Aku membohongi Bimbim semata agar kami lekas pulang tanpa ada drama panjang darinya yang bertanya ini itu. Dahagaku sudah genting benar dan memaksa untuk dituntaskan dengan segera. Aku mengatakan padanya bahwa ibu sudah pulang dari haji dan sedang menunggu kedatangan kami di rumah.
Setiba di rumah, Bimbim mengamuk sebab tak menemukan ibu di manapun dan saat ia mengadu pada ayah, sepertinya ia tidak mendapat pembelaan yang diharapkannya. Kakakku itu mencakar-cakar wajahnya seraya berlari masuk ke kamar. Aku yang baru saja melepas dahaga dengan satu botol air dingin mengabaikannya sebab yang paling utama bagiku saat itu adalah kewarasanku dan isi perutku. Kendati aku adalah seseorang yang paling patut dipersalahkan atas kejadian memilukan ini.
Demi menunaikan penyesalan yang menghantui gerak-gerikku, aku melahap nasi dengan kecepatan rakun lalu setelah tuntas, aku menghampiri Bimbim di kamarnya.
"Maaf, Bimbim. Maaf sudah berbohong padamu," tuturku. "Tidak seharusnya aku berkata begitu padamu tadi. Ibu tidak akan pulang dalam waktu yang cukup lama."
Aku memperhatikan wajah Bimbim yang kemerahan dan bersimbah air mata. sayatan kuku yang memanjang menghiasi ujung hidungnya hingga ke tulang pipi kanan.
Tidak tahu, sampai kapan semua ini akan berlangsung dan apakah aku akan memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya kepada kakakku yang masih menyimpan harapan tak masuk akal akan sosok ibu.
"Kenapa kalian melakukannya? Kalian pikir aku bodoh ya? Aku pasti sangat bodoh. Bodoh! Bodoh!"
Bimbim kembali mencakar-cakar wajahnya. Aku mencoba menahan gerakannya. Namun ia menepis tanganku jauh-jauh.
"Bodoh. Bimbim bodoh. Bimbim bodoh."
Bimbim tergugu, menjambaki rambutnya.
"Maaf, Bimbim." Aku berujar pelan, masih berusaha menarik tangannya. Seharusnya ia memukulku bukan menghabisi dirinya seperti itu.
"Pukul aku, Bimbim. Aku yang bersalah padamu. Jangan memukuli wajahmu seperti itu."
Bimbim menggeleng. "Tidak. Bimbim sudah bodoh. Bodoh sekali."
Tidak ada yang bisa menghentikan amarahnya kecuali ibu. Tapi sudah dua bulan ini ia tidak bersama-sama kami, pun bulan-bulan yang akan datang. Jadi kami--terlebih Bimbim harus belajar menenangkan diri tanpa ibu.
Aku memeluk kakakku dari belakang. Supaya ia mau tenang aku mengatakan sesuatu: "Nanti kalau kita sudah cukup besar, kita akan mencari ibu. Jadi tenanglah dan bersabarlah sampai hari itu tiba."
Sebuah kebohongan. Aku kembali mengutarakan kebohongan yang entah sudah keberapa ratus ribu. Bukannya aku tak pernah mengelabui Bimbim sejak kecil. Namun, saat mengucapkan harapan palsu padanya hari ini, ada bagian dalam diriku yang ikut terkoyak. Sakit sekali. Ya ampun.
"Kenapa kamu berbohong lagi, Biya? Ibu sudah meninggal."
Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Kepalaku pening.
"Kenapa kamu berbohong lagi? Kau baru saja minta maaf."
Aku melenguh panjang. Letih sekali. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur Bimbim. Dan seketika seluruh tubuhku merasakan butiran kerikil yang jamak dan hidungku menghidu pesing yang pekat. Hampir sebulan sprei kamar Bimbim tidak diganti. Entah sudah dikencingi berapa kali. Semula hal-hal semacam ini menekanku sampai ke titik depresi.
Awal-awal kepergian ibu semua tampak muram kendati kami berusaha tampil baik-baik saja. Kami memasak, mencuci, mengepel, melipat baju, seakan kami telah terbiasa melakukannya setiap hari. Lalu kami menyerah pada hari ke sebelas. Pekerjaan domestik ternyata melelahkan dan tak habis-habis. Setelah menyapu selalu kotor lagi. Setelah mencuci selalu ada tumpukan pakaian bau lagi. Setelah meletakkan piring di rak, selalu datang piring berlapis lemak lagi. Pekerjaan ini tidak akan pernah selesai, maka dari itu kami mulai menunda-nundanya. Jika akan menyapu, selalu terbesit keinginan: tunggu sampai kotor sekali. Jika akan mencuci piring sehabis makan, kami akan berujar: tunggu sekalian banyak. Jika akan mencuci baju, akan datang bisikan: besok juga tidak apa-apa. Begitu seterusnya hingga pada suatu saat, kami sering kehabisan pakaian dan piring dan sendok. Pernah kami berjalan lalu kaki kami tersangkut benang layangan yang terulur sepanjang ruang tamu. Dan pada suatu malam, saat akan berangkat tidur. Tanpa sengaja aku melihat telapak kakiku menghitam. Debu di lantai rumah kami sangat tebal.
Aku sering marah pada Ayah dan Bimbim yang teledor meletakkan barang sehabis pakai. Aku juga merasa, beban pekerjaan domestik ini menjadi milikku seutuhnya. Ayah beralasan sibuk mengurus toko. Bimbim? Ia membantu tapi semua itu tak berarti sama sekali. Kalian bayangkan saja, bantuan apa yang mesti aku harapkan dari Bimbim yang tumbuh kembang mentalnya bertahan di usia empat atau lima tahun? Kendati bicaranya sudah makin fasih dan mengalami perkembangan yang signifikan tahun-tahun belakangan, tapi tak lantas ia bisa dipercaya mengambil alih tugas domestik atau bisa-bisa rumah ini akan berubah menjadi abu.
"Kenapa kamu berbohong lagi, Biya? Apa kamu masih berpikir aku bodoh sekali, ya?"
"Siapa yang mengatakan padamu Ibu sudah meninggal?" Beberapa saat usai mengajukan pertanyaan itu, bayangan sosok ayah tiba-tiba melintas di kepalaku. Maka aku meneruskannya dengan pertanyaan baru yang lebih menuntut, begini: "Ayah yang mengatakan itu?"
Bimbim mengangguk. Ia kembali tergugu, memanggil-manggil ibu.
"Jadi sekarang kamu tahu," ujarku. "Maaf, Bimbim. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat Ibu kembali."
Tangisnya semakin histeris. Ia kembali menggaruk-garuk wajahnya. Katanya: "Tahu begitu, waktu itu aku ikut ibu saja!"
Aku mendesah. Dengan malas aku berganti posisi dari rebah ke duduk. Aku mencengkram tangannya yang mengarah ke wajah.
"Lalu aku bersama siapa? Jadi kamu ingin pergi bersama Ibu dan meninggalkanku?"
"Kamu bersama Ayah saja. Aku bersama Ibu."
"Begitu, ya?"
Bimbim tidak menyahut. Ia tampaknya menyadari getir yang menyertai ucapanku.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Kenapa kamu boleh ikut Ibu dan aku tidak? Karena Ibu lebih menyayangimu daripada aku? Begitu, ya? Jadi aku tidak boleh ikut Ibu?"
Bimbim tidak juga menyahut.
Aku benar-benar capek setelah berkeliaran di kebun sesiangan itu dan kemudian yang aku dapati di rumah adalah tangisan Bimbim dan aroma pesing kasurnya. Aku lalu menyerang Bimbim dengan kalimat-kalimat yang sejauh ini--kurang lebih enam belas tahun hidupku--kusimpan untuk diriku sendiri berupa prasangka yang meyakini bahwa tak sekalipun Ibu menyayangiku. Bahwa aku telah melalui masa-masa sulit dengan embel-embel namaku yang disematkan ibu berupa penjaga (Bimbim). Kadang-kadang aku berpikir, apakah ibu sadar.jika aku adalah anak bungsunya yang mengambil peran sebagai si sulung? Apakah Bimbim pernah menyadari itu? Apakah ayah pernah? Dan bahkan peran itu kini bertambah berat. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, membersihkan ini itu. Dan pulang sekolah aku memasak jika ayah tak sempat memasak, lalu mencuci piring, lalu mencuci baju, lalu sebagainya, dan sebagainya.
Seorang tetangga pernah mengasihaniku yang sedang mencegat penjual tempe daun di pinggir jalan. Katanya, jika ibu meninggal, maka rumah akan berantakan dan anak-anak tidak terurus. Jika ayah meninggal, maka rumah akan tetap rapi, dan anak-anak akan tetap terurus, dan ibu juga akan bekerja. Lelaki tidak bisa begitu, mereka akan kacau tanpa wanita, itulah mengapa lelaki kawin lagi ketika cerai, baik cerai mati atau cerai hidup. Sementara perempuan? Mereka hanya tahu membahagiakan anak-anaknya. Jarang sekali kudengar perempuan kawin lagi setelah bercerai. Setidaknya di kampung ini. Begitu kata tetangga perempuanku. Ia janda beranak tujuh. Suaminya meninggal setelah gagal merebut kehidupan dari bakteri tuberkulosis yang menginvasi paru-paru dan tulangnya. Sejak hari itu--sebelas tahun lalu--ia pun bekerja mati-matian untuk membesarkan anak-anaknya.
Seseorang yang berdiri di sampingnya menambahkan bumbu ke dalam kalimat itu dengan: " Kasihan sekali kamu, Nak. Kamu seharusnya yang diasuh Kakakmu. Bukan kamu yang mengasuh Kakakmu. Duh, Ibumu. Seandainya beliau masih hidup."
Saat itu aku menanggapi bualan mereka dengan senyum yang kupaksakan setengah mati. Aku tidak lagi berminat makan tempe daun pagi itu. Kepada mereka aku pamit dengan alasan akan terlambat ke sekolah. Dan mereka malah menambahkan ucapan ini: "Duh, kasihan sekali kamu, Nak. Mengurus rumah sampai terlambat sekolah."
Orang-orang itu sering tidak tahu bahwa perkataan yang mereka maksudkan sebagai tanda simpati malah melukai.
Namun, hari ini, jika kupikir ulang, ada benarnya ucapan mereka. Alangkah sedih nasibku. Alangkah menderitanya aku. Alangkah… Alangkah..
"Sudahlah. Aku bosan bertengkar terus. Berhenti menangis. Kamu sudah tahu tidak akan ada yang menyanjung tangismu lagi. Ibu meninggal seperti katamu. Kata Ayah. Jadi bersikaplah lebih dewasa. Kamu sudah dua puluh tiga tahun. Kamu pintar. Jadi kamu tahu betapa banyaknya angka itu."
Aku beranjak dari kamar Bimbim. Saat akan melewati pintu, aku berpesan padanya bahwa aku baru saja menggoreng telur mata sapi kesukaannya. Laik itu kusimpan di lemari dapur agar tak terjangkau oleh tikus dan cicak dan kecoa dan semut. Beberapa waktu belakangan kami mengonsumsi telur hampir selusin saban harinya--ditambah dengan dua bungkus mi instan. Saking seringnya memakan menu itu, aku menjadi was-was akan berpenyakit yang seram-seram. Namun perasaan was-was saja tidak cukup kuat menjadi alasan mengabaikan menu itu. Selain praktis, rasanya juga enak. Dan kata ayah, murah, sebab kami mengambilnya langsung dari toko.
Setelah berkata begitu, aku menyempatkan diri untuk menoleh Bimbim, mengamati air mukanya. Ia masih banjir air mata. Namun tangannya telah berhenti mencakar-cakar wajah dan lengan. Ia akan melakukan itu setelah sadar apa yang baru saja ia lakukan itu membuat kulitnya panas dan sakit. Sadar yang terlambat. Selalu.
Aku sengaja membiarkan pintu kamarnya terbuka. Saat akan berjalan ke kamarku sendiri, mataku tertuju pada gunungan piring kotor di kanan kiri wastafel. Sudah empat hari begitu dan tampak makin tinggi saja. Ayah bilang ia sedang sibuk di toko jadi tidak memiliki waktu untuk berkutat dengan piring kotor dan bau dan aku yakin sisa makanan yang menempel di atasnya telah dikerubungi belatung. Bimbim, ia tidak akan mencucinya. Dekat-dekat pun ia menolak. Kalau aku terus mengelak dari tumpukan piring itu, begitu pula ayah, maka sudah bisa dipastikan rumah ini akan menjadi sarang penyakit. Harus ada seseorang yang merelakan tangannya menyentuh benda-benda itu dan itu adalah aku seorang. Tapi tidak sekarang. Aku ingin bantal dan tidur. Mungkin sore nanti. Dan jika aku kemalaman bangun, maka akan kukerjakan keesokan pagi saja. Aku tidak suka berada di dapur saat malam. Nyamuknya banyak sekali.
Aku lalu meringis. Getir sekali. Ucapan tetangga perempuanku tampak ada benarnya juga.