"Stop. Tetap di situ!"
Suara besar Shakalon Malik membuat Anyelir terkejut. Perempuan itu berada di tengah-tengah anak tangga, menuruni satu per satu undakan tangga dengan langkah pincang.
Anyelir mengikuti perintah Shakalon yang sudah ada di lantai bawah. Lelaki itu mengenakan pakaian santai. Anyelir mengerutkan dahi. Tumben sekali Daddy gadungannya ini masih di rumah. Biasanya pagi-pagi sekali sudah pergi ke kantor dan membuat Anyelir sarapan di meja makan yang besar seorang diri.
"Apa?" tanya Anyelir ketika Shakalon kian mendekatinya.
Seketika jantung Anyelir seperti melompat keluar. Lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu sama sekali tidak terlihat tua di matanya. Inilah alasan Anyelir menolak memanggil lelaki itu dengan sebutan Daddy atau Papa. Karena di mata Anyelir, Shakalon terlalu muda untuk memiliki seorang anak seusianya. Oh, oke. Peran Anyelir memang sebagai remaja berusia tujuh belas tahun—tapi Anyelir tetap tidak percaya diri memerankannya. Daripada membuat kontrak menjadikannya seorang anak, kenapa Shakalon tidak membuat kontrak untuk menikah saja? Ah, tidak. Jangan salah paham dulu. Anyelir mengatakan ini bukan karena ia tertarik dengan Shakalon.
Anyelir melebarkan matanya tidak percaya dengan yang dilakukan Shakalon barusan. Tiba-tiba saja tubuh Anyelir seperti melayang kala kedua lengan kekar Shakalon menggendongnya dari anak tangga sampai didudukkannya b****g Anyelir ke sofa. Sebentar. Anyelir butuh menarik napas sejenak. Di mana udara di sekitarnya? Kenapa tiba-tiba menghilang, sih? Anyelir bisa-bisa mati karena kelelahan menenangkan degup jantungnya.
Aroma wangi dari tubuh Shakalon berhasil mencuri sebagian kewarasan Anyelir. Tidak boleh. Ia bisa menjadi gila kalau begini.
"Mendingan kamu pindah ke kamar bawah untuk sementara." Lain halnya dengan Anyelir yang berubah linglung karena Shakalon menggendongnya secara tiba-tiba, lelaki itu malah sebaliknya. Shakalon tetap santai seolah yang tadi bukan apa-apa.
Anyelir tidak mendengarkan kata-kata Shakalon. Ia menyibukkan diri menyembunyikan suara detak jantungnya yang makin mengada-ada. Anyelir mendongak, meletakkan telapak tangannya di d**a sembari komat-kamit mengingatkan dirinya sendiri.
Shakalon, sialan.
"Kamu denger saya ngomong, nggak?" tegur Shakalon mulai jengah.
"Eoh?" Anyelir mengerjapkan matanya. "Kamu bilang apa barusan? Sori. Aku nggak denger."
Lelaki itu menarik napas dan mengembuskannya. "Sementara kamu pindah kamar bawah aja. Kaki sama tangan kamu masih sakit, kan?"
"Nggak." Anyelir menggeleng, ia protes soal luka di tangan dan kakinya. "Jangan berlebihan lagi, deh. Ini cuma kena cipratan minyak, kaki aku juga cuma kejatuhan spatula panas. Satu atau dua hari juga baikan lagi. Kenapa sih apa-apa harus dibesar-besarin?"
Dahi Shakalon Malik mengernyit.
Yang ia lakukan juga demi kebaikan Anyelir sendiri. Kemarin Shakalon mengkhawatirkan luka cakaran di pipi Anyelir karena takut meninggalkan bekas kemudian mempengaruhi kehidupan asmara putri palsunya ini suatu hari nanti. Cepat atau lambat Anyelir akan mendapatkan pacar atau malah ada lelaki yang berniat melamar padanya nanti. Shakalon sangat memikirkan itu. Dalam kontrak yang tertulis, Anyelir adalah anaknya, tanggungjawabnya. Apa pun yang terjadi pada perempuan itu juga menjadi tanggungjawab Shakalon selama menjadi ayahnya Anyelir walau cuma pura-pura.
"Kalau yang kemaren aku masih maklum. Mungkin kamu khawatir kalau aku ada bekas luka di pipi, bisa aja bikin kamu malu. Tapi ini...." Anyelir menunjuk lengan dan kakinya. "Udah berlebihan banget. Kayak tadi juga!"
Merepotkan jantungnya, sialan.
"Kamu ngomong apa sih?" Shakalon mengambil duduk di samping Anyelir.
Anyelir menggeser tempat duduknya hingga ke ujung. Sebenarnya Shakalon sadar tidak kalau tingkahnya sering membuat Anyelir salah tingkah? Anyelir bahkan mengatakannya pada Shakalon walaupun dengan kata, "Bikin kaget." Entah sadar atau tidak, Anyelir berharap lelaki itu tidak bertingkah mengejutkannya lagi.
"Yang berlebihan siapa?" Shakalon memandangi Anyelir dari tempat duduknya. "Coba bayangin aja kamu turun tangga saat kaki sakit, jalan pun pincang, terus kamu jatuh guling-guling gimana?"
Anyelir mendelik. "Kamu doain aku jatuh dari tangga?!"
"Bukan, Anye." Shakalon menahan suaranya agar tidak membentak. "Saya cuma minta kamu bayangin aja. Bukannya saya doain kamu jatuh dari tangga."
"Oh, kirain." Anyelir bergumam kecil.
"Kalau kamu jatuh, siapa yang repot nanti?"
"Ya kamu lah. Kamu kan Daddy, aku sekarang!"
"Kenapa jadi saya?" Shakalon menunjuk dadanya. "Yang repot kamu sendiri. Bisa aja efek jatuh dari tangga, kaki kamu patah, atau parahnya nggak bisa dibuat jalan sementara. Kalau kamu butuh apa-apa, entah ke kamar mandi misalnya, gimana? Masa saya yang bawa kamu masuk ke kamar mandi?"
Kedua pipi Anyelir memanas hanya karena membayangkan Shakalon membantunya masuk ke kamar mandi. Anyelir menggeleng, bibirnya komat-kamit lagi agar tidak terpengaruh kata-kata Shakalon barusan. Kalau begini terus, Anyelir mau menyudahi jadi anak pura-puranya Shakalon saja.
"Kamu, kan... kaya. Kalau aku sakit, kamu harusnya siapin suster buat aku dong!" elak Anyelir menyembunyikan rasa gugupnya. "Kenapa harus kamu yang bantuin aku ke kamar mandi—akh, sial."
"Kamu ngumpat barusan?" tegur Shakalon mendelikkan matanya.
"Gara-gara kamu!" sembur Anyelir keki.
Ia tidak tahan berada di dekat Shakalon lebih lama sebelum gila. Perempuan itu beranjak dari sofa hendak meninggalkan Shakalon. Sebelum lelaki itu bergerak dari tempat duduknya, Anyelir lebih dulu bersuara sembari menunjuk Daddy gadungannya. "Tetap di situ. Jangan bikin aku makin nggak waras, ya!"
Shakalon dibuat terkejut barusan. Anyelir membentak sembari menunjuk dirinya seolah tidak ingin ia bantu berdiri. Walau sudah diberi peringatan oleh Anyelir, Shakalon masih saja mengekor di belakang lelaki itu tanpa melakukan apa-apa. Ia hanya ingin memastikan Anyelir tidak terluka.
"Ngeselin banget. Beneran b**o atau pura-pura b**o, sih?" gerutu Anyelir. "Gue sumpahin b**o beneran mampus!"
***
"Anyelir." Panggilan dari luar pintu kamarnya sampai ke telinga Anyelir. Perempuan itu merentangkan tangan lalu menggeliat.
"Bangun, Anye! Kamu tahu sekarang udah jam berapa? Kamu niat sekolah apa nggak?"
Cerewet.
Satu kata itu keluar dari mulut Anyelir. Kedua matanya setengah terbuka. Tubuhnya sudah nyaman di atas ranjang. Rasanya sangat malas biarpun cuma menyibak selimut.
Sekolah? Anyelir tersenyum masam. Ia sudah lulus SMA lima tahun yang lalu. Karena ketidakwarasan Shakalon, Anyelir ditumbalkan dengan dijadikan anak remaja berusaha tujuh belas tahun lagi. Anyelir tidak suka sekolah dan isinya. Selain pelajaran yang sering membuatnya pusing, orang-orang di sekolah barunya hampir setengahnya adalah iblis berwujud manusia. Menyebalkan. Mereka pengganggu. Bahkan saat perundingan ada di depan mata mereka, tidak ada satu pun mau bergerak dan membantu.
Anyelir mendengar gagang pintunya ditarik dari luar. Seketika Anyelir balik badan memunggungi pintu kamar. Ia menduga Shakalon masuk ke kamarnya akibat panggilannya tidak direspons Anyelir.
Ia memejamkan mata, pura-pura tidak mendengar lelaki itu masuk kamar. Anyelir menahan degup jantungnya yang makin menggila. Guling dipelukannya ia peluk erat-erat. Kemudian, ia mendengar pinggiran ranjangnya bergerak menandakan Shakalon Malik duduk di sana.
"Anyelir." Telapak tangan besar Shakalon menepuk bahunya sekali. "Bangun sekarang. Kamu mau berangkat sekolah jam berapa kalau jam segini masih tidur?"
Anyelir tidak peduli. Ia menulikan telinga. Berpura-pura kalau yang memanggilnya adalah mahluk tak kasat mata.
"Anyelir." Shakalon menarik napas panjang. Bisa saja kesabarannya habis dan perempuan itu akan mendapat masalah.
Shakalon sengaja mendaftarkan Anyelir ke sekolah untuk meyakinkan sandiwara mereka. Ia tahu bagaimana liciknya Andreas Malik. Salah sedikit saja, sandiwara bisa terbongkar, dan rencana Shakalon berantakan total. Ini bahkan masih permulaan. Setelah ia merasa menang sebelumnya, Andreas malah menyodorkan perempuan bernama Krystal agar ia nikahi dan menjadi Ibu barunya Anyelir.
Ibu baru, katanya. Shakalon tersenyum masam. Andreas tidak tahu saja kalau kalau Anyelir bukanlah anak Shakalon sungguhan. Jangankan menghamili perempuan, berniat saja tidak pernah.
"Saya hitung sampai tiga, kalau kamu nggak bangun, saya guyur air dari sini sekarang juga!" ancam Shakalon.
Anyelir memukul guling di pelukannya. Rencananya untuk membolos sekolah pun gagal. Shakalon malah mengancam akan mengguyur air dari tempat tidurnya. Anyelir bangun dan duduk, pura-pura kesulitan membuka mata padahal ia sudah bangun sejak sepuluh menit yang lalu. Perempuan itu menggosok rambutnya kesal hingga berantakan.
"Apa sih? Apa?!" teriak Anyelir masih menggosok rambutnya. "Ngapain aku harus pergi ke sekolah? Aku udah lulus dari lima tahun yang lalu malah!" omelnya. "Sana, aku mau tidur. Aku masih ngantuk. Kamu nggak tahu semalaman aku begadang, kan?"
Shakalon bersedekap. "Yang nyuruh kamu begadang, siapa? Saya? Kalau begadang karena hal nggak menguntungkan, nggak usah dilakuin!"
Kedua bahu Anyelir berjingkat. Suara besar Shakalon lagi-lagi mengejutkannya. Anyelir memberengut. Ia sungguhan malas untuk turun dari ranjang sekarang!
Anyelir sengaja memejamkan mata. Tetap berpura-pura mengantuk berat padahal sedang malas pergi ke mana-mana apalagi yang namanya sekolah. Tubuh Shakalon sengaja agak dicondongkan. Lelaki itu menangkup kedua pipi Anyelir lantas menggoyangkannya.
Mendapat perlakuan barusan, Anyelir sontak membuka kedua matanya. Tatapan keduanya bertemu namun dengan sorot yang beda. Anyelir yang tiba-tiba gugup, sementara Shakalon memandangnya geram.
"Bangun. Sekarang!" perintah Shakalon.
Anyelir menyentak tangan Shakalon. "Nggak! Aku mau bolos sekolah hari ini! Kamu tahu semenyebalkan apa sekolah itu nggak, sih? Dari luar aja kelihatan elit, biaya sekolah di sana mahal. Tapi isinya demit!"
"Kamu salah satunya dong?" sahut Shakalon. Anyelir melemparkan tatapan tidak bersahabat. "Jangan banyak alasan. Saya nggak suka ada anak yang menyia-nyiakan pendidikan."
Ganti Anyelir yang bersedekap. "Aku udah lulus sekolah lima tahun yang lalu, astaga! Seharusnya kamu daftarin aku kuliah aja dari awal. Kamu nggak tahu aja tiap hari aku selalu deg-degan karena takut ketahuan palsuin umur?"
Shakalan menurunkan kakinya ke lantai. Anyelir yang masih dalam posisi duduk di ranjang dengan kedua paha yang ditutupi selimut memandangi Shakalon heran. Tidak mungkin lelaki itu menyerah. Ia sangat tahu bagaimana Daddy gadungannya. Selain galak dan suka semauanya sendiri, Shakalon adalah tipikal orang yang tidak mau kalah. Apalagi mengalah. Itu sangat mustahil.
"Kelamaan!"
"Loh? Heh!" pekik Anyelir.
Seperti yang ia duga, Shakalon jelas tidak mau mengalah. Tapi digendong layaknya seperti karung beras, Anyelir memekik kala setengah badannya berada di bahu Shakalon. Ia menjerit, memukul punggung lelaki itu.
"Turunin! Ini namanya pemaksaan!"
"Kamu yang maksa saya," sahut Shakalon, intonasi suaranya lebih rendah dari sebelumnya. "Dari awal saya udah bilang, saya nggak suka dibantah. Apalagi sama anak ingusan kayak kamu."
Anyelir menarik tubuhnya yang berada di bahu Shakalon. Otomatis mereka saling berhadapan, bahkan dadanya hampir mengenai wajah lelaki itu.
"Aku? Anak ingusan? HAHAHA!" Anyelir meledakkan tawa yang dibuat-buat. "Itu cuma sandiwara kamu, ya! Aku udah dua puluh tiga tahun! Aku bukan anak ingusan lagi! Turunin aku sekarang juga, atau aku teriak?"
Shakalon menghentikan langkah sejenak. Menatap Anyelir selama tiga detik. "Teriak aja. Orang di rumah ini pasti makin yakin kalau kamu itu anak pembangkang."
Anyelir memukuli d**a Shakalon dan menjerit minta turun. Shakalon tidak menanggapi ocehan Anyelir. Ia sudah kehilangan batas kesabaran semenjak perempuan itu mulai memberontak padanya. Sudah seharusnya Anyelir menurut padanya. Untuk sekarang status mereka adalah sebagai Ayah dan anak. Sudah tugas Anyelir menurut pada dirinya. Bukannya malah jadi pembangkang. Semakin hari Anyelir jadi berani padanya.
Langkah lelaki itu berhenti di depan ambang pintu kamar mandi. Sebelum ia mengangkat panggil teleponnya, ia mendudukkan Anyelir lebih dulu ke atas closet. Menahan langkah perempuan itu dengan lengannya yang kekar. Tatapan Shakalon seperti peringatan keras untuk Anyelir. Ia bergerak sedikit saja, ia dalam bahaya.
"Kenapa telepon pagi-pagi?" Tanpa basa-basi Shakalon menanyai si penelpon. Sebelah tangannya masih menahan bahu Anyelir. "Ada keperluan apa? Cepetan. Gue nggak ada waktu banyak buat ngeladenin lo."
"Santai oi, Bang! Belum juga gue bilang halo, lo udah nyerocos." Seseorang di seberang sana adalah Majen, adik tiri Shakalon. "Btw, lo di mana, Bang?"
"Di rumah."
"Oh, oke. Lo lagi ngapain? Gue mau—"
"Mau mandiin anak!"
"Heh? Apa?"
Klik.
Sambungan telepon diakhiri secara sepihak. Shakalon saat marah sangat menyeramkan. Anyelir bahkan sampai merinding. Tapi lebih merinding dengan jawaban lelaki itu barusan.
Tunggu. Shakalon tidak sungguhan dengan ucapannya, kan?
Tidak. Anyelir bisa mati jantungan detik ini juga.