"Totok?"
Mendengar seruanku, seketika remaja jangkung di hadapanku itu terdiam. Ia mengenakan celana olahraga sekolah yang dipadukan dengan kaos belel nan gombrang berwarna abu-abu. Ia memposisikan dirinya di tepi trotoar dengan tangan memegang setir motor. Totok sepertinya tidak ingin membalas seruanku. Namun ia tampak gamang. Aku tahu rasanya. Ia tidak bicara padaku bertahun-tahun dan, tiba-tiba malam itu ia membutuhkan pertolonganku. Tentu saja hal itu mempertaruhkan harga dirinya. Aku sudah mematikan mesin motor dan tetap duduk di atas sadel menunggu kejadian selanjutnya.
"Motormu kenapa, Tok?"
Totok masih saja diam. Aku tak ambil pusing. Malam makin naik dan diamnya Totok adalah sebuah keberuntungan bagiku--kendati tak bisa kupungkiri ada perasan dongkol yang bercokol dalam diriku. Aku tidak perlu bersusah payah membantunya. Sebentar lagi Liga Inggris akan main. Dan ayah pasti sedang harap-harap cemas menunggu kedatanganku. Aku kembali menghidupkan motor. Dan saat motorku akan melaju, Totok meruntuhkan harga dirinya dengan berkata:
"Maukah kamu membantuku, Sena? Motorku kehabisan bensin."
"Memang kamu dari mana?"
"Aku baru saja mengantar pulang sepupu Ibu yang berkunjung ke rumah. "
"Oh," kataku.
Totok menyahut, ya.
Beberapa saat kemudian, Totok telah ada di depanku di atas motornya. Aku mendorong knalpot motornya dengan sebelah kakiku. Motorku matic, sementara motornya bergigi. Untuk sampai ke desa kami, dibutuhkan jarak tempuh sekira empat kilometer lagi. Kami berganti-gantian mengendarai motorku sembari salah satu kaki kami mendorong knalpot motor Totok. Doaku--pasti juga Totok hanya satu: semoga kami menemukan warung bensin yang masih buka saat malam makin menanjak seperti saat itu. Pegal sekali rasanya menyetir dalam kondisi kaki mengangkang sebelah begitu. Dan Tuhan benar-benar mengabulkan harapan kami saat tinggal dua kilometer lagi kami akan tiba di perbatasan desa.
Ada sebuah warung kecil dengan pencahayaan temaram yang masih buka di desa Kalikatak, begitu kami menyebutnya. Di depan warung itu dipajang rak bensin yang dibuat dan dipaku ala kadarnya yang menampung botol-botol bekas air mineral kemasan satu liter. Botol-botol itu berisi cairan pertamaks dan premium. Pertamaks dipasang di rak paling atas. Dan rak nomor dua dipenuhi jajaran botol air mineral yang diisi bahan bakar premium.
Totok bahkan tidak memiliki uang di sakunya untuk membayar bensin. Aku kembali menolongnya dengan kerelaan setengah, mengingat apa yang ia pernah lakukan padaku beberapa tahun lalu. Kalau aku ini orang jahat, sudah pasti aku akan meninggalkannya sekarang juga, membuatnya jadi bulan-bulanan pemilik warung. Aku pun ragu ia akan menolongku, andaikata Totok berada di posisiku sekarang. Hal yang pasti dilakukannya pertama kali sudah pasti tertawa. Kedua, ia mencemooh. Ketiga, ia mengajak orang lain untuk beramai-ramai mencemooh. Aku kenal siapa remaja di hadapanku ini. Ia culas dan mau menang sendiri dalam setiap permainan anak-anak yang pernah kami mainkan bersama, dulu. Kelebihannya cuma satu, ia asalah yang paling berani mencoba hal-hal baru dan cenderung berbahaya. Misalnya: mencari tanah lempung di dekat lubang kalajengking dan sekalian mengusik hewan berbisa itu dengan memasukkan kayu ke lubang rumahnya.
Aku merogoh uang di saku celana--kembalian dari pedagang martabak di pasar kecamatan tadi. Ada dua lembar seribuan dan dua lembar lima ribuan. Aku menyerahkannya pada si empu warung, seorang lelaki tua yang gerak-geriknya serupa dahan saat badai, terseok kesana-kemari. Ia menuang bensin ke dalam tangki dengan tangan gemetar hebat. Begitu pula saat menerima uang yang kusodorkan.
Tugas menolong Totok telah usai. Aku mendesah lega seraya menggoyang-goyangkan kakiku yang pegal. Meskipun tidak bisa dibilang lega sepenuhnya, sebab saat itu aku sangat terlambat tiba di rumah. Itu artinya akan ada gerutuan ayah dan pertanyaan bak detektif oleh ibu.
Setelah kesunyian yang begitu panjang, Totok akhirnya membuka mulutnya untuk bersuara. "Terima kasih, Sena," katanya. Ia tidak mau melihat mataku.
"Sudah semestinya begitu."
Totok tersenyum, kaku sekali. Tidak ada tanda-tanda ia akan bicara lagi.
"Aku pulang dulu," kataku kemudian. Aku menstarter motorku. Derum mesin kendaraan menengahi ketegangan di antara kami.
"Maaf," gumam Totok.
"Kamu bilang apa barusan? Aku tidak bisa mendengarmu." Aku kembali mematikan mesin motor.
"Maaf, Sena," Totok mengulangi ucapannya.
Saat itu, sang pemilik warung keluar dari dalam rumahnya, mengintip kami dari teras toko. Barangkali ia agak terganggu dengan keberadaan kami yang tak juga hengkang dari depan tokonya. Apalagi sudah larut malam begitu. Setelah memastikan tidak ada hal mencurigakan, ia pun kembali masuk ke dalam rumah seraya membetulkan sarungnya yang melorot. Tak lama kemudian, seorang wanita muda keluar dari rumah itu. Di tangannya ada kardus bekas berukuran tanggung. Ia berjalan ke arah rak bensin, membuka kunci rak, lalu mengeluarkan seluruh bensin di dalamnya, menempatkannya ke dalam kardus. Setelah pekerjaan itu beres, ia kembali masuk dalam rumah dengan memasang muka tidak suka pada kami. Sebentar kemudian ia menutup warungnya.
"Maaf buat apa, Tok? Motor mogokmu barusan memang merepotkanku, lumayan bikin capek juga. Tapi aku sendiri sih yang membuatnya seperti itu. Dan itu bukan suatu masalah yang lantas membuatmu harus meminta maafku."
"Bukan yang itu, Sena," sahut Totok.
"Lalu apa?" Aku pura-pura bodoh dengan arah percakapannya. Aku ingin melihat penyesalannya. Aku ingin melihat keberaniannya menepikan ego yang kuasa.
Totok meremas setir motornya. "Maaf sudah menuduhmu yang bukan-bukan waktu kita masih di SMP dulu."
Aku diam. Beberapa saat kemudian aku malah memutuskan untuk meneruskan kepura-puraanku dengan bertanya:
"Menuduh apa?"
Totok diam. Sepertinya ia malu mengatakannya.
"Kamu dengar aku, kan, Tok? Menuduh apa?"
Lalu ia pun menjelaskan semuanya. Kejadian yang tidak pernah pergi dari ingatanku, seperti kerak kapur di dasar panci rebusan air milik ibu. Hingga saat ini benda itu masih terpakai olehku dan ayah. 6⁶
Suasana ini sangat tidak nyaman dan pekat malam dan aura curiga pemilik warung menambah kesan suramnya. Sekarang semuanya selesai. Aku dan Totok. Pengakuan pendek itu sudah lebih dari cukup bagiku. Toh, Aliansi Sakit Hati itu sudah membubarkan diri.
"Mari saling memaafkan, Tok," kataku pada akhirnya. "Supaya jauh-jauh kita dari disentri sampai mati. Amit-amit."
"Ya, amit-amit," sahutnya.
Kami tertawa bersama, kaku dan wagu. Malam itu aku mendapat omelan ayah, rentetan pertanyaan bak detektif dari ibu. Tapi aku mendapatkan kembali kawan mainku yang beberapa tahun kesurupan, sehingga merasa perlu untuk menjauhiku.
Totok bukan satu-satunya kawan mainku. Namun kami cukup dekat. Begitu pula orang tua kami yang juga akrab. Saat bermain ke rumah Totok, saat kami masih menyandang gelar kanak-kanak, aku sering menumpang makan di rumahnya-- bersama Bimbim. Masakn ibunya enak. Aku suka. Dan setiap main ke sana, ibunya akan menawariku makan.
Meski sesekali Totok masih berkomentar kurang sedap tentang aku dan Bimbim--yang dipikirnya lucu, keluarga Totok hampir tidak pernah mencemooh Bimbim. Hal itu
membuatku sebagai pengasuh Bimbim merasa nyaman. Padahal orang tua kami tidak memiliki hubungan darah. Namun justru kebaikan mereka kepada kami melebihi sepupu dan keluarga besar yamg tinggal berdekatan di desa. Ayah mengumpamakannya begini:
Yang lebih kental dari darah adalah saus. Yang lebih dekat daripada saudara itu tetangga.
Berdamai dengan Totok tidak mengubah keseluruhan hidupku. Aku tidak lantas dekat-dekat dengannya, pulang pergi bersama, bercanda seperti saat masih duduk di bangku SMP. Bagiku, Totok berhenti merengut saat berpapasan denganku di mana saja, itu sudah cukup. Aku tidak akan meminta terlalu banyak dari hubungan yang sudah terlanjur retak. Butuh lebih banyak waktu untuk kami kembali rekat--seandainya memang bisa.
Lalu datanglah kematian ibu yang mengubah segalanya. Aku tidak ingat bagaimana persisnya. Totok menemaniku menangis sesaat setelah jasad ibu dimakamkan. Lalu kami akrab. Lalu kami kembali rekat hingga hari ini, meskipun kami tidak pernah terlihat bersama-sama makan di warung lalapan dan bakso Kanjeng Mami.