Alea kembali menatap cermin, memastikan bahwa penampilannya tidak aneh dan di sukai oleh Maya. Bagaimanapun, dia tetap harus berusaha lebih giat lagi agar Maya benar-benar menerima kehadiran dirinya sebagai pasangan cucunya.
Meskipun saat ini kalau boleh Alea percaya diri, Maya sudah mulai mau membuka dirinya untuk Alea. Mungkin jika saat ini Maya benar-benar tidak mencoba membuka diri, di menit Alea mengaku hamil, Maya akan langsung mencaci makinya. Tapi tidak, wanita itu bahkan meminta Alea mengumumkan langsung kepada keluarga yang lain. Benar-benar kemajuan.
Untuk alasan Maya yang tidak merestui Alea dengan Jonathan sebenarnya alasan klise. Perbedaan status. Menurut Maya, Jonathan itu lebih cocok dengan perempuan pilihannya, dibandingkan dengan Alea yang hanya anak seorang pegawai negeri sipil. Klise bukan? tapi bagaimana lagi, hal itu memang masih ada. Jadi, selama Alea menjalin hubungan dengan Jonathan beberapa tahun ini, dirinya sudah sangat kenyang dengan tingkah Maya yang menjodohkan Jonathan.
Seingat Alea, terhitung kurang lebih sudah dua belas kali Maya menjodohkan Jonathan dengan perempuan lain. Bagaimana? kenyang bukan? awalnya emang Alea sangat sakit hati, dia bahkan marah juga kepada Jonathan.
Hingga di perjodohan ke tiga, Alea sempat mengacungkan bendera putih atas hubungannya dengan Jonathan. Dia menyerah! Tapi memang Jonathan sudah cinta mati pada Alea, dia jelas tidak akan melepas Alea, dia langsung membawa Alea ke hadapan orangtuanya dan langsung meminta Alea untuk terus menjalin hubungan dengan Jonathan dan mengabaikan tingkah laku Maya. Alea setuju, hingga di usaha Maya yang berikutnya, Alea mulai tidak peduli, terlebih Jonathan juga tidak pernah merespon usaha Maya, malah sibuk menyenangkan Alea dan membuat Alea selalu percaya kepadanya.
Bunyi klakson mobil dari luar berhasil membuat Alea langsung bergegas. Meraih, dompet dan ponsel nya yang langsung dia masukkan kedalam sling bag. Dia harus cepat. Jangan sampai Maya menunggu nya. Selesai mengunci pintu rumah dan gerbang, Alea langsung masuk kedalam mobil.
Mengerutkan keningnya karena tidak ada Maya, hanya supir pribadinya saja yang menjemput Alea.
"oma gak ikut pak?" tanya Alea saat mobil sudah mulai bergerak.
"tidak non, nyonya sudah di tempat" Alea mengulum senyum.
"kita langsung ke rumah Nathan pak?" tanya Alea lagi.
"tidak non, kata nyonya ke dokter dulu" Alea menepuk keningnya, dia lupa. Sebelum makan malam, Maya akan mengajaknya untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan yang dipilihkan Maya.
"jadi oma sudah nunggu di tempat dokter?"
"iya non"
***
Alea mengerutkan keningnya, menatap bangunan klinik yang jauh dari kata megah, seperti selera Maya. Klinik sederhana dengan luas bangunan yang tidak seberapa. Benar-benar tidak sesuai ekspektasi Alea dimana Maya akan mengajaknya untuk konsultasi dengan dokter di rumah sakit mewah.
"pak, bener ini tempatnya?" tanya Alea kepada sang supir.
"betul non, nyonya sudah menunggu di dalam" Alea mengangguk, masih heran dengan tempat pilihan Maya. Jelas rumah sakit yang Alea pilih sebelumnya untuk mengecek kehamilan jauh terlihat lebih baik dari klinik ini, tapi kenapa Maya memilih datang kesini? atau di klinik ini ada dokter kenalan Maya? tapi apa mungkin kenalan seorang Maya berada di klinik yang terlihat begitu sederhana?. Alea benar-benar bingung. Mehela nafas, Alea akhirnya melangkah masuk. Jika memang ini keinginan Maya, Alea harus patuh. Bagaimanapun ini demi bayi yang di kandungnya dan demi hubungan dia dengan Maya agar lebih baik lagi.
Masuk kedalam klinik, Alea mengedarkan pandangannya, tidak sulit menemukan Maya karena nenek calon suaminya tersebut sudah lebih dulu melambaikan tangan.
Alea berjalan menghampiri Maya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Entah karena dia gugup berdekatan dengan Maya atau hal lain, Alea tidak tahu yang pasti jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.
"maaf nek, kayanya aku telat"
"tidak masalah" jawab Maya dengan nada yang cukup dingin.
Alea menelan ludah, berharap Maya tidak berubah menjadi sosok rubah berekor tujuh.
"saya sudah daftar, kita tunggu dokternya" ucap Maya lagi kemudian.
Alea mengangguk patuh, sepertinya perkiraan dia jika Maya memiliki kenalan di klinik ini benar.
Alea duduk di samping Maya. Mencoba mengatur nafasnya agar tidak gugup. Demi apapun, ini pertama kali Alea menghadapi Maya seorang diri. Rasanya dia ingin menghubungi Nathan dan meminta perlindungan darinya jika sewaktu-waktu neneknya mengamuk.
"kamu belum kasih tahu Jonathan bukan?" Tanya Maya sambil melirik Alea sekilas
"be-belum oma"
"bagus. Jaga hal ini sampe nanti makan malam"
Alea mengangguk patuh "baik oma"
Alea melihat jam di ponselnya, terhitung sekitar dua puluh menit mereka hanya duduk dan diam, tidak ada yang bersuara untuk bertanya. Alea takut jika salah berbicara, jadi memilih untuk diam.
Maya langsung bangun saat melihat sosok perempuan ber jas putih yang Alea tebak adalah seorang dokter.
"kamu tunggu disini" suruh Maya yang kembali Alea angguki.
Demi hubungan baik mereka, Alea akan menurut.
Maya melangkah mendekati sang dokter sedangkan Alea hanya duduk diam.
Maya kemudian berbicara dengan dokter tersebut dan Alea sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Entah karena telinga Alea bermasalah atau memang mereka yang berbicara dengan suara yang terlalu pelan. Bagi Alea, mungkin opsi kedua, karena sepertinya telinganya baik-baik saja.
Maya yang sebelumnya berdiri membelakangi Alea kini berbalik, memberika kode agar Alea mendekati mereka.
"ini Dokter Ranti, dia yang akan tangani kamu" ucap Maya
Alea menjabat tangan dokter Ranti dan tersenyum ramah.
"kita langsung ke ruang tindakan?" tanya dokter Ranti kepada Maya dan Alea
"langsung, lebih cepat lebih baik" jawab Maya
Dokter Ranti mengangguk.
"mari, ikuti saya" ucapnya kemudian.
Alea menarik nafas dalam dan perlahan menghembuskannya, rasanya dia semakin gugup saja.
Ketiganya berjalan menuju arah belakang klinik, Alea cukup terkejut karena ternyata klinik tersebut memiliki ruang belakang yang cukup luas, melewati jalan seperti lorong rumah sakit hingga akhirnya mereka berhenti di ruangan yang berada di tempat cukup dalam klinik ini.
Alea mengedarkan pandangannya, cukup sepi hingga bulu kuduknya merinding.
"Saya tunggu disini, pastikan hasilnya terbaik dan sesuai permintaan saya" ucap Maya.
Ranti mengangguk, lalu mengajak Alea masuk kedalam ruang tindakan.
Cukup terkejut, di dalam ruang tindakan tersebut sudah ada dua orang yang Alea tebak adalah perawat. Satu laki-laki dan satu perempuan. Di bandingkan ruang pemeriksaan, Alea menilai ruangan tersebut lebih mirip ruang oprasi.
"silahkan bajunya di ganti terlebih dahulu" ucap seorang perawat perempuan
Alea mengerutkan kening "kenapa harus ganti pakaian?"
"itu prosedurnya bu"
"prosedur?"
"iya, prosedurnya"
Demi apapun, bukannya untuk konsultasi Alea hanya perlu duduk di depan meja dokter? tapi kenapa harus berganti pakaian juga?
"dok, memang harus?" kini Alea bertanya kepada sang dokter yang sudah selesai memakai sarung tangannya.
"dokter tersebut mengangguk, berjalan mendekati Alea"
"harus, agar pakaian anda tidak terkena darah"
"darah?!" tanya Alea terkejut.
Dokter Ranti mengangguk "iya, saat bayi di keluarkan akan ada cukup darah" jelas Ranti kemudian.
Mata Alea langsung membulat, mengelurakan bayi? demi apapun, pikiran buruk langsung menghampiri Alea. Tas yang di genggamnya langsung terlepas begitu saja. Langkahnya secara otomatis mundur perlahan. Menatap tiga orang dalam ruangan dengan tatapan menakutkan.
"jangan bilang jika dokter ingin membunuh anak saya?" tanya Alea.
"bukannya itu juga kemauan anda?" tanya Dokter Ranti balik
Alea langsung menggeleng keras.
"tolong" satu kata yang di ucapkan Dokter Ranti yang langsung membuat Alea semakin ketakutan. Satu kata yang berarti perintah kepada kedua perawat untuk mendekati Alea.
"tidak!!! lepas!!!!!" berontak Alea saat kedua perawat tersebut memegang tubuhnya, menarik paksa dirinya ke arah tempat tidur.
Alea terus berontak, kakinya menolak untuk dia bergerak.
"tolong permudah pekerjaan kami" desis perawat perempuan itu.
Tangis Alea pecah, dia terus meraung dan menolak apa yang akan di lakukan orang-orang itu kepadanya.
"Dokteeeerrrr!!!! tolong jangan!" teriak Alea saat kedua perawat tersebut berhasil memabwa Alea berbaring.
Alea terus berontak, kakinya itu menendang perawat hingga salah satu dari mereka terjatuh.
Saat akan bangun, Alea kalah cepat, perawat tersebut sudah kembali siap, memegang tubuh Alea agar tetap berbaring.
Alea berteriak, menolak apa yang akan mereka lakukan dan memohon. Wajahnya penuh ketakutan dengan air mata yang membajiri pipinya. Dia tidak ingin anaknya mati, dia ingin anaknya selamat!
Hingga Alea berada di posisi yang tidak bisa melakukan banyak pergerakan dan posisi siap melakukan tindakan. Tubuh Alea seolah terkuncing, hanya air mata derasnya yang masih menampakan protes terhadap orang-orang tersebut.
Suara Alea sudah tertelan karena terus berteriak.
Hingga saat dokter mendekati mereka, Alea mentap dokter tersebut dengan memohon.
"dokter, saya mohon. Bantu saya, selamatkan anak saya" lirih Alea terus berjuang. Bagaimanapun, dia harus memperjuangkan anaknya.
Dokter Ranti masih diam, tapi terlihat jika dia tersentuh dengan penolakan Alea.
"saya mohon dokter" lirih Alea lagi.
Dokter Ranti menghela nafas kasar. Menurunkan maskernya.
"kamu ingin anak mu selamat?" tanya dokter Ranti yang langsung Alea angguki
"tolong" lirih Alea
"tapi nyonya Maya menginginkan anakmu mati"
Alea menggeleng kuat, tidak percaya jika kejatahan Maya sampai di tahap ini. Membunuh anaknya, calon cicitnya.
"tolong dokter, saya ingin anak saya" mohon Alea lagi.
Dokter Ranti kembali menghela nafas, selama dia menjalani prakter aborsi ini, Alea adalah pasien pertama yang melakukan penolakan dengan begitu keras.
Memang beberapa orang akan terlihat ragu, meskipun akhirnya tetap maju tapi Alea berbeda. Hingga perempuan itu berada di posisi yang tidak bisa bergerak, dia manis terus menolak.
Memperlihatkan kepada Ranti bagaimana seorang ibu berjuang demi menyelamatkan anaknya dari sosok orang jahat seperti Maya.
"lalu bagaimana dengan nyonya Maya?" tanya Ranti balik.
"saya tahu apa yang dia inginkan, saya akan lakukan. Tapi saya mohon agar dokter jangan menuruti maunya, membunuh anak saya." jelas Alea dengan suara yang dia coba keluarkan.
"dia mengancam akan meratakan klinik ini"
"saya mohon untuk dokter berbohong" pinta Alea langsung.
Dokter Ranti mengerutkan kening
"bilang bahwa anak saya sudah mati dan saya akan pergi sejauh mungkin. Klinik ini tidak akan di ratakan" Alea berusaha terus bernego
"saya mohon, saya ingin anak saya" Air mata yang sebelumnya sempat kering, kembali mengalir.
Dokter Ranti diam, nampak menimang ucapan Alea. Bohong kalau dia tidak tersentuh penolakan yang Alea lakukan tapi di satu sisi ancaman Maya juga menakutkan. Dia tahu bagaimana seorang Maya, nenek tua yang menakutkan.
Menghela nafas berat. Dokter Ranti memberi kode kepada dua perawat tersebut agar membebaskan Alea.
"pergi jauh, jangan pernah memperlihatkan anak mu di hadapan nenek tua itu. Bagaimanapun, cara itu yang akan menyelamatkan kita beruda" ucap Dokter Ranti kemudian.
Tangis Alea kembali pecah, dia memeluk Dokter Ranti sambil mengucapkan terima kasih.
"baiklah. kamu hanya perlu berganti pakaian lalu berbaring, beracting seolah telah kehilangan. Sebagai bukti, saya akan pakai janin lain untuk di perlihatkan kepada Maya" jelas sang dokter.
Alea mengangguk patuh, mengganti pakaiannya dan kembali berbaring.
Dokter Ranti memerintahkan kepada perawat laki-laki untuk membawa jasad bayi yang belum berbentuk sempurna ke hadapannya--untuk barang bukti kepada Maya.
Setelah semua siap. Dokter Ranti menghembuskan nafas kasar lalu keluar, menemui Maya.
Beberapa menit kemudian Maya masuk, menemui Alea yang berbaring sambil tersenyum puas.
"kalau kamu berpikir saya akan meneria kamu karena kehadiran seorang anak, jelas kamu salah. Sampai kapanpun, kamu tidak akan saya terima"
Alea kembali menangis mendengar ucapan Maya. Benar-benar wanita jahat!
"saat ini baru anak kamu yang mati dan kalau sampai kamu masih berani mendekati cucu saya, nyawa kamu yang akan mati" ancam Maya yang semakin membuat tangis Alea keras. Dia tidak boleh mati, dia harus tetap hidup. Demi anaknya.
Maya langsung keluar. Meninggalkan Alea yang semakin kencang menangis. Tangis menyakitkan yang membuat Ranti dan kedua perawat itu tersentuh.
"hiduplah dengan lebih baik. Jauhi cucunya, jangan sampai perjuangan kamu hari ini sia-sia dan nenek iblis itu merenggut nyawa mu dan anakmu sekaligus" jelas sang dokter sambil mengusap punggung Alea. Mencoba memberi ketenangan.
Alea mengangguk dalam tangsinya.
Dia berjanji bahwa anaknya akan tumbuh di dalam perutnya dengan baik, melahirkannya, membesarkannya dengan penuh cinta walau tanpa Jonathan disisinya dan tidak membiarkan dirinya tahu bahwa ada sosok yang tidak menginginkan kehadirannya.