Anyelir baru saja bubaran kelas. Tinggal menunggu Pak Dimas datang menjemput. Ketika kakinya sudah berada di gerbang utama, pandangan matanya tertuju pada dua mobil mewah. Si pemilik mobil berada di depan mobilnya masing-masing.
Perempuan itu mendengkus. Merasa heran kenapa orang-orang di sekitar Shakalon suka sekali mengganggu dirinya. Kemarin Majen datang ke sekolahnya tanpa memberitahu dulu sampai siswi di sekolahnya melirik penasaran. Bahkan beberapa dari mereka berbisik seolah sedang menggosipkannya.
Tidak heran sih, karena kebesokannya gosip tentang dirinya yang dijemput om-om jadi pembahasan paling panas di sekolahnya. Akh, sial. Sekolah di tempat elit malah membuat Anyelir banyak dosa karena keseringan mengumpat. Ia sudah bilang ke Daddy gadungannya kalau sekolah ini berisi banyak dedemit. Tapi Shakalon malah menuduhnya hanya membuat alasan.
"Kak Krys?" Anyelir menghampiri salah satunya. Si perempuan cantik yang digadang-gadang akan menjadi calon ibunya.
Krystal membuka kaca matanya lalu tertawa. "Kamu beneran paling Kakak?"
Sesaat, Anyelir terkesima dengan senyuman Krsytal. Perempuan ini sungguhan cantik. Beruntung sekali lelaki itu akan menikahi Krsytal yang nyaris sempurna. Dari fisik, sifatnya yang ramah, ditunjang lagi dari keluarga kaya raya. Andai saja nasib bisa ditukar, Anyelir ingin menjadi Krsytal sehari saja. Ia ingin bercermin seharian, bagaimana rasanya memiliki wajah secantik itu.
"Oi!"
Krystal dan Anyelir menengok kompak. Tepat di samping mobil Krystal terdapat mobil lainnya. Anyelir menarik kedua tali tasnya, memiringkan badan sambil menatap lelaki berkaus hitam itu.
"Apa?" Anyelir berjalan mendekati si lelaki. "Om, nih, beneran dokter apa bukan? Hobi banget kelayapan perasaan."
Lelaki yang dipanggil Om barusan oleh Anyelir adalah Majen, adik tiri Shakalon. Beberapa hari yang lalu lelaki itu kemari dan membuat heboh satu sekolah. Karena Majen datang tiba-tiba kemudian merangkulnya, Anyelir jadi bahan gosip satu sekolah. Katanya, Anyelir pacaran dengan lelaki yang jauh lebih tua. Lebih kasarnya lagi, Anyelir jadi Sugar Baby.
Berhubung Anyelir orang yang cuek, sebodo amat sama mulut orang. Selama yang dikatakan orang itu bukan fakta, Anyelir anggap angin lewat. Tidak penting. Toh, faktanya si Majen itu omnya.
Majen mendekati Anyelir. Sebelah tangannya diletakkan di bahu perempuan itu kemudian berbisik, "Om mau pastiin, tadi pagi kamu beneran di mandiin Daddy kamu apa nggak."
Refleks, Anyelir mendongak. Matanya membelalak. Seketika pipinya berubah merah. Anyelir mengangkat sebelah tangannya ke atas pura-pura menghalangi sorotan cahaya matahari. Sialan. Dari mana Majen tahu ia akan dimandikan tadi pagi oleh Shakalon? Eh. Tidak. Tolong jangan salah paham dulu. Ia tidak sungguhan dimandikan lelaki itu. Shakalon memang benar menggendongnya sampai ke kamar mandi. Tapi setelah mengangkat panggilan Majen, Shakalon meninggalkannya dan menunggu di depan kamar mandi untuk memastikan ia mandi atau justru melanjutkan tidur di kamar mandi.
Akh, sial. Sial.
Asal kalian tahu saja, sehabis membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, Shakalon terbahak di meja makan dan terus mengoloknya. Lelaki itu mengejeknya dengan mengatakan, "Seriusan? Kamu pikir saya mau mandiin kamu? Atau kamu memang berharap begitu?"
Roti yang baru Anyelir telan rasanya berhenti di tengah-tengah ternggorokkannya. Pipi Anyelir memanas dan jadi salah tingkah. Karena hal itu juga, Anyelir malah membuat dirinya malu dengan meneguk s**u yang masih panas.
"Beneran dimandiin, ya?" Majen menunggu jawaban Anyelir.
"Aku bukan jenazah, Om." Anyelir mendengkus dan menyibak rambut sebahunya.
Majen terbahak mendengat jawaban Anyelir. Bisa-bisanya keponakannya menjawab seperti barusan. Majen malah mengira Shakalon yang sudah gila karena akan memandikan putrinya yang telah berusia tujuh belas tahun.
"Tunggu, deh." Anyelir menahan pintu mobil yang akan dibuka. Sejenak ia melirik Krystal yang baru ia ingat ada di sana juga. "Kenapa kalian datengnya barengan? Ada apa?" Satu jari Anyelir menunjuk Om beserta calon Ibu tirinya bergantian.
Ada yang aneh dengan interaksi Krystal dan Majen. Atau cuma perasaan Anyelir saja ya? Mereka bukan hanya kelihatan canggung. Tetapi juga Krystal kelihatan menghindari bertatapan dengan Majen. Apa mereka saling mengenal? Anyelir mendesis, bersedekap. Harusnya sih kenal. Kan, Krsytal akan dinikahkan dengan Shakalon nantinya. Kakeknya bahkan membawa Krystal ke rumah dan mengenalkan Krystal padanya beberapa hari lalu. Ya, kan? Harusnya Majen mengenal Krystal. Kalau pun mereka canggung, setidaknya tidak perlu menghindari tatapan masing-masing.
"Saya mau ngajak kamu pergi cari gaun," ujar Krystal masih di tempatnya. Kedua kaki perempuan itu benar-benar tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Gaun, tuh, dibeli. Jangan dicari." Majen menyahut, nadanya ketus.
"Maksud saya, beli." Krystal buru-buru membenarkan. "Gimana, Nye? Kamu mau pergi sama saya buat BELI gaun, kan?"
Majen tertawa dan bersedekap. Krystal diam-diam sedang jengkel padanya.
Tanpa menunggu kesediaan Anyelir, Krystal memasang kaca matanya kemudian membuka pintu mobil. "Ayo, Nye, saya udah izin sama Daddy kamu."
Anyelir menengok ke Majen, meminta pendapat.
"Ya udah, sana." Majen mendorong bahu Anyelir. "Daddy kamu udah ngasih izin, kan."
"Terus, Om gimana? Masa ditinggal di sini sendiri?" tanya Anyelir.
"Tinggal aja nggak apa-apa. Om balik ke rumah sakit kalau gitu."
Anyelir mengangguk setelah dibuat bingung. "Oke. Aku pergi sama Kak Krystal ya. Om hati-hati di jalan. Dah!"
***
"Jadi, dua hari lagi kamu diundang ke pesta ulang tahun temen?"
Anyelir mengangguk. Tetapi sama sekali tidak bersemangat. "Aku boleh nggak usah dateng aja nggak, sih?"
"Loh, kenapa?" Krystal mendorong gelas minumannya ke samping. "Bukannya bakalan asyik, ya? Di sana ada banyak temen sekolah yang dateng. Siapa tahu dapet gandengan juga, haha," Krystal mengeluarkan tawa renyah, namun tetap terlihat elegan.
Anyelir menarik napas panjang seolah ada banyak beban di bahunya. Krystal mendorong gelasnya ke tengah-tengah meja. Ia memfokuskan pandangannya ke Anyelir. Siapa tahu Anyelir membutuhkan teman bicara.
Dari cerita Andreas Malik, Ayah Shakalon sekaligus kakeknya Anyelir, cucunya ini seringkali ditinggal pergi bekerja oleh Shakalon sampai larut malam. Anyelir anak satu-satunya lelaki itu. Selain bersama tiga orang pelayan, Anyelir tidak memiliki saudara. Pasti Anyelir sering kesepian. Sebagai seorang anak tunggal juga, Krystal bisa merasakannya.
"Kamu boleh cerita apa pun ke saya, Anye," ujar Krsytal sambil tersenyum.
"Nggak ada sih, Kak. Aku cuma malas aja kalau disuruh dateng ke acara itu." Anyelir meletakkan kedua tangannya ke meja. "Anak-anak di sekolah itu semuanya ngeselin. Setengah preman." Perempuan itu mendengkus lalu meringis. "Bahkan aneh aja kalau aku diundang. Iya, kan?"
"Kenapa nggak coba datang dulu?" Krystal memberikan saran. Krystal beranjak dari tempat duduk lantas menyambar tangan calon anak tirinya itu.
"Eh, Kak. Kenapa aku ditarik? Aku mau dibawa ke mana?"
"Cari gaun!" seru Krystal penuh semangat.
***
Shakalon Malik mendesah panjang. Seharian ini Krystal mengganggunya dengan mengirim banyak pesan dan foto perempuan itu bersama Anyelir.
Ia harap Anyelir tidak membuat masalah saat pergi bersama Krystal. Apalagi hanya berdua tanpa dirinya. Kalau pun Shakalon tidak mengizinkan Krystal pergi membawa Anyelir, Shakalon khawatir perempuan itu curiga. Siapa tahu Krystal sebenarnya adalah mata-mata yang diutus papanya, kan?
Shakalon menggeleng, menahan geram akan ulah papanya yang licik itu.
Apa susahnya memberikan semua hartanya pada Shakalon, sih? Padahal ia sudah memenuhi syarat yang diberikan papanya dengan membawa Anyelir sebagai anaknya. Cucu dari Andreas Malik. Lalu apalagi? Kenapa suka sekali mempersulit Shakalon.
"Pak," sapa asisten Shakalon di ambang pintu.
"Ya." Shakalon mengangkat kepala. Asistennya itu datang ke ruangannya sembari membawa map di tangan.
"Ini yang Pak Kalon minta," ucap asistennya. Diletakkannya map di atas meja bosnya.
"Saya ada jadwal apalagi setelah ini?" tanya Shakalon.
"Sore jam tiga nanti Pak Kalon ada pertemuan sama klien."
"Hmm..." Shakalon mengangguk. "Setelah itu nggak ada lagi, kan?"
"Nggak ada, Pak."
"Oke." Shakalon menyudahinya.
Si asisten mengangguk sepintas. Ketika lelaki itu akan membalikkan badan akan pergi dari ruangan atasannya, Shakalon tiba-tiba memanggilnya.
"Tolong cari tahu soal Krystal untuk saya."
"Krystal Anbeen, Pak?" tanya si asisten.
"Iya." Shakalon meletakkan pulpennya dan bersandar. "Saya nggak yakin kalau dia bukan sekadar mau dijodohin sama saya," gumamnya.
"Baik, Pak. Apa ada lagi?"
"Nggak ada. Kamu boleh pergi sekarang."
Si asisten mengangguk, kali ini benar-benar undur diri.
Kembali mengerjakan pekerjaannya, Shakalon tidak menghiraukan suara ponselnya yang berbunyi hingga lima kali. Shakalon mendecakkan lidah. Krystal ini maunya apa sih? Bukannya perempuan itu tahu kalau Shakalon adalah orang sibuk. Kenapa suka sekali mengganggunya dengan hal yang tidak penting!
Disambarnya ponsel di atas meja berniat memperingatkan perempuan itu agar tidak mengganggunya. Terserah Krystal akan mau membawa Anyelir ke mana. Mau pergi makan, belanja, menonton, atau apa pun itu. Shakalon tidak peduli. Selama Krystal mengantarkan Anyelir pulang dengan itu, Shakalon tidak akan mempermasalahkannya.
"Gimana? Bagus, nggak?"
Dahi Shakalon mengernyit. Krystal mengiriminya sebuah foto gaun panjang berwarna hitam. Shakalon akan mengetik balasannya. Namun Krystal lagi-lagi mengiriminya pesan.
"Sekarang lagi dicoba."
Ibu jari Shakalon berhenti mengetik. Ia menunggu pesan apalagi yang akan dikirim perempuan itu.
Krytal mengiriminya gambar lagi. Dengan gaun yang sama yang dikirimkannya tadi. Hanya saja kali ini gaun tersebut membalut tubuh seseorang.
Kedua mata Shakalon bergerak, Krystal barusan mengirim sebuah video singkat. Gaun hitam sepanjang mata kaki itu dikenakan perempuan yang jelas bukan Krytal. Perempuan itu membelakangi kamera. Sampai akhirnya si perempuan memutar badan, barulah Shakalon menyadari jika itu Anyelir.
Ya Tuhan.
Spontan mata Shakalon membeliak. Gaun hitam itu melekat di tubuh Anyelir. Sangat ketat, ditambah di bagian dadanya cukup rendah.
"Menurut kamu gimana? Gaun yang dipakai itu pilihan aku. Kata Anye, dua hari lagi dia mau datang ke pesta ulang tahun temennya. Bagus, kan? Cocok banget di tubuhnya Anye."
Mulut Shakalon menganga. Apa-apaan Krystal! Kenapa memilihkan gaun seketat itu untuk anak sekolahan?!