Sesuatu yang Seperti Batu dan Ingatan Tentang Seorang Bocah Menangis

1818 Kata
Ada seekor kura-kura di bak kamar mandi rumahku. Aku baru bangun menjelang magrib. Kemihku penuh. Aku berlari ke kamar mandi--setengah sadar--dengan kantuk yang belum pudar benar. Saat mencedok air dan akan menyiram s**********n, sesuatu yang seperti batu terangkut cedokku. Pipih, hijau kehitaman. Oh, pasti pekerjaan Bimbim. Ia memang kerap mencemplungkan segala benda ke dalam bak kamar mandi. Kelereng. Kerikil. Patahan kayu. Lipatan daun pisang. Ikan cupang. Anak kucing. Khusus anak kucing, Bimbim hanya sekali melakukannya. Ia kapok, sebab saat dicelup, kucing pintar itu langsung berontak, meloncat, mencakar leher kakakku. Aku mengeluarkan benda--batu itu, maksudku dan kurasakan sesuatu yang tajam dan bergerak-gerak menusuk telapakku. Aku menjerit. Benda itu spontan kulempar lalu masuk ke dalam jamban. Setelah hilang kantukku dan reda keterkejutanku, aku melongok ke dalam lubang jamban. Seekor kura-kura. Alamak. Hanya ada dua opsi bagiku saat ini. Mengambil hewan dua dunia itu dengan tanganku atau sekalian melenyapkannya dengan mengguyur air sebanyak mungkin. Dan saat Bimbim mencarinya aku bisa berdalih tidak tahu menahu sama sekali. Mudah, bukan? "Sena! Sena! Kenapa kamu teriak? Apa Nara menggigitmu?" Bimbim menggedor pintu kamar mandi dengan beringas. Itu artinya aku cuma punya satu opsi saja: mencelup tanganku ke dalam lubang jamban itu. "Sena? Nara?" Jadi kura-kura yang baru saja kulempar itu bernama Nara. Yang abjad R-nya menjadi samar saat Bimbim yang mengucapkannya. "Sebentar," kataku. Aku menaikkan celanaku, tidak tahu apa yang mesti kulakukan setelah itu. Lalu aku menurunkan celanaku kembali sebab aku ingat aku belum mencuci alat pipisku. "Sena? Abiya? Lama sekali. Kenapa sih kamu menjerit tadi?" Rentetan pertanyaan Bimbim merebut ketentramanku, menjejali kepalaku dengan kepanikan yang tak semestinya. Aku mengambil sikat jamban, mengorek kura-kura itu dengan pegangan sikat. Pelan-pelan kudorong tubuh kura-kura itu naik, menyusuri lekukan kloset jongkok. Saat hewan itu sudah naik, aku tak sampai hati menyentuhnya. Ada ombak di dalam perutku. Dalam sekejap aku pun memuntahkan isi perutku yang ternyata tidak berampas. Aku belum makan sejak pagi. Aku ingat sekarang. Lalu aku merasa sedih dan malang. Entahlah, akhir-akhir ini perasaan itu kerap mendatangiku, seakan kami ini kawan akrab dan telah bersahabat sejak ribuan tahun. Meskipun mencapai usia dua puluh pun terasa mustahil bagiku--mengingat aku mengunyah natrium benzoat tiga kali sehari yang terkandung dalam makanan siap saji. "Sena? Abiya? Kamu baik-baik saja?" Aku pening dalam artian yang sebenarnya. Aku membuka kunci pintu kamar mandi, kulihat Bimbim berdiri di hadapanku dan ia dikerubungi kunang-kunang. Dari mana ia mendapatkan hewan itu? "Kunang-kunang?" "Apa katamu?" Bimbim merunduk--bagaimanapun ia lebih tinggi dam tentu saja tua daripada aku yang baru menginjak usia enam belas, tahun ini. ⁸Pantat kunang-kunang itu berkerlap-kerlip seperti percikan bintang yang dikirim langit untuk menerangi rumah kami. Mataku tertawan. Begitu juga hatiku. Aku meraih satu yang paling dekat tanganku. Di sana di sekitar d**a Bimbim. Saat aku berhasil menggenggamnya, saat itu pula kunang-kunang itu menyesap kesadaranku. Aku ingat pernah menangis oleh ludah ayah. Ya. Ludah ayahku. Kalian membacanya dengan benar. Dan aku tidak menuliskan kesalahan di dalam frasa itu. Mungkin saat itu usiaku tujuh, mungkin lebih besar beberapa bulan, mungkin juga kurang daripada yang telah kusebutkan itu. Desa kami dilanda wabah sakit mata. Saat satu orang sakit mata, kalian tahu, maka hanya dengan menatap matanya saja, kita akan tertular. Itulah kebenaran yang diyakini oleh penduduk desaku, tak terkecuali aku. Maka dari itu, setiap kali kami berpapasan dengan orang yang kebetulan memiliki masalah dengan matanya, kami akan buru-buru memalingkan muka, atau merunduk, atau menutup mata kami dengan telapak tangan--dengan sapu tangan jika sedang membawa sapu tangan. Kata kami kepada orang-orang itu: "Jangan melihat ke sini. Jangan melihat mataku." Suatu hari, di tengah huru-hara wabah itu, aku kabur dari rumah untuk menerbangkan layangan bersama kawan-kawan. Saat itu pertengahan bulan Agustus, musim panen baru saja habis, angin yang kencang menerbangakan aroma jerami kering dan segar sungai. Sawah berwarna keemasan. Kami anak-anak bebas berlarian tanpa takut dimarahi petani yang was-was andaikata kami merusak padi-padinya. Sawah itu berhenti diairi sehingga kering dan tandus dan tumpukan jerami membuatnya empuk saat dipijak. Kami bergulung-gulung di atas jerami, berkejaran, dan jika sial, kaki kami akan terperosok ke dalam lumpur yang tak sepenuhnya mengering. Ada satu petak sawah terbaik bagi kami. Di salah satu jalan setapak yang menghubungkan sawah itu dengan sawah lainnya, tumbuh sebuah pohon jambu biji yang berbuah ala kadarnya. Dahannya menjadi peneduh di kala kami lelah berlarian mengejar layangan. Dan kami, kanak-kanak, menyukai hal-hal seperti itu. Kami berebut memetik buahnya yang belum matang sempurna. Rasanya sepat dengan tekstur daging yang keras dan hampir mustahil digigit. Namun berada di sawah, membuat kami mencaplok apa saja yang berpotensi untuk dicaplok. Kami bahkan pernah iseng memakan telur keong yang menempel di batang-batang padi dan rumput. Telur itu bercangkang keras, berwarna merah muda dan bergerombol di satu tempat. Amis sekali. Dan kami tidak peduli. Meskipun pada akhirnya perut kami menjadi bermasalah oleh makanan semacam itu, sembelit dan diare, misalnya, setiba di rumah. Waktu itu siang mendekati sore. Kami bertemu di bawah pohon jambu biji. Namun, seseorang yang datang terlambat mengagetkan kami dengan belek yang banjir di mata merahnya. Ada layangan gagak tanggung yang ia bawa di punggungnya. Bocah itu bernama Darsan. Ia anak dari pemilik pabrik tahu dan tempe. Ada jerawat besar di ujung hidungnya. "Jangan lihat mataku!" hardik salah seorang di antara kami. "Jauh-jauh dari sini. Bodoh!" imbuh seseorang lagi. Ia mendorong Darsan hingga bocah itu menabrak tumpukan kayu bambu yang akan digunakan sebagai penyangga cabai. Kertas layangannya sobek terhimpit berat tubuhnya dan kayu bambu. "Sudah tahu belekan masih datang bermain. Kamu sengaja melakukannya pada kami, ya, Imron? Pron. Improon." Seseorang mencemoohnya dan merasa perlu mengikut sertakan nama ayah Darsan untuk pemanis olok-olok itu. Nama aslinya Imron, mereka menambahkan huruf P di antara M dan R agar olok--olok itu makin dahsyat. Dan ajaib sekali mereka mencerocos begitu dengan merentangkan telapak tangan, menutupi mata. Darsan menyingkir dari tempat itu. Ia menangis di sudut petak sawah, berjongkok di atas jerami setengah basah. Aku kasihan padanya. Aku menghampirinya, mengabaikan peringatan dari kawan-kawan lain. Kata guru agama, kita harus kaya oleh welas asih dan rajin membantu orang lain. Karena itu akan menjadi tabungan kita di kehidupan selanjutnya. Tidak apa-apa miskin yang penting kaya hati, begitu nasihat mereka. Aku suka mendengar ceramah mereka, kecuali hidup miskin. Aku ingin kaya. Karena menjadi nyaris miskin saja rasanya tak enak sekali. Sudah, Darsan. Kamu pulang saja dulu," kataku setelah tiba di hadapannya. Air matanya membuat belek kuning kehijauan menyebar ke wajah dan tangannya. Dan saat ia mengusap ingusnya dengan ujung baju, belek itu juga menempel di sana. "Siapa yang mau mencelakai mereka? Aku cuma mau main layang-layang." "Kamu bisa bermain saat matamu sudah tidak belekan berlebihan seperti itu, Darsan." Tidak ada tanggapan dari bocah itu. Dalam sesaat, hanya ada suara isak Darsan dan ribut teman-teman lain yang bersiap-siap menerbangkan layangan. Tiba-tiba ia mendongak, pandangan kami bertemu. Spontan saja aku membuang muka, seraya memekik: "Kenapa kamu melihatku, Darsan?" Bocah yang lubang hidungnya berlendir itu tertawa. Katanya: "Aku pikir kamu tidak takut padaku." "Aku tidak takut padamu," jawabku ketus. "Aku takut belekmu menular padaku." "Mereka juga takut? Kalian semua?" "Ya ampun! Bisa kamu memalingkan wajahmu dariku?" Darsan merentangkan telapak tangannya. "Sudah, Sena. Aku sudah menutup mataku." Aku kembali menatap ke depan. Darsan benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Beberapa saat kemudian ia mengulang kembali pertanyaannya. "Tentu saja, Darsan. Apa kamu tidak ingat Bu Guru PA bilang apa?" Darsan tercenung. Lalu ia bertanya balik, "Apa memangnya?" Aku melenguh. Darsan punya banyak sumber protein di rumahnya, dari kacang kedelai hingga ampas tahu. Kurasa bocah itu--maksudku orang tua bocah itu tidak memanfaatkan panganan itu dengan baik untuk kepentingan tumbuh kembang otak anaknya. "Tutup mulut saat batuk. Menjauh saat bersin. Mencuci tangan sebelum makan. Istirahat di rumah saat sakit." "Tapi orang sakit juga butuh hiburan, Sena. Kata Bu Guru, lihatlah pemandangan hijau supaya matamu sehat. Dengan datang ke sini, aku merasa sehat kembali." "Tapi belek di matamu mengatakan sebaliknya, Darsan. Dan Saat ini, tidak ada warna hijau kecuali--," aku memalingkan wajah ke kejauhan. Gunung Raung berdiri kokoh di ujung barat. Ada awan tipis yang menyelimuti pucuknya. Telunjukku mengarah ke sana. "Kecuali gunung itu. Itu pun warnanya biru kehitaman." "Kamu tidak melihat pohon-pohon di pinggir sungai itu, ya?" Aku menoleh ke ujung utara. Di sana ada sungai yang membelah sawah dari barat menuju timur. Sungai itu berukuran empat langkah kaki manusia dewasa. Ada barisan pohon yang hidup di tepi kanan kirinya. Dari tempatku dan Darsan saat ini, tampak sebuah pohon yang menonjol di antara kelapa, pisang, dan nangka. Itu pohon salam. Diameternya besar. Tingginya menjulang Kata para petani, pohon itu telah ada di sana sejak jaman pendudukan Jepang. Dan kata kawanku dari kawannya dari abangnya dari ayahnya, pohon itu adalah rumah dedemit. Kami anak-anak menyukai cerita seram semacam, meskipun cerita itu terbawa ke dalam mimpi kami. Melewati jalan sekitar pohon itu, kami sungguh berani dan terkadang sembari melemparinya batu--berharap batu itu mengenai kepala dedemit penunggu pohon. Namun, saat keadaan tidak memumgkinkan untuk berjalan beramai-ramai, kami akan terbirit-b***t sendirian dan ada kalanya terjengkang. Pada musim buah, kami melupakan cerita hantu-hantu dan beramai-ramai berburu buah pohon itu yang memiliki perpaduan rasa sepat, manis dan kecut. Warna buahnya merah hati cenderung kehitaman saat matang sempurna. Dan kandungan zat besinya yang tinggi membuat kami sembelit hingga berhari-hari. "Pohon-pohon itu tidak cukup untuk menyegarkan matamu. Mereka cuma seperti sehelai rambut di antara jutaan jerami kering yang terhampar di seluruh sudut sawah ini. Pulangkah, Darsan. Sembuhkan dulu matamu itu." Darsan mendengkus. Ia kembali mendongak, memperlihatkan matanya padaku. Tatapan kami beradu. Spontan aku terlonjak dan mundur beberapa langkah. "Sinting kamu, Dar, Dar." Ternyata tidak semua niat baik berakhir baik. Niat baikku kali ini berdampak panjang akan keberlangsungan hidupku di masa depan, beberapa minggu kemudian. "Terserah kamu sajalah," kataku, dongkol. Aku berbalik, akan bergabung dengan kawan-kawan lain untuk menerbangkan layangan. Darsan menyeringai. Tahu-tahu ia menubrukku seraya berkata: "Jadi kalian takut belekan? Takut? Nih, kukasih belek. Rasakan itu!" Darsan mengusapkan wajahnya ke punggung bajuku. Belum habis jeritanku, Darsan sudah berlari mengejar bocah-bocah lain yang terbirit-b***t meninggalkan sawah. Ia tertawa penuh kelegaan oleh sakit hati yang terbayarkan. Jadi itulah sekelumit kisah bagaimana penyakit menular di desaku menjadi wabah. Malam pertama setelah dikhianati Darsan, aku masih baik-baik saja. Malam kedua, mataku panas dan gatal dan aku mengucek-uceknya. Pagi hari, rasa-rasanya sebuah lem luber di kelopak mataku dan mengering di sana. Aku tidak bisa membuka kedua mataku. Sakit sekali. Aku mengadu pada ibu. Ia meneruskan aduan itu kepada ayah. Lalu ayah datang ke kamarku dan jempolnya yang basah mengusap-usap kelopak mata atas dan bawah milikku. Semula aku baik-baik saja hingga terhidu aroma bacin oleh hidungku. Asalnya dari kelopak mataku yang basah itu. "Bau apa ini, Ayah?" Perasaanku sungguh tak enak. "Ludah Ayah," sahut ibu. Seketika aku membelalak. Kemudian ayah berkata: "Nah, kan kamu sudah bisa membuka matamu sekarang." "Kenapa Ayah meludahi mataku?" "Ayah tidak meludahi matamu. Hanya mengoleskan sedikit ludah." "Kenapa itu begitu penting sekarang? Mencipratkan, menyembur, mengoles, mengusap, sama saja. Ayah baru saja meludahiku." Ayah mengangguk maklum. "Itulah cara paling manjur mengobati belekan pada mata, Sena. Sebuah resep turun temurun yang diwariskan dari buyut dari--" Seketika aku memuntahkan isi perutku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN