Dengan napas yang belum beraturan, Alea langsung menghubungi Mika, meminta sahabatnya itu untuk menjemput.
Maya sudah pulang, meninggalkan Alea sendiri di klinik.
"sekali lagi saya minta tolong, ini rahasia kita. Aku sudah membantu mu, jadi tolong jangan pernah membicarakan mengenai klinik ini kepada yang lain. Rahasia mu juga ada pada kami" ucap sang dokter.
Alea mengangguk, memeluk sang dokter
"terima kasih dok, terima aksih sudah mau mendengar permohonan saya" lirih Alea tulus.
Dokter Ranti membalas pelukan Alea, mengusap punggung calon ibu muda tersebut dengan tenang "hiduplah dengan baik, besarkan dia"
Alea mengangguk yakin. Melepaskan pelukannya dengan sang dokter.
Ponsel Alea berdering, Mika mengirimnya pesan dan mengabarkan bahwa dia sudah berada di depan klinik.
"saya pamit dok, terima kasih"
Dokter Ranti tersenyum lembut, lalu mengangguk dan saat Alea sudah menjauh, dia menghela napas berat. Sudah lama dia tidak melihat pengorbanan seorang ibu yang melindungi anaknya. Meskipun mempertahankannya pun akan terasa berat.
Alea mungkin sudah melewati satu rintangan berat tapi rintangan lain akan menyapanya segera.
"saya berharap akan semakin banyak sosok Alea di masa depan" lirih Ranti yang di angguki oleh kedua perawat kepercayaannya.
Bagaimanapun, pekerjaan mereka tidak mudah dan dari lubuk hati mereka yang terdalam, mereka tidak ingin melakukan ini, tapi bagaimana lagi, banyak himpitan kepada mereka membuat mereka terpaksa menjalani.
Setiap bayi yang mereka keluarkan secara terpaksa, setiap itu pula penyesalan hinggap di hati mereka, dan melihat bagaimana Alea mempertahankan bayinya, membuat mereka terenyuh meskipun dalam dilema.
***
Melihat mobil Mika yang terparkir. Alea segera berlari masuk.
"Lea-"
Belum selesai Mika bertanya, tangis Alea langsung pecah di dalam mobil.
Mika langsung merengkuhnya, memeluk sahabatnya dengan erat.
Tanpa mengeluarkan kata, Mika terus memeluk Alea yang menangis, dia tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya, tapi tangis menyakitkan sahabatnya memberi tahu dirinya bahwa Alea tidak baik-baik saja.
Setelah hampir lima belas menit, tangis Alea sedikit reda.
Mika langsung memerikan tissue dan air minum agar sahabatnya bisa lebih tenang.
"mau cerita sekarang?" tanya Mika lembut
Alea menggeleng dan Mika tidak memaksa.
"kalau begitu kita pulang"
"jangan ke rumah" cegah Alea langsung dengan suara seraknya
Mika mengangguk " ke rumah gue" putus Mika yang di angguki Alea.
Sepanjang perjalanan, Alea hanya diam, menatap keluar jendela, tangannya mengusap perut ratanya dengan lembut, tidak jarang air matanya juga terus mengalir.
Mika melirik kondisi sahabatnya, hatinya sudah di buat sesak dan entah, apakah bisa dirinya menerima hal lebih menyesakkan saat mengetahui penyebabnya.
Demi Tuhan, Alea itu bukan sekedar sahabat untuknya. Alea itu saudaranya, bukan kakak atau adik, tapi kembarannya. Setiap kesakitan Alea adalah kesakitan Mika dan begitupun sebaliknya. Mereka saling melindungi dan saling terikat.
Mika memberi klakson agar gerbang rumahnya di buka. Tepat saat mobil yang di kendarainya berhenti di carport, Mika langsung memanggil penjaga rumahnya untuk mendekat sebelum dia dan Alea masuk .
"kalau ada yang cari Alea, bilang gak ada"
"baik non"
Alea mengangguk, meminta penjaga kembali ke pos nya.
"ayo Le" ajak Mika
Dengan napas yang masih belum teratur dan air mata yang mengering, Alea mengikuti Mika masuk, menuju kamar.
"gue mau cuci muka" ucap Alea langsung sambil meletakan tas nya.
Mika mengangguk, membiarkan Alea ke kamar mandi.
"lebih baik?" tanya Mika saat Alea keluar kamar mandi.
Alea mengangguk, menghampiri Mika yang berada diatas kasur.
"cerita sama gue, semuanya" ucap Mika sebuah perintah.
Alea menarik nafas dalam, perlahan mengembuskannya. Mencoba mengontrol emosinya yang kapan saja bisa membuat tangisnya kembali pecah.
"anak gue hampir di bunuh"
Bola mata Mika langsung membulat. "maksud lo?"
Air mata Alea kembali jatuh, tapi sekuat mungkin dia tetap mengontrol dirinya.
"gue hampir di abosri, perintah oma"
Mika menggenggam tangan Alea, mencoba menguatkan. "ceritain Lea, jangan ada yang lo sembunyiin sedikitpun"
Alea mengangguk dan mengalirlah semuanya. Bagaimana Maya yang menipunya, menjebaknya agar dia kehilangan bayinya dan mengancam dirinya.
Mika mengusap pipinya yang basah, Maya benar-benar sosok iblis.
"dan sekarang lo benar-benar akan meninggalkan Jonathan?"
Alea mengangguk "demi anak gue, gue akan tinggalkan Jonathan. Anak gue gak salah Mik, dia pantas hidup dan gue akan lindungi dia. Bagaimanpun caranya."
Mika langsung memeluk Alea "gue juga akan lindungi kalian"
"tolong rahasiakan ini Mik, jangan pernah Jonathan tahu kalau gue hamil, gue gak mau dia marah ke neneknya yang kemudian berimbas ke keselamatan anak gue. Gue akan pergi, menghilang dari mereka. Gue mau lahirkan anak gue, membesarkan dia"
"iya Lea dan biarkan gue dan keluarga gue melindungi lo"
"terima kasih Mik, gue beruntung punya lo" tulus Alea.
***
Setelah lebih tenang. Mika meminta izin kepada Alea untuk menceritakan apa yang di alaminya kepada kedua orangtuanya. Bagaimanapun, mereka juga perlu tahu agar ikut membantu melindungi Alea. Apalagi orang tua Mika juga sudah menganggap Alea sebagai anak mereka sendiri.
"mama gak nyangka kalau neneknya Jonathan bisa se kejam itu, demi apapun. Membunuh bayi yang bahkan tidak berdosa?! benar-benar gila"
Mika hanya mengangguk setuju dengan ucapan sang mama. Sudah sejak setengah jam yang lalu Mika menceritakan semuanya dan sang Mama, Eliza. Masih dilanda emosi.
"sudah Ma, sekarang kita pikirkan Alea"
"tapi pa, mama tuh masih kesel. Kenapa sih di dunia ini ada orang sejahat itu? mana udah tua! bukannya ingat mati. Malah berperan jadi malaikat mati, belum aja di samperin langsung sama malaikat kematian" kesalnya.
Aldo. Papa Mika, menggelengkan kepalanya.
"daripada marah terus, mending mama bikinin papa teh. Biar kita lebih tenang"
"gak mau. Nyuruh pembantu aja pa. Papa mau mama masukin garam, bukan gula ke teh papa?!"
Menghela napas, Aldo memilih membiarkan sang istri dengan emosinya hingga reda dengan sendirinya.
"Pa, jadi gimana?"
Aldo menatap Mika.
"sedang papa usahakan" jawabnya
Mika mengangguk, percaya kepada sang papa.
Dia memang meminta tolong kepada papanya untuk mencari tempat persembunyian Alea, tepat yang jauh dari Jakarta. Tempat yang aman untuk Alea tinggal dan membesarkan anaknya.
Sebenarnya Alea memiliki paman, dari pihak ibu. Tapi sang paman sudah lama menetap di Afrika dan terakhir Alea bertemu pamannya tersebut saat Alea lulus sekolah menengah atas-sudah cukup lama.
"barang-barang Alea, kapan mau di ambil?"
"mungkin setelah Alea bangun pa"
"pulang dari rumah Alea, kalian langsung ke hotel. Jangan bawa mobil kamu. Jonathan pasti akan ke sini untuk mencari Alea."
"baik pa"
Ini yang Mika maksud, bagaimana sang papa membantunya, membantu melindungi Alea yang seperti anaknya sendiri.
***
"lo yakin kalau Jonathan gak ada di rumah lo?"
Alea kembali mengangguk "yakin, gue chat dia barusan dan dia bilang kalau pulang telat"
"dia bener-bener gak tahu apa-apa ya Le, belum tahu kalau neneknya mau bunuh anak dia"
Alea mengangguk lemah.
"lo siap Le? ninggalin Jonathan?"
Alea menatap Mika dengan sendu. Rasa sesak menghimpit hatinya, sulit. Dia sangat tahu bahwa berpisah dengan Jonathan bukanlah hal yang mudah.
Apalagi perasaan mereka masih sama, masih saling mencintai.
Tapi Alea tetap harus memilih pergi, demi anaknya. Setidaknya ada bagian dari Jonathan yang dia miliki, meski takdir menuliskan bahwa dia dan Jonathan tidak akan pernah bersama hingga kapanpun.
Taksi yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah Alea. Setelah membayar, dengan cepat keduanya memasuki rumah.
Alea langsung mengeluarkan kopernya. Membuka lemarinya lebar-lebar.
"gak mungkin gue bawa semuanya Mik"
"iya Le, bawa sedikit, karena saat perut lo semakin besar, baju lo gak mungkin bisa di pakai semuanya"
Alea mengangguk, memilih hanya memasukan kaos-kaos longgar dan celana training.
Dan saat pandangannya menangkap tumpukan kaos milik Jonathan, air matanya kembali menetes.
"kita ambil. Sebagai obat rindu lo ke Jonathan" ucap Mika yang menatap sendu Alea.
Alea kembali mengangguk, meraih dua kaos milik Jonathan, menghirupnya. Menyimpan baunya kedalam ingatan lalu meletakan kedalam koper.
Demi apapun, ini bukan hal mudah untuk Alea. Meninggalkan Jonathan adalah sebuah keterpaksaan yang harus dia pilih. Jonathan, sosok yang sudah memiliki hati Alea sepenuhnya. Sosok terpenting lain selain Mika, sahabatnya.
Sosok yang selalu menjaganya, memastikan kebahagiaan untuk dirinya. Melindunginya dan siap menjadi pemimpin keluarga untuknya.
"ada lagi yang mau lo bawa?"
Alea menatap koper yang sudah terisi beberapa barang lalu menggeleng lemah. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia bawa, otaknya beku, menolak untuk bekerja.
"lo bisa tunggu di luar sebentar Mik?" tanya Alea pelan
Mika mengangguk, menarik koper Alea keluar-membiarkan sahabatnya menikamati waktu terakhirnya di rumah ini.
Tepat setelah Alea mendengar pintu yang tertutup, dirinya langsung ambruk. Tangisnya pecah, dia tidak ingin berpisah dengan Jonathan, dia ingin hidup bersama laki-laki itu. Dia mencintai Jonathan-sangat.
Sambil tersedu, Alea mencoba bangkit, berjalan menuju samping tempat tidurnya. Sebuah nakas dengan pajangan photo Alea dan Jonathan.
"aku cinta kamu Nath, sangat" isak Alea dan mendekap erat pigura tersebut.
Membuka laci, Alea kemudian meraih note dan pena. Menulis pesan kepada Jonathan agar laki-laki itu jangan mencarinya dan membatalkan pernikahan mereka.
"maaf Nath, maaf" lirih Alea sambil menggoreskan setiap tinta dengan air mata yang terus membajiri pipinya.
Ini lebih dari sebuah rasa sakit.