"Saya terima nikah dan kawinnya Namira Aneisha dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 10 gram dibayar tunai." Khalif mengucapkan kalimat ijab qobul itu dengan satu tarikan napas saja.
Para saksi berkata'sah' dan semua orang pun turut mengucapkan hamdallah. Detik itu juga mereka sudah sah menjadi suami dan istri. Khalif dan Namira saling bertukar senyumnya. Senyum kebahagiaan yang tak bisa mereka ungkapkan lagi.
Pernikahan itu memang hanya sederhana. Mereka hanya menikah di KUA dan disaksikan oleh keluarga inti mereka saja. rencananya mereka akan melaksanakan resepsi setelah Khalif selesai melakukan operasi.
Bu Siwi memang telah memberikan izin mereka untuk menikah tapi bukan berarti dia ikhlas jika Namira menjadi menantunya. Dia tetap tidak terima dengan hal itu tetapi dia menutupinya. Dia tak ingin putranya mengetahui hal itu. dia tak ingin putranya kecewa nantinya.
Bu Siwi tetaplah seorang ibu yang memprioritaskan kebahagiaan putranya. Dia hanya ingin Putranya itu operasi dan bebas dari penyakit yang telah bersarang ditubuhnya bertahun-tahun. ya, walaupun bukan berarti bisa sembuh total tapi paling tidak bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Hai istriku. Terimakasih karena kamu sudah mau menikah denganku." ujar Khalif setelah mereka sampai di rumah.
"Tentu saja Mas. aku yang seharusnya bersyukur karena kamu sudah memilihku menjadi istrimu." Ujar perempuan itu dengan senyum bahagianya.
Mereka masih memiliki waktu seminggu untuk menghabiskan hari-hari bersama sebelum Khalif melakukan operasi. Khalif sudah merencanakan honeymoon singkat untuk mereka. bukan di luar negeri, tapi mereka hanya berwisata ke tempat-tempat terdekat.
Karena bagi mereka, bukan tempatnya, namun dengan siapa mereka menghabiskan waktunya. akhirnya, Khalif bisa merasakan kebahagiaan itu. bisa bersama dengan wanita yang selama ini dia cintai.
Namira adalah sosok perempuan yang mampu mencuri perhatiaannya sejak pertama jumpa. Penampilannya begitu sederhana, wajahnya juga tak ada polesan riasan sedikitpun, namun kecantikannya tetap terpancar. Wajahnya putih bersih dan begitu sejuk ketika memandangnya. Namira juga pintar dan berprestasi. Sudah banyak kejuaran yang ia raih.
Mereka bukanlah teman satu kelas maupun satu angkatan, namun hubungan mereka adalah senior dan junior. Ketika Namira masuk ke sekolah itu, Khalif sudah menjadi kakak tingkatnya. Khalif sudah kelas tiga SMA waktu itu dan menjadi ketua osis. Sebenarnya masa jabatannya akan segera berakhir tapi dia masih memimpin MOS waktu itu.
Dia tak sengaja melihat Namira dan disaat itulah dia mulai tertarik padanya. tentu saja Namira tidak meresponnya diawal. Dia hanya gadis lugu yang ingin cepat menyelesaikan sekolahnya. Dia tak ingin memikirkan hal lain selain pelajaran. Tapi Khalif tak gentar mendekatinya.
Sampai akhirnya mereka dekat ketika Khalif sudah lulus dan kuliah. Khalif selalu mengunjungi Namira dan memberikan perhatian kepada perempuan itu, hingga dia jatuh kedalam pesona lelaki itu.
Mereka mulai menjalin hubungan hingga berakhir di pelaminan seperti saat ini. hubungan mereka sejauh ini baik-baik saja karena mereka memang saling menjaga komunikasi satu sama lainnya.
"Sayang, dua hari lagi aku akan menjalani operasi. Jujur saja awalnya aku takut. Tapi aku merasa tenang saat aku bersamamu. Aku yakin bisa melewati semuanya asalkan ada kamu disampingku." Ujar lelaki itu sembari tidur di paha istrinya itu. dia bisa merasakan belaian halus istrinya di rambutnya.
"Aku berjanji akan selalu disampingmu Mas, aku akan selalu ada untukmu apapun keadaannya." Ujar perempuan itu sembari tersenyum lembut kearah suaminya.
"pokoknya, setelah aku operasi, kamu harus jadi orang pertama yang aku lihat setelah bangun." Namira mengangguk sembari tersenyum. Dia akan mengusahakan hal itu.
"Ayo sayang, kita masih punya dua hari untuk bersenang-senang." Ujar lelaki itu sembari tersenyum menggoda kearah istrinya. dia langsung berdiri dan menggendong istrinya tanpa aba.
Hari itupun tiba. Mereka sudah siap pergi ke bandara. Namun sayangnya, Namira tidak bisa ikut serta. Ibunya mendadak sakit dan kini dirawat di rumah sakit. dia tak bisa pergi begitu saja, ibunya hanya seorang diri.
"Mas, maafkan aku. aku tak bisa menepati janjiku. Tapi percayalah, aku akan selalu disini, tepat di hatimu. Doa-doaku akan selalu membersamaimu. Kamu jangan takut dan khawatir. Kita akan berjumpa lagi nanti." Ujar Namira ketika berpamitan pada sang suami. Dia tak kuasa menahan air matanya.
Khalif tak bisa berkata-kata lagi. dia langsung mendekap erat istrinya itu. melepaskan segala kekhawatiran yang ada.
"Aku mengerti sayang, tidak papa, setelah ibu membaik kamu bisa menyusulku kapanpun disana. Kamu harus terus mengabariku, jangan abaikan telpon maupun pesan teks ku. kamu mengerti?" Namira mengangguk sembari tersenyum kearahnya.
"Sudah Mas, pesawatnya sudah mau berangkat." Peringat Namira pada sang suami. Lelaki itupun melepaskan pelukannya dengan enggan. Lalu memeluknya lagi.
"Baru saja sedetik melepaskan pelukanmu aku sudah merindukamu lagi. bagaimana aku bisa jauh darimu sayang." Ujar lelaki itu membuat Namira geli sendiri. dia tertawa melihat betapa bucinnya Khalif padanya.
"Mas, kita hanya beberapa minggu terpisah. Setelah semuanya selesai kita bisa bersama kembali." Ujar Namira mencoba memeberikan pengertian pada sang suami.
"Ya, kita akan bersama lagi. setelah aku kembali, kamu harus bersiap-siap sayang. Aku tak akan membiarkanmu tidur." Ujar lelaki itu sembari tersenyu menggoda kearah istrinya.
"Khalif, ayo berangkat nak." Ujar bu Siwi memperingatkan putranya itu.
"Ok Ma, 5 menit lagi." ujar lelaki itu yang masih enggan berpisah dengan istrinya.
"Sayang aku berangkat ya. Jaga diri kamu disini baik-baik. aku hanya akan pergi sebentar dan akan kembali untukmu." Mata Khalif sudah berkaca-kaca. Jujur saja, dia tak rela meninggalkan istrinya tapi ini demi kebaikan bersama.
Dia pergi untuk mendapatkan kesembuhan. Dia akan kembali dengan keadaan yang lebih sehat lagi. mereka akan kembali bersama dan menjalani kehidupan rumah tangga impian mereka.
"Hati-hati Mas, semoga Allah memudahkan segalanya untukmu. Aku menunggumu disini. Aku akan baik-baik saja disini begitupun kamu. Everything will be alright." Ujarnya saling menguatkan.
Khalif mengecup dahi, mata, pipi, hidung dan bibir istrinya. dia melakukan berkali-kali hingga perempuan itu kegelian. Suaminya memang begitu jahil. Banyak yang menontonnya hingga dia merasa malu.
Namira menatap dalam suaminya, "Mas, apapun yang terjadi nanti. Ada atau gak ada aku. percayalah aku akan tetap dan selalu mencintaimu. Memilikimu sebagai suamiku adalah hal terindah yang terjadi dalam hidupku." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Khalif ikut terbawa suasana dan matanya juga berkaca-kaca. Dia menatap istrinya lembut. Tatapan penuh kasih sayang. "gak ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya aku bersamamu, Namira. But all I can say is, I Love you to the moon and back, I'll be back for you."
Namira menyunggingkan senyum indahnya dengan mata yang berkaca-kaca, "Love you more and more Mas."
Setelah sang suami hilang dari pandangannya, dia mulai berbalik dan menitikkan air matanya. dia mulai melihat pesan masuk di ponselnya. Pesan dari seseorang untuknya.
"Maaf Mas, aku tak bisa menepati janjiku." Ujarnya sembari melangkah menjauh darisana.
***