“Katanya kamu sendiri tidak mengenal Elijah, tapi pergi ke pameran buku bersama? Cih! Lavender, harusnya kamu tahu kalau kamu tidak pandai berbohong.” Kendy memberenggut kesal dari tadi sambil memakan sandwhich-nya. Setelah mereka mendapatkan makan siang mereka tadi, segera Kendy membawa Lavender menjauh dari Elijah. Tujjuannya hanya satu, yaitu menginterogasi sahabatnya dan meminta penjelasan bagaimana bisa Elijah dengan santainya mengajaknya ke pameran Leith Bardugo.
Masalahnya, ini Elijah Theodore yang mengajak sahabatnya. Mungkin jika lelaki lain selain Elijah, Kendy bisa tidak terlalu melongo. Tapi ini, seorang Elijah—lelaki yang dipuja-puja karena ketampanannya dan juga kepintarannya. Semua gadis mungkin sedang iri pada Lavender karena bisa sedekat itu dengan Elijah.
“Aku tidak tahu, Kendy! Dia tiba-tiba saja datang dan mengatakan hal itu,” ujar Lavender mencari pembenaran. Iya, dia paham kenapa Kendy kebingungaan sekarang, well dia juga sama.
“Tapi kalau kamu tidak mengenal dia, bagaimana mungkin dia mengajak kamu bertemu Leith Bardugo?” Kendy berdecih. “Tunggu, apa itu berarti keluarga mereka sungguh kaya raya hingga bisa membuat janji begitu mudah dengan Leith?”
Lavender yang sedari tadi panik karena kedatangan Elijah secara tiba-tiba padanya, akhirnya tertawa karena ekspresi Kendy. “Mungkin saja. Aku tidak terlalu—”
“Berhentilah mengatakan kalau kamu tidak tahu apa-apa, sudah jelas kalau kamu memang mengenalnya.” Kendy memincingkan matanya sebal. Mereka kembali fokus pada sandwich yang sedang mereka makan, kecuali Lavender yang sesekali harus melihat ke sekelilingnya, yang mana beberapa murid masih saja menatapnya dengan tatapan intens.
Oh, kini Lavender harus berhati-hati jika Elijah menghampiri dia lagi. Karena ternyata, di sekolah ini, banyak sekali fans dari Elijah Theodore.
“Jadi, apa jawaban kamu nanti? Apa kamu mengiyakan ajakannya?” tanya Kendy penasaran. Dia mengusap ujung bibirnya yang terkena remahan sandwhich sambil menatap Lavender.
Lavender langsung terdiam. “Aku … tidak tahu.”
Mendengar jawaban Lavender, Kendy langsung berdecak malas. “Oh, apa kosa kata yang kamu ketahui hanya tidak tahu saja, Lavender?” tanyanya sarkas. Bukannya tersinggung, Lavender hanya tertawa kecil.
“Aku memang tidak tahu, Kendy. Aku tidak yakin orang tua aku akan memperbolehkan.” Lavender langsung teringat kejadian kemarin di mana ia memberikan kertas hasil try-out-nya yang tidak menunjukkan nilai sempurna, dan kedua orang tuanya marah padanya. Jika setelah ini Lavender dengan tidak tahu dirinya mengatakan ingin pergi ke acara meet and greet Leith Bardugo bersama Elijah, mungkin mereka tidak akan mengizinkannya dan memilih untuk mengurungnya di kamar.
Kendy langsung tersenyum sendu. Dia tahu permasalahan yang dihadapi oleh Lavender di rumahnya. Walaupun Lavender tidak pernah bercerita secara gamblang, tapi sahabatnya itu sering kali mengatakan secara tidak langsung bagaimana orang tuanya begitu menuntut dan tidak pernah perhatian padanya.
Sebagai sahabat lama dari Lavender, tentu saja Kendy ikut prihatin. Namun, yang bisa ia lakukan hanyalah menemani Lavender selalu, karena masalah keluarga tidak pernah bisa diatasi olehnya secara langsung.
“Bilang saja kalau kamu butuh hiburan, kita hidup bukan hanya untuk bergelut dengan soal-soal itu, bukan?” tanya Kendy sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan sahabatnya, bermaksud untuk menenangkan Lavender. Selama ini, ketika Lavender tidak sengaja menceritakan apa yang ia alami, Kendy hanya bisa menenangkannya. Dia tidak bisa melakukan hal lain selain itu, karena permasalahan Lavender menyangkut dengan kedua orang tua gadis itu.
Lavender tersenyum miris. “Kamu tahu bagaimana mereka. Mungkin akan sulit bagi aku untuk meyakinkan mereka.” Lavender menghela napas.
“Tidak apa, setelah kamu lulus dan pergi ke Duke University, kamu tidak perlu membutuhkan izin dari mereka lagi untuk kemana-mana.” Kendy terbahak setelah mengatakan itu. Membayangkan Lavender menjadi gadis yang liar dan hidupnya dipenuhi party tanpa berhenti adalah sesuatu yang paling sulit dipercaya.
Lavender berdecak. “Kenapa kamu yakin kalau orang tuaku tidak akan melarang-larang aku lagi begitu aku masuk kuliah?” tanya Lavender pada sahabatnya yang kini tawanya sudah reda.
“Well, karena kita sudah kuliah—sudah seharusnya kita dewasa dan mandiri. Maksudku, kamu sudah tahu apa yang buruk dan baik untuk dilakukan, hal itu mungkin akan membuat kamu—kita semua—menjadi lebih hati-hati.” Kendy mungkin sahabatnya yang paling santai dan selalu sarkas, tapi Kendy juga selalu menjdi sahabatnya yang paling bijak yang pernah Lavender kenal.
Lavender hanya mengut-mangut sambil melanjutkan memakan sandwchich-nya.
***
Lavender baru sampai ke rumahnya sore itu. Dia melihat ibunya menelepon seseorang. Dia melangkahkan kakinya untuk mendekati ibunya dan menunggu Akana selesai dengan pembicaraannya di telepon.
“…baiklah, akan aku sampaikan pada dia…”
“…terima kasih.”
Akana menutup panggilannya dan dia menoleh dengan keryitan di dahinya pada putri semata wayangnya. “Ada apa?” tanya Akana pada anaknya.
“Mama, boleh bicara sebentar?” Lavender menatap ibunya dengan takut-takut. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Sungguh, ibunya memang menyeramkan. Dia juga tahu mungkin dia tidak akan mendapatkan izin, tapi … dia hanya ingin mencoba saja.
Akana menghela napasnya. Dia fokus menatap anaknya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Apa? Bicara saja.”
“Aku … aku diajak untuk pergi ke meet and greet, bersama temanku.” Lavender menundukkan pandanngannya. Menatap kedua tangannya yang tertaut, sepertinya lebih menenangkan dari pada harus menatap mata tajam ibunya. “Acaranya besok, Mama. Kalau Mama dan Ayah mengizinkan—”
“Meet and Greet siapa?” tanya Akana memotong ucapan dari Lavender. Sial, Lavender menjadi semakin gugup.
“Leith Bardugo. Dia seorang penulis. Aku membaca beberapa bukunya dan memang aku menyukainya, Mama.” Lavender menengguk ludahnya gugup. Ibunya memiliki seribu satu cara untuk membuatnya mati kutu. Lavender tidak pernah terbiasa menghadapi tatapan tajam dan nada biacara ketus dari ibunya.
“Kamu suka baca novel? Membaca novel dan tidak belajar, Lavender?!” Akana menaikkan nada suaranya dan membuat Lavender tersentak.
“Ti-tidak, hanya sesekali, Mama.” Laveder kelimpungan. Harusnya, jauh sebelum dia mengatakan dia ingin pergi ke meet and greet itu, dia tahu kalau ibunya tidak akan pernah suka kegiatan yang dilakukan dia selain belajar.
“Bagaimana dengan belajar kamu? Kamu lupa kalau sebentar lagi kamu akan ujian? Bagaimana kalau—”
“Elijah yang mengajakku. Elijah Theodore.” Mungkin ini konyol, tapi mengingat pembicaraan mereka beberapa waktu yang lalu, Akana pernah mengatakan kalau hal yang bagus jika Lavender dan Elijah bisa dekat lebih dari sekadar teman. Dan Lavender kini menggunakan taktik itu hanya agar ibunya mau mengizinkan dia.
Oke, bukan masalah pergi dengan Elijahnya, tapi karena Lavender memang ingin bertemu dengan Leith Bardugo.
“Elijah Theodore?”
“Iya,” cicit Lavender. “Elijah yang mengajak aku untuk pergi ke sana. Aku tidak—”
“Mama akan menelepon Ivy Theodore dulu, setelah itu kalau Mama tahu kamu berbohong, maka kamu akan tahu akibatnya.”
Lavender menganggukkan kepalanya cepat. Dia tidak berbohong, dan begitu ibunya tahu akan hal itu, mungkin Lavender akan diperbolehkan untuk pergi.
Benar dugaannya, Elijah Theodore mungkin lebih bisa dipercaya oleh ibunya dibandingkan dirinya sendiri yang notabene-nya adalah anaknya sendiri.
“Baik, Mama. Terima kasih.”
***