Seisi hidup Lavender, dia tidak pernah berani berandai-andai jika dia bisa menyukai lelaki selagi ia sekolah. Orang tuanya mendoktrin bahwa berpacaran ketika dia masih duduk di bangku sekolah hanya akan mengganggu konsentrasi belajarnya. Lagipula, Lavender tidak pernah berani untuk membayangkan berpacaran dengan lelaki seusianya. Dia selalu berpikir kalau dia tidak semenarik itu untuk mmenggaet lawan jenis.
Tapi, melihat Elijah Theodore, Lavender tidak akan membohongi dirinya; bahwa dia menyukai lelaki seperti Elijah.
Oke, siapa yang tidak akan tertarik pada Elijah? Lelaki paling sopan yang ia temui, gemar menebar senyum, dan sangat ramah. Lavender mungkin tidak memiliki pengalaman dengan lelaki mana pun, tapi ia bisa membedakan kalau senyuman Elijah bukan senyuman yang dibuat-buat.
“Ah, aku seharusnya tahu kalau murid-murid seperti kamu memang menyiapkan semuanya dengan matang-matang.” Elijah mengulum senyumnya. Akhirnya, setelah beberapa saat yang sangat canggung di antara mereka, Elijah berhasil menemukan bahasan yang tepat. Lagi-lagi bahasan tentang kuliah dan masa depan mereka.
Lavender tertawa kecil sambil menutup bibirnya dengan punggung tangannya. “Murid-murid seperti aku?”
“Iya, murid-murid yang menghabiskan makan siangnya di kelas sambil mengerjakan soal-soal untuk kuliah nanti.” Elijah mengulurkan tangannya sambil menutup buku di hadapan Lavender.
“Kamu berlebihan,” ujar Lavender sambil menggelengkan kepalanya kecil. “Hei!” Dia berseru tidak setuju ketika Elijah menutup bukunya.
“Aku ingin mengobrol dengan kamu, dan bukankah tidak baik jika kamu mengobrol sambil melakukan sesuatu dan tidak menatap lawan bicara kamu?” Elijah mengangkat dagunya, berhasil meyakinkan Lavender untuk menghentikan kegiatannya.
Lavender menghela napas dan memutar bola matanya malas. “Baiklah,” ujarnya pasrah.
“Jadi, ceritakan padaku apa hal lain yang kamu lakukan di rumah selain belajar?” Entah Elijah memiliki keberanian dari mana untuk membicarakan hal yang lebih santai. Namun, menyadari suasana di antara mereka tidak lagi canggung seperti beberapa menit yang lalu, membuat Elijah ingin mengenal perempuan di sampingnya ini lebih dekat.
Elijah ingin memiliki hubungan—setidaknya, sebagai teman—dengan Lavender. Apalagi mengingat kedua ibu mereka sudah saling kenal, dan Elijah sudah tertarik dengan Lavender sejak awal mereka bertemu.
“Hm … apa ya.” Lavender terlihat sedang berpikir. Pertanyaan sederhana dari Elijah membuatnya sadar kalau dia memang tidak memiliki kegiatan lain di rumahnya selain belajar dan belajar lagi. Bisa dibilang, dia hanya numpang tidur saja di rumah—karena dia menghabiskan waktunya di sekolah dan tempat les. Pikirannya tidak jauh-jauh dari buku dan tujuannya untuk kuliah.
“Ayolah, pasti ada sesuatu yang kamu lakukan agar kamu bisa rehat sejenak dari kegiatan belajar kamu,” ujar Elijah dengan senyuman mengembang.
Lavender tertawa kecil melihat Elijah yang mencoba begitu keras agar mereka memiliki topik pembicaraan. Iya, Lavender tahu akan hal itu karena terlihat jelas dari gerak-gerik Elijah. “Mungkin baca buku?” ujar Lavender sedikit tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
“Jangan mengatakan kalau buku yang kamu maksud adalah buku pelajaran juga.”
Lavender kembali tertawa dan dia menggeleng. Astaga, mungkin Elijah sekarang akan beranggapan kalau Lavender adalah gadis yang membosankan—gadis yang kesehariannya hanya diisi dengan buku. Tapi, memang itulah kenyataannya. Tuntutan dari kedua orang tuanya membuat Lavender seolah berlomba dengan hidup—dengan dirinya sendiri. Dia tidak tahu apakah dia menikmati apa yang ia lakukan sekarang, tapi setidaknya … dengan apa yang ia lakukan saat ini, dia akan tahu kalau semuanya akan baik-baik saja.
Dengan kata lain, selama orang tuanya tidak kecewa padanya, maka dia akan baik-baik saja.
“Tidak, aku juga suka buku novel.”
Kedua alis Elijah terangkat. “Novel? Aku juga suka.” Ah, akhirnya mereka menemukan satu hal yang sama.
“Oh iya? Aku suka novel romansa—yap, karena aku perempuan. Dan … aku juga suka novel fantasi.” Lavender terlihat berbinar ketika mengatakan apa yang ia suka. Tidak seperti tatapannya sebelumnya, yang terlihat suntuk tapi ingin menunjukkan kalau dia baik-baik saja.
“Fantasi? Well, aku juga suka fantasi. Siapa penulis favorit kamu?”
Kedua anak remaja itu terlihat antusias satu sama lain. “Leith Bardugo, aku baru saja selesai membaca trilogy Shadow and Bone.”
“Aku juga suka!”
“Benarkah?”
“Well, tahu apa yang menarik?”
Lavender mendekatkan diri pada Elijah. “Apa?”
“Ibuku mengenal Leith Bardugo.”
“No way!” Lavender menutup bibirnya dengan tangannya. Dia tahu kalau Elijah berasal dari keluarga yang sangat kaya dan terpandang, tapi dia tidak pernah menyangka kaalau keluarga itu juga mengenal salah satu penulis faavoritnya. Oh astaga, seharusnya Lavender lebih mengetahui kalau kekuasaan keluarga Theodore lebih dari yang ia duga.
Elijah tertawa melihat ekspresi dan respon antusias dari Lavender. “Aku akan mengajak kamu jika aku bertemu dengan Leith nanti.”
“Kamu pernah bertemu dengannya?” Lagi-lagi Lavender dibuat kaget oleh Elijah.
“Beberapa kali, pernah. Aku begitu menyukai karya-karyanya, dan ketika bertemu aku selalu mengatakan kalau aku membaca buku-bukunya beberapa kali.”
Lavender masih saja menganga dibuatnya. “Kamu janji akan membawaku jika kamu nanti bertemu dengannya, bukan?” Untuk kali pertama, Lavender dengan mudahnya merasa dekat dengan seseorang—sesuatu yang seharusnya bisa ia banggakan, karena sedari dulu, dia tidak pernah bisa dekat dengan orang lain dalam hitungan menit.
“Tentu saja. Pasti akan menyenangkan berbicara novel dengan seorang gadis kutu buku seperti kamu,” ujar Elijah dengan nada bercandanya yang membuat Lavender memberenggut sebal.
Lavender tidak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti jika dia dekat dengan Elijah. Hanya ada dua hal yang ia lihat sekarang; satu, bahwa dia memiliki teman baru bernama Elijah—murid terkenal di angkatannya dan juga idaman semua teman kelasnya, dan dua, bahwa dia akan bertemu dengan penulis favoritnya.
Itu, bukan sesuatu yang buruk, bukan?
***
Lavender sampai di rumahnya sore itu, dan melihat kedua orang tuanya sedang berkumpul di meja makan. Lavender kembali melirik selembar kertas yang ia pegang. Tangannya gemetar dan jantungnya berdegup sangat kencang. Dia harus siap-siap untuk menerima omelan dari mereka.
Hasil try-out terakhir yang diselenggarakan oleh tempat les-nya sudah keluar, dan Lavender harus menerima fakta bahwa nilainya tidak sesempurna yang ia harapkan. Mungkin bagi semua murid-murid di tempat les itu, mendapatkan nilai yang sekarang dimiliki Lavender adalah satu keajaiban, tapi sayangnya bagi Lavender, hal itu tidak berlaku.
Ada beberapa soal yang ia jawab salah dan mengakibatkan nilainya tidak sempurna, dan bagi kedua orang tuanya, hal itu adalah sesuatu yang tidak membanggakan.
“Aku pulang,” ujar Lavender ketika melangkahkan kakinya menuju tempat kedua orang tuanya.
Orang tuanya tidak menjawab sapaan dari Lavender, tapi dia tahu kalau Akana sedang menatap kertas yang ia bawa. “Apa itu?” tanya Akana dengan nada yang tidak enak didengar. Sangat dingin.
“Hasil try-out aku.” Oke, Lavender, saatnya kamu mendapatkan omelan lagi dari mereka. Nilai yang kamu dapatkan tidak akan membuat mereka senang.
“Sini.” Akana mengambil kertas itu begitu saja tanpa basa-basi. Gerakannya sangat kasar dan semakin membuat Lavender ketakutan.
Beberapa detik kemudian, ketakutan Lavender menjadi nyata.
“Kamu yakin akan masuk Duke University dengan nilai seperti ini? Memalukan!”
***