Chapter 7

1173 Kata
Lavender terkejut bukan main ketika pagi itu Kendy menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. “Ada apa?” tanya dia dengan kebingungan. Dia menatap Kendy yang mengambil duduk di samping dirinya sambil menoba menenangkan napasnya sendiri. “Kenapa, Ken?” tanya Lavender sekali lagi sambil menggoyangkan bahu Kendy. Kendy menatapnya dengan tatapan tajam, yang semakin membuat Lavender bingung. “Kenaa kamu tidak pernah cerita padaku kalau kamu dekat dengan Elijah Theodore?” Tunggu, apa? Lavender butuh beberapa detik untuk memahami apa yang dimaksud oleh Kendy. “Elijah Theodore?” Kendy mengangguk semangat. “Katanya ada seseorang yang melihat kamu berdua dengannya kemarin. Oh, pantas saja kamu tidak mau aku ajak ke kantin kemarin, ternyata kamu ingin—” Lavender menggeleng heboh. “Tidak-tidak! Siapa yang mengatakan rumor itu?” Astaga, ini mimpi buruk. Masalahnya, Elijah adalah idaman murid-murid di sini. Lavender bisa mati jika semua orang-orang di sekolahnya tahu dirinya dekat dengan Elijah. Apalagi mengingat Lavender bukan siapa-siapa, dia jauh dari kriteria gadis yang cocok bersanding dengan Elijah. “Aku tidak tahu, tapi sepertinya sebagian murid sudah tahu hal itu. Kamu tahu sendiri kalau di sekolah ini, rumor selalu menyebar dengan cepat.” Kendy mengendikkan bahunya. Hal itu membuat Lavender menghela napasnya sebal. Dia lupa kalau murid-murid di angkatannya memang suka bergosip. “Tapi, tetap saja! Kenapa kamu tidak memberitahu aku apapun, Lavender?!” “Memberitahu apa?” Lavender tidak tahu kalau ada seseorang yang melihatnya dengan Elijah kemarin, lagipula, sekalipun rumor itu tidak menyebar, Lavender juga tidak memiliki niat untuk memberitahu Kendy, karena dia sendiri tidak merasa kalau dia dekat dengan Elijah dalam arti lain. Mereka hanya berteman. Kendy memutar bola matanya malas. “Kalau kamu tidak dekat dengan dia, lalu kenapa dia bisa ada di sini?” Lavender juga bingung. Kemarin, dia tidak menanyakan kenapa Elijah bisa tiba-tiba ada di kelasnya dan mengobrol dengannya, tapi Lavender tidak akan membohongi dirinya sendiri kalau dia juga senang mengobrol bersama Elijah. “Aku … tidak tahu.” Kendy berdecak. Dia bukannya sebal karena sahabatnya dekat dengan lelaki paling populer di angkatannya, dia senang bukan main. Tapi, dia hanya heran bagaimana bisa Lavender menyembunyikan hal itu darinya. “Kalau nanti kalian berpacaran, aku harus mmenjadi yang pertama tahu, ya!” Kendy menunjuk Lavender tepat di wajahnya dan menatap Lavender tajam, membuat Lavender membelalakkan matanya. Lavender menghela napasnya lelah dan memutar bola matanya malas. Tolong ingatkan dia untuk menyangkal rumor itu dan mengatakan secara tidak langsung kalau dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Elijah Theodore. *** Kali ini, Lavender ikut ke kantin bersama dengan Kendy—tentu saja karena Kendy memaksa dan tidak mau ditolak oleh Lavender. “Aku ingin beli sandwich, kamu apa?” tanya Kendy. Ada beberapa stan makanan di kantin itu, dan yang paling banyak digemari adalah sandwich khas di sekolah tersebut. Lavender mengangguk. “Aku mau juga.” Mereka melangkahkan kakinya ke stan penjual sandwhich di sana dan mengantre. Lavender meremas ujung baju Kendy, seolah takut kehilangan sahabatnya itu. “Kamu kenapa?” tanya Kendy melirik sahabatnya. Dia mengeryitkan dahinya. “Tidak,” jawab Lavender dengan cepat. Lavender tidak sadar kalau dia tidak pandai berbohong dan Kendy bisa tahu apa yang terjadi padanya dalam beberapa detik. Gadis berambut sebahu itu hanya tertawa ketika dia melihat ekspresi dari Lavender. “Kamu pasti takut karena di sini banyak orang, ya?” Kendy tertawa. Lavender memang jarang sekali ke kantin, yang mana akan menjadi tempat paling penuh setiap kali bel istirahat berbunyi. Bagi Kendy, dia sudah terbiasa berdesak-desakan seperti ini. “Tidak.” Lagi-lagi Lavender mengelak. Dia mengalihkan pandangannya dari Kendy, karena tidak ingin sahabatnya itu semakin tahu kalau dia memang takut. Terlalu banyak orang di sini. “Hei!” Sedang takut-takutnya dan pundaknya ditepuk oleh seseorang di belakangnya yang entah siapa, Lavender hampir berteriak saat itu. Dia membalikkan badannya takut-takut untuk melihat ulah siapa itu—dan sialnya, matanya membola ketika tahu orang tersebut. “E-Elijah?!” tanyanya tidak percaya. Waktu dan kegiatan di sana seolah berhenti tiba-tiba, karena beberapa orang—ah sial, banyak orang—menatap mereka. Entah karena mereka selalu terpesona pada ketampanan seorang Elijah Theodore, atau karena mereka ingin membuktikan apakah rumor itu benar adanya atau tidak. “Kamu di sini, aku dari tadi mencari kamu,” ujar Elijah dengan santai. Senyumannya tidak pernah lepas dari wajahnya, sepertinya lelaki itu tidak sadar kalau dirinya dan juga Lavender menjadi pusat perhatian sekarang. Entah karena lelaki itu sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, atau memang dia tidak pernah peduli pada lingkungan di sekitarnya. Lavender hanya tersenyum canggung. Lagi-lagi dia melirik-lirik suasana di sekitarnya dan masih saja mendapati beberapa orang menatap mereka. Sial, Lavender ingin menghilang saja dari sini. Kendy yang ada di hadapannya tiba-tiba dia membisu. Entah ke mana gadis cerewet yang tadi memborbardirnya dengan rumor tidak jelas soal dirinya dan Elijah. Kendy melongo, mungkin karena dia masih tidak percaya bahwa sahabatnya yang pendiam dan tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun—setahu dia—akhirnya bisa mengobrol akrab dengan Elijah. “Ada kabar bagus.” Elijah mengatakannya sambil berbisik. Mendekatkan tubuhnya pada Lavender yang jauh lebih pendek darinya. “A-apa?” tanya Lavender masih sama canggungnya. Selain karena tatapan dari orang-orang di sekitar mereka, dia juga tidak nyaman dengan Elijah yang mendekatkan tubuhnya pada dirinya. “Ibuku sudah menelepon asisten Leith Bardugo.” Elijah tersenyum lebar. “Dan ternyata Leith akan mengadakan meet and greet besok!” Elijah berseru. Mungkin jika Elijah mengatakannya saat mereka sedang berdua dan berada di tempat sepi, tanpa ada orang-orang yang memerhatikan mereka seolah mereka adalah alien yang tiba-tiba datang ke bumi, Lavender mungkin sudah berjingkrak-jingkrak senang. Tapi sayangnya, responnya tidak seaktif itu, karena dia sudah takut duluan pada tangapan orang-orang padanya. “Oh ya?” tanya Lavender dengan nada gugup. “Wow, interesting.” Astaga, Lavender tahu kini dia terlihat sangat bodoh dan aneh, mungkin Elijah akan menyadarinya tapi—tolong, Lavender hanya ingin lenyap! Dia bisa menjadi seorang gadis dan murid yang tidak pernah menjadi pusat perhatian. Sekalinya dia ditatap oleh murid-murid lain, dia seolah mati kutu dan tidak bisa melakukan hal lain selain tersenyum canggung dan bodoh. “Aku sudah mendapatkan dua tiket spesial untuk kita. Kita bisa pergi ke sana berdua nanti.” Sialnya lagi, Elijah mengatakan hal itu dengan jelas—tidak memiliki niatan untuk mengecilkan suaranya sedikit pun. Alhasil, Kendy yang ada di depannya dan juga satu murid di belakang Elijah, berhasil mendengar ucapannya itu. Lavender menggigit bibir bawahnya. Sial—beberapa kali dia mengutuk dalam hati. “Well, sepertinya akan seru.” “Kamu mengatakan kalau Leith Bardugo adalah penulis favorit kamu dan kita akan bertemu dengannya besok. Kebetulan juga, besok hari Minggu, jadi kita bisa menghabiskan waktu di sana dengan santai, benar ‘kan?” Lavender menatap Elijah dengan tatapan herannya. Dia bertanya-tanya, bagaimana bisa lelaki itu mengatakan barisan kalimat tadi dengan lancar tanpa jeda dan tanpa canggung? Sementara Lavender sendiri mengatakan satu kata saja dengan gugup. “Baik, see you soon!” Lavender segera melangkahkan kakinya cepat menyusul Kendy yang sudah keluar dari barisan karena sudah mendapatkan sandwich-nya, meninggalkan Lavender yang kelihatan seperti anak kehilangan induknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN