Aku mencium bau tidak sedap dan ketika membuka mata, aku mendapati Bimbim tidur menghadap ke arahku. Mulutnya separuh terbuka dan dari sanalah semburan bau itu bermula. Ia memeluk guling gundul yang sudah peyos dimakan waktu. Perutnya menggelambir di atas permukaan guling itu dan bergerak naik turun seirama dengan helaan napasnya.
Hari itu Minggu pagi. Aku masih mengantuk. Aku ingin tidur lebih lama dan masa bodoh dengan hiruk pikuk dunia di luar rumahku. Ayah--ia sudah bangun sejak subuh dan sepertinya ia sudah membuka toko kelontongnya, berkutat dengan nota, barang yang baru datang, dan mempersiapkan pesanan makanan ringan yang harus diantar ke warung-warung kecil menjelang siang. Aku jarang membantu ayah. Ia adalah tipe manusia yang tidak menyukai uluran tangan ketika sedang bekerja. Ia hanya menerima uluran tangan ibu sewaktu ia masih hidup. Justru merepotkan dan membuatku kehilangan fokus, begitu kata ayah sewaktu aku dan Bimbim pernah ingin membantunya membongkar barang. Maka dari itu aku tidak datang padanya jika ia tidak sedang sangat terdesak dan meminta bantuan. Ia juga menolak dicarikan pegawai agar beban pekerjaannya lebih ringan. Banyak anak-anak muda desa lulusan SMA dan SMP yang melamar kerja ke toko kelontong ayah, baik secara langsung maupun melalui orang tua mereka dan langsung mendapat penolakan ayah. Beliau beralasan belum kuat menggaji karyawan. Tak heran jika kemudian ayah terjerat rumor yang mengatakan dirinya pelit, sombong, dan perhitungan. Rumor itu hidup hingga hari ini. Namun, kendati demikian, orang-orang kampung tetap menjadikan toko kelontong ayah sebagai pilihan utama tempat berbelanja kebutuhan dapur sebab harga barangnya yang lebih terjangkau daripada toko kelontong lain.
Toko kelontong keluarga kami diwarisi dari nenek pihak ayah. Dulu, saat aku masih di perut ibu, ayah merenovasi warung ala kadarnya milik nenek menjadi lebih luas, bersih, dan lengkap. Ayah mendapatkan modal dari hasil menjual kebun warisan milik ibu di desa sebelah. Berbekal rancangan masa depan yang indah milik ibu dan ayah, sedikit-demi sedikit toko kelontong itu menjadi besar dan mengalami renovasi ulang setiap satu tahun sekali. Begitu juga rumah kami--bertambah bagus tiap tahun.
Meskipun Bimbim istimewa, setidaknya keluarga kami sudah bisa dibilang berkecukupan dan makmur. Dan itulah yang sering dibicarakan orang-orang yang bagi mereka adalah sebuah ketidaksempurnaan keluarga kami. Mereka mendesak ibu untuk menggenapi ketidaksempurnaan itu dengan melahirkan sekali lagi, dan--semoga itu bayi perempuan--begitu kata mereka.
"Rumahmu bagus tapi tidak sempurna. Anak tertuamu yang seharusnya menjadi penopang keluarga sakit mental dan kamu tidak punya anak perempuan yang akan merawatmu ketika tua."
Aku mendengar kalimat itu langsung dari salah seorang sepupu ibu suatu hari saat usiaku lima belas. Aku sedang melihat-lihat layangan yang baru datang yang dipajang ayah di teras toko dan kemudian mencuri dengar perkataan perempuan itu.
Mereka sepantaran. Wanita itu memiliki satu anak laki-laki dan satu anak perempuan dan semuanya sehat jiwa raga--yang merupakan bentuk keluarga sempurna dalam kacamata masyarakat desa kami. Suaminya seorang pengepul cabai yang kirimannya sampai ke pulau dewata dan lombok. Saat itu ia membeli minyak goreng di toko kelontong dan ibu yang melayaninya--menggantikan ayah yang sedang istirahat makan siang.
Ibu menanggapi ucapan itu dengan senyuman yang tampak tulus dan ringan dan ia tidak merasa perlu menyahut apa pun. Perempuan itu terus berceloteh tentang kesempurnaan keluarganya dan bahwa ia begitu bersyukur dianugerahi anak perempuan jelita yang akan merawatnya ketika tua. Sepertinya ia tidak akan berhenti bicara hingga ibu menyela bahwa uang yang dibayarkannya untuk membeli satu liter minyak goreng kurang sekian ribu rupiah.
Setelah perempuan itu pulang, aku menghampiri ibu di meja kasir. Ibu agak terperanjat oleh kehadiranku yang tiba-tiba.
"Sena? Sejak kapan kamu di sana?"
Aku meringis lalu berjalan berputar ke arah kulkas. Aku mengambil satu botol teh kotak untuk diriku sendiri. Setelah kembali mendekat ke meja kasir, aku mengeluarkan tiga lembar uang seribuan dan menyerahkannya pada ibu.
"Abaikan saja ucapan perempuan itu," kataku setelah seruputan pertama teh kotak dalam genggaman tangan kananku.
"Jaga bicaramu, Sena. Dia itu Bibimu."
Aku memperhatikan wajah ibu yang berhias guratan gusar.
"Perempuan yang Ibu bilang Bibiku itu bahkan tidak menjaga ucapannya padamu."
"Sena." Ibu bergumam lirih. Ia tidak mau menolehku yang menanti beradu pandang dengan matanya. Aku ingin melihat luka hati ibu yang tercermin dari matanya yang disebabkan perempuan itu. Namun agaknya ibu tahu tujuanku dan ia merasa perlu menyembunyikan pantulan cerminnya.
"Biarpun aku anak laki-laki, tapi aku bisa merawat ibu dengan baik."
Ibu diam.
Aku kemudian pamit, menjauhi toko kelontong itu dan ibu.
Selang beberapa hari setelah kejadian itu, ibu mengabarkan kepada kami bahwa ia hamil lima bulan. Kabar itu mengejutkan kami--apalagi ayah. Seingatnya ibu memasang IUD dan umurnya saat itu mendekati angka empat puluh lima tahun. Ia menyesalkan ibu yang baru mengatakan semua itu saat kehamilannya memasuki semester dua.
"Jika harus memilih kamu atau janin itu, maka aku akan memilih kamu." Begitu kata ayah yang secara tak langsung meminta ibu menggugurkan kehamilannya.
"Aku akan memberimu bayi perempuan," sanggah ibu.
"Aku baik-baik saja dengan dua anak lelaki di rumah ini."
Ibu menggeleng. "Aku ingin memberimu anak perempuan."
"Apa aku memintanya, Nawang Wulan? Kapan aku meminta anak perempuan darimu?"
"Kamu tidak mengatakannya padaku. Tapi setiap kali kamu melihat bayi perempuan--wajahmu itu, tidak bisa menyembunyikannya. Kamu menginginkan anak perempuan. Yang akan merawatmu ketika tua nanti. Yang akan mengurus ini itu. Yang pengertian. Yang peka. Yang--"
"Berhenti, kubilang." Ayah memotong kalimat ibu. Saat itu mereka bertengkar di hadapanku.
"Aku ingin memberimu anak perempuan. Aku ingin kamu merasa sempurna."
Ayah tahu ibu tidak akan berhenti. Maka ia--dengan keterpaksaan yang sedih berujar: "Terserah apa maumu. Semoga kau sehat dan selamat."
"Dan janin ini juga."
"Ya."
Ayah mengeluhkan kukuh sikap ibu padaku. Ia minta bantuanku membujuk ibu agar menurut dan lebih peduli pada dirinya sendiri. Empat puluh lima tahun bukanlah usia yang aman untuk mengandung. Kehamilan ibu beresiko. Ibu bahkan tidak memberi tahu ayah telah melepas a**************i yang dipasang di mulut rahimnya.
Saat aku menunaikan keinginan ayah untuk membujuk ibu--ibu tetap sekukuh semula. Kendati aku menakut-nakutinya, mengatakan bahwa kehamilannya beresiko tinggi. Ia tidak peduli.
"Semua ini gara-gara perempuan minyak goreng itu, ya?"
"Perempuan minyak goreng?"
Aku memberi ibu senyuman masam.
Tidak butuh waktu lama bagi ibu untuk tahu siapa perempuan yang kumaksud. "Astaga! Bicara apa kau ini. Dia itu Bibimu, Sena. Berkatalah dengan sopan, Nak!"
Aku terdiam cukup lama hingga kemudian kuberanikan diri berkata:
"Bu, apa aku dan Bimbim tidak cukup untuk menyenangkan hatimu?"
Ibu sedang menjemur pakaian di jemuran di samping rumah, dan ketika pertanyaan itu keluar dari bibirku, ia menjatuhkan hanger di tangannya. Ibu akan mengambil hanger itu, tetapi aku mendahuluinya. Aku menyerahkan hanger itu padanya. Ibu menerimanya dengan tangan gemetar. Aku memperhatikan wajahnya dengan teliti, air mukanya telah berubah pucat. Warna itu disamarkan oleh cahaya matahari pagi yang keemasan dan sempat menipu mataku untuk melihat sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada ibu. Saat aku akan bertanya, memastikan apa ia baik-baik saja, saat itu pula ia kehilangan kekuatannya menopang tubuh. Ibu pingsan di dalam pelukanku. Aku membopongnya ke dalam rumah seraya berteriak memanggil ayah di dalam toko. Saat merebahkan tubuh ibu di atas sofa, tangan kiriku yang menopang bagian paha ibu telah dilumuri noda darah. Ibu mengalami perdarahan.
Sesaat setelah itu, setelah ayah menyiapkan berkas yang akan ia bawa ke puskesmas, kami menyewa mobil masjid untuk mengantar ibu. Ia dirujuk ke rumah sakit daerah dan setelah menjalani operasi pengangkatan kandungan, tak sampai dua puluh empat jam ia kembali mengalami perdarahan. Saat genting itu aku dan Bimbim tidak bersama ibu. Kami pulang untuk beristirahat sambil mempersiapkan barang-barang yang kami perlukan di rumah sakit keesokan hari untuk ikut menjaga ibu bersama ayah. Namun, tahu-tahu, pagi saat aku baru akan memasang tali sepatu, kudengar seseorang mengumumkan kematian ibu dari pengeras suara masjid.
Sampai kapan pun aku tidak mau memaafkan perempuan minyak goreng itu yang telah membunuh ibu dengan mulutnya.
Aku menghapus air mata yang menitik di pelupuk mataku sebelum turun ke bantal. Setelah kurasa siap, aku mengambil posisi duduk lalu mataku terkunci pada koin daun pisang yang digenggam Bimbim. Aku meraih jemarinya yang menggelembung oleh lapisan lemak yang serupa buah pisang. Aku berusaha membuka genggamannya, ingin tahu sebanyak apa koin yang ia bawa tidur, tetapi genggaman itu terlalu kuat. Aku menyerah. Saat akan turun dari kasur, tiba-tiba Bimbim menggeliat lalu merengkuh pinganggku lalu kembali mendengkur.
Aku terkekeh pelan. Biasanya Bimbim bangun lebih pagi dariku untuk menggosongkan panci dan wajan atau untuk sekadar bermain-main dengan koinnya. Namun tidak hari ini. Sepertinya ia begadang semalaman. Sekarang pukul delapan dan ia masih memejam. Matanya sembab dan ia meringkuk serupa manusia dengan kecemasan akut. Ucapanku pasti sudah mengganggunya sangat banyak.
Aku mengelus rambut panjangnya dan setelah kurasakan betisku mulai kesemutan, aku menyudahi rengkuhan itu dengan menyingkirkan tangan Bimbim dari pinggang dan kakiku.
Bimbim merintih. Ia menangis dalam tidur. Semua kenyataan menyakitkan ini begitu tiba-tiba baginya. Aku menunda kepergianku dari kamar hingga ia benar-benar lelap. Aku mengelus-elus kepalanya. Sebuah cara meninabobokan ibu yang digemari Bimbim dan tentu saja aku. Namun Bimbim mendapatkan kesempatan itu lebih banyak daripada aku. Dan sekarang aku yang menggantikan peran ibu untuknya.