part 2-Missing you

849 Kata
Operasi itu berjalan dengan lancar, tapi Khalif belum sadarkan diri. dia masih berada dibawah pengaruh obat bius. Rasa lega dirasakan oleh kedua orangtuanya. mereka bisa tenang sekarang melihat putranya bisa beraktivitas normal kembali. Lima belas menit berlalu, Khalif mulai mengerjapkan matanya. dia menyesuaikan cahaya yang ia lihat. Orang pertama yang ia lihat adalah mamanya. Bu Siwi langsung mencium putranya setelah sadar. Beliau begitu bahagia melihat putranya sudah sadarkan diri. "Namira mana Ma?" tanya lelaki itu. tentu saja, dia sangat merindukan istrinya. apalagi sudah beberapa hari ini mereka tak bertemu. Sebelum operasi, Khalif mencoba menelpon istrinya tapi tak bisa. Dia juga tidak tahu kenapa istrinya tiba-tiba sulit dihubungi padahal Khalif sangat membutuhkannya. "Dia tidak bisa kesini Khalif. kamu tahu sendiri dia menjaga ibunya disana. kamu sabar ya, setelah ini kalian bisa bertemu. Kamu harus bedrest dulu selama seminggu dan kalau sudah stabil kondisinya baru boleh kembali ke Indonesia." jelas sang Mama menenangkan putranya itu. "Seminggu lagi? itu waktu yang lama Ma. Aku sangat merindukannya. Apakah dia baik-baik saja disana?" tanya lelaki itu dengan penuh kekhawatiran. "Tentu saja dia baik-baik saja disana. bersabarlah nak. Kamu harus sembuh total dulu." Ujarnya lagi mencoba menenangkan sang putra. "Ponselku mana Ma? Aku ingin menghubunginya. Dia pasti senang melihatku sudah selesai operasi." Pinta Khalif. bu Siwi langsung memberikan ponsel itu pada putranya. Khalif membuka ponselnya. Dia sedikit kecewa karena pesan dari beberapa hari yang lalu tak ada yang terbalas satupun. Bahkan setelah sampai di Singapura dia tak bisa lagi menghubungi sang istri. ketika dia telpon nomornya sudah tidak aktif lagi. Khalif khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya. dia tak bisa menghubunginya sama sekali. Tidak seharusnya seperti ini, Istrinya sudah berjanji jika akan selalu membalas maupun mengangkat telepon Khalif. tapi kini bahkan dia tak bisa dihubungi sama sekali. "Ma, apakah Namira baik-baik saja disana? kenapa nomornya tidak aktif? Bagaimana aku bisa tahu keadaannya jika seperti ini?" Tanya Khalif sudah frustasi. Dia melempar ponselnya dengan keadaan marah. "Sayang, tenang dulu nak. Dia pasti baik-baik saja. kamu tidak usah cemas. Nanti mama akan minta pak Imam untuk mengeceknya ya." ujar sang Mama menenangkan. "Aku mau pulang Ma. Aku gak bisa tenang kalau belum mendengar suaranya." Ujar lelaki itu bersikeras. "Baiklah. Mama akan suruh pak Imam ke rumah sakit tempat ibunya dirawat. tapi kamu makan dulu. Habiskan itu, nanti Mama akan mencoba menghubunginya." Khalif akhirnya menuruti perintah mamanya itu. Dia sudah lebih tenang sekarang dan menghabiskan makanan di piringnya. Walaupuun makanan itu terasa hambar di lidahnya, tapi dia tetap harus menghabiskannya. Dia ingin lekas sehat dan kembali lagi menemui sang istri disana. "Bagaimana Ma? Apa pak Imam sudah bertemu dengan istriku?" tanya Khalif dengan nada cemasnya. "Belum nak. Ini memang bukan jam besuk jadi mungkin nanti sore baru bisa." Jelas bu Siwi membuat Khalif kembali merasa frustasi. "Khalif, dengarkan Mama nak, kamu sekarang fokus dulu pada penyembuhanmu. Minum obatnya, istirahat yang cukup dan turuti apa kata dokter. jangan pikirkan macam-macam jika kamu ingin cepat kembali ke Indonesia dan menemui Namira. Kamu mengerti?" Khalif mengangguk menuruti perkataan Mamanya itu. Apa yang dikatakan mamanya itu benar. dia harus mengikuti apa yang dokter sarankan padanya. dia akan segera sembuh dan kembali bersama istrinya. dia harus sabar dan menahan rasa rindunya itu. Khalif mencoba berpikir positif. Dia akan selalu percaya pada istrinya. dia pasti akan baik-baik saja disana. demi bertemu kembali dengan Namira, Khalif harus bisa sembuh secepatnya. Setiap hari dokter mengecek keadaan Khalif yang semakin membaik. Jantungnya juga sudah berfungsi dengan normal lagi. selama observasi juga semuanya sudah baik-baik saja. Khalif pun sudah diizinkan untuk pulang. Lelaki itu begitu bersemangat. dia ingin memberikan kejutan pada sang istri. dia sengaja tak memberitahu kepulangannya. Istrinya pasti senang sekaligus terkejut melihat kedatangannya yang lebih cepat daripada perkiraannya. "Ma, aku ingin belikan kue dan beberapa oleh-oleh untuk Namira. Pasti dia akan suka dengan semua ini." ujar Khalif bersemangat setelah ia keluar dari rumah sakit. Mereka masih punya waktu beberapa jam lagi karena penerbangannya malam. mereka beristirahat di hotel selagi menunggu Khalif berbelanja di luar untuk sang istri. sebenarnya bu Siwi sudah melarangnya tapi Khalif bersikeras untuk pergi. Pukul sepuluh malam mereka pun berangkat ke Indonesia, Khalif merasa tak sabar ingin bertemu sang istri. dia sampai terjaga sepanjang malamnya. dia terus melihat kearah luar jendela, padahal yang dilihat hanyalah kegelapan. Dia tak mampu menahan senyumnya ketika membayangkan reaksi istrinya nanti saat bertemu dengannya. dia sudah merindukan pelukan hangat itu. ketika bertemu nanti, dia akan memeluk istrinya erat. Dia akan bersama dengan istrinya dan tak akan melepaskannya. "See you soon sayang. I miss you so bad." Gumamnya sembari menatap lembut foto istrinya yang dia pajang sebagai lockscreen ponselnya. Setelah beberapa jam penerbangan akhirnya mereka sampai di rumah. Rasanya Khalif sangat merindukan rumahnya itu. dia bergegas berganti pakaian dan hendak menemui istrinya di rumah sakit. "Khalif, kamu mau kemana? Baru juga sampai sudah mau pergi lagi." tegur sang Mama membuat langkah Khalif terhenti. "Aku ingin menemui Namira Ma. Aku ingin memberikan kejutan padanya." ujar Khalif sembari tersenyum lebar. "Khalif, sebentar. Ada yang ingin mama bicarakan padamu." Ujar sang ibu dengan raut wajah seriusnya. Khalif mengerutkan dahinya bingung. Dia tak tahu apa yang ingin mamanya sampaikan pada dirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN