Perubahan Hidup Anyelir

1464 Kata
Siswi baru bernama lengkap Anyelir Malik menarik perhatian hampir satu sekolah. Kenapa begitu? Jelas saja menarik di mata teman-teman barunya. Perempuan itu baru kemarin masuk kemari lantas membuat keributan hingga satu sekolah menjadi heboh. Kekalahan Winona serta kedua temannya mulai tersiar hingga satu antero sekolah. Selama ini Winona selalu sok berkuasa, seakan paling cantik, kuat, dan tidak tertandingi karena dua hingga tiga dayang yang berdiri di kanan, kiri dan belakang seperti membawa seorang bodyguard. Murid mana yang tidak takut pada Winona? Terlebih sesama murid perempuan, jelas Winona dan dayang-dayangnya tidak ada yang bisa menandingi. Itu dulu. Sebelum Anyelir masuk dan melengserkan nama Winona sebagai penguasa di sekolahnya. "Wah! Gue jadi artis sekarang. Di mana-mana dilihatin mulu." Anyelir keluar kelas saat jam istirahat baru dimulai. Sepertinya nama Anyelir membawa keburuntungan sendiri untuknya. Setelah ia resmi menyandang nama tersebut dan ditambah embel-embel nama Malik di belakangnya, Anyelir merasa kehidupannya berubah hanya dalam waktu singkat. Mengingat saat nama Saiva masih ia pakai, ia rasa orang-orang tidak peduli siapa dirinya. Memang benar ya, nama juga membawa keberuntungan. Anyelir melambatkan langkah saat melewati lorong sekolah. Bukan satu atau dua murid saja yang memerhatikannya sambil berbisik, tetapi hampir setiap murid yang berpapasan padanya selalu menatap ke arahnya tidak berkedip. Ia jadi teringat kehidupannya saat menjadi Saiva Elmaira. Hidup sebatang kara setelah ibunya meninggal ketika dirinya masih duduk di bangku SMP. Ia sempat tinggal bersama Tante dan Om. Sekolah pun dibayai keluarga mereka. Bukannya tidak bersyukur dengan keadaannya yang dulu. Sudah ditampung oleh keluarga Om dan tantenya, Anyelir seringkali mengeluh karena harus bangun pagi dan mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk membuatkan sarapan untuk satu keluarga. Anyelir capek, Anyelir ingin seperti anak-anak lain. Sekolah dan belajar dengan tenang. Kalau semua pekerjaan rumah dilimpahkan kepadanya, tidur pun sampai larut, Anyelir bisa mati karena kelelahan. Jika Anyelir meminta istirahat sewaktu pekerjaan rumah belum selesai, maka Anyelir akan diomeli habis-habisan. Amyelir diam saja diperlakukan buruk seperti itu bukan karena takut. Tapi lebih tepatnya mengalah. Anyelir harus tahu diri sebelum bertindak. Selepas Anyelir lulus SMP. Anyelir memutuskan untuk keluar dari rumah Om dan tantenya. Sebentar. Anyelir ingin menarik napas lebih dulu sebelum mengingat lagi sejarah hidup yang menyedihkan. Sejak dulu ia hanya mempunyai seorang Ibu. Tidak tahu bagaimana rupa sang Ayah. Saat ibunya dinyatakan meninggal, hidup Anyelir rasanya sudah selesai. Anyelir tidak memiliki seseorang yang memotivasinya untuk hidup lebih lama. Hampir saja... hampir muncul di kepalanya untuk mengakhiri hidup. Tapi, seseorang mengatakan padanya. "Hidup kamu nggak berhenti berputar biarpun kehilangan seseorang yang kamu sayangi." Anyelir menarik napas panjang dan berat. Masa-masa itu benar membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Tidak ingin lebih lama menderita di rumah Om dan tantenya, Anyelir memutuskan untuk kabur. Iya. Bukan keluar. Tapi lebih tepatnya kabur. Anyelir memulai hidup barunya. Benar-benar tanpa orang tua, tanpa sanak-saudara. Bahkan makan pun harus sering-sering menghemat agar bisa membayar sewa kos dan biaya sekolah. Karena Anyelir bukan termasuk murid yang pintar, ya sekolah tetap bayar. "Anye!" Lamunan Anyelir buyar. Seketika bayangan masa-masa sulitnya dulu menghambur, bubar jalan entah ke mana. Sosok siswi berbadan gemuk melambaikan tangan ke arah Anyelir dan disusul oleh yang lain. Anyelir menghampiri kelima siswi tersebut. Mau tidak mau ia bergabung bersama mereka semua dikarenakan meja kantin sudah penuh. Ingat segerombolan siswi yang mencegatnya tadi pagi? Ya inilah mereka. Siswi yang menyapanya barusan adalah salah satu dari gerombolan siswi yang mencegatnya. "Senyum dong. Mulai sekarang lo bos kita," ujar Talita, siswi paling tinggi di antara Anyelir dan lainnya. "Bos pala lo." Anyelir menyembur dengan nada keki. "Gue heran sama anak sekolah kayak kalian. Buat apa sih pake acara ada bos-bos segala? Kalian bagian dari mafia apa gimana?" Si gemuk, yang paling doyan nyengir menyahut, "Lo juga anak sekolah kali. Masa di sekolah lama lo nggak ada yang beginian?" Anyelir salah tingkah. Hampir saja ia kelepasan. "Ya ada...." Ia memainkan rambut sebahunya. "Tapi nggak ada yang ekstrim kayak Winona dan temen-temennya." Lima siswi tersebut mengangguk mengerti. Pantas saja Anyelir heran ketika mereka semua mencegat lalu membawa perempuan itu ke dekat gudang sekolah. Anyelir kira ia akan menjadi korban perundungan lagi. Kali ini jumlah dan ukuran badannya lebih besar. Anyelir jadi was-was. Itu artinya ia harus lebih ekstra mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan kelima bocah ini. Namun, siapa sangka kalau maksud mereka semua membawa Anyelir ke belakang sekolah hanya untuk memohon agar ia mau menjadi bos mereka. Iya. Bos anak-anak itu supaya tidak diganggu lagi oleh Winona dan antek-anteknya. "Kenapa lo nggak mau sih? Asyik tahu main genk-genkan gini." Vanya, yang paling cantik dan tentu tinggi juga membuka suara setelah menghabiskan setengah gelas es jeruknya. "Kalau lo jadi bos kita, murid lain bakal notice juga. Kapan lagi kita bisa nyaingin Winona, ya?" Yang lainnya mengangguk setuju. Anyelir mengibaskan tangannya. "Hidup gue udah ribet. Kebayakan drama sampe mau mual rasanya," decak Anyelir lalu meringis. "Gue ogah jadi bos genk atau apalah itu namanya. Gue ogah banget." "YAH!" "Berisik, bocah!" pekik Anyelir geram, sampai satu kantin menoleh ke arahnya. *** Shakalon mulai pusing dengan berbagai ide licik papanya. Baru kemarin ia merasa senang setelah membawa Anyelir ke hadapan seluruh anggota keluarga Malik. Papa, dua orang adik lelaki serta seorang Mama tiri sampai terbengong-bengong tidak percaya kalau putra sulung Andreas Malik selama ini menyimpan rahasia mengenai putrinya. Kehadiran Anyelir di tengah-tengah anggota keluarga Malik yang sebentar akur, sebentar bertengkar, sebentar lagi adu mulut tanpa terkecuali membawa warna tersendiri. Biarpun Shakalon tidak mengizinkan Anyelir tinggal di rumah orang tuanya walau hanya satu dua hari saja karena cemas rahasianya terbongkar, nyatanya Anyelir mudah berbaur kepada semua anggota Malik. Apalagi dengan papanya, Anyelir seperti cucu Andreas Malik sungguhan. Satu masalah selesai diatasi. Muncul masalah baru dengan kemunculan Krystal Anbeen. Tanpa menanyainya dulu, tanpa meminta persetujuannya lebih dulu, si tua Andreas Malik itu tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya akan dijodohkan dengan Krystal. Shakalon seketika menolak. Dengan tegas ia mengatakan tidak akan menikah sekali pun Anyelir sudah berusia tujuh belas tahun. Shakalon beralasan ingin fokus bekerja dan membesarkan Anyelir agar menjadi kebanggaan Malik nantinya. Namun Andreas tak mau kalah rupanya. Ia mengancam Shakalon lagi. Ia yakin ancamannya tidak hanya akan dianggap angin lalu. "Terima perjodohan kamu sama Krystal, atau berbagi warisan sama dua adik kamu?" Kelima jarinya saling mengepal. Rahangnya mengetat, siap menyemburkan kemarahannya namun berakhir ditahannya lagi. Sabar. Shakalon akan mencari cara untuk membatalkan perjodohan itu. Shakalon sungguh tidak tertarik untuk menikah. Memang jaminan setelah menikah itu apa? Bahagia? Shakalon mendengkus. Bahkan tanpa menikah sekali pun ia bisa membuktikan ia hidup bahagia. Soal keturunan? Ia memiliki Anyelir untuk ia manfaatkan. Shakalon pikir, ia hampir berhasil. Lelaki itu menarik napas lalu memutar kursi di ruang kerjanya. Ia menutup setengah wajahnya menahan kesal. Seharian suasana hatinya tidak baik, itu semua karena ulah papanya. "Udah jam enam." Shakalon bergumam memandangi arloji di tangan. "Kenapa aku nggak denger suara Anye. Apa dia belum pulang?" Shakalon beranjak dari kursi dan keluar ruang kerjanya. Sejak ia pulang sore tadi, ia tidak mendengar adanya suara Anyelir di rumah ini. Tepat ketika lelaki menuruni tangga, pintu utama terbuka dan memerlihatkan Anyelir dengan—Majen? "Kenapa kalian bisa berduaan?" tegur Shakalon pada Anyelir dan adik tirinya. "Habis jemput Anye, terus jalan-jalan sebentar." Majen berdiri di belakang keponakannya. Penampilan santai Majen menarik perhatian Shakalon. Tidak biasanya adik tirinya itu bisa bebas seperti ini, apalagi sampai menjemput Anyelir ke sekolah. Berbeda dari adik tirinya yang lain, Rayen. Jika Majen selalu serius dalam pekerjaan, maka Rayen sebaliknya. Rayen terlihat lebih ramah, supel, dan mudah berbaur. Sepasang mata Shakalon menyipit, menatap kedua orang di hadapannya. "Pak Dimas ke mana sampai Majen yang jemput kamu?" tanya Shakalon, tatapannya berubah sebal. "Gue yang maksa, Bang. Nggak usah melotot gitu sama Anye." Majen lagi-lagi yang menjawab. "Papa habis cerita ke gue kalau Anye hampir jadi korban bully di sekolah. Gue lagi senggang, nggak ada kerjaan. Kenapa nggak jemput Anye aja? Lo juga sibuk mulu di kantor, nggak bakal ada waktu perhatiin anak sendiri." Berada di situasi ini Anyelir sudah tidak aneh lagi. Walau belum genap sebulan menjadi anak Shakalon, Anyelir sudah sering diberi pemandangan seperti ini. Biarpun sekadar adu mulut, tidak sampai ada baku hantam, sih. "Kalian bisa berhenti ribut nggak, sih?" Anyelir menyibak rambut lalu menurunkan tas sekolahnya ke lantai. "Tiap ketemu ribut, tiap ketemu adu mulut. Nggak capek apa mulut kalian?!" Shakalon menatap bingung. Begitu pun Majen. Baru beberapa jam yang lalu Anyelir banyak tertawa, sekarang kenapa malah marah-marah? "Nye," panggil Majen hendak menahan bahu Anyelir. Perempuan itu memberengut marah meninggalkan tas sekolahnya begitu saja di lantai lalu pergi. Majen memanggil Anyelir, namun Anyelir tidak menghiraukannya dan terus menaiki anak tangga dengan langkah cepat. "Pulang sana!" usir Shakalon memungut tas sekolah Anyelir. "Lo ngusir, Bang?" Shakalon mendelik. "Kurang jelas? Perlu gue tendang sekalian dari rumah ini?" Majen mengernyitkan dahi. "Kok lo sewot sih, Bang? Padahal baru gue anter anak lo pulang doang. Belum gue pepet sekalian." "Apa?" Shakalon melebarkan matanya terkejut. Majen menyeringai, tidak berniat menjelaskan pada abangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN