Chapter 2

1059 Kata
Lavender baru sampai ke rumahnya sepulang sekolah dan melihat ibunya sudah rapi dengan pakaiannya yang sangat rapi dan bagus. "Ibu akan berangkat sekarang?" Akana menoleh kepada Lavender dan membelalakkan matanya. Dia lupa bahwa yang akan menemaninya sekarang adalah Lavender dan anaknya ini baru saja pulang, belum bersiap-siap sama sekali. Akana berdecak. Dia menarik tangan Lavender. "Cepat siap-siap. Baju yang akan kamu pakai sudah Ibu siapkan di atas ranjang kamu." Lavender sedikit meringis karena ibunya menarik tangannya cukup kasar. "Ayo, cepat!" Melihat Akana yang panik, membuat Lavender ikut terburu-buru. Lavender membuka pintu kamarnya cepat dan benar saja apa yang diucapkan ibunya. Dress manis berwarna pastel yang sangat simpel itu sudah ada di ranjang miliknya. Lavender tidak tahu bahwa dia punya dress sebagus itu. Perempuan dengan rambut hitam sebahu itu mengambil dress tersebut dan memerhatikannya untuk beberapa detik. Mungkin bagi sebagian orang dress itu sama sekali tidak spesial, tapi bagi Lavender, itu sangat cantik! "Lavender, cepatlah! Ibu menunggu!" Seruan ibunya itu membuat Lavender terlonjak dan dia segera mengganti bajunya. Ah sial. Dia tidak suka tergesa-gesa begini. Lagipula, sepertinya makan malam itu bukanlah acara formal, tapi kenapa ibunya sangat ribut begini? Lavender memoleskan make-up seadanya karena ibunya terus membuatnya tergesa-gesa. Setelah selesai, mereka segera berangkat dengan taksi yang sudah ibunya pesan. Di perjalanan, Lavender tidak berbincang dengan ibunya. Hubungan mereka memang tidak dekat. Lavender jarang sekali menceritakan masalah pribadinya pada Akana. Di sisi lain, Akana juga hanya peduli pada nilai Lavender dan pencapaiannya di sekolah. Selain itu, dia tidak peduli. Selama Lavender menjadi gadis baik dan penurut, juga tidak merugikan sama sekali, maka semuanya aman dan Akana tidak perlu khawatir. "Apa kata wali murid kamu, Lavender?" tanya Akana setelah ingat bahwa anaknya ini baru saja konsultasi mengenai universitas yang akan ia tuju. Pertanyaan Akana itu memecah keheningan di antara mereka. Lavender menoleh pada ibunya, yang mana Akana sama sekali tidak menatapnya dan memilih untuk tetap memainkan ponselnya. "Kata Bu Jessica, ada beberapa universitas yang mengadakan wawancara. Beliau akan memberitahuku nanti." Akana mengangguk. "Pastikan dapat beasiswa di universitas yang bagus, ya, Lavender. Jangan membuat Ibu malu." Lavender mengangguk mantap. "Iya, Ibu." "Apa kamu punya kegiatan lain di sekolah?" Lavender menggeleng. Dia termasuk salah satu kutu buku di sekolahnya. Dia tidak pernah ikut berpesta seperti teman-temannya yang lain. Dia tidak pernah menginap di rumah temannya. Lavender bahkan tidak mengikuti ekstrakulikuler apapun. Semua itu ia lakukan hanya untuk memertahankan nilainya di kelas dan membuatnya mudah mendapatan universitas yang dia inginan. Itu semua membuang-buang waktumu, Lavender. Itu-lah yang dikatakan Akana tiap kali Lavender mengatakan temannya mengundangnya ke rumah mereka. Lavender mengikuti setiap peraturan dan ucapan orang tuanya tanpa terkecuali. "Bagus. Tidak perlu mengikuti kegiatan apapun yang sekiranya tidak akan membantu kamu mendapatkan beasiswa ataupun mendapatkan universitas bergengsi. Paham?" Akana kali ini menoleh pada Lavender dengan tatapan menuntut. "Paham, Ibu." Lavender anak yang baik. Apapun yang diinginkan orang tuanya, selalu ia penuhi. "Oh iya, anak dari Ivy Theodore juga satu sekolah dengan kamu. Jika dia ada nanti, tolong jaga sikap kamu dan jadilah gadis baik." Lagi-lagi Lavender mengangguk. "Iya." * "Akana!" Ivy Theodore terlihat sangat cantik dengan balutan floral dress yang ia kenakan. Wanita itu merentangkan kedua tangannya, bermaksud memeluk ibu dari Lavender itu. Wajah dingin Akana yang selalu ia berikan tiap kali bersama Lavender, langsung berubah dalam sekejap, digantikan wajah yang berseri dan senyuman manis. "Astaga, sudah lama sekali kita tidak bertemu." "Aku sangat merindukan kamu," ujar ibunya. Lavender berdiri di samping Akana dengan senyuman di wajahnya. Jadilah gadis baik, ucapan ibunya terpatri jelas di pikirannya. Setelah basa-basi dengan Ivy, Akana teringat anaknya yang berdiri di sebelahnya. "Oh, Ivy, perkenalkan ini anakku, Lavender namanya. Kamu sudah pernah menemuinya, bukan?" Ivy terlihat senang ketika melihat Lavender. "Astaga kamu sudah besar, ya!" Ivy mengusap pipi Lavender dengan lembut. "Kita pernah bertemu dulu dan kamu sekarang tumbuh dengan baik. Sangat cantik." Pujian itu tak ayal membuat pipi Lavender memerah. "Terima kasih, Tante." Lavender menudukkan sedikit badannya untuk menghormati Ivy. "Sopan sekali," puji Ivy kembali. Akana tertawa kecil dan mengusap rambut anaknya, yang mana hal itu tidak pernah terjadi jika tidak ada orang lain yang ingin ia buat terkesan. "Ayo, silakan masuk." Mereka masuk ke rumah Ivy Theodore yang sangat mewah dan elegan. Ah pantas saja ibunya ingin mereka berdandan rapi ketika diundang makan malam oleh Ivy, ternyata mereka benar-benar berasal dari kelas sosial teratas. Tidak enak juga jika mereka mengunjungi kediaman ini dengan dandanan seadanya. "Silakan," ujar Ivy menyuruh kedua tamunya itu untuk duduk di hadapan meja makan. Lavender mengagumi tiap detail rumah Ivy Theodore dan tidak terlalu memerhatikan obrolan dua wanita itu. Cukup lama ibunya dan Ivy mengobrol hingga makanan sudah tersajikan di hadapan mereka. "Ah, iya. Anak laki-laki aku akan ikut dengan kita. Tunggu sebentar, ya." Lavender diam saja. Tidak begitu penasaran pula dengan anak laki-laki Ivy. Dia terlalu senang melihat interior rumah itu hingga dia lupa bahwa tindakannya itu jika berlebihan maka akan dianggap tidak sopan. "Lavender, ini anak laki-laki Tante, namanya Elijah Theodore." Lavender merasakan pukulan pelan di pahanya dan dia terlonjak. Dia menoleh ke arah ibunya, tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia dipukul. Ibunya melirik ke arah Ivy diam-diam, membuat Lavender mengeryitkan dahinya. Namun, sepersekian detik kemudian dia sadar bahwa Ivy baru saja berbicara padanya. Dia tersentak dan menunduk sopan. "Maaf, Tante." Lalu, ketika mendongakkan kepalanya, tidak sengaja tatapannya bertabrakan dengan tatapan lelaki di hadapannya. Lavender terkejut saat tahu bahwa anak dari Ivy adalah lelaki yang tidak sengaja dia tabrak siang tadi di koridor sekolah. "Oh, kamu," ujar Lavender secara refleks. Hal itu membuat Lavender dihadiahi cubitan keras di pahanya hingga ia tersentak. Lavender sadar bahwa ucapannya lagi-lagi tidak santun. "Senang bertemu dengan kamu," ujar Lavender meralat ucapannya sebelumnya. Lelaki yang bernama Elijah itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Kita bertemu lagi," ujarnya dengan tenang dan lembut. Tatapan pria itu intens padanya dan mampu membuat Lavender gugup. Sial. Dia paling lemah ketika ditatap sedemikian rupa oleh lawan bicaranya, karena itu juga dia jarang sekali menatap lawan bicaranya tepat di manik mata. "Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ivy dengan kedua alis terangkat ke atas, tanda bahwa dia sangat tertarik dengan fakta itu. "Kami sempat bertemu tidak sengaja tadi di sekolah." Elijah menjelaskan, namun tetap saja tatapannya seolah terkunci pada Lavender. "Ah, kebetulan sekali," komentar Akana. Lalu, kedua wanita itu kembali larut dalam pembicaraan mereka sambil menikmati makan malam mewah itu. Berbeda dengan Lavender yang mati kutu di tempat karena Elijah tetap tidak melepaskan tatapan darinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN