Chapter 9

1153 Kata
Besoknya, Lavender masih tidak tahu apakah ibunya sungguh menelepon Ivy Theodore untuk menanyakan apakah benar Elijah mengajak Lavender atau tidak. Lavender tahu sikap ibunya ini mungkin berlebihan, tapi sebagai anaknya yang sudah dituntut sedemikian rupa dan dibelenggu dengan aturan-aturan yang ketat dari orang tuanya, membuat Lavender bisa memaklumi apa yang dilakukan ibunya. Pagi itu, Lavender sedang membereskan buku-bukunya di loker yang ada di lorong kelasnya ketika salah seorang teman kelasnya menghampiri dia. “Lavender,” panggilnya dan membuat Lavender menoleh. “Iya?” “Kamu siduruh untuk menemui Miss Jessica.” Teman kelasnya itu berujaar singkat sebelum berpamitan dari Lavender. Lavender langsung mengeryitkan dahinya. Dia tidak tahu untuk apa konselornya memanggil dia. Akhirnya, Lavender melangkahkan kakinya menuju ruang konselor. Ketika sampai di depan ruangan itu, Lavender mengetuk pintu di hadapannya dan menunggu hingga seseorang menyuruhnya untuk masuk. “Iya, masuk.” Lavender membuka pintu ruangan Miss Jessica. “Selamat pagi, Bu—” Ucapan Lavender terhenti ketika dia melihat murid lelaki yang duduk di salah satu bangku yang ada di hadapan Miss Jessica. Lelaki itu menoleh ketika mendengar suaranya, dan ketika tatapan mereka bertemu, Lavender bisa bersumpah kalau dia menahan napasnya tanpa alasan. Itu Elijah Theodore, lelaki yang katanya sedang dekat dengan Lavender. Oh sial, Lavender tidak siap untuk bertemu Elijah sekarang. “Pagi, Lavender Skye. Duduklah.” Ibu gurunya menunjuk kursi di samping Elijah. Namun, tatapan Lavender masih tertuju pada Elijah, tidak mengindahkan ucapan dari Miss Jessica. “Lavender?” Lavender tersentak kecil. “Ah iya, maaf. Baiklah,” ujar Lavender sambil membungkukkan sedikit badannya sebagai bentuk kesopanannya pada gurunya. Perlahan, Lavender mengambil langkah untuk duduk di kursi yang ada di samping Elijah. Tolong jangan tanyakan bagaimana nasib jantungnya sekarang, sudah pasti sedang bertalu-talu tidak karuan. Lavender beberapa kali menengguk ludahnya gugup. Seperti biasa, jari-jemarinya tertaut, tanda bahwa dia gelisah sekarang. Apalagi ketika Elijah menatapnya dengan intens sekarang. “Mengenai wawancara dengan beberapa universitas, Ibu ingat kalau kamu memiliki beberapa universitas yang menjadi pilihan lain selain Duke University, bukan?” Lavender mengangguk. “Iya, Bu.” “Kebetulan satu universitas yang kamu pilih, sama dengan universitas yang menjadi pilihan Elijah. Mereka akan mengadakan wawancara minggu depan. Ibu menyarankan kalian untuk pergi bersama.” Lavender melirik Elijah. Kepalanya menoleh perlahan pada lelaki itu dan di saat yang sama Elijah juga melakukan hal yang sama, membuat tatapan mereka akhirnya bertemu. Oh sial. Elijah melempar senyuman padanya. Senyuman yang tipis namun sangat tampan—astaga, Lavender, sejak kapan kamu mudah sekali untuk terpesona pada lelaki? Lavender menggeleng kecil untuk menhilangkan bayangan tidak baik di pikirannya. Dia kemudian memberikan senyuman sebagai balasan pada Elijah—lagi-lagi demi kesopanan yang selalu ia junjung tinggi. “Bagaimana, Lavender?” Miss Jessica kembali bertanya. “Kalau kalian memang setuju untuk berangkat bersama, Ibu akan memberikan surat dispensasi kepada kalian, karena kebetulan wawancaranya di hari sekolah.” Biasanya, universitas-universitas mengadakan wawancara di hari libur, dan kebanyakan siswa akan diantar oleh orang tua mereka ketika akan wawancara. Lavender terdiam sesaat. Karena ini menyangkut hal akademik dan universitas, mungkin orang tuanya akan mengizinkannya, bukan? Lagi-lagi Lavender kembali mengingat sikap ibunya yang menjadi luluh hanya karena ia menyebutkan nama Elijah Theodore. “Baik, Bu. Saya bersedia.” Miss Jessica mengangguk dan mengatakan kalau mereka akan diberikan surat dispensasi secepatnya, lalu memperbolehkan kedua murid kebanggaannya itu untuk pergi dari ruangannya. Yap, dua murid kebanggaan sekolah ini. Yang laki-laki adalah murid cerdas yang berasal dari keluarga berada dengan kemampuan akademik maupun non-akademik yang sangat baik. Elijah Theodore bukan saja menjadi idaman para murid di sini, tapi juga para guru. Banyak guru-guru yang menjadikan Elijah Theodore buah bibir karena kepintaran anak itu. Sementara perempuan di sampingnya, juga kebanggaan sekolah yang selalu dipuji-pujii karena sikapnya yang sopan, lugu, dan sangat penurut. Nilai-nilainya selalu stabil dan dia memiliki cita-cita yang tertata. Melihat Elijah dan Lavender bersama, sungguh suatu pemandangan yang indah baginya. Elijah dan Lavender berjalan beriringan keluar dari ruangan konselor. Ketika mereka sudah berada di koridor sekolah, dengan cepat Lavender tahu kalau dia akan kembali menjadi pusat perhatian jika terlihat kembali bersama Elijah. Maka, ia mempercepat langkahnya demi menghindari lelaki itu. “Lavender?” Elijah mengeryitkan dahinya ketika melihat gadis di sampingnya itu berjalan—setengah berlari—mendahului dia. Padahal sebenarnya, banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan gadis itu. “Lavender!” panggilnya dan menyusul Lavender. Ketika sudah dekat dengan gadis itu, sengaja Elijah mengulurkan tangannya untuk menahan Lavender dengan memegang pergelangan tangan Lavender. “Tunggu, Lavender.” Berhasil. Akhirnya gadis itu terdiam di tempatnya tapi tetap menundukkan pandangannya. “Kenapa kamu berlari seperti itu?” tanya Elijah sambil mendekatkan tubuhnya pada Lavender. Dia mencoba untuk membungkukkan sedikit badannya untuk melihat wajah cantik Lavender dengan jelas. “Kenapa?” Lavender akhirnya mendongak dan mengambil satu langkah ke samping, menjauh dari Elijah dengan gerakan yang halus. Dia tertawa canggung. “Tidak apa-apa. Tadi aku lupa kalau aku … harus menemui temanku di kantin.” Lavender membual, padahal dia sadar kalau dia sama seklai tidak bisa berbohong. “Oh begitu, baiklah, ayo aku antar.” Lavender langsung menggeleng kuat. Gila saja! Bukannya menghindar, justru Lavender malah akan semakin mengundang perhatian jika dia datang di kantin bersama dengan Elijah. Sungguh, murid-murid di Sherman Oaks High School ini adalah murid-murid yang gemar sekali mengorek rahasia dari murid populer—salah satunya Elijah, dan mereka mungkin akan berspekulasi macam-macam lagi. “Tidak apa, aku bisa sendiri.” Elijah tidak tahu kenapa gadis ini selalu canggung tiap kali berada di dekatnya, padahal Elijah sama sekali tidak mencoba untuk mengintimidasi dirinya. “Omong-omong, apa jawaban kamu?” Bukannya meninggalkan Lavender sendiri, Elijah malah mengikuti gadis itu ke mana pun kaki kecil gadis itu melangkah. Lavender terhenyak ketika melihat Elijah sudah ada di sampingnya. “Oh astaga.” Dia menghela napas. Sepertinya dia belum bisa menghindari Elijah untuk saat ini, jadi yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah. “Apa?” tanya Lavender lagi. “Tentang Leith Bardugo. Kemarin kamu belum menjawabnya.” Elijah berharap setengah mati kalau gadis itu akan mengiyakan ajakannya. Ingin sekali dia membawa Lavender ke meet and greet itu. “Pasti kamu ikut, bukan? Kamu sendiri yang mengatakan kalau Leith adalah salah satu penulis favorit kamu.” Tanpa disadari, Elijah berhasil memojokkan Lavender. Lavender tidak memiliki alasan yang cocok untuk menolak ajakan Elijah sekarang. “Ah iya, benar,” jawabnya sambil menggaruk pelipisnya gugup. “Aku sudah mengatakan pada Ibu aku tentang itu, tapi katanya dia harus memikirkannya dulu sebelum memutuskan.” “Acaranya hari ini, Lavender. Jika kita tidak datang, aku tidak tahu kapan lagi kita bisa bertemu dengan penulis favorit kita. Aku yakin acaranya akan sangat ramai, mengingat sebentar lagi salah satu novelnya juga akan diangkat menjadi series, bukan?” Lavender langsung membelalak begitu menyadari akan fakta itu. Keinginannya untuk bertemu penulis kesayangannya itu semakin menggebu-gebu. “Aku akan menanyakan lagi pada ibuku.” Dia berkata sebelum memberikan senyuman kecil pada Elijah yang berhasil membuat remaja laki-laki itu merasakan jantungnya berdegup lebih hebat dari sebelumnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN