Shakalon yang Suka Mengejutkan

1065 Kata
Tas sekolah milik Anyelir diletakkannya di samping tempat tidurnya. Sehabis diantar pulang oleh Majen tadi, Anyelir tidak keluar sama sekali. Shakalon meminta tolong kepada salah satu pelayan agar memanggil Anyelir turun dan makan malam bersama. Kata pelayan tersebut, Anyelir tidak menyahut. Mungkin saja putri palsunya itu sudah jatuh tertidur setelah diajak jalan-jalan bersama Majen hingga telat pulang ke rumah. Shakalon meluruskan kedua kaki. Buku yang sedang ia baca rasanya sudah tidak menarik lagi. Pandangannya sontak berpindah ke tas sekolah Anyelir. Perempuan itu membiarkan tasnya tergeletak di lantai begitu saja lantas pergi menuju ke kamarnya setelah mengomeli dirinya dan Majen yang adu mulut. Buku di tangannya sudah berpindah ke atas meja nakas. Ia menyambar tas sekolah Anyelir hendak mengantarkan benda tersebut ke kamar perempuan itu. Shakalon menyibak selimut lalu menurunkan kedua kakinya. Di tangan kirinya ada tas sekolah milik Anyelir. Ia akan mengantarkannya ke kamar sebelah dan bertanya ada apa dengan perempuan itu hari ini. Tidak biasanya Anyelir peduli pada keluarga Malik. Anyelir pernah mengatakan bahwa dalam sebuah keluarga, adu mulut dan beda pendapat itu hal biasa. Anyelir berjanji tidak akan pernah mau ikut campur karena itu bukan ranahnya. Tapi, yang tadi agak mengherankan menurut Shakalon. Ia merasa sudah terjadi sesuatu kepada Anyelir, namun sengaja ditutupi perempuan itu. Kenapa? Sebelah alis tebal Shakalon naik ke atas. Ia sudah keluar dari kamarnya sendiri lalu melangkah mendekati pintu kamar Anyelir. Dalam isi kepala lelaki itu saat ini hanya ada pertanyaan, "Apa ini ada hubungannya dengan perundungan kemarin? Apa Anyelir diganggu lagi oleh anak-anak nakal itu?" Sebentar. Shakalon akan menanyakannya lagi. Ia akan menyelesaikan masalah di sekolah Anyelir agar tidak ada yang mengganggu perempuan itu lagi. "Anye...." Ia mengetuk pintu kamar Anyelir. Tidak ada jawaban. Suara alunan musik yang biasa ia dengar setiap melewati kamar perempuan itu tidak terdengar kali ini. Sekali lagi ia berusaha mengetuknya. Ia mendekatkan telinganya ke pintu selama beberapa detik kemudian menarik dirinya. Shakalon memutuskan untuk mendorong pintu kamar Anyelir dan ternyata tidak dikunci. Shakalon masuk ke dalam, mengintip dari cela pintu yang terbuka setengah. Kamar Anyelir kosong. Rapi. Sosoknya tidak ia temukan di kamar. Shakalon berjalan mundur dan menutup pintu. Ia celingukan ke sekitar yang sepi. Atau mungkin Anyelir sedang ada di bawah? Setelah meletakkan tas sekolah Anyelir di atas meja yang ada di kamar perempuan itu, Shakalon memutuskan untuk turun ke lantai bawah memastikan kalau perempuan itu masih di rumah, tidak keluyuran ke mana-mana karena sudah sangat larut. Sesampainya di lantai bawah, Shakalon mendengar suara minyak dalam penggorengan. Ia pergi menuju ke dapur untuk memeriksa siapa yang ada di dapur malam-malam begini. Saat kedua kakinya sudah menginjak lantai dapur, ia mendapati Anyelir duduk di kursi sembari meniup-niup lengannya dengan kesusahan. Shakalon berjalan mendekati Anyelir yang belum menyadari keberadannya. Bayangan tubuh Shakalon yang tinggi dengan badan tegap menyadarkan Anyelir yang duduk di kursi dapur. Segera perempuan itu mengangkat kepala, matanya berkedip kala mata Shakalon juga sedang menatapnya sambil mengerutkan dahi. "Kenapa?" Anyelir menatap sepintas. "Apanya yang kenapa?" Kepalanya menunduk lagi, memiringkan lengannya dan terus meniupnya tanpa mempedulikan tatapan Shakalon. "Itu, ada apa sama lengan kamu." Shakalon tahu-tahu duduk berjongkok di bawah kakinya. Sontak, Anyelir terkejut. Secara refleks perempuan itu menyeret kursinya mundur sampai Shakalon kebingungan. "Kamu jangan deket-deket. Bikin kaget aja," omel Anyelir melempar tatapan waspada. Bukan sekali ini saja Shakalon membuatnya terkejut. Terkadang ia meyakini bahwa lelaki di depannya ini tidak seangkuh apa kata orang. Shakalon hanya tidak tahu saja beriteraksi dengan orang baru. Walaupun dari luar Shakalon itu dingin, nada bicaranya galak, tetapi sebenarnya sangat perhatian. "Kena cipratan minyak?" tebak Shakalon tidak menghiraukan protesan Anyelir. Lelaki itu masih duduk berjongkok di lantai. "Kok tahu?" tanya Anyelir. Satu jari Shakalon menunjuk ke kompor yang masih menyala. "Itu, kompor masih nyala. Kamu lagi bikin apa emang? Kenapa bikin sendiri dan nggak minta pelayan aja?" Anyelir agak mendorong bahu Shakalon setelah menepuk keningnya. Ia hampir membakar dapur mahal lelaki itu karena sibuk meniup lengannya yang terkena cipratan minyak saat menggoreng. Anyelir berjalan agak pincang untuk sampai ke tempat kompor. Pergerakkan Anyelir tidak lepas dari pandangan mata Shakalon. Lelaki itu segera menahan bahu Anyelir, ia yang mematikan kompornya sebelum tangan perempuan itu akan terulur. "Sini dulu." Anyelir membalikkan badannya. Shakalon menuntunnya untuk duduk di kursinya tadi. "Sebenarnya kamu mau bikin apa? Terus kaki kamu kenapa jalannya pincang?" tunjuk Shakalon ke kakinya. Kepala Anyelir sontak menunduk ke bawah menatap kedua kakinya yang bertelanjang tanpa alas kaki. Ia menggerakkan jari-jarinya dan baru menyadari kalau kakinya juga terluka. "Kayaknya karena kejatuhan spatula panas tadi," ujar Anyelir masih menggerakkan jarinya. "Kok bisa?" Shakalon ikut memandangi kaki perempuan itu. "Aku lagi goreng ayam, spatula yang ada di penggorengan nggak sadar kena senggol sampai jatuh terus kena kaki." Anyelir sedang menjelaskan. "Tapi aku nggak sadar kalau kamu nggak bilang." Perempuan itu nyengir setelah menyelesaikan ceritanya. "Sakit?" Shakalon menatap ngeri jari kaki Anyelir. Anyelir menunduk lagi dan menjawab. "Sakit sih nggak. Kok lama-lama perih ya?" tanyanya. "Oh ya. Kenapa kompornya dimatiin sih? Aku belum selesai goreng ayamnya padahal." Shakalon berdiri. "Emang nggak ada makanan di dapur sampai kamu goreng ayam?" "Ada." Anyelir menggosok ujung telinganya. "Cuma aku pengin makan ayam goreng sama sambal terasi. Di sini mana ada makanan begituan kalau aku nggak rikues." Shakalon mendecakkan lidah. "Udah selesai goreng ayamnya belum?" Giliran Anyelir yang berdecak. "Belum. Kan, keburu kamu matiin kompornya. Aku gagal makan ayam goreng sama sambal terasi!" Ah. Shakalon lupa kalau lidah Anyelir belum bisa beradaptasi dengan makanan lain selain ayam goreng dan sambal terasi. Pantas saja setiap kali memakan makanan di rumah ini, Anyelir tampak tidak pernah berselera. Perempuan itu hanya akan memakan beberapa sendok, dilanjutkan dengan camilan atau memakan buah. Shakalon juga lupa berpesan pada pelayan agar selalu menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Anyelir. "Kamu makan dulu aja yang ada di dapur." Shakalon berujar sambil membuka isi kulkas hendak menghangatkan makanan. "Besok biar pelayan bikin makanan yang kamu suka." Anyelir mencebik. Ia kira Shakalon akan menggantikan tugasnya untuk menggoreng ayam yang hampir jadi. Nyatanya lelaki itu memintanya memakan masakan yang ada di dapur dan menghangatkannya. "Gimana kalau kamu ajak aku makan ayam goreng di luar aja?" Anyelir menengok ke belakang dan menatap punggung lebar Shakalon. "Aku punya langganan tempat makan ayam goreng yang enak," celotehnya. "Malam-malam begini?" tanya Shakalon. Anyelir mengangguk sangat semangat. "Emang bukanya dari malam. Tapi rame banget karena makanan mereka enak!" "Oke." Anyelir menyunggingkan senyum senang. Tapi sedetik kemudian luntur kala Shakalon mengatakan, "Aku lanjutin goreng ayam kamu yang tadi." Seketika, Anyelir memberengut sebal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN