Pagi yang kesiangan di hari libur selalu menyenangkan. Aku menyukai itu. Tidak ada guyuran air dingin yang membasuh kepala dengan alasan supaya pintar--ibu yang bilang. Tidak ada perasaan was-was terlambat berangkat--yang bagiku perasaan semacam itu terlalu menegangkan untuk waktu pagi, bahkan saat baru membuka mata. Kecemasan itu bukan satu-satunya, masih ada satu lagi, yakni: rasa cemas saat pekerjaan rumah mendapat nilai yang paling buruk di kelas. Aku bukan murid yang rajin dan pandai benar. Namun bukan berarti aku menyukai hukuman keliling lapangan hanya gara-gara tugas pelajaran Pengetahuan Alam mendapat nilai lima puluh. Itu menyedihkan. Aku menghindari hal-hal semacam itu.
Kelurahanku memiliki semua tingkat sekolah yang kuperlukan untuk belajar. Sejak TK nol kecil hingga sekolah menengah atas, aku belum pernah berganti kawan sekolah. Mereka lagi. Mereka lagi. Jika pun ada anak baru, mereka adalah anak-anak yang tinggal kelas atau pindahan dari sekolah lain. Dan jumlah mereka tidak banyak. Aku bosan tapi aku tidak punya pilihan kedua atau ketiga apalagi ke empat. Pilihan itu tidak pernah ada. Ayah dan ibu ingin aku selalu dekat dengan jangkauan mereka. Kata mereka, hal itu memudahkan mereka mengawasiku agar tidak berbuat neko-neko atau salah pilih teman main. Perbuatan itu termasuk merokok sembunyi-sembunyi di kebun orang dan menonton video perempuan telanjang dan bolos sekolah dan lain-lain.Mereka menyebutnya keluar jalur. Guru sekolahku mengatakan itu penyimpangan sosial.
Aku bosan tapi aku pun tidak tahu akan ke mana, ingin jadi apa, dan bagaimana. Sewaktu kecil, saat seseorang bertanya apa cita-citaku jika besar nanti, dengan mantap aku menjawab penjaga--aku terobsesi dengan namaku yang dalam imajinasiku saat itu sekeren Batman dan Spiderman. Dan ibu mengarahkanku sebagai penjaga kakakku. Kata ibu, aku adalah Spiderman untuk dan bagi Bimbim. Seiring waktu, aku mengganti cita-citaku sebagai pemain sepak bola. Dan cita-cita itu mencapai klimaksnya saat festival bulan Agustus digelar di kampung-kampung. Menjaga Bimbim bukan lagi agenda dari cita-cita, tetapi kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat.
Aku mengubah cita-citaku menjadi penyanyi saat duduk di kelas dua SMP, saat audisi pencarian bakat menjamur di layar televisi. Aku ingin menjadi bagian dari antrian audisi yang mengular di kota-kota besar. Aku ingin terkenal dan banyak uang. setiap kali mandi, aku mengamalkan ilmu yang kudapat dari para komentator acara itu yang ditujukan untuk para peserta yang kutonton hingga larut hingga aku mengantuk berat saat jam pelajaran berlangsung di sekolah.
Kuasai panggung, kata mereka. Dan aku menguasainya. Aku berpindah dari satu sudut kamar mandi ke sudut lainnya. Meskipun pada kenyataannya luas kamar mandiku hanya mencapai satu persen dari luas keseluruhan panggung itu.
Lebih percaya diri, kata salah satu komentator itu. Dan aku benar-benar percaya diri. Kurasa, bintang yang tinggi pun malu mengetahui tingkat kepercayaan diriku yang menembus jagat bimasakti.
Keluarkan suaramu, ujar mereka. Dan aku benar-benar melakukannya. Aku menyanyi dengan penuh percaya diri sembari memukul-mukulkan cedok ke dalam bak. Aku suka band Sheila On 7, aku ingin seperti Duta, maka aku menyanyi sepertinya.
Namun impianku menjadi penyanyi kandas saat ayah menggedor kamar mandi dan mengatakan bahwa suara sumbangku bisa digunakan untuk menakut-nakuti anjing. Tentu saja aku menyanyi bukan untuk anjing, semestinya ayah tahu itu.
Pada usia lima belas, menjelang kelulusan SMP, seorang kawan bertanya padaku akan melanjutkan ke sekolah mana dan mengambil jurusan apa. Aku menyahut di samping bangunan gedung SMP ini ada bangunan gedung SMA, di sanalah aku berada nanti seandainya aku berumur panjang. Perkara jurusan aku menjawab apa saja.
Temanku, dengan bola mata berbinar penuh ketakjuban berujar alangkah hebatnya aku yang memiliki ketertarikan di semua bidang pelajaran wajib. Apakah itu IPA--yang kemudian berganti nama PA saat aku duduk di kelas satu SMA. Apakah itu Bahasa. Apakah itu Pengetahuan sosial.
"Aku bilang apa saja bukan berarti aku menyukai segalanya. Aku hanya tidak tahu apa bedanya mereka."
Temanku itu,Totok namanya, terpingkal-pingkal dan setelah tawanya reda ia berkata: "Kamu di rumah saja mengganti popok Kakakmu. Tidak usah bersekolah. Tidak ada bedanya."
Semula aku jengkel dengan perkataannya. Namun ia ada benarnya setelah aku berpikir agak lama: antara menoyor kepalanya atau meninju perutnya atau membiarkannya saja.
Apa bedanya? Ya, apa bedanya? Aku bersekolah atau tidak bersekolah, Bimbim akan terus menempel padaku. Dan apa tadi katanya? Menceboki Bimbim?
"Dia tahu caranya cebok dengan baik dan benar. Dan jika suatu hari, kebetulan kalian kencing bersama, Kakakku akan mengajarimu caranya."
Begitulah penutup obrolan kami tentang cita-cita hari itu di depan kelas saat jam pelajaran kosong. Dan ketika aku pulang sekolah, Bimbim mencegatku di pagar lalu bertanya: apa kamu tadi pipis di sekolah, Abiya? Apa kamu sudah cebok, Abiya? Sini kulihat dulu.
Enam belas tahun usiaku, sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kenaikan kelas dan kematian ibu membuat aku makin tidak tahu jurusan apa yang ingin kuambil di kelas dua. Semua terlihat tak ada bedanya. Semua tampak seburam gulita. Belajar saat malam pun bisa kuhitung jari. Aku lupa mengerjakan PR PA. Aku lupa mencuci kostum olahraga. Aku lupa membawa buku catatan Matematika. Aku lupa membawa topi saat upacara bendera. Aku--entahlah, barangkali sedih membuat orang mudah lupa? Jika memang begitu, mengapa aku tidak kunjung lupa bahwa ibuku sudah tidak ada bersamaku?
Keluar dari kamar, aku masuk kamar mandi. Hal yang pertama kulakukan adalah menyikat lantai dan WC, seperti yang dilakukan ibu setiap subuh saat baru bangun. Kata ibu, kegiatan itu mengurangi resiko mati konyol terpeleset di kamar mandi. Setelah lantai kamar mandi kesat, aku pun menyikat gigi dan membasuh muka. Keluar dari kamar mandi, aku menghampiri cucian piring yang mengeluarkan aroma busuk dan merelakan diri membereskan semuanya. Begitu banyak yang harus dilakukan. Lap dan keset kotor. Kulit bawang yang terbang hingga ke para-para--entah bagaimana caranya. Sendok yang menyempi di kolong wastafel. Kulit telur yang menempel di rak piring. t**i tikus yang bercecer di lantai di sekitar tabung gas. Dan sabun mandi yang nangkring di atas kompor? Aku benar-benar pening.
Aku mendesah selagi bisa mendesah. Setelah mencuci keset. Aku menghitung lap kotor yang menumpuk di atas meja dapur. Aku memilih-milih mana yang layak cuci dan sebaiknya dibuang saja. Sejak ibu meninggalkan kami, ayah sering mengeluhkan lap yang sering hilang dan betapa lap dagangannya habis begitu saja. Kain kotak bermotif garis-garis itu tidak hilang. Aku membuangnya sebab enggan mencucinya. Dan jika ayah juga enggan mencucinya, ia harus merelakan lap jualannya berpindah ke dapur rumah. Sesederhana itu.
Minggu adalah jadwal kami makan makanan di luar rumah. Ayah akan memberiku uang seratus ribu untuk dibagi dua dengan Bimbim. Uang itu adalah jatah makan kami sehari. Terserah kami akan makan apa saja. Biasanya aku akan mengajak Bimbim berkeliling desa, mendatangi kedai bakso langganan. Atau juga memajang diri di tepi jalan raya saat sore, menunggu tukang sate ayam langganan kami dan sebagian orang di desa.
Aku setengah berlari menuju toko, mencari ayah, menjemput jatah Minggu. Kalau ada yang masih terasa menyenangkan selepas kepergian ibu, itu adalah uang jajan ini. Sayang sekali ayah tidak memberikannya setiap hari. Seandainya bisa seperti itu.
Ayah sedang merunduk di antara kardus-kardus mi instan. Sejak ibu meninggal, mi-mi itu lebih banyak masuk ke perut kami ketimbang terjual ke para pembeli. Menu andalan harian, mingguan, dan bulanan yang praktis dan enak. Menu gizi yang timpang dan mengerikan bagi keluarga yang baik baik saja.
"Apakah Ayah butuh bantuan?"
Ia mengabaikan itikad baikku. Mulutnya menggumam. Tangan kirinya--ayah kidal--memegang pulpen merah seraya menulis angka-angka.
"Ada yang bisa kubantu?" Aku sedikit mengeraskan suara. Ayah menoleh sekilas. Ia menyahut, tidak usah. Lalu ia kembali menenggelamkan diri dalam nota-nota, meninggalkanku di permukaan kikuk yang menegangkan. Kendati sekarang ini adalah hari uang seratus ribu dan ayah tak pernah alpa memberikan itu, tetap saja, ada bagian dalam diriku yang menolak meminta-minta sampai ayah mengeluarkan sendiri lembar merah bergambar presiden pertama Indonesia itu dari dalam laci kasir.
"Baiklah," kataku. Aku kemudian mematung di sisi ayah dikerubungi boks-boks barang, menunggu saat yang menyenangkan itu tiba. Satu menit. Tiga menit. Sembilan menit. Sebelas menit--barangkali aku perlu mengatakan ini pada kalian, pembacaku yang budiman, mengapa aku menuliskan angka ganjil. Sebab aku menyukainya, jadi saat jarum jam sampai pada angka genap, aku melewatinya dan tidak menyebutkannya. Tuhan menyukai angka ganjil. Benar? Baiklah aku akan melanjutkannya. Tiga belas menit. Lima belas menit. Tidak ada tanda-tanda rejeki akan menghampiriku.
Ayah mengubah posisinya. Sekarang ia berdiri, berjalan ke arah meja kasir, mengambil sebuah silet berwarna merah, kemudian kembali berkutat dengan kardus-kardus, membuka isolasinya tepat di tengah, mengeluarkan isinya lalu menata bungkusan mi goreng instan itu ke dalam rak. Begitu terus hingga sembilan belas menit berlalu, membuatku benar-benar tampak bodoh. Namun aku tidak boleh lelah menunggu atau membuatku terlihat menginginkan sesuatu. Maka aku menariknya dari dunia kardus dan bungkusan mi menuju ke dalam sebuah percakapan. Begini kataku:
“Kenapa Ayah mengatakannya?”
Aku mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali hingga berhasil membuat ayah menyahut: “Apa katamu?”
“Kenapa Ayah bilang pada Bimbim bahwa Ibu sudah meninggal? Kenapa Ayah mengatakannya kemarin?”
“Lalu kapan? Kapan waktu yang tepat untuk mengatakan itu?” Ayah berjalan ke arah kasir. Ia mengeluarkan kunci berbandul Candi Prambanan yang aku oleh-olehkan padanya saat studi wisata ke Jogja setelah ujian semester genap kelas tiga SMP.
“Tapi Bimbim belum siap. Menurutku itu terlalu cepat.”
Ayah membuka laci, mengeluarkan tiga lembar pecahan uang lima puluh ribu. “Jadi apa menurutmu Ayah dan dirimu itu?”
“Maksud Ayah?”
“Apa kamu siap ditinggal mati Ibumu yang keras kepala itu? Apa kamu pikir Ayah siap?”
Aku tidak menyahut. Butuh waktu yang agak lama bagiku agar bisa menjawab pertanyaan itu.
Ayah mengunci kembali lacinya. Ia berjalan ke arahku. Saat itu seorang anak kecil masuk ke dalam toko--pelanggan pertama ayah, tampaknya. Percakapan kami tertunda oleh kedatangan anak lelaki bertelanjang kaki itu. Ada borok setengah basah di dengkul kirinya. Ia berjalan ke arah rak benang, lalu berhenti untuk memilih satu yang paling bagus di antara sekian banyak pilihan. Saat bocah itu mendapatkan apa yang ia mau lalu meninggalkan toko, aku telah mendapatkan jawaban yang kupikir akan tepat.
“Tapi Bimbim berbeda. Ayah sudah tahu itu. Dia menangis terus-menerus. Aku pernah memikirkan hal ini sebelumnya--seandainya suatu hari Bimbim tahu bahwa itu sudah meninggal, dari mana dia mendapatkan informasi itu? Tahu apa jawabanku atas pertanyaan itu? Barangkali Bimbim akan mendengarnya dari anak-anak desa yang tengil yang gemar mengejeknya. Tapi ternyata aku salah. Ayah mengatakannya. Ayah yang merusak imajinasi Bimbim. imajinasi bahwa Ibu sedang berangkat haji ke Makkah.”
"Diberitahu sekarang ataupun nanti, akan sama saja sakitnya. Bimbim harus belajar mengatasinya dari sekarang. Ibu yang menyayangi dan memanjakannya tidak akan pernah kembali. Dia harus tahu itu."
Ayah mengeluarkan uang yang tadi diambilnya dari laci, lalu menyerahkannya padaku. Ia bilang bahwa ia melebihkan jumlah uang jatah Minggu sebanyak lima puluh ribu. Makanlah sesuka kalian. Bermainlah sepuas kalian. Begitu katanya.
Terima kasih, kataku. Ayah mengangguk. Ia kembali berjalan menuju rak makanan berat instan, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda olehku. Katanya, dengan penuh penekanan: "Kau sudah selesai bicara, bukan? Pergilah. Bangunkan Kakakmu dan ajak dia makan dan jalan-jalan."
Aku mengiyakan perintahnya meninggalkan toko kelontong. Ayah telah menutup percakapan kami dengan kalimat yang meskipun ada benarnya, tapi tidak membuatku nyaman. Ah, entahlah. Saat ini aku sedang sangat ingin makan lalapan nila di salah satu warung di samping gedung sekolahkau. Makan sekenyang-kenyangnya. Main sepuas-puasnya. Bukan begitu?