Yang Bernasib Sama: Kami dan Bunga-bunga

1034 Kata
Ada rumpun mawar putih di sudut kanan pagar rumahku. Di ujung kiri pagar, sedap malam tumbuh dengan tinggi mencapai satu setengah meter. Ada sembilan pot kemuning di ujung teras rumahku. Ada tiga pot melati yang merambat di sela-sela pagar. Ada dua pot angsoka putih berdaun kecil di kedua sisi pintu pagar--dibeli ibu lima belas hari sebelum meninggal. Ibuku tak ubahnya wanita pada umumnya yang menyukai bunga. Bunga warna putih. Apa yang hilang dari rumahku sepeninggal ibu yang paling terlambat kusadari adalah aroma tanah basah saat ibu menyiram bunga-bunganya di sore hari. Kemarin adalah hujan pertama setelah terik matahari melulu menyengat atap-atap rumah kami dan tanah dan pohon dan sungai hampir lima bulan lamanya. Aku sedang menonton televisi sepulang sekolah. Bau kaos kaki masih setia menempel di telapak kakiku. Aku menikmati momen itu, sebab Bimbim menolak dekat padaku. Ia memilih bermain koin daun pisang di teras rumah. Saat itu pukul tiga sore. Segala sesuatunya begitu tiba-tiba. Hujan dengan bulir besar-besar turun mengeroyok bumi dan, di atas genting suaranya mirip seperti kerikil yang dilempar-lemparkan. Aku berjingkat keluar rumah, isi kepalaku hanya satu: jemuran! Aku terbirit-b***t meraup jemuran dari tali satu ke tali lainnya. Cucian itu berumur satu minggu. Ada seragam sekolah dan selusin sempak yang akan kupakai ke sekolah besok. Aku ragu kalian perlu mengetahui ini, tapi kejujuran adalah segalanya, sebuah pepatah berkata demikian. Maka akan aku beritahu kalian bahwa hari ini aku bersekolah tanpa sehelai sempak di dalam celana seragamku. Dua belas buah celana dalam. Aku hanya punya mereka dan sudah habis sejak sehari lalu. Jadi sudah dua hari ini aku bersekolah tanpa benda itu. Ada satu celana dalam di dalam lemariku yang telah kehilangan kelenturannya, sempak warisan dari Bimbim yang sudah tak muat di pinggangnya. Sebenarnya aku punya lima sempak warisan dari Bimbim. Semua diberikan oleh ibu padaku saat karetnya masih berfungsi dengan baik. Saat itu aku masih duduk di kelas satu SMP. Karena sudah terlalu sering dipakai dan melihat statusnya sebagai sempak dua generasi, maka sempak sempak-sempak itu begitu cepat kendur dan tiga di antaranya hanyut saat aku berendam di sungai bersama kawan-kawan, dulu sekali. Satu dari lima celana dalam itu adalah satu dari dua belas sempak yang aku jemur. Ajaib sekali, sempak itu masih cukup padaku hingga hari ini saat aku sudah menjadi murid SMA. Namun aku tidak memakainya saat ke sekolah, sebab celana dalam yang telah kering dan kelewat melar itu hanya akan mempertebal gundukan pantatku. Lebih baik aku tidak memakai apa pun di dalam daripada menjadi bahan tertawaan seluruh sekolah. Tujuh jam aku menahan diri dan bertingkah seperti seorang penderita wasir. Setiap kali aku salah mengambil posisi duduk, resleting celana akan langsung bergesekan dengan kulit burungku. Rasanya nyeri sekali. Totok--ya, dia lagi--menandai keanehanku sejak aku baru tiba di lorong kelas dengan tas yang melulu aku letakkan di depan, di bagian perut hingga paha. Tasku berjenis selempang. Warnanya hijau lumut. Aku membelinya di pasar Mingguan saat diminta mengantar ibu belanja keperluan dapur. Ia tiba-tiba mendatangiku dengan menenteng tas itu di tangan kiri dan tangan kanannya memegang kuping kresek belanjaan. Ibu meletakkan kresek hitam itu di atas trotoar. Lalu ia menyodorkan tas itu padaku, katanya, "Kamu mau ini?" Aku spontan mengangguk tanpa banyak bertanya dan mengecek keseluruhan tas itu. Totok menautkan kedua alisnya. Ia berdiri di ambang pintu, mengganggu murid yang kebagian jadwal piket kelas. Matanya ajeg melirik tasku yang berada di tempat tak biasa. "Kenapa kamu?" Totok menghadang langkahku. "Maksudmu?" "Cara jalanmu," sahutnya. "Ada yang tidak beres dengan selangkanganmu." Aku merasakan mukaku mendidih saat itu juga. "Bicara apa kamu, Tok," kataku berusaha setenang mungkin. Aku menerobos masuk, mencari tempat dudukku, dan mengeluarkan sebuah buku LKS mata pelajaran Ekonomi. Aku merogoh pulpen di kantong depan tasku. Setelah mengucap doa, aku pun mengerjakan PR yang belum tersentuh sama sekali olehku sejak guru mata pelajaran itu menugaskannya kepada siswa-siswi di kelasku. PR itu umurnya tiga hari lalu. "Sena, tingkahmu mencurigakan," kata Totok. Ia membuntutiku lalu duduk di atas mejaku. "Aku terkekeh. "Aku sedang mengerjakan PR. Bukan mau maling ayam. Sudah, sana. Jangan ganggu dulu." Totok tidak menyahut. Matanya tidak berpaling dari tas yang berada di pangkuanku. "Bukan. Bukan itu maksudku," kata Totok. "Selangkanganmu, Sena. Itu. Kenapa kamu terus-menerus menutupinya?" "Kamu tidak jelas sekali pagi ini, Tok." Aku menyingkirkan tasku sebentar kemudian berujar, "Nih, lihat. Ada yang aneh?" Totok menunduk. Tanganya akan menyentuh celanaku, tapi aku buru-buru menepisnya. Aku kembali memangku tasku. ""Sinting, kamu, Tok." Remaja itu tertawa terbahak-bahak lalu pergi begitu saja--membuatku menghela napas lega, seakan aku sedang diselubungi hawa sejuk pegunungan. Istirahat pertama. Aku tidak keluar dan masih bertahan dengan posisiku semula. Tas hijau pemberian ibu menjelma mesiah bagiku hari itu. Dalam hati aku merutuki kemalasanku, seandainya aku lebih gigih lagi mencuci baju. "Kamu tidak jajan?" Suara Totok mengagetkanku. Ia membawa satu bungkus pilus kacang dan memakannya di depanku. Aku bilang padanya aku masih kenyang. Aku sarapan sangat banyak sebelum berangkat sekolah. Perkataanku itu ada benarnya. Meskipun lauk yang menemaniku menyantap nasi hanya satu buah telur mata sapi. Aku haus, itu yang benar. Namun aku telah bertekad tidak akan minum hingga bel pulang berbunyi. "Sena, tas itu tidak berpindah dari pangkuanmu." Totok tersenyum penuh arti. "Kita berteman sejak kecil. Tidak akan mudah menyembunyikan sesuatu dariku." "Bicara apa sih? Apa yang mau kusembunyikan? Darimu?" "Kamu sudah lepas perjaka, ya? Dengan siapa?" Suara Totok kering, melengking, dan seruncing sikunya. Beruntung aku, hanya ada sembilan murid perempuan dan dua murid lelaki yang duduk agak jauh dari bangku kami. Mereka tersedot sesaat oleh lengkingan suara Totok. Namun mereka tampak ragu dengan kemampuan dengar mereka sendiri dan juga ucapan Totok, maka mereka menganggapnya angin lalu kemudian meneruskan kembali obrolan mereka yang tersendat sesaat. "Kenapa tidak sekalian kamu bikin pengumuman lewat toa masjid, Tok?" Aku kaget mendengar tudingannya. Namun, setelah kupikir ulang, tudingan itu terasa lebih lumayan ketimbang tudingan aku tidak bersempak hari itu. Yah, sedikit lebih baik. Hujan reda saat aku baru tiba di kamar yang sebenarnya ditujukan untuk para tamu yang dulunya merupakan kamar nenekku yang kini menjadi kamar baju. Aku melongok ke jendela untuk mengumpat hujan, dan saat itulah semerbak aroma tanah tersiram hujan tercium hidungku. Aku pun langsung teringat akan bunga-bunga ibu. Ingatan itu kemudian menuntunku berjalan keluar, ke teras rumah. Aku meringis saat melihat nasib bunga-bunga itu sama menyedihkan dengan nasib kami, sepeninggal ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN