Sebuah Hasil

1800 Kata
Dengan tubuh yang hanya di balut handuk Alea masih betah berdiri di hadapan cermin. Memperhatikan tubuhnya yang dengan jelas mengalami perubahan. Memang bukan perubahan yang signifikan, perubahan kecil yang bahkan Alea sendiri tidak sadar. Tersadar saat baju pengantinnya terasa begitu pengap. Alea menghela nafas, memutar kembali lembaran hari-hari kemarin dimana dia makan begitu banyak. Snack, coklat, permen dan jangan lupakan makanan besar dengan porsi babinya. Sial! ada apa dengan porsi makannya? Kenapa sulit sekali menahan itu. Dengan mood yang cukup buruk, Alea melangkah, keluar kamar mandi. Tapi baru beberapa langkah kakinya langsung berhenti saat melihat tumpukan pembalut yang masih menjulan rapih, tidak tersentuh. "Tidak!" geram Alea yang langsung keluar kamar mandi dengan langkah cepat. Meraih ponselnya untuk melihat catatan datang bulannya. "satu bulan lebih" lirih Alea saat mengetahui bahwa dia terlambat datang bulan. Ingatannya memutar kenangan dia dan Jonathan yang melakukan kegiatan panas saat Alea ikut dengan Jonathan ke Labuan Bajo untuk urusan bisnis.  Jika itu benar, maka hasilnya sudah ada di perut Alea. Alea mengusap perutnya lembut. Menatap jam yang menunjukan pukul sebelas siang. Segera dia berjalan ke arah lemari, bersiap untuk pergi memastikan semuanya. Ponsel Alea berdering saat Alea tengah mengancingkan bajunya. Sebuah panggilan dari Jonathan. "honey" panggil Jonathan langsung. Alea mengapit ponsel dengan pundaknya, tangannya menyelesaikan pekerjaannya, mengancingkan pakaian. "yes" "kau dimana?" "aku di rumah, kenapa?" tanya Alea lalu meraih ponsel dengan tangan kanannya. "tidak. Sedang apa?" tanya Jonathan lagi Alea diam, dia tidak ingin memberi tahu Jonathan jika belum pasti  "aku baru selesai mandi" jawab Alea kemudian. "mau ke kantor ku?" tanya Jonathan yang Alea dengan sebagai permohonan "jika aku mood"  "honey" rengek Jonathan. Laki-laki itu benar-benar semakin manja. "baiklah, aku tidak janji" "kau mau pergi?" "belum tahu" "kabari aku, biar nanti aku jemput atau kau ke kantor ku untuk pulang bersama" "okay" "baiklah. Miss you" "terima kasih" balas Alea yang langsung menutup panggilan Jonathan. Alea tahu, laki-laki itu pasti akan melayangkan protes dan rajukannya. Benar-benar seperti bocah. *** Alea meremas tangannya, jantungnya berdegup kencang. Semua rasa campur aduk di hatinya. Rasa takut, senang, bingung, semuanya bercampur sampai Alea sendiri bingung menjelaskannya. Seorang perawat memanggil namanya. Alea bangun, menghela nafas, Alea melangkah memasuki ruangan dokter. Dokter menyambut Alea dengan senyum ramahnya yang Alea balas. "silahkan" ucap dokter yang Alea tahu bernama Mira. Alea duduk tepat di hadapan sang dokter, kembali menghela nafas mengurangi gugup. "saya ingin periksa kehamilan. Memastikan apakah dia memang ada di perut saya" jelas Alea langsung kepada sang dokter. Tangannya dengan lembut mengusap perutnya. Lagi, dokter itu tersenyum lembut.  "sudah di test pack?" Tanya sang dokter Alea menggeleng lemah.  "baik, kita test pack dulu ya, untuk lebih jelas lagi, nanti kita periksa melalui darah" Alea mengangguk patuh. Setelah dokter memberikan alat untuk Alea gunakan, Alea segera pergi ke toilet. Menunggu hasil, Alea terus menutup matanya. Entah, Alea bingung harus bereaksi seperti apa dengan hasil yang dia dapat. Apakah harus bahagia, atau bahkan sedih. beberapa menit berlalu, menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan, Alea mulai melihat test pack yang telah dia pakainya. "dua garis" lirih Alea langsung. Alea benar-benar tidak mengatakan apapun. Semua masih bercampur aduk di dalam hatinya. Keluar dari toilet, Alea langsung kembali menemui dokter, memberikan test pack dengan garis dua tersebut. "garisnya sangat jelas. Selamat ya bu. Untuk lebih pasti, nanti kita cek lewat darah"  Alea kembali mengaguk patuh dengan ucapan dokter.  Tangannya kembali mengusap lembut perutnya yang masih rata. Anaknya, anak hasil cinta dia dan Jonathan. *** "mika" lirih Alea langsung saat panggilannya tersambung "le, lo kenapa?" panik Mika "gue di rumah sakit" "what?! gue susul kesana. Lo kenapa Lea?!" kepanikan Mika semakin meningkat "gak usah Mik, gue udah mau balik" cegah Alea "terus? lo kenapa? sakit? atau Jonathan yang sakit?" Alea menggeleng, meskipun Mika tidak bisa melihatnya "gak ada yang sakit Mik, gue baik-baik aja begitupun Jonathan" "terus?" "nanti gue cerita" "oke. Pokoknya lo harus cerita" "iya. Gue tutup" ucap Alea "oke" Alea menutup panggilan dengan Mika, dia bingung, ingin cerita tapi rasa ingin itu tiba-tiba menguap. Alea sudah mendapat hasil tesnya, dia benar-benar sedang mengandung. "kita beritahu papa" ucap Alea sambil mengusap perutnya. Alea melangkah, keluar rumah sakit. Dia harus segera memberitahu Jonathan tentang berita ini. Tapi saat Alea baru akan memanggil taksi, seseornag lebih dulu memanggilnya. "oma" ucap Alea terkejut saat mengetahui Maya, nenek Jonathan. Memanggilnya. Maya langsung menatap aneh pada aplop coklat yang ada di tangan Alea. "kamu sakit?" tanya Maya langsung Alea menggeleng. "tidak oma, aku sehat" jawab Alea Maya mengangguk, tidak lagi bertanya. "ayo makan siang" ajak Maya yang tentu wajib Alea patuhi. Alea mengikuti Maya yang sudah lebih dulu melangkah. Masuk kedalam mobil dan hanya diam selama perjalanan. Hingga mobil itu membawa Alea dan Maya ke depan restoran.  "pesan apa yang kau suka" ucap Maya lagi saat keduanya sudah duduk. Alea mengangguk, memilih makanan yang dia inginkan. "jadi. Apa alasan kamu ke rumah sakit?" tanya Maya langsung saat pelayan yang mencatat pesanan mereka sudah pergi. Alea bingung, antara harus jujur atau berbohong "saya tidak suka di bohongi. Apalagi mengenai keluarga saya" tegas Maya langsung seolah bisa membaca pikiran Alea. Alea menelan ludahnya. Maya memang selalu menakutkan, sejak awal bertemu hingga kini setelah beberapa tahun. "ada apa Alea?" ulang Maya dengan suara yang membuat Alea ketakutan. "a-aku ha-mil" Alea terbata. "anak dari cucuku?" tanya Maya tanpa ada perubahan ekspresi yang drastis di wajahnya. Alea mengangguk. "Jojo sudah tahu?" Alea menggeleng "belum. Baru Alea ingin beritahu siang ini, oma" jawab Alea. Maya menghela nafas. "Jangan sekarang"  Alea langsung menatap Maya. "nanti malam saja. Kita makan malam bersama dan kamu beri tahu kabar ini, tidak hanya kepada Jonathan, tapi kepada semuanya. Ini kabar besar, tidak boleh di sembunyikan" jelas Maya. Alea mengangguk patuh, bolehkah dia berpikir bahwa Maya sudah mulai menerimanya? padahal Alea sempat takut dengan respon yang dia dapatkan dari Maya. Tapi ternyata, nenek Jonathan itu malah meminta Alea langsung mengumumkan di hadapan keluarga yang lain.  "bagus, ingat. Jangan beritahu Jojo. Kita buat ketujat untuk semuanya"  Jika sebelumnya Alea hanya mengangguk, kini Alea bahkan bisa tersenyum. Maya, dia harap nenek Jonathan itu mulai luluh dan hubungannya dengan Jonathan bisa di restui sebelum pernikahan di gelar. Makanan mereka datang, Maya langsung menyuruh Alea makan sedangkan dirinya ke toilet. "Nanti sore kamu ikut oma" ucap Maya yang telah kembali "kemana oma?" tanya Alea "ke dokter kandungan. Oma ingin memastikan anak Jojo baik-baik saja" jelas Alea "tapi aku sudah ke dokter oma" "dokter lain, kepercayaan oma." Alea mengangguk patuh, setidaknya demi merebut hati Maya, dia harus mengikuti permintaannya. Lagipula dokter pilihan Maya juga pasti dokter terbaik. "bagus. Nanti oma jemput kamu" "baik oma" *** "sayang, tidak jadi ke kantor?" tanya Jonathan. Saat di rumah sakit, Alea memang mengirim pesan kepada Jonathan bahwa dirinya akan berkunjung, tapi karena dirinya bertemu Maya, dia lupa memberi kabar lagi kepada Jonathan bahwa dia tidak jadi berkunjung. "tidak jadi" "kenapa? terjadi sesuatu?" "tidak, hanya saja malas untuk keluar rumah" bohong Alea. "sekarang kamu dimana?" "aku di rumah" "kau tidak berbohong kan?" Alea berdecak, belum sempat menjawab pertanyaan Jonathan, panggilan telpon berubah menjadi panggilan video. "See, tuang Jonathan. Aku di rumah, lebih tepatnya di kamar" ucap Alea langsung saat wajah Jonathan memenuhi layar ponselnya. Jonathan tersenyum lebar "selalu sexy dan menggairahkan" ucap Jonathan. Alea langsung memutar matanya "ayolah Mr, ini hanya tank top dan kau bilang menggairahkan?" "yap, sekalipun kau menggunakan baju tertutup, kau selalu membuatku panas" "stop. Kenapa otak mu semakin m***m wahai tuan Jonathan" Jonathan tertawa dan Alea tersenyum melihatnya, tawa Jonathan menghangatkan hatinya, selalu.  "mungkin efek pernikahan, memikirkan saat kau resmi menjadi istriku, rasanya benar-benar panas" Alea berdecak "dasar m***m" "hey, aku laki-laki normal honey" "tidak, hanya terlalu m***m" "tapi kau suka" "tidak"  Jonathan mengulum senyum "iya, kau tidak suka, saking tidak sukanya hingga kau mendesah" "Nathan!" protes Alea langsung, wajahnya benar-benar terasa panas dan malu. Jonathan menyebalkan. "yes honey, ingin di buat mendesah lagi?" godaan Jonathan masih berlanjut "kau menyebalkan!" "dan orang menyebalkan ini sangat kau cintai" "dasar tuan percaya diri" "itu jelas nyonya" "baiklah, terserah" "sudah makan siang?" tanya Jonathan kemudian "sudah" "tidak berbohong?" Lagi, Alea memutar bola matanya. "apa aku seorang perempuan yang selalu berbohong?" tanya balik Alea. "tidak, hanya memastikan jika kau tidak melakukan program diet ketat sialan itu" "aku memang diet" "honey. Aku tidak ingin kau sakit" "aku tidak akan sakit" "makan yang banyak" "dan menjadi tokoh buruk rupa yang bersanding dengan pangeran tampan?" "no! kau cantik. Selalu cantik di mataku. Persetan dengan bagaiman bentuk tubuhmu" "kau yakin? kenapa aku tidak" "berarti ada yang salah dengan otak mu honey" ledek Jonathan kemudian "Nathan!" "aku serius" ucap Jonathan sambil mengulum senyum, berbanding terbalik dengan ucapannya. "pokoknya aku diet dan kau dilarang protes" tegas Alea "dasar nyonya keras kepala" "kau lebih keras kepala tuan" Alea melihat Jonathan yang melirik onjek lain. "kenapa?" tanya Alea langsung "sepertinya aku harus segera ke ruang rapat" "baiklah" "nanti aku hubungi lagi" Alea mengangguk "okay" "bye sayang" "bye" Alea langsung menghela nafas saat sambungan video dengan Jonathan selesai. Rasanya dia ingin segera malam, melihat bagaimana reaksi laki-laki itu mengenai berita yang dia sampaikan.  Kembali meraih ponsel yang tadi dia letakan di samping bantal, Alea langsung menghubungi Mika. Sahabatnya itu harus tahu. "Lea!" panggil Mika kencang "Mik!" "sorry, hanya terkejut. Akhirnya lo hubungi gue" "lupa Mik" jujur Alea Mika berdecak "itu tete kalau gak nempel juga bakal lo lupa taro dimana" kesal Mika Alea tertawa "gak sering juga kali Mik, santai" "jadi Lea, pengakuan apa yang bakal lo buat?" Alea menghela nafas "lo jangan marah" "tergantung" "mika" rengek Alea "yaudah, cepet bilang" Alea menarik nafas dalam, sejujurnya dia takut jika Mika marah dan kecewa kepada dirinya  "Lea" panggil Mika kemudian "gue hamil Mik" jujur Alea kemudian. Mika diam, begitu juga Alea, menunggu sahabatnya merespon. "Mik" panggil Alea lagi. Mika masih diam, rasa takut jika sahabatnya itu marah memenuhi pikirannya. "iya Lea" jawab Mika kemudian "jangan marah" lirih Alea. "dan maaf" Alea mendengar Mika menghela nafas kasar "Lea, denger. Gue gak akan marah sama lo. Lo udah dewasa, begitupun dengan Jonathan. Lo berdua juga bukan menjalani hubungan bocah yang bisa kapan aja selesai. Lo berdua pasti sadar akan akibat apa yang lo berdua terima dari setiap tingkah kalian. So, gue akan senang jika lo senang. Meskipun gue juga kecewa karena si Nathan gak bisa jaga burungnya dan lo yang mau-mau aja di buahi. Ibaratnya lo panen lebih dulu. Tapi gimana lagi, hasilnya udah ada. Jadi terima aja, anak itu anugerah." Jelas Mika Alea yang mendengarkan penejelasan Mika langsung menangis. "Lea?!" panggil Mika "lo bener gak marah sama gue kan Mik?" tanya Alea  "Lea, lo nangis?! jangan nangis Lea!"  "jawab dulu, lo masih mau jadi sahabat gue kan?" Mika berdecak, mungkin jika Alea ada di hadapannya Mika akan langsung menoyor kepala Alea. "lo gak denger apa yang gue bilang? gue gak marah, cuma rasa kecewa ada. tapi lebay kalau gue sampe gak mau jadi sahabat lo lagi. Lo gak rebut pacar gue, lo juga gak khianatin gue. So, yeah, gue akan selalu jadi sahabat lo" "Mikaaaaaa" tangis Alea semakin kencang, semakin membuat Mika juga panik. "Lea stop! kasian anak lo!" Ucapan Mika langsung membuat Alea tersadar. Tangannya langsung mengusap lembut perut ratanya. "jangan sampe ponakan gue cengeng karena lo gampang nangis ya!" "gue gak gampang nangis kok!" "bagus!" "oh iya Mik, udah dulu ya, nanti gue ke rumah lo. Gue mau siap-siap"  "lo mau kemana Lea?" "gue mau makan malem sama kelaurganya Nathan. Sekaligus mau umumin berita ini" "Nathan udah tahu? dia gak marah kan?" "belum. Nathan belum tahu, cuma nenek aja yang tahu" "WHAT?!" "Mika! gak usah teriak!" "No! kenapa nenek jahat itu malah yang udah tahu dan bapaknya si toge belom tahu?" "lo bilang anak gue toge?!" "canda sayang, kan belum berbentuk. So?" "tadi gue ketemu di rumah sakit. Gue jelasin semuanya dan nenek minta untuk gue jangan bilang dulu sampe nanti makan malam" "wow! itu nenek jahat udah mulai terima lo! berkah toge" "MIKA! jangan panggil anak gue toge!" protes Alea Mika tertawa. "gue bercanda sayang, tapi imut juga kalau gue panggil toge" "Mik, anak gue bukan dari kacang-kacangan ya!" "iya, gue tahu. Anak lo dari sel telur burung yang gak bisa di jaga" "Mikaaaaaaa" rengek Alea yang kembali membuat Mika terbahak.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN