Tiga Ikan Mas dan Segenggam Cacing Tunggul Pisang

1513 Kata
"Minta maaflah pada Bu Nasmi." Aku mendelik ke arah Bimbim yang berdiri mengusap-ngusap kepala kanannya. Ia merintih-rintih. Kakakku akan bersikap begitu setiap kali ia merasa cemas dan kesal dalam batas wajar. "Bimbim!" "Ya," katanya, pelan. "Dengar aku bilang apa?" Aku bangun dari posisi duduk. Tanganku menuding ke arahnya. Semua mata tertuju pada kami. Itulah yang Bimbim mau. Menjadi pusat perhatian. Ya. Dan aku terseret ke dalam arusnya. Bimbim memandang ke arah Kanjeng Mami yang sedang mengantar pesanan lalapan ayam ke meja dekat kamar mandi. Ia tidak mengatakan sepatah pun kata. Matanya bergerak mengikuti langkah demi langkah perempuan paruh baya bersanggul itu. Saat Kanjeng Mami berbalik dan berpapasan dengan kami, aku kembali mengulang perintahku kepada Bimbim dengan keras. Perempuan itu terhenyak dan terdiam dengan nampan anyaman bambu di kedua tangannya. Barangkali ia heran dengan sikapku yang tak seperti biasanya. Barangkali ia pikir masalah akuarium itu telah usai. Aku pun ingin begitu. Namun ada sesuatu yang amat mendesak di dalam diriku yang terbakar dengan sempurna hari ini. Aku kembali membentak-bentak Bimbim di hadapannya, di hadapan semua orang yang sedang menyantap makan siang. "Sudah, sudah. Ibu sudah memaafkan Kakakmu." "Tidak. Dia belum minta maaf. Ayo, Bimbim. Kau mau menurut padaku atau tidak?" Bimbim mengusap-usap telinganya. Ia tidak nyaman dengan suara keras dan bising. Suara-suara semacam itu menyakitinya. "Sudah. Berhenti. Kamu membuat pelangganku takut. Ibu sudah memaafkan Bimbim. Jadi, Bimbim, kamu mau ikan mas ini? Mau berapa? Biar pekerja Ibu menangkap ikan-ikan itu buatmu. Tapi ingat, sabar dulu. Jangan ambil sendiri. Mengerti?" Bimbim tampak berbinar-binar. Ia buru-buru mengangguk. Ia meloncat-loncat senang. Saat itu Kanjeng Mami melihat ke arahku. Ia tersenyum lebar seakan sedang berkata: sudah beres, bukan? Ingin sekali aku membanting mangkok bakso di atas meja di depanku. Ingin sekali aku mematahkan kaki meja dan kursi. Ingin sekali aku menghajar semua orang di warung ini. Ingin sekali aku berlari sekencang-kencangnya. Saat ini juga. "Kamu menangis, Sena." Tahu-tahu Bimbim sudah berada di sampingku dan tangannya mengusap air mataku. Ia merangkulku seraya menepuk pundakku berkali-kali. Tepukan yang tidak teratur dan terlalu keras bila ditujukan bagi orang yang sedang bersedih. Katanya: "Tidak apa-apa, Sena. Aku juga merindukan Ibu. Memang capek sekali rasanya." Bendungan jebol, serupa itulah tangisku saat itu. Sekilas aku melihat Kanjeng Mami yang mengucek-ucek kedua sudut matanya. Aku tersenyum getir. Dia mengasihaniku. Perempuan itu mengasihani kami. Benar. Ia sama saja dengan mereka. Bimbim membawa pulang tiga ekor ikan mas yang dimasukkan ke dalam toples bekas sosis. Ikan-ikan itu akan sekarat lima jam dari sekarang. Oh, tidak. Empat jam. Ya, empat jam. Ia akan mengobok-obok toples ikan itu dan setelah penghuninya mati, Bimbim akan menguburkannya di halaman belakang rumah. Kuburan hewan malang itu ditandai dengan pecahan genting berukuran dua jari tangan. Ada dua belas lusin kuburan binatang di sana, terhitung sejak ia tahu ada hewan bernama ikan di dunia ini dan ternyata ia bisa dengan mudah memilikinya lalu memencet-mencet perutnya dengan gemas--sembilan belas tahun lalu. Ia menamai mereka. Dan ia sering salah sebut nama saat menjenguk kuburan-kuburan kecil itu yang nisannya telah tergusur oleh ujung sapu lidi ibu dan beberapa di antaranya terkumpul ke satu titik pembakaran sampah, tercampur dengan daun-daun kering dan plastik bungkus makanan ringan. Kakakku meletakkan toples ikan itu di meja bufet di ruang tamu. Ia kemudian berlari keluar menuju halaman belakang dan selang beberapa saat kemudian, ia datang membawa segenggam cacing tunggul pisang yang telah membusuk. Ia memasukkan semua cacing itu ke dalam toples. Menyaksikan semua itu aku hanya berkomentar pendek: "Ikan-ikanmu akan cacingan setelah ini. Lihat saja." Aku meletakkan bungkusan bakso di dalam mejikom agar terus hangat dan enak saat di makan--entah kapan. Aku tidak jadi makan di warung Kanjeng Mami tadi. Selera makanku benar-benar hilang. Di sana aku cuma menunggui Bimbim makan dua porsi bakso dan satu porsi lalapan nila sambil sesenggukan, sesekali. Saat akan pulang, tahu-tahu Bu Nasmi memberikan dua bungkus bakso padaku. Makan di rumah, katanya. Aku tidak mengangguk dan tidak juga menggeleng dan tidak juga membalasnya dengan ucapan terima kasih. Saat mengembalikan kunci motor pada ayah tadi, aku bilang padanya bahwa aku mengoleh-olehinya bakso. Ayah bilang ia sudah makan banyak roti yang hampir mencapai tanggal kadaluarsanya. Nanti saja, begitu katanya. Dan aku menimpalinya, ya. Untuk makan malam bersama nanti. Dua bungkus bakso untuk tiga orang lelaki. Berjaga-jaga jika Bimbim kekurangan lauk--sudah pasti kekurangan--aku membawa tiga buah telur dari warung yang akan kuolah nanti, menjelang magrib. "Aku mau tidur, Bimbim. Jangan ganggu aku. Kamu main di rumah saja. Jangan ke mana-mana." Bimbim mengangguk beberapa kali tanpa menolehku barang sedetik. Ia menatap lekat toples ikannya yang airnya keruh oleh kehadiran cacing tunggul pisang. Aku mendekati kakakku yang sedang duduk di atas sofa ruang tamu itu. Tangannya meremas-remas permukaan sofa yang jebol dan memperlihatkan secuil busanya. Ia sedang menunggu agar bisa segera mengacau isi toples itu. Namun tampaknya ia ragu-ragu. Sejak dalam perjalanan pulang aku sudah lusinan kali mewanti-wantinya: jika seandainya ikan-ikan itu mati hari ini, maka itu adalah saat terakhir aku mengajaknya keluar. Mari kita lihat, sejauh mana ia bisa bertahan untuk tidak menggaruk tangannya yang gatal. "Bimbim," kataku setelah aku mengunci matanya dengan pandanganku. "Tolong bekerja sama dengan baik hari ini. Aku sangat capek. Aku mau istirahat. Kamu mengerti, bukan?" "Ya, Sena, Abiyaku," sahutnya. "Semoga Ibu berkunjung ke dalam mimpimu." "Kenapa? Kenapa begitu?" Aku melepas tatapanku dari mata Bimbim. "Bertemu Ibu cuma bisa saat sedang tidur saja. Semalam aku bertemu dengan Ibu, dia bilang sangat rindu aku juga. Tidak usah menangis, katanya. Ibu akan berkunjung terus. Dan--oh, ya, ampun! Aku lupa bilang kalau Ibu titip salam buatmu." "Salam apa?" Alis Bimbim bertaut. Lalu ia berujar: "Baik-baiklah padaku, kata Ibu." Aku meringis. "Apa kamu sedang berbohong?" Bimbim menggeleng. "Benar Ibu berkata begitu?" "Ya, benar." "Hanya itu?" Bimbim menjawab ragu, ya. "Ibu tidak memintamu untuk berbaik-baik padaku, ya?" Bimbim tidak menjawab pertanyaanku. "Kenapa kamu diam, Bimbim?" "Ya," gumamnya. "Ya, apa?" Aku mendesaknya. "Ibu memintamu begitu?" Bimbim mengangguk. Lihat aku, Bimbim." Aku memegang kepalanya yang terus bergerak. "Benar Ibu bilang begitu?" Bimbim diam. Ia tidak mau melihat ke dalam mataku. "Benar Ibu bilang begitu?" Bimbim menggeleng. "Kenapa kamu bohong begitu?" Bimbim kembali menggeleng. "Kamu tahu tidak bohongmu ini membuatku sedih? Tahu? Tahu, tidak? Bahkan setelah Ibu meninggal pun kamu masih menjadi anaknya yang istimewa." Aku meninggalkan Bimbim di ruang tamu bersama tiga ikan mas dan cacing yang meliuk-liuk di dalam air keruh. Saat akan masuk kamar, tanganku memutar gagang pintu dan aku melihat sehelai rambut yang melilit gagang itu. Seketika aku terenyuh dan langsung teringat rambut ibu yang rontok di mana-mana bahkan menempel di sapu ijuk, karpet, kompor, dan sesekali di dalam kuah sayur. Rambut ibu? Namun akal sehatku langsung mengatakan ada dua orang berambut panjang di rumah ini. Kemungkinan paling masuk akal, tentu saja, gugur rambut itu milik Bimbim. Ya. Hampir satu jam berlalu, dan pikiranku bersikeras menjagaku dari kantuk. Apa yang kakakku itu pikirkan sekarang, setelah mendengar ucapanku yang kasar tadi? Ada sedikit rasa bersalah, tapi itu tidak seberapa ketimbang sesak yang terus aku tahan sejak ingatanku masih bolong-bolong hingga aku bisa mengingat segalanya dengan bersih, serupa selembar kain putih. Tentang yang istimewa dan tidak istimewa. Tentang yang baik dan tidak baik. Tentang siapa yang seharusnya mendapat perhatian lebih banyak. Aku atau Bimbim. Dan semua itu selalu menjadi milik Bimbim. Aku kecewa tetapi, kata ibu, aku tidak boleh melakukannya. Ibu bilang tubuhku sempurna. Otakku sempurna. Parasku sempurna. Jadi untuk apa lagi aku memiliki rasa iri kepada Bimbim? Begitu katanya. Saat itu usiaku lima setengah tahun, ingatanku masih banyak bolong-bolongnya, tetapi kejadian itu tidak termasuk di antara ingatan bolong. Bimbim merusak kuda mainanku, menusuknya dengan obeng, sehingga kuda karet berwarna biru yang sering kuajak loncat ke sana kemari itu kempis mengenaskan. Aku mendorong Bimbim dan ibu melihat kejadian itu tanpa sengaja. Kepala Bimbim terantuk sudut meja. Darah merembes dari kepala belakang. Ibu berteriak panik, mendramatisir tangisan Bimbim sambil menatapku penuh kecewa. Bibirnya tidak melontarkan satu pun tanya, mengapa aku mendorong Bimbim. Ia menggendong Bimbim yang saat itu berusia dua belas. Sesuatu yang berhenti ia lakukan padaku sejak aku lancar berlari dan berjalan, bahkan tidak juga saat sakit. Ayah yang melakukannya untukku. Ia meminta antar ayah untuk mengobati luka Bimbim di Puskesmas. Ibu tidak bicaraku berhari-hari. Aku tidak tahan diperlakukan begitu, jadi aku melakukan protes padanya, dan ucapan itulah yang aku dapatkan, yang aku tulis di awal paragraf. Kadang kala, terlintas dalam pikiranku, apakah aku harus mengalami kelainan kromosom dulu agar ibu mau mencurahkan seluruh hatinya padaku? Ibu memintaku mengalah pada Bimbim setiap kali kami berebut sesuatu. Saat ayah memberiku hadiah kenaikan kelas, Bimbim juga harus diberi hadiah yang sama meskipun ia tidak bersekolah. Saat kami sudah sama-sama menjatuhkan pilihan mainan yang kami beli di sebuah toko, setiba di rumah, Bimbim merasa tidak puas dengan mainan miliknya dan meminta milikku. Dan kata ibu, aku, sekali lagi harus mengalah. Kasihan kakakmu, Sena. Begitu bicaranya. Selalu. Dan dua bulan lalu ia meninggal demi calon bayi yang katanya harus ia miliki agar kelak menjaganya di masa tua. Ia meninggalkanku yang masih dahaga dengan welas asihnya, begitu saja. Dan saat muncul di dalam mimpi Bimbim, ia tidak berpesan selain agar aku menjaga Bimbim--seperti yang sering disemburkannya ke telingaku--ketika ia masih hidup. Ibu. Dalam kematian pun ia enggan menolehku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN