Aku meminjam motor ayah. Bersama Bimbim--setelah bujuk rayu yang melelahkan dan membikinku lapar--kami berkendara menuju selatan, ke pusat keramaian. Di sekitar gedung sekolahku, ada banyak bangunan kecil berupa warung makan dan toko perlengkapan sekolah. Dari sekian banyak warung makan, aku paling senang berkunjung ke kedai lalapan dan bakso milik Kanjeng Mami--nama panggilan yang aku dan kawan-kawan sekolahku sematkan padanya berdasarkan perangainya yang menyerupai salah satu karakter tokoh dalam serial komedi televisi. Ia tambun, selalu memakai sanggul palsu, lipstiknya merah menyala, senada dengan pribadinya yang berapi-api dan perhitungan. Ia selalu berkeliling dari meja ke meja, memastikan kami tidak menuang terlalu banyak sambal dan kecap dan saus ke dalam mangkuk bakso. Ia menghitung dengan cermat jumlah lontong dan tahu pentol sesaat sebelum kami datang dan sesaat sebelum kami pergi. Ia melakukan itu, sebab katanya, remaja seusia kami sering menghalalkan segala cara untuk bisa makan enak secara gratis. Meskipun perangainya buruk, tetapi kami selalu kembali lagi ke warungnya. Makanannya benar-benar yang paling enak di antara semua warung dan kantin di sekitar sekolah dan sering juga menjadi langganan guru dan warga lokal. Murid sekolah yang terlanjur sakit hati dengan perangainya, mengatakan kami terkena guna-guna. Guna-guna itu berupa celana dalam Kanjeng Mami yang direndam ke dalam panci kuah bakso dan digoreng bersamaan dengan sambal.
Suatu saat, Totok, kawanku memberanikan diri bertanya pada Kanjeng Mami tentang kebenaran kabar tak sedap yang mengatakan warungnya memakai penglaris celana dalam. Hari itu Senin pagi, setelah upacara bendera, ada waktu istirahat tiga puluh menit yang diperuntukkan bagi guru dan murid melepas dahaga dan lapar. Aku dan Totok, sebagaimana hari-hari biasa, mendatangi kedai lalapan dan bakso Kanjeng Mami dan entah kesintingan macam apa yang membuat nyali Totok meluber hingga berani berkata begitu pada perempuan tambun itu.
“Jadi kamu menuduhku pakai penglaris, Nak?” Kanjeng Mami membalas pertanyaan Totok juga dengan pertanyaan yang menghujam. Semua pengunjung kupastikan mendengar ucapan wanita itu.
Keberanian Totok yang semula meluber kini surut dan sama sekali kering. Ia menunduk, menatap mangkok baksonya yang masih mengepulkan asap.
“Kok malah diam saja. Bicara apa tadi kamu? Ayo ulangi, yang keras. Kulaporkan kamu ke kepala sekolah, ya? Biar dikeluarkan sekalian. Dasar bocah tengil!"
Aku yang duduk di samping Totok pun tertular gemetar. Suara perempuan bersanggul itu berkekuatan gempa berskala besar. Namun… seseorang mesti menengahi adu mulut yang sama sekali tak seimbang itu. Dan orang itu adalah aku yang akhirnya menyela:
"Maaf, Bu. Sebenarnya Ibu hanya perlu menjawab ya atau tidak. Tidak perlu sampai marah-marah begitu. Teman saya tidak bermaksud menuduh kok, Bu. Dia hanya ingin mendengar tanggapan Ibu Nasmi mengenai gosip yang menimpa warung ini yang beredar di sekolah." Aku mengucapkannya sehalus mungkin. Dengan begitu, aku harap suaraku tidak memancing keributan selanjutnya.
"Tentu saja itu fitnah. Bodoh kalian! Sekolah tinggi tapi masih termakan fitnah. Kalah denganku yang tidak tamat sd tapi masih bisa berpikir panjang."
"Ya, Bu Nasmi. Maaafkan teman saya. Maafkan kami."
Perempuan itu masih bersungut-sungut. Omelannya sepanjang jam istirahat pagi itu. Aku dan Totok sebenarnya sudah tak berselera makan bakso di hadapan kami. Namun, jika kami mengabaikan makanan itu begitu saja, perempuan paruh baya yang belum pernah menikah itu pasti akan menggoreng kami bersamaan dengan lele dan ayam dan terong. Kami bersikeras menelan pentol kendati rasa-rasanya benda kenyal itu tersangkut di kerongkongan.
"Habiskan lalu pergi," bisikku pada Totok. Siswa-siswi lain memperhatikan gerak-gerik kami sembari mengulum tawa. Berani taruhan, sesampainya di ujung gerbang sekolah, mereka akan mengata-ngatai kami--terlebih Totok, habis-habisan.
"Bayar dulu supaya perempuan itu tidak punya alasan membunuhmu."
Kami cekikian dalam lirih.
"Bodoh kamu! Kenapa memancing amarah singa PMS?"
"Memangnya singa PMS?"
"Semua mamalia. Entahlah, aku lupa juga."
Kami cekikan lagi.
Namum, sejak peristiwa menggemparkan itu Totok memustuskan enggan kembali ke warung Kanjeng Mami. Maka, bertambahlah daftar murid yang menutup mulutnya dari segala jenis menu di kedainya. Bahkan mereka menjadi pembenci Kanjeng Mami garis keras dengan membentuk grup yang dinamai Aliansi Sakit Hati. Totok mendesakku bergabung ke dalam grup yang tugasnya menyebar kabar miring--jadi, dari sinilah segalamya bermula--mengenai warung Kanjeng Mami itu. Namun aku menolaknya, sebab aku tidak merasa memiliki kebencian yang berakar pada perempuan paruh baya itu. Menjadi anggota grup berkubu negatif semacam itu, lambat laun akan mengubahku menjadi tukang marah seperti mereka.
Grup Aliansi Sakit Hati beranggotakan tigah puluh tiga murid. Jika Totok tidak bergabung dengan grup itu, maka aku tidak akan tahu jika grup itu bertanggung jawab akan berita buruk yang beredar mengenai warung Kanjeng Mami. Suatu hari, saat pelajaran olahraga, kepada Totok aku bertanya:
"Aku ingin bertanya padamu jauh hari, tapi aku lupa. Sekarang pumpung ingat aku akan bertanya padamu. Tapi maukah kamu menjawabku dengan jujur, Tok?"
"Apa?"
"Jawab dengan jujur, janji?"
Totok tidak menyahut. Ia tampak sedang berpikir keras antara ya dan tidak. Hingga beberapa saat kemudian ia berujar: "Jika aku tidak mau, bagaimana?"
"Aku menyumpahimu tidak akan lulus ujian nasional."
"Amit-amit," ujar Totok seraya mengelus perut dan jidatnya bergantian. "Kenapa kau memaksa? Kamu pikir aku tidak bisa balas menyumpahimu?"
"Aku anggap kamu setuju, jadi aku akan bertanya sekarang: " Apakah saat di warung Kanjeng Mami hari itu kamu sudah tahu tentang grup Aliansi Sakit Hati?"
Alis Totok bertaut. Pelan ia menggeleng.
"Benar-benar tidak tahu?"
Totok mengangguk mantap.
"Jadi kau tidak tahu bahwa ternyata sumber gosip itu berasal dari grup yang kamu ikuti sekarang?"
Air muka Totok berubah seketika.
"Kamu mau bicara apa sih, Sena?" katanya.
"Grup yang kamu ikuti itu sudah seperti buzzer kampanye pembikin berita palsu. Masa kamu tidak sadar?"
Wajah Totok menegang. "Aku lebih tahu apa yang sedang terjadi denganku, Sena. Janga ikut campur."
"Keluar, Tok. Keluar dari grup sial semacam itu. Punya perasaan benci dan tidak mau kembali makan di warung Kanjeng Mami itu kurasa sudah cukup. Tidak usah kamu ikut menyebar fitnah yang bukan-bukan. Aku kasihan padamu. Suatu saat pihak sekolah pasti akan mengetahui aksi jahat kalian dan hukuman yang diberikan pada kalian pun tidak akan main-main. Ini menyangkut rejeki orang lain. Kalian sedang mematikan rejeki perempuan tua itu."
"Jadi menurutmu grup Aliansi Sakit Hati akan ketahuan oleh sekolah?"
"Pasti itu. Tinggal menunggu waktu saja."
Totok menelanjangiku dengan tatapannya. Katanya: "Kupikir tidak sampai kamu mengadukannya."
Aku kaget mendengar penuturan Totok yang menohok. Belum selesai keterkejutanku, ia menambahkan: "Kalau sampai ada orang luar yang tahu, sudah pasti itu kamu penyebabnya, Sena. Lihat saja."
Sejak hari itu, aku dan Totok, entah siapa yang memulai tidak saling sapa setiap kali berpapasan di mana saja. Ia kelas dua C, sementara aku kelas dua B. Rumah kami berdekatan dan kami menerbangkan layang-layang bersama ketika masih SD. Biasanya, saat pulang sekolah, Totok akan menawariku berboncengan dengan sepedanya. Begitu pula sebaliknya. Namun, sejak Totok menaruh curiga padaku dengan amat berlebihan, kami tidak lagi memberlakukan tawaran semacam itu. Kami bahkan memarkir sepeda kami berjauh-jauhan.
Hingga kenaikan kelas, hingga perpisahan sekolah, hingga kami kembali bertemu satu sekolah di SMA, dan bahkan hingga Aliansi Kanjeng Mami bubar sebab ketua grupnya menderita disentri berminggu-minggu lalu meninggal dunia, Totok tidak juga bicara denganku. Saking lamanya kami seperti itu, aku sampai lupa pernah punya kawan bernama Totok.
Pada suatu hari, tiga bulan sebelum ibu meninggal, kami berpapasan di jalan. Saat itu sekira pukul delapan malam. Aku baru saja pulang dari pasar makanan di Kecamatan, membeli dua kotak martabak untuk menemaniku dan ayah menonton liga Inggris. Totok--aku tidak tahu siapa ia semula--jalanan gelap dan penerangan hanya datang sesekali dari kendaraan yang lewat--melambaikan tangan ke arahku sembari berkata tolong berulang kali. Hanya ada beberapa motor yang berlalu lalang malam itu. Semuanya tidak memperdulikan permintaam Totok kecuali aku yang merasa akrab dengan suaranya. Padahal ayah dan ibu kerap mewanti-wanti untuk tidak berhenti sembarangan saat aku sedang mengendarai motor untuk memberi tumpangan atau menolong orang.
"Itu modus pembegal, Sena. Jangan sampai kau terpedaya." Begitu kata ayah dan ibu saat aku akan keluar mengendarai motor, baik sendiri maupun bersama Bimbim. Dan mengherankannya, mereka tidak pernah berpesan demikian saat aku keluar menaiki sepeda gayung. Mengucapkan agar aku berhati-hati pun tidak. Hal itu membuatku ragu, apakah mereka lebih mengkhawatirkan motor yang hilang daripada aku, buah hati mereka.
Tapi aku tidak pernah menganggap serius keragu-raguanku itu, aku paham setiap orang tua dari kalangan menengah ke bawah berperangai begitu. Pernah sutu hari, anak tetangggaku mengalami kecelakaan motor di pertigaan desa, saat polisi akan melapor kejadian itu pada orang tua si bocah, dengan histeris ia memohon agar polisi menghentikan keinginannya atau, katanya, ia akan jadi mati, bukan oleh aspal, melainkan tangan orang tuanya. Motor yang ia kendarai dibeli dengan sistem kredit oleh orang tuanya dan baru saja melunasi angsuran yang ketiga. Polisi itu memahami kegelisahan si bocah. Namun mereka tetap menelepon orang tua korban kecelakaan tunggal itu. Saat orang tuanya datang ke TKP, air mukanya berubah menjadi pasi dan pembawaan dirinya tegang dan kikuk.
Dan benarlah dugaannya, meskipun ia tidak sampai mati. Orang tuanya menggerutu selama sepekan. Ibunya mengomel di mana saja. Bahkan di toko kelontong kami saat ia sedang membeli sembako. Uang jajan bocah itu dipangkas sebulan. Dan jatah jam mainnya ditiadakan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Bagi sebagian anak, hukuman semacam itu sama saja dengan mati. Ya begitulah.
Sekarang mari kita kembali kepada Totok: aku memperhatikan pria tanggung di hadapanku yang benarlah bahwa ternyata ia adalah seseroang yang aku kenal. Amat kukenal. Seseorang yang pernah bersamaku mencuri mangga di kebun Pak Haji sewaktu kami masih abu-abu dengan bermacam-macam dosa.