Nara, Si Kura-kura

1357 Kata
Ingatan bocah menangis dan belek mata itu menjadi kabur dan acak-acakan. Benakku bertanya-tanya, apakah itu potongan realita masa silam atau sekadar mimpi selintasan. Namun aroma bacin itu begitu nyata. Lalu mataku terbuka dan kulihat Bimbim duduk begitu dekat denganku. Wajahnya nyaris menyentuh kulit wajahku. Aku terlonjak seraya mendorong tubuhnya. "Kamu sedang apa?" Bimbim tersenyum manis sekali. "Menjilat matamu," sahutnya. "Kenapa? Apa sih masalahmu, Bimbim?" Aku buru-buru menggosokkan kelopak mataku ke bantal sofa. "Aku ingin menyembuhkanmu seperti Ayah melakukannya dulu." "Memangnya aku kenapa?" Ludah. Oh, itu bukan cuma potongan ingatan yang terputar dalam mimpi, tetapi kenyataan. Kenyataan! Aku bangun dari sofa lalu pening menyergap kepalaku, seperti remasan tangan raksasa. Aku limbung dan terduduk di sofa. Niatku mencuci wajah terpaksa gugur. Bimbim mengambil segelas air di meja lalu menempelkannya ke bibirku. "Kamu pingsan tadi. Matamu tidak mau terbuka jadi aku--" "Aku ingat sekarang." Aku memotong ucapan Bimbim seraya menjauhkan gelas berisi air hangat dari bibirku. "Di mana kura-kura sialan itu?" "Sena, tidak boleh mengumpat. Ingat?" Bimbim menyodorkan kembali gelasnya. "Minum dulu, Abiya." Aku meneguk air hangat itu yang ketika mencapai kerongkongan terasa menenangkan. Aku mengucapkan terima kasih kepada Bimbim dengan disertai buntut kalimat yang menanyakan keberadaan kura-kura itu. "Nara, Sena. Namanya Nara. Ayah membelikanku kura-kura itu sore tadi. Ada penjual ikan hias yang parkir di depan toko." "Ya, Nara sialan. Di mana dia sekarang?" Bimbim tidak menjawab pertanyaanku. Ia merebut gelas dari genggamanku dengan wajah memberengut. "Kenapa Nara yang sialan? Bukankah kamu yang melemparnya ke jamban?" "Kura-kura itu mengagetkanku." "Nara. Namanya Nara." "Aku bilang dia seekor kura-kura. Di mana kesalahanku, Bimbim?" Bimbim tampak berpikir keras untuk menyahut dan setelah sekian waktu berlalu ia pun mendapatkan alibi yang tepat, lalu kalimat yang keluar dari mulutnya adalah: "Dia kura-kura. Dia punya nama. Apa kura-kura tidak boleh punya nama?" Ucapan Bimbim membuka satu tabir ingatanku tentang sebuah pertanyaan yang kuajukan pada kakak kelasku di sekolah dasar. Lagaknya di sekolah bak preman tengil. Tangannya panjang sebelah. Bola matanya pun memiliki warna yang jika kamu perhatikan dengan saksama, maka kamu akan tahu perbedaannya. Warna hitam di kornea kanan. Warna coklat keabu-abuan di kornea kiri. Baju seragamnya tidak pernah rapi dan agaknya jarang dicuci. Aku pernah lihat ada noda tanah yang membentuk lingkaran di celananya di bagian p****t--bekas ia duduk sembarangan di lantai kelas dan batu-batu besar di taman dan tunggul-tunggul pohon. Saat itu Selasa, dan seragam yang diwajibkan sekolah kami adalah seragam putih merah. Ia punya waktu seminggu untuk mencuci bajunya hingga bertemu Selasa depan. Namun, tujuh hari berlalu dan aku masih melihat noda yang sama di pantatnya. Teman-teman memperhatikannya dan tidak mengatakan apa-apa di depannya. Ia, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, adalah preman tengil, jadi tak seorang pun berkeinginan mengkritik tampilannya jika masih ingin berumur panjang dan merasakan mimpi basah pertama. Ia tidak naik kelas dua kali berturut-turut sebab kedapatan merokok di kebun salak bersama kakak-kakak remaja sekira lima belas kali dengan ditemani film biru dari Amerika Latin. Seharusnya ia dikeluarkan--sesuai peraturan tapi neneknya menangis di ruang guru, meminta cucunya dibolehkan tetap sekolah sebab ia yakin tidak akan ada sekolah lain yang mau menampung Teguh. Ya, itu nama preman tengil itu. Sungguh, seteguh ketengilannya. Ayah Teguh melarikan diri dengan perempuan lain. Ibunya berangkat sebagai TKI di Malaysia saat ia berumur empat tahun dan belum pernah pulang hingga sekarang. Kabar berembus ibunya kepincut pekerja dari Bangladesh dan enggan kembali ke Indonesia. Meski begitu, kiriman uang dari sang ibu tetap lancar, begitu juga kiriman mainan, permen, dan jajanan. Ia, semua yang ia miliki selalu lima kali lipat lebih modern daripada apa yang kami miliki (bocah kampung yang ibu bapaknya tidak ke mana-mana) . Saat itu aku pernah punya pikiran, seandainya ayah atau ibu bekerja di luar negeri, maka mainanku, tentu saja menjadi yang paling bagus di antara semua kawan tak terkecuali Teguh. Teguh kerap menindas adik-adik kelas. Kepadaku ia memanggil manusia, dan bukannya nama yang kubangga-banggakan dulu. Ya, aku punya nama seperti kura-kura Bimbim. Tapi Teguh enggan menggubris namaku dan setiap kali ada kesempatan bertemu, ia akan langsung berkata: "Hai, Manusia. Celanamu melorot. Burungmu mau terbang, ya?" Lalu di lain hari. "Hai, manusia. Belikan aku es kojong! Cepat!" Lalu di depan kamar mandi sekolah ia melorotkan celanaku di depan kawan-kawannya seraya berteriak. "Lidi! Kalian lihat ada lidi di s**********n manusia satu ini?" Semua orang terbahak-bahak kecuali aku yang menggeram. Aku menarik kerah baju Teguh. "Aku punya nama," kataku, ketus. Preman tengil itu tersentak. Ia tidak siap dengan reaksiku. Begitu juga aku yang kebingungan dari mana keberanian mencengkram kerah seragam Teguh itu kudapatkan. Terlambat sekali aku menyadari kesalahan fatalku. Namun, jika aku kendor, Teguh akan begitu saja menghempaskanku. Dan tampaklah betapa pecundangnya aku. Aku berani. Terlanjur berani dan di sanalah aku. "Aku panggil kamu manusia. Di mana kesalahanku? Jadi kamu bukan manusia? Kenapa marah begini? Apa kamu ini? Hewan? Batang pisang? Atau--lidi! Ya ampun! Lidi!" Lidi katanya! Aku mengeratkan cengkramanku. Bisa saja ia melakukan perbuatan semena-mena begitu pada adik kelas. Dan tidak ada yang melawannya. Tapi jangan denganku. Abisena namaku. Sang penjaga artinya. Teguh mencoba menepis tanganku dari kerah bajunya. Ia menyeringai. "Kuat juga kamu, bocah!" "Babi! Bagaimana kalau namamu kuganti jadi Babi sekarang? Tabiat hewan itu mencerminkan kelakuanmu, sepertinya. Manusia Babi!" hardikku Sebuah tinju mendarat di sudut bibirku. Aku babak belur hari itu, tapi aku mengamankan susana sekolah dari preman tengil, Teguh. Ia dikeluarkan dari sekolah. Air mata sang nenek tidak lagi bisa melunakkan kekukuhan para guru. Setelah keluar, aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi hingga hari ini. "Babi," gumamku. "Babi?" Bimbim rupanya mendengar gumamanku. Aku meralat ucapanku. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." "Sena, " panggil Bimbim. "Ya," kataku. "Kamu suka marah sekarang. Dan mengumpat." Aku diam, memikirkan ke mana percakapan ini akan mengalir. Pening kembali menghajar kepalaku. Saat tak sengaja menoleh bufet ruang tamu, aku melihat toples ikan mas yang semula keruh dipenuhi cacing tunggul pisang kini jernih memperlihatkan ikan itu meliuk ke sana kemari. Di sisi rumh ikan itu ada toples kura-kura--maksudku Nara. Airnya hanya diisi setengah lalu di tengah air itu ada balok kayu, sebuah angkringan yang diberikan Bimbim kepada kura-kura itu--maksudku Nara. Jadi kakakku sudah mengambil kura-kuranya--maksudku Nara dari jamban. "Itu perasaanmu saja, Bimbim." Aku meyahut. "Perasaanku pasti benar," jawabnya. "Tidak selalu," sanggahku. "Sena?" "Ya." "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" "Apa?" "Boleh?" "Tentu saja." "Kamu tidak akan marah?" Aku mengeleng. "Apa kamu mau berjanji padaku?" "Janji? Janji apa?" Bimbim mengusap-usap kepala kanannya. "Jangan berbelit-belit, Bimbim. Katakan saja kamu mau bicara apa sebenarnya." "Sena janji jangan marah padaku, ya?" Aku terdiam. Apakah beberapa waktu belakangan aku mudah sekali marah, sehingga Bimbim menysaratkan janji semacam itu? "Sena, kamu tidak mau jawab." "Ya, aku janji." "Janjimu tidak lengkap. Kamu mesti bilang, janji tidak akan marah, begitu." Aku menyeringai. Masam. Kenapa kakakku begitu berbelit-belit hari ini dan sedikit--bukan sangat banyak menyusahkanku. Aku memegangi perutku yang perih dan saat telapak dan kulit perutku bersentuhan, rasanya panas sekali. Asam lambungku pasti naik berkali-kali lipat. Aku sudah kehilangan selera makan. Lemas sekali rasa tubuhku. Aku bersandar ke punggung sofa seraya memejamkan mata. Aku memeriksa keningku. Benar dugaanku, bukan hanya perutku yang panas, tapi seluruh badanku. Aku sedang sakit dan Bimbim bilang aku tidak boleh marah dengan ucapannya. "Aku janji tidak akan marah," kataku kemudian. Bimbim tersenyum lebar. Barisan giginya yang kacau tampak olehku. Kuning sekali. Sejak ibu meninggal, rutnitas menyikat gigi Bimbim menjadi sekacau barisan gigi itu sendiri. "Baiklah," sahut Bimbim. "Aku lega sekarang. Meskipun sebenarnya agak takut juga." "Katakan saja, Bimbim. Aku kan sudah berjanji tidak marah. Jadi aku benar-benar tidak akan marah. Kamu mengerti, bukan?" Bimbim mengangguk. "Baiklah, Abiya." Aku memaksakan diri tersenyum sebab setelah berujar begitu, Bimbim kembali diam. "Jadi? Kamu mau bilang apa?" Bimbim menunduk. Jemarinya menggaruk-garuk taplak meja. "Bimbim?" "Maaf. Maaf." Bimbim masih bertahan dengan teka-tekinya, yang menaikkan panas bukan hanya tubuhku tapi juga pikiranku. "Kalau memang kamu ragu-ragu mengatakannya sekarang, kamu boleh menyimpannya sampai besok." Bimbim menggeleng, membuatku dongkol. "Jadi?" "Sena." "Ya." "Hm, Sena?" Aku enggan menyahut. Aku memelorotkan tubuhku ke kursi sofa. Dingin. Nyeri. Panas. Tenggorakanku sakit. Aku ingin minum banyak-banyak. "Sena?" Aku mendengkus kemudian tidur menyamping, menghadap punggung sofa, membelakangi Bimbim. Ada jeda yang cukup panjang setelah dengkusanku itu. Bimbim sepertinya tahu aku sedang kesal. "Sena," kata Bimbim, pelan. "Apa kematian seseorang mengubah orang yang masih hidup menjadi jahat?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN