"Nggak mau mampir dulu, Kak? Siapa tahu Daddy udah pulang." Anyelir berdiri di depan gerbang rumah Shakalon dan menunjuk ke dalam.
"Saya langsung balik aja, Nye. Salam buat Daddy kamu, ya," ujar Krystal. Perempuan itu betulan tidak keluar dari mobil padahal sudah diajak Anyelir masuk ke dalam.
"Kak Krys hati-hati di jalan, ya. Makasih udah diajak jalan-jalan hari ini," kata Anyelir melambaikan tangannya yang bebas. Satu tangannya lagi menenteng paper bag.
Krystal menaikan kaca mobilnya setelah berpamitan pada Anyelir. Perempuan itu menyempatkan melambaikan tangan sebelum menghidupkan mesin mobilnya kembali.
Sepeninggal mobil Krystal pergi, Anyelir masuk ke dalam rumah yang tampak sepi. Cuma ada dua orang satpam yang menjaga di halaman dan depan gerbang rumah Shakalon. Anyelir menyapa kedua satpam, menenteng tas belanjaannya dengan perasaan riang.
Beruntung sekali ia berada di tengah-tengah keluarga Malik. Karena selain keluarga Shakalon yang baik kepadanya juga ada sosok Krsytal. Selain baik hati, perempuan itu juga sangat perhatian padanya. Ia diajak pergi, makan, belanja sampai makan lagi sampai-sampai Anyelir tidak kuat menampung makanan lebih banyak di perutnya. Mereka bukan hanya belanja, tetapi juga banyak bertukar cerita sepanjang mereka berjalan-jalan tadi.
"Ehem." Dehaman Shakalon mengejutkan Anyelir. Lelaki itu tahu-tahu ada di ranjangnya, menatap Anyelir dengan pandangan dingin.
Anyelir mematung di ambang pintu. Sebelah tangannya yang bebas memegangi gagang pintu sembari balas menatap Shakalon. Untuk apa juga Shakalon ada di kamarnya? Bukankah ini termasuk tidak sopan karena sembarangan masuk ke kamar seorang perempuan tanpa permisi?
"Udah jalan-jalannya?" Shakalon beranjak dari kasur. "Senang pergi sama Krystal?" Kedua mata Shakalon melirik paper bag di tangan Anyelir.
Tahu-tahu Shakalon menyambar paper bag dari tangan Anyelir lantas membukanya. Lelaki itu mengeluarkan semua gaun dari dalam paper bag. Rahang lelaki itu mengeras, tampak menahan kesal seiring tangannya menarik gaun yang dibelikan Krystal untuknya.
"KENAPA DIBUANG GAUNNYA?!" Anyelir menjerit keras, ia mulai jengkel karena Shakalon bertingkah menyebalkan sejak kemarin.
Anyelir menarik paksa paper bag-nya, kemudian duduk berjongkok dan memungut gaun di lantai. Seolah tidak merasa bersalah karena membuang gaun milik Anyelir sampai berceceran, Shakalon malah menanyakan gaun berwarna hitam. Iya, gaun yang dipakai Anyelir seperti di video tadi.
"Mana gaun hitamnya?" tanya Shakalon mengamati gaun yang dipungut Anyelir di lantai.
Gaun hitam itu tidak ditemukannya. Total ada empat gaun dalam paper bag-nya. Tapi tidak ada gaun hitam yang ia cari.
Shakalon memijat keningnya. Ia ingat betul gaun hitam itu dikenakan Anyelir. Bahkan Krystal mengatakan itu gaun pilihannya untuk dikenakan Anyelir di pesta ulang tahun temannya lusa nanti.
"Kamu sembunyiin di mana gaunnya?!" Intonasi suara Shakalon masih meninggi, sangat menggebu-gebu.
Anyelir selesai memungut gaunnya dan memasukkannya ke dalam paper bag. Ia sungguh membenci Shakalon sekarang. Selain suka membuat jantungnya berdebaran, kali ini Shakalon membuang gaun-gaunnya tanpa alasan kemudian menanyakan gaun hitam—yang sama sekali tidak ada dalam paper bag-nya. Gaun yang mana yang dimaksud Shakalon, sih? Dari keempat gaun yang dibelikan Krystal tidak ada yang berwarna hitam. Anyelir sampai membuka paper bag-nya dan memastikan bahwa tidak ada yang berwarna hitam.
"Kamu ngigo, ya?" sungut Anyelir. "Gaun hitam mana yang kamu maksud? Lihat sendiri di paper bag-nya nggak ada, kan?" Anyelir membuka paper bag-nya lebar tepat di depan mata Shakalon.
Shakalon merasa geram. Ia merogoh saku celana kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia akan memperlihatkan video yang dikirim Krystal tadi. Supaya Anyelir tahu bahwa ia tidak mengada-ada.
"Nih, lihat sendiri!" Shakalon menyodorkan ponselnya ke Anyelir.
Lelaki itu bersedekap, menunggu reaksi apa yang akan ditunjukkan Anyelir. Lihat saja, kita hitung sampai tiga. Apa Anyelir akan tetap pura-pura lupa setelah melihat video-nya sendiri?
"Oh!" Anyelir membungkam bibirnya sendiri. Matanya membeliak saat melihat video dari ponsel Shakalon.
Gila, kenapa ia cantik sekali!
Ya Tuhan... tunggu! Kenapa ia malah salah fokus dengan penampilannya sendiri, sih? Ia tidak menyangka kalau gaun hitam—milik Krystal yang sempat dicobanya tadi lumayan cocok ia kenakan.
"Gimana? Udah lihat?" Shakalon mengatakannya dengan nada ketus.
"Ini beneran aku, ya?" gumam Anyelir tanpa sadar menarik perhatian Shakalon.
Berbeda dengan dugaan Shakalon, Anyelir justru terpesona pada penampilannya di video itu.
"Bangga banget kamu pake baju kurang bahan ya," sindir Shakalon. Lelaki itu mendengkus. "Terus, kamu mau pake gaun yang pamerin d**a, gitu? Inget, ya, kamu lagi berperan jadi anak sekolahan. Apa yang kamu pake harus sesuai izin dari aku."
Kedua alis Anyelir bertaut. Sepedetik kemudian dahinya mengernyit. Kenapa makin ke sini Shakalon jadi sangat menyebalkan? Belum cukup membuatnya kesal, sekarang mau mengatur apa yang ia kenakan?
"Apa yang aku pake, itu hak aku. Lagipula memakai sesuatu tanpa seizin kamu nggak ada di kontrak perjanjian kita," peringat Anyelir. "Dan asal kamu tahu aja ya. Gaun yang aku pake di video ini punya Krystal. Bukan punya aku!"
"Krystal?" gumam Shakalon.
Anyelir mengangguk. "Iya. Dia minta aku coba doang. Tapi tetep punya dia. Kamu lihat sendiri di dalam sini nggak ada gaun itu, kan?" Anyelir membuka paper bag-nya lagi agar Shakalon percaya.
Shakalon merapatkan bibir. Ternyata gaun itu milik Krystal, bukan punya Anyelir. Lagipula kenapa aneh sekali memakaikannya pada Anyelir, kenapa tidak dicobanya sendiri, sih?
"Tunggu, deh." Anyelir memeluk paper bag di dadanya.
"Kenapa?" tanya Shakalon.
Ponsel miliknya masih dipegang Anyelir. Perempuan itu memicingkan mata, melempar tatapan curiga. "Kenapa video-nya masih ada di HP kamu? Jadi, udah berapa kali kamu lihat video aku pake gaun ini?!"
Kedua mata Shakalon melebar. Ia ketahuan.
"Pasti bukan cuma sekali doang kamu lihatin video ini, kan? Seharusnya kamu hapus dong. Iya, kan?" tunjuk Anyelir, ia menuduh Shakalon melihat video itu lebih dari satu kali. Atau bahkan berniat menyimpannya sebagai koleksi?
Shakalon merampas ponselnya dari tangan Anyelir. Ia ketahuan menonton video itu lebih dari satu kali. Ah, tidak. Shakalon ingin mengelaknya. Tapi memang fakta kalau memutar video lebih dari dua kali. Bukan. Tolong jangan salah paham padanya. Ia memutarnya beberapa kali karena Anyelir terlihat cantik memakai gaun hitam itu. Terlepas gaun itu membuat Anyelir tampak lebih dewasa, Shakalon akan mengatakan jujur kalau Anyelir memang sangat cantik. Sungguh cantik.
"Dasar m***m!" maki Anyelir, menatap Shakalon bak musuh bebuyutan.
***
"Oh! Kak Krys? Kapan dateng?" sapa Anyelir menuruni anak tangga.
Krystal dan Daddy gadungannya sedang ngobrol duduk berdua di sofa. Kedua orang dewasa tersebut menunjukkan raut wajah yang berbeda. Krystal yang sumringah, dan Shakalon yang masam. Ah, sebodo amat dengan lelaki itu. Sampai hari ini Anyelir masih sangat kesal karena video-nya masih disimpan oleh Shakalon di ponselnya.
"Kamu pake gaunnya?" tanya Krystal mengamati gaun merah muda di tubuh Anyelir. "Cantik banget. Jadi pergi ke pesta ulang tahun temen kamu, Nye?"
Anyelir malu-malu dipuji Krystal barusan. Apa benar ia cantik memakai gaun ini? Anyelir menurunkan kepalanya, memandangi ujung gaun hingga ke sepatu yang ia dikenakannya.
"Jadi." Anyelir mengambil duduk di samping Krystal, sengaja menjauhi Shakalon. "Ini lagi nunggu dijemput."
Shakalon langsung menarik punggung hingga duduk dengan tegap. "Dijemput siapa? Kenapa nggak diantar Pak Dimas aja?" cerocosnya. "Nggak usah pergi kalau nggak diantar supir!"
Anyelir memutar bola matanya. Mulai jengah dengan tingkah Shakalon beberapa hari terakhir ini. Kenapa terkesan sangat protektif padanya sih? Apa karena ada Krystal makanya Shakalon bersikap begini? Takut Krystal curiga dan mengadukannya pada Andreas Malik? Akh, menyebalkan juga. Seharusnya Anyelir paham sinyal yang ditunjukkan Shakalon. Ia, kan, sedang berperan sebagai putri lelaki itu.
"Maaf, Pak. Non, ada tamu di luar nunggu Non Anye. Katanya, mereka temennya Non Anye mau jemput," ucap seorang pelayan menghampiri ketiganya di sofa.
Anyelir beranjak dari sofa. "Itu pasti mereka." Perempuan itu mengatakannya dengan setengah bergumam. "Kak Krys, aku samperin mereka dulu ya. Aku ajak mereka masuk."
Shakalon mendengkus. Cuma Krystal yang diajak perempuan itu bicara. Sedangkan dengan Shakalon tidak. Anyelir benar-benar memusuhinya sekarang.
Tidak berapa lama Anyelir masuk bersama dua orang gadis muda. Mereka menghampiri Krystal dan Shakalon kemudian menyapa dengan sopan. Kedua gadis itu adalah Talita dan Sisi. Masih ingat segerombol siswi yang berniat menjadikan Anyelir bos mereka, kan? Nah, Talita dan Sisi adalah dua di antara lima anak itu. Entah bagaimana ceritanya Anyelir setuju untuk pergi bersama-sama ke acara pesta ulang tahun teman sekolah mereka. Padahal sebelumnya Anyelir menolak datang dan hanya akan mengirimkan kadonya saja.
"Halo, Om dan Tante," sapa keduanya bergantian.
"Oh, halo." Krystal menyapa sangat ramah. "Duduk sini, jangan berdiri aja. Kalian pasti temennya Anye, ya?" Talita dan Sisi mengangguk kompak.
Sama seperti reaksi Anyelir saat bertemu dengan Krystal pertama kalinya. Talita dan Sisi juga menuai reaksi yang sama. Di depan matanya ada Bidadari nyata. Krystal keterlaluan cantiknya. Selain itu Krystal juga kelewat ramah sekali. Mereka jadi betah duduk di samping perempuan itu lama-lama. Baunya juga sangat wangi.
"Kalian naik apa dari sini?" Suara Shakalon menyela di sela-sela obrolan kedua gadis itu. "Nggak mungkin naik taksi apalagi ojol malam begini, kan?"
"Lon," tegur Krystal. "Please, deh! Ini belum bisa dibilang malem. Sekarang masih jam tujuh, btw."
Talita agak sungkan mau menyela. Ia tampaknya berpikir bahwa Krytal adalah mamanya Anyelir.
Sementara Anyelir pergi ke kamarnya mengambil tas dan kado, Shakalon malah menginterogasi kedua teman Anyelir. Ia ingin memastikan perempuan itu pergi dan pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu pun. Apalagi pulang tinggal nama, Shakalon akan murka.
"Kita pergi diantar supir kok, Om," jawab Talita setelah dua orang dewasa di kanan dan kirinya selesai berdebat. "Nanti Anyelir pulangnya diantar sama supir juga."
Shakalon menatap Talita dengan sorot mata yang tajam. "Bukan supir ojol yang kamu maksud, kan?"
"Lon," tegur Krystal lagi. "Emangnya kenapa kalau supir ojol? Yang penting mereka pulang dengan selamat, kan? Jangan suka berburuk sangka sama orang lain kenapa sih."
"Kamu, dan kalian berdua bisa menjamin Anye pulang dengan selamat kalau dia diantar pake taksi online? Kalian tahu nggak ada berapa banyak kasus penumpang yang dirampok sama supirnya? Atau parahnya dilecehin, terus diturunin di jalanan yang sepi. Kalian nggak tahu pasti, kan?"
Krystal menggeleng keheranan. Shakalon sangat protektif pada putrinya. Apa lelaki itu tidak tahu jika kedua teman Anyelir sampai ketakutan karena terus mencerocos seperti barusan?
"Nggak kok, Om...." Talita jadi ketakutan memberi jawaban. "Saya bawa supir sendiri. Itu, sekarang lagi nunggu di luar. Om nggak usah khawatir. Kita jamin keselamatan Anye sampai pulang ke rumah."
"Bagus." Shakalon bergumam.
Talita dan Sisi menarik napas lega. Mereka datang kemari dengan maksud baik menjemput Anyelir. Daripada mereka harus membawa supir pribadi sendiri-sendiri, maka Talita mengusulkan ia yang akan menjemput kedua temannya. Tapi, sesampainya di rumah Anyelir, ia malah diinterogasi oleh papanya. Talita sampai keringat dingin rasanya. Orang tua Anyelir sangat protektif sekali.
Belum sampai di situ, Shakalon membuat ulah lagi. Bahkan Krystal tidak berhenti dibuat heran. Oh, atau karena Anyelir sudah beranjak remaja makanya Shakalon sangat protektif. Kalian tahu sendiri pergaulan anak zaman sekarang seperti apa. Apalagi Anyelir adalah cucu pertama Andreas Malik. Tentu saja Shakalon sangat menjaga Anyelir, takut mencoreng nama keluarga jika putrinya membuat ulah, mungkin.
"Masukin nomor HP kalian kemari." Secara mengejutkan Shakalon menyodorkan ponselnya ke Talita.
"Buat apa, Om?" Giliran Sisi yang bertanya.
"Kok buat apa?" tanya Shakalon balik. "Supaya saya bisa hubungin kalian kalau pulangnya terlalu larut. Anak nakal itu suka sekali bikin saya naik darah," cerocosnya.
Talita menjawil paha Sisi kemudian berbisik di telinga temannya. "Maksudnya Anye kali ya," bisiknya. Sisi sontak menengok kemudian mengangguk.
"Bisa jadi." Sisi balas berbisik. "Gila sih. Bapaknya galak banget ngalahin guguk!"
"Hush," bisik Talita lagi. "Jangan sembarangan lo ngomong. Ntar bapaknya Anye denger, habis dibantai kita nanti."
"Kenapa malah bisik-bisik?" tegur Shakalon dengan suara besar. "Masukin nomor HP kalian. Sekarang."
"Eh. Iya, Om. Bentar." Talita meraih ponsel Shakalon lantas mengetik nomornya. "Giliran lo, nih." Gadis itu mengasurkannya pada Sisi.
Sisi mengetik nomor ponselnya sesekali melirik Shakalon. "Udah nih, Om. Udah saya kasih nama juga."
Shakalon menerima ponselnya. "Terima kasih."