Saat itu parkiran warung Kanjeng Mami penuh. Banyak salesman yang mampir makan siang di sana. Aku memarkir motorku di halaman depan toko di sebelah warung Kanjeng Mami yang merupakan sebuah toko buku dan peralatan sekolah.Toko itu libur setiap hari Minggu.
Aku tiba di sana pukul setengah dua belas, setelah mengiyakan permintaan Bimbim untuk berkendara berkeliling lima desa, menerobos sengit matahari yang membakar aspal dan aspal meneruskannya ke kaki, wajah, dan tanganku. Aku harus merelakan mendapati kulitku belang saat pulang nanti. Demi Bimbim, batinku, seseorang yang paling terlambat menyadari kematian ibu. Kami bertiga sama kehilangan, sama menderita, tapi seperti kata ibu, Bimbim selalu istimewa.
Setelah turun dari motor, aku melepas sandalku demi melihat belang akibat dari menuruti kemauan Bimbim. Kering dan panas rasa kakiku. Aku kembali memakai sandal jepitku dengan baik dan benar lalu mengajak Bimbim masuk ke dalam kedai.
Aroma lele goreng dan sambal terasi dan kuah bakso berputar-putar di dalam warung itu. Seperti yang sudah-sudah dan aku yakin juga akan terjadi di masa depan, orang-orang segera menelanjangi kakakku dengan mata yang heran sekaligus kasihan. Bimbim yang bongsor yang garis ujung matanya naik ke atas, yang terus menunduk--menghitung jumlah lantai keramik yang terpasang dengan suara yang sengau dan keras dan pelafalannya tidak begitu jelas bagi telinga orang-orang itu.
Bertahun-tahun, setiap kali berjalan bersama Bimbim di keramaian, kami selalu menerima tatapan yang tidak menyenangkan semacam itu. Saat aku masih duduk di sekolah dasar, aku kerap membalas tatapan mereka dengan sengit dan adakalanya aku mengumpat. Namun, bukannya berhenti dan merasa takut, orang-orang dewasa itu malah tertawa, menganggap aku sedang melucu. Lambat laun aku lelah untuk terus was-was dengan apa yang orang lain pikirkan tentang Bimim dan aku, adiknya. Aku sudah tidak ambil pusing dengan tatapan semacam itu, meskipun bukan berarti aku tidak sedih sama sekali. Kalian, pembacaku yang budiman, tidak bisa meminta orang lain untuk senantiasa bersikap sopan dan berperangai baik. Ada saatnya manusia menampakkan wajah iblisnya, sesekali. Dan ada pula saatnya mereka menampakkan wajah itu, berkali-kali.
Bimbim tahu ia adalah pusat perhatian. Tapi kurasa ia tak tahu bahwa penyebabnya adalah ia yang dianggap berbeda. Maka dari itu, saat-saat di tempat umum begitu, ia akan melakukan banyak hal agar mata-mata penasaran itu hanya tertuju padanya. Kakakku senantiasa seorang kanak-kanak yang akan melakukan segala cara untuk merebut perhatian. Sekarang usianya dua puluh tiga tahun, dan ia masih kanak-kanak yang sama. Selalu sama.
Tidak ada tempat duduk dengan spot nyaman dan bagus yang tersisa. Orang-orang dewasa menempati kursi-kursi itu. Hanya ada tiga pilihan bagi kami: meja di pojok di depan kamar mandi; meja di tengah yang dihimpit orang-orang dewasa dari setiap penjuru; meja di dekat dapur, bersebelahan dengan akuarium ikan mas dan dipandangi oleh potret seorang lelaki berseragam tentara dengan kumis panjang. Aku memilih opsi ketiga yang setelah kupikir-pikir merupakan yang terbaik di antara ketiga meja.
Lebih baik dipelototi potret tentara itu ketimbang setiap saat aku akan menyuap nasi, tiba-tiba terhidu aroma pesing dari kamar mandi. Dan lebih baik dipandangi oleh orang mati ketimbang manusia-manusia hidup di dalam ruangan ini yang mulutnya masih berfungsi dengan baik sehingga perkataan yang keluar dari sana berpotensi meelenyapkan rasa lapar yang sudah menderaku sejak bangun pagi. Ya, tentara dalam kertas berukuran 10x10 cm itu sudah mati. Ia adalah pacar Kanjeng Mami yang ditemukan gosong tersambar petir saat sedang memancing di tengah laut di keramba kerapu. Peristiwa malang itu terjadi dua puluh tahun silam. Tentara muda itu, Hartanto namanya, merupakan satu-satunya kekasih Kanjeng Mami yang menjadi alasan mengapa ia menolak semua lamaran lelaki yang datang padanya.
Meja bagianku memanjang dan menempel ke dinding dan di dinding itulah--di tengah--Hartanto memandangiku dan Bimbim. Bertahun-tahun aku menjadi langganan warung Kanjeng Mami, dan baru hari ini aku tahu rasanya meletakkan p****t di atas kursi bambu yang sama panjangnya dengan mejanya. Semua kawan sekolahku belum pernah ada yang bernasin sepertiku hari ini.
"Bimbim, di sini!" Aku menepuk-nepuk permukaan kursi, meminta Bimbim untuk segera duduk.
"Tidak," kata Bimbim seraya menggeleng.
"Ayo, duduk. Mau makan tidak?"
Bimbim menggeleng.
Es teh pesanan kami datang, menggodaku untuk segera meminumnya. Aku kembali meminta Bimbim duduk setelah esku separuh kosong di dalam gelas--sebuah gelas yang aku yakin Kanjeng Mami dapat dari membeli sabun colek. Aku tahu, sebab mendiang ibu juga mengoleksi gelas bening berkuping itu. Sabun colek itu ditempatkan di dalam gelas. Dan setelah krim pembersih itu habis dan ibu mendelegasikan gelas itu sebagai wadah minum bersama, maka sebuah siksaan yang keterlaluan pun dimulai. Butuh ratusan kali pakai hingga aroma deterjen yang mengendap di gelas itu hilang seluruhnya. Kami menyeduh teh. Kami membuat s**u. Kami menuang es kelapa muda. Kami menuang jus. Kami minum air putih. Dan rasa yang dominan adalah rasa sabun colek. Dan kami tidak bisa menghindarkan diri dari gelas itu. Ibu--bagaimanapun caranya--akan membuat kami kebagian jatah memakai gelas itu, setidaknya sekali sehari. Katanya, supaya aroma sabun itu lekas lenyap. Dan setelah aroma itu lenyap, ibu akan membungkus gelasnya ke dalam kotak kardus. Lalu dimasukkannya gelas itu ke dalam lemari perabot. Untuk lebaran, begitu katanya. Lalu ia kembali meminta kami minum dari gelas yang baru saja ia kosongkan sabun colek di dalamnya. Gelas bening berkuping dan sabun colek adalah bagian dari siklus hidup yang tak terpunahkan--bagi keluarga kami. Setelah ibu meninggal, aku mewarisi perilaku itu. Sekadar upaya untuk terus menghidupkan ibu. Dan hingga saat ini, toko kami pun masih menjualnya.
"Apa yang kamu lakukan di sana? Kamu tidak mau minum es tehmu? Bukankah katamu kamu haus?"
Bimbim mengangguk.
"Maka dari itu duduklah dan minum esmu," kataku. Segar sekali mulut dan kerongkongan setelah menenggak es, membuatku b*******h untuk menceramahi Bimbim. "Kau ingat bukan saat Ibu bilang tidak boleh makan dan minum sambil berdiri supaya kita tidak sakit perut? Ingat, kan? Ingat tidak?"
Bimbim mengangguk lemah. Ia mengusap sisi kepala kanannya berulangkali. Ia sedang takut, kurasa.
"Dulu Ibu mengatakannya setiap hari, Bimbim. Jadi mustahil kita lupa."
Saat itu seorang karyawan Kanjeng Mami keluar dari dapur, membawakan pesanan kami: dua mangkuk bakso iga ceker.
"Ayo, Bimbim. Kita makan bersama-sama. Kita balapan, bagaimana?"
"Tidak, Biya. Aku akan tersedak jika menyanggupi ajakanmu."
Aku tertegun mendengar ucapan Bimbim yang tak biasa itu. Setelah agak lama, aku menyahut:
"Nah, kamu tahu itu, Bimbim."
Aku kemudian menuang sambal dan kecap dan saat akan menuang saus cabai, Kanjeng Mami menampakkan diri di hadapanku seraya berdehem. Hanya sekali dan sangat mematikan. Seketika aku mengembalikan botol itu ke atas meja. Tidak apa-apa tidak pakai saus. Justru bagus, aku terhindarkan dari makan saus tomat abal-abal siang itu. Ya, ampun!
Aku kembali menoleh Bimbim. Ia sudah berdiri di depan akuarium dan saat aku akan menyuapkan potongan pentol ke dalam mulutku, saat itu pula Bimbim akan mencelupkan tangannya ke dalam rumah ikan mas itu.
"Bimbim!" seruku bersamaan dengan seruan Kanjeng Mami.
Kakakku menarik tangannya. Tapi bukan gara-gara teriakanku, melainkan Kanjeng Mami yang memukul pergelangan tangannya. Aku mendesah, seraya meletakkan kembali sendokku. Aku kesal kepada dua manusia di hadapanku itu. Baik Bimbim yang mendadak tantrum maupun Kanjeng Mami yang main pukul sembarangan. beberapa waktu belakangan, susah sekali aku mendapat kesempatan makan dengan nikmat dan tenang.
"Maaf, Bu," ujarku. Aku tidak ingin kejadian ini berlarut hingga bertahun-tahun, seperti ia dan Totok, seperti Totok dan aku. Aku harap kata itu berfungsi dengan semestinya siang ini.
Kanjeng Mami memaklumi kelakuan Bimbim, begitu katanya. Namun seperti sedia kala, omelannya sepanjang jalan raya. Perempuan paruh baya itu mengenal Bimbim sejak lama. Ia adalah satu dari sedikit orang yang bersikap biasa saja saat pertama kali aku membawa kakakku ke kedai ini sekira lima tahun lalu. Wajahnya datar. Ia bicara seperlunya--tidak jauh-jauh dari makanan apa yang ingin aku pesan dan berapa buah cabai yang aku inginkan dalam sambalku. Ia bahkan memarahi Bimbim yang saat itu memetik sehelai daun sirih gading yang ia tanam di dalam botol kecap bekas. Tanaman itu dipajang di ujung meja kasir. Bukannya kesal atau marah, aku justru terpana dengan sikapnya. Saat orang asing berlomba-lomba mengasihani Bimbim dengan membiarkan kakakku itu berbuat semaunya, Kanjeng Mami malah memarahinya di pertemuan pertama. Aku suka kejujurannya. Ia membuat kakakku tampak normal. Meskipun sikap itu tidak dibenarkan di beberapa kondisi. Perempuan Paruh baya itu mendengar kematian ibuku. Dan saat kali pertama aku belanja ke warungnya setelah empat puluh sembilan hari berduka cita, ia pun tak banyak membual dan memasang wajah kasihan dan mengatakan betapa malangnya nasib keluargaku--seperti yang kerap dilakukan ibu-ibu tetanggaku yang lalu membubuhkan kalimat motivasi sebagai penghiburan. Ia, selalu sebagaimana biasa--Kanjeng Mami yang ulet mengulek sambal dan mengomeli pelanggan yang menurutnya menyebalkan. Kanjeng Mami yang di hatinya hanya ada lelaki bernama Hartanto.