Lavender duduk di hadapan Akana dengan pandangan tertunduk. Raut wajahnya tidak memperlihatkan kebahagiaan sama sekali. Dia hanya diam dan mendengarkan tiap kata yang dilontarkan oleh Akana, tiap nada kekecewaan yang diberikan ibunya. "Kamu mungkin merasa hebat ketika mendapatkan nilai ini, tapi bagi Mama dan Ayah kamu, kamu sama sekali tidak mendapatkan apa-apa." Jujur saja, ingin Lavender katakan kalau nilai yang ia dapatkan sudah lebih dari cukup untuk masuk ke Duke University. Lagipula, bukankah universitas di sini tidak bergantung pada hasil tes semata? Masih ada tahapan wawancara yang harus dijalani dan itu juga sama menentukannya.
Tapi, tentu saja Lavender tidak berani untuk mengatakan semua itu pada ibunya. Lavender tidak pernah berani untuk mendebat kedua orang tuanya. Sedari kecil, dia tidak bisa mengeluarkan pendapat dan mengutarakan perasaannya. Dia dipaksa untuk tunduk pada tiap perintah orang tuanya tanpa mementingkan perasaannya.
Ayahnya yang sedari tadi diam, hanya tersenyum miring pada anak semata wayangnya. "Apa yang kamu harapkan, Lavender? Kamu tahu kalau orang tua kamu ingin yang terbaik untuk kamu. Kami berdua ingin kamu masuk universitas ternama, mendapatkan kerja yang bagus, dan mengangkat derajat kita semua. Apa itu begitu susah untuk kamu lakukan?"
Lavender semakin menundukkan pandangannya. Dikuncinya rapat-rapat bibirnya. Tidak bisa mengeluarkan satu patah kata pun.
"Lavender, kamu dengar kami, bukan? Kami tidak mau kamu gagal dalam try-out atau tes kamu!" Ibunya menambahkan. Ucapan ibunya dijawab anggukan oleh Lavender.
Dulu sekai, Lavender pernah berpikir kalau kedua orang tuanya begitu menyayanginya hingga menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Lavender berpikir kalau mereka tidak ingin Lavender tumbuh menjadi anak yang bodoh dan malas. Namun semakin lama, Lavender seolah dijadikan mesin oleh mereka.
Kedua orang tuanya seolah tidak peduli hal lain dan menganggap Lavender sebagai robot mereka. Lavender mulai memertanyakan semua yang dilakukan orang tuanya. Apakah semua anak memang diperlakukan seperti ini?
Kertas hasil try-out Lavender dilemparkan begitu saja oleh Akana. "Cobalah lagi, Lavender. Coba lebih keras untuk setidaknya, jangan mempermalukan kami, karena sepertinya ... untuk menjadi anak yang membanggakan begitu sulit bagi kamu."
Lavender mengangguk. Dia mengambil kertas itu dan membawanya bersamanya. Lavender masuk ke kamarnya. Terdiam di sisi ranjangnya.
Ini bukan kali pertama dia disepelekan oleh orang tuanya. Tapi, kenapa rasanya sangat sakit?
Lavender menahan napasnya seiring dengan dadanya yang semakin sesak. Tidak, dia tidak boleh menangis. Dia tidak boleh menangis sama sekali. Terlalu sering dia disepelekan, dan di saat-saat sebelumnya, dia juga tidak menangis.
Tapi, Lavender lelah. Sungguh, benar-benar lelah.
*
Elijah menghampiri ibunya yang berada di kamarnya. Anak lelaki itu mengetuk pintu kamar Ivy pelan. "Masuk." Setelah mendapat respon dari ibunya, segera Elijah melangkahkan kakinya.
"Ma?"
"Elijah?" Ivy menatap anaknya. "Ada apa?"
"Aku ... ingin bicara." Elijah tersenyum konyol. Dia yakin sekarang ekspresinya sangat aneh dan membuat ibunya mengeryitkan dahinya tidak mengerti.
Ivy menghembuskan napasnya panjang dan menepuk tempat di sampingnya. "Ada apa?" tanyanya lagi ketika Elijah berada di sampingnya.
"Mama ingat kenalan Mama yang bernama Leith?"
Ivy berpikir sebentar. "Leith Bardugo? Si penulis itu?"
Elijah mengangguk semangat. "Iya. Mama mengingatnya, bukan?"
Ivy menjawabnya dengan gumaman. Namun, keryitan di dahinya tidak berkurang. "Kenapa?"
"Boleh aku bertemu dengannya lagi?"
Ivy terkejut mendengar permintaan dari anaknya. "Leith Bardugo? Kamu ingin bertemu dengannya?"
Elijah menjawab dengan anggukan mantap. Dia tidak yakin dia bisa jujur pada ibunya alasan kenapa dia ingin sekali bertemu dengan penulis terkenal itu. "Ma? Boleh, ya?"
Elijah bukan anak yang sering meminta hal-hal aneh selama ini. Bisa dihitung berapa kali Elijah meminta sesuatu pada Ivy, hal itu membuat Ivy tidak tega untuk menolak permintaan dari anaknya.
"Tentu saja boleh, kalau dia memiliki jadwal kosong dan punya waktu." Ivy tersenyum. "Memangnya, kenapa kamu tiba-tiba ingin bertemu dengannya, Elijah? Ini tidak seperti kamu." Ivy memincingkan matanya pada Elijah untuk mengetahui apa yang disembunyikan oleh anaknya.
"Aku ..."
"Elijah, kamu tahu kalau Mama tidak suka kamu berbohong." Ivy tersenyum penuh kemenangan.
Mendengar helaan napas dari Elijah, membuat Ivy tahu kalau anaknya tidak akan berbohong padanya.
"Aku ingin mengajak seseorang untuk bertemu dengannya."
Ivy mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a. "Dan siapa orang itu, Elijah?"
Elijah menundukkan pandangannya, terlalu sungkan jika harus bertatapan dengan ibunya. "... Lavender."
Ivy terkejut mendengarnya. Bukan karena dia tidak suka, tapi karena dia tidak menyangka anaknya akan dekat dengan Lavender secepat ini. Ivy mengira butuh waktu lama bagi Elijah untuk mendekati Lavender, mengingat Elijah setahu Ivy tidak memiliki banyak pengalaman dengan gadis-gadis.
"Wah, sepertinya makan malam tempo hari membuat kamu dekat dengannya, ya," goda Ivy yang membuat Elijah berdecak kecil.
"Mama, jadi boleh atau tidak?" tanya Elijah memotong pembicaraan mereka karena dia terlalu malu untuk membicarakan tentang Lavender dengan ibunya.
"Well, Mama akan menelepon asistennya dan menanyakan kapan jadwalnya kosong." Ivy berkata dengan tenang, berbeda dengan Elijah yang gusar sekarang. Masalahnya, dia sudah mengatakan pada Lavender bahwa dia mengenal Leith Bardugo. Jika ternyata dia tidak bisa membawa Lavender untuk bertemu dengannya, maka habislah citra Elijah di hadapan gadis itu.
"Ma, bisakah Mama usahakan hal itu terjadi?" tanya Elijah sambil memohon. "Ma?"
Ivy hanya tertawa. "Mama akan menanyakan lebih dulu, Elijah. Mama sendiri tidak tahu kapan dia memiliki jadwal kosong." Ah, benar juga. Leith dan ibunya memang mengenal satu sama lain, tapi hal itu tidak menjamin kalau mereka bisa bertemu dengan mudah.
"Baiklah," ujar Elijah pasrah.
Ivy kembali terkekeh kecil melihat wajah Elijah.
"Tapi tentu saja, Mama akan mengusahakannya. Mama akan memberikan apapun untuk anak kesayangan Mama." Elijah adalah anaknya yang ia idam-idamkan. Anak lelakinya itu selalu menjadi favoritnya, berbeda dengan kakaknya dulu. Sangat berbeda.
Setidaknya, Elijah tidak pernah mengecewakan.
*
Jika sudah belajar terlalu lama, Lavender selalu lupa waktu. Buktinya, sekarang sudah jam dua belas malam, waktunya bagi dia istirahat. Namun, mengingat kalau dia belum mendapatkan hasil yang memuaskan pada try-out terakhirnya, membuat Lavender tidak mau berhenti.
Pokoknya, dia harus meningkatkan nilainya. Apapun yang terjadi.
"Lavender." Pintu kamarnya terbuka sedikit dan menampilkan ibunya dengan piring di tangannya. Ada telur dadar dan sayur di atas piring itu.
"Makan." Akana menghampirinya dan menaruh piring itu begitu saja di samping Lavender.
Diam-diam, Lavender tersenyum. Ini juga yang membuat Lavender sulit untuk mengerti. Di satu sisi, ibunya kadang bertindak kejam dan memiliki hati yang dingin. Tidak pernah memerhatikan Lavender ataupun sekadar menanyakan kabarnya. Namun di sisi lain, ibunya juga sering memberikan hal-hal kecil seperti ini, membuat Lavender tahu di lubuk hatinya, ibunya juga masih peduli padanya. Walaupun sangat jarang ibunya memberikan perhatian padanya.
"Terima kasih," ujar Lavender yang tidak dijawab apapun oleh ibunya. Akana hanya langsung berbalik dan bermaksud meninggalkan Lavender lagi.
"Mama, maaf." Lavender berkata lirih. Sayangnya, ibunya tidak mengatakan apapun dan hanya melangkahkan kakinya kembali.
***