Batang mawar itu kurus, kini. Tangkai-tangkainya mencuat keluar, meraba-raba udara, mencari inang yang bisa dijadikan rambatan. Bunganya tak sebanyak dulu, saat ibu sering memangkas dahan dan tangkainya sehingga pohon itu mendapat rangsangan untuk menumbuhkan tunas-tunas baru.
Saat tangkai tumbuhan dipangkas, akan muncul tunas baru di tepi lukanya yang terbuka. Begitulah cara ibu merawat mawar dan tanaman lainnya. Dua minggu sekali ia membuat luka baru pada tangkai bunga-bunganya. Tak sampai sepekan, hadir pucuk mungil daun berwarna hijau muda di tepi tangkai yang terluka itu.
Mawar itu telah ada di sana, jauh sebelum toko kelontong ayah mengalami renovasi pertama dan sebelum pagar rumah kami dibuat. Sering, tetangga yang akan ziarah ke makam meminta beberapa tangkai dari mawar itu untuk ditambahkan ke dalam kantong kresek bunga tabur. Bunga warisan mendiang nenek, begitu kata ibu. Nenek berpesan padanya agar bunga itu dijaga dengan sayang. Dan ibu meninggal sebelum sempat meneruskan wejangan nenek kepadaku.
Sekarang tidak ada yang mewarisi kegemarannya merawat bunga. Aku bahkan tidak menyadari keberadaan mereka di halaman rumahku, hingga aroma tanah basah yang kuhirup siang ini mengantarku memperlihatkan kemalangan mereka padaku. Kuyu. Kurus. Gersang. Berdebu. Setelah merasa cukup mengamati pohon mawar, aku pun berjalan, mendekat ke rumpun melati yang tak kalah menyedihkan dengan mawar. Tidak ada mahkota bunga di pucuk-pucuk tangkainya. Sepertinya tumbuhan itu memusatkan seluruh nutrisi yang ia miliki untuk bertahan hidup dan bukannya berbunga-bunga menarik serangga melakukan penyerbukan.
Aku mengelilingi halaman, berpindah mengamati seluruh pot, lalu timbul sebuah gebrakan luar biasa dari pikiranku. Bunga-bunga itu harus terus hidup dan subur, aku membatin. Aku kemudian menyiapkan selang panjang, menyambungkan benda itu dengan saluran air di samping rumah. Dan ritual atas nama sayang itu pun dimulai.
Aku menyanyikan lagu Sheila On 7. Berlapang d**a judulnya. Aku mengulang-ulangi reff-nya dengan penghayatan penuh. Aroma tanah basah itu membangkitkan semangatku, menggerakkan kebahagiaan di dalam diriku yang semula lesu. Aku mencintai ibu. Bagaimanapun juga. Meskipun semua perlakuannya ke Bimbim mengorek iri hatiku. Aku tahu alasan ibu adalah aku yang dianggapnya lebih dewasa daripada Bimbim. Pandangan ibu padaku itu mengaburkan fakta tentang statusku sebagai adik di dalam keluarga.
Pada suatu saat, aku pernah berkhayal, jika saja kakakku bukan dari golongan yang istimewa, maka aku tidak perlu menjadi dewasa sebelum waktunya. Seperti adik pada umumnya, aku ingin bermanja-manja pada kakakku dan mendapatkan kesenangan dari omelan ibu yang memarahi kakakku--memintanya mengalah atas pertengkaran yang terjadi di antara kami.
Seharusnya aku yang mendapat perhatian paling banyak. Seharusnya aku yang dijaga, bukan menjaga. Seharusnya… ah, tidak tahu. Namun satu yang pasti, setiap kali aku berpikir begitu, tiba-tiba saja kebencianku pada Bimbim membludak dan aku melampiaskannya dengan menjahili Bimbim. Lalu ibu akan kecewa padaku. Lalu ayah akan berkomentar betapa kekanakan aku. Kalau aku ingat-ingat lagi, aku memang melakukan semua itu saat masih kanak-kanak.
Seiring bertambahnya usia, pikiran semacam itu tak lantas meninggalkanku. Ia seperti asma tahunan. Kumat sewaktu-waktu dengan berbagai pemicu. Namun aku selalu menekan perasaan itu. Apalagi waktu-waktu belakangan, di mana kewarasanku benar-benar dipertaruhkan. Dan lagi, sebagai sang penjaga, peran yang tersemat padaku itu membengkak seratus persen. Ada peran ibu yang terlempar padaku.
Dan siang itu, lagu milik band asal Jogja itu memberikanku limpahan semangat, menyuntikkan sekian liter ikhlas. Berbagi air dengan bunga-bunga, baru aku tahu bisa semenyenangkan ini. Bukan cuma bunga, aku juga menyiram rumput yang daun-daunnya menguning oleh sinar matahari. Aku sedang baik, jadi rasakanlah segar air sumurku, wahai rumput. Begitu bunyi batinku. Aku juga mengairi pohon rambutan yang tumbuh di samping rumah. Ada tig pohon rambutan yang aku bantu melepas dahaga siang itu.
Ayah melongok dari pintu belakang toko yang saat dibuka akan mengarah ke halaman rumahku. "Sedang apa kamu, Sena?" katanya.
"Menyiram tentu saja," sahutku. Kadang-kadang aku tidak habis pikir dengan pertanyaan orang dewasa yang mubazir seperti itu. Tanpa bertanya pun mereka sudah sangat taju apa yang sedang aku perbuat
"Apa yang kamu siram itu?"
"Pohon, Ayah. Memangnya kelihatan seperti apa dari sana?"
Ayah kembali masuk ke toko, membiarkan pintunya terbuka sesaat setelah kudengar sebuah motor berhenti di depan toko. Pintu itu yang pernah aku buka larut malam untuk menemukan selendang Nawang Wulan. Aku pun kembali menyanyikan lagu kesayanganku itu.
Beberapa saat kemudian ayah kembali berada di ambang pintu toko, ia berteriak: "Untuk apa kamu menyiram pohon yang akarnya sudah jauh melesak ke perut bumi?"
Aku tertegun beberapa saat. Batinku, apakah itu sebuah pertanyaan bodoh selanjutnya dari manusia dewasa?
Aku menoleh ke pintu. Namun sosok ayah telah hilang. Sepertinya ia kedatangan pembeli baru.
Aku kemudian melirik setiap penjuru halaman, memeriksa hasil kerja kerasku yang sepertinya agak berlebihan. Aku mundur beberapa langkah, dan kurasakan setiap pijakanku amblas ke dalam tanah basah.
"Kamu buang-buang air dan listrik, Sena. Astaga! Apa-apan kamu, Nak?"
Teriakan ayah mengagetkanku. Genggaman selangku terlepas. Air masih mengucur dari lubangnya. Aku menoleh ayah. Pelototan matanya mengkerdilkan kegembiraanku, seketika.
"Matikan airnya, Sena! Kamu tahu tidak sekarang ini sedang kemarau panjang?"
Aku buru-buru ke samping rumah, menutup kran. Aku berencana kabur ke dalam kamar. Namun ternyata ayah menghadangku di halaman. Katanya, "Lihat hasil perbuatanmu itu."
"Mereka tampak segar, Ayah," sahutku. "Dan berterima kasih."
"Kamu terlalu berlebihan. Aku tidak melarangmu menyiram halaman dan tanaman tapi apa kamu tidak bisa membedakan mana yang harus kamu utamakan dan mana yang harus kamu singkirkan?"
"Ya?"
Kalian, pembacaku yang setia, masih ingatkah kalian saat aku bilang omelan ayahku sepanjang jalan raya, setinggi Semeru, dan samudera? Sial sekali aku harus mendengarnya lagi kini.
"Kenapa kamu menyirami rumput yang seharusnya kamu singkirkan? Kenapa kamu menyiram pohon yang sudah pintar mencari sumber air di bawah sana? Kenapa kamu membuat halaman rumah kita becek?"
Tidak ada gunanya menyahuti pertanyaan ayah sekarang. Sebab bukan itu yang ia inginkan. Atau ia akan semakin menjadi-jadi.
"Ya ampun. Ya ampun. Ya ampun. Berapa banyak air yang kamu sia-siakan ini? Oh, Tuhan. Oh! Saat semua orang berusaha menghemat pemakaian air, kamu malah membuang-buangnya, Sena."
Saat itu Bimbim keluar dari dalam rumah. Ia menghambur kepadaku. "Oh, Abiya. Jangan memarahinya lagi, Ayah."
"Tidak usah ikut campur kamu. Mau dimarahi juga?"
Jadilah sesiangan itu kami berdua kena omel ayah. Sebenarnya aku kasihan pada kakakku, entah mengapa ayah merasa perlu memarahinya juga.
"Kamu seharusnya tidak usah membelaku. Memang aku salah. Itu kenapa ayah memarahiku." Aku berkata pada Bimbim saat ayah kembali masuk ke dalam toko, melayani pembeli.
"Tidak. Sena baik. Sena benar. Sena menolong pohon tadi."