih memilih untuk meraup ilmu sebanyak mungkin. Terkadang terjun ke dunia bisnis mengharuskan aku untuk memiliki tanggungjawab yang sangat besar." Elijah menghela napas. "Tapi, ya, benar apa kata kamu, itu bukanlah sesuatu yang buruk." Lavender tertawa kecil. Walaupun mereka canggung setengah mati, tapi pembicaraan mereka mengalir begitu saja. * "Apa yang kamu bicarakan dengan Elijah?" tanya Akana setelah mereka sampai di rumahnya. Lavender membuka mantelnya dan menyampirkannya di samping pintu. "Hanya membahas sekolah dan perkuliahan," jawab Lavender sambil melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil minuman. "Kamu tidak mengatakan hal yang aneh-aneh, bukan?" Akana bertanya dengan nada yang mengintimidasi. Ketika mengobrol dengan Ivy Theodore tadi, hatinya tidak tenang karena takut anak semata wayangnya itu mengatakan sesuatu yang dapat membuat keluarga terpandang itu sakit hati. "Tidak, Ibu. Kami lebih banyak diam dibandingkan berbicara satu sama lain." Tapi walaupun begitu, Lavender tidak bisa menampik bahwa dia tidak menyesal sudah mengobrol berdua dengan lelaki itu. Elijah berhasil membuatnya nyaman di tengah kecanggungan mereka. Akana mengangguk-anggukan kepala seadanya. "Apa kamu tertarik padanya?" Lavender mengeryikan dahinya. "Maksud Ibu?" Akana menghela napasnya. Ia lupa bahwa anaknya ini sangat polos dan tidak akan mengerti kode-kode yang ia katakan. "Ivy sepertinya sangat menyukai kamu, jika kamu berhasil berpacaran dengan Elijah, mungkin itu akan membuat keluarga kita 'sedikit' dilihat orang lain." Lavender terdiam. Dia menundukkan kepalanya. Dirinya tidak pernah berpikir untuk menjalani hubungan dengan siapapun ketika masih bersekolah. Lagipula, orang tuanya beberapa kali mengancamnya untuk tidak melakukan tindakan 'aneh' di sekolah, termasuk berpacaran. "Tidak tahu, Ibu." Lavender sedikit kesal ketika ibunya terlalu haus akan validasi dari orang-orang dan terlihat memaksakan dirinya. "Elijah juga sangat tampan, bukan?" Akana mengendikkan bahunya dan meninggalkan Lavender sendirian di sana. Lavender menarik napas dalam-dalam. Sepertinya dia harus lebih membiasakan diri dengan sikap orang tuanya yang gemar menuntut dirinya. Ingat, Lavender, jangan membuat mereka menyesal sudah membesarkan kamu, karena bagaimanapun juga, kamu berhutang banyak pada mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN