Kamu Ganteng Tapi Galak

1838 Kata
Anyelir beserta dua temannya pamit pergi ke pesta ulang tahun teman sekolahnya. Ada yang lucu saat Anyelir berpamitan tadi. Anyelir mengabaikan Shakalon, melewati lelaki itu begitu saja padahal dua temannya sampai mencium punggung tangan Shakalon setelah berpamitan. Hal ini pun menarik perhatian Krystal. Ia menggeleng, lantas tersenyum lucu. Kini tinggal Shakalon dan Krystal hanya berdua saja. Keduanya tidak banyak bicara. Ah, tidak. Lebih tepatnya Shakalon yang tidak mau berinisiatif. Sedangkan sejak tadi Krystal memutar otak untuk mencari topik agar mereka tidak saling diam saja. "Kamu sama Anye lagi berantem ya?" Tawa geli yang ditahan Krystal sampai ke telinga Shakalon. "Anye nggak mau pamit sama kamu padahal dua temannya sampai cium tangan kamu, Lon. Bener kalian berantem?" Iya, benar. Itu semua karena kamu! Kalau bukan karena ulah Krystal yang mengiriminya foto dan video saat Anyelir mengenakan gaun seksi, Shakalon dan Anyelir tidak akan bertengkar seperti dua hari yang lalu. Shakalon marah besar, tetapi bodohnya ia malah menyimpan video itu. Bahkan hingga sekarang belum sempat dihapusnya. Tidak. Shakalon berniat menyimpannya. Bukan. Bukan untuk koleksi. Tapi ia sungguhan menyukai Anyelir saat mengenakannya. Anyelir sangat cantik. Shakalon mulai tidak waras. Sungguh. Sepertinya ia harus pergi menemui seorang psikiater karena perasaannya yang mulai menggila kala melihat Anyelir. Tidak boleh. Anyelir, kan, putrinya sekarang. Terlepas hanya sebantas kontrak, pura-pura agar bisa menguasai seluruh harta Malik, Anyelir akan menjadi anaknya. Dan ia adalah seorang Ayah. Ayah dari perempuan itu. "Kata Anye itu gaun kamu. Tapi kenapa kamu minta Anye yang coba gaunnya?" tanya Shakalon. Senyum Krystal merekah detik itu juga. Ini pertama kalinya Shakalon mau mengajaknya ngobrol duluan. Biasanya selalu Krytal. Shakalon hanya akan menimpali sesekali dengan raut wajah yang masam. "Aku sengaja, sih." Krystal menahan senyum. "Kamu tahu kenapa aku mau dijodohin sama kamu, Lon?" "Nggak." "Astaga," seru Krystal tidak kuasa menahan tawa geli. Shakalon sungguhan tidak penasaran kenapa ia mau dijodohkan dengan lelaki itu ya? Krystal membenarkan letak duduknya pada posisi paling nyaman menurut perempuan itu. Diletakkan kedua tangannya di paha, memiringkan badan agar mereka bisa duduk saling menghadap. "Aku juga anak tunggal kayak Anye," gumam Krystal memulai ceritanya. "Aku juga sama sering ditinggal sama orang tua, bahkan pernah sampai berbulan-bulan di luar negeri karena Mama sama Papa sibuk ngurus bisnis." Shakalon menengok, tatapannya sinis. "Jadi, intinya apa?" Krystal memasang wajah memberengut. Ia lupa kalau Shakalon selalu ketus padanya. Seharusnya ia bisa menggunakan momen ini untuk menarik perhatian Shakalon ya? Ternyata Krystal malah membuat lelaki itu sebal padanya. "Intinya gini...." Krystal mencari kalimat yang tepat. "Karena kamu sayang banget sama Anye. Kamu jagain dia banget, protektif. Aku sampai iri rasanya." Kata-kata Krystal menarik kerutan di dahi Shakalon. Krystal mengibaskan tangan, ia pikir lelaki itu bingung mendengar jawabannya. "Kamu tahu kenapa aku ngirim foto sama video Anye pake gaun terbuka kayak dua hari yang lalu?" "Itu yang mau aku tanyakan sama kamu." Shakalon menajamkan pandangannya. "Karena aku sengaja, Lon. Aku mau tahu kamu bakal semarah apa lihat Anye pake gaun itu. Kamu kelihatan sayang banget sama anak kamu. Bahkan kamu nunjukin kalau kamu protektif banget." Krytal tersenyum masam. "Aku pilih kamu, karena kamu Ayah yang baik dan sayang sama anak." Shakalon mungkin tidak mengerti kata-kata yang disampaikan Krystal barusan. Krystal agak menunduk, memandangi jari-jarinya yang cantik dengan perasaan sedih. Ia sedih bukan karena sikap dingin Shakalon padanya. Bukan itu. Krystal tidak mempermasalahkannya. Itu memang watak Shakalon, Krystal yakin tidak bisa mengubahnya sekali pun ia memaksa. Ia sedih karena nasibnya dan Anyelir sangat berbeda. Walau mereka berdua sama-sama anak tunggal yang memiliki orang tua super sibuk, tetapi Anyelir jauh lebih beruntung darinya. Shakalon sangat menyayangi Anyelir, perhatian pada putrinya biarpun yang keluar dari mulut lelaki itu sangat ketus. Paling tidak, Shakalon memerhatikan apa yang akan dipakai Anyelir, apa yang akan dimakan, bahkan sampai menginterogasi teman-teman putrinya. Padahal sudah jelas kalau mereka pergi ke pesta diantar oleh supir pribadi. Krytal tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua seperti Shakalon menyayangi putrinya. Krystal sangat iri. Ia berharap Shakalon memang pilihan yang tepat untuknya. Kalau pun Shakalon tetap bersikap dingin padanya sampai mereka menikah nanti, ia yakin Shakalon akan tetap menjadi Ayah yang penyayang terhadap anak-anaknya yang lain. Ia tidak ingin anak-anaknya kelak merasakan hal yang sama seperti dirinya. "Aku bersedia jadi istri kamu, Lon. Aku nggak masalah kalau harus jadi ibunya anak kamu yang usianya udah tujuh belas tahun." Krytal menarik kedua sudut bibirnya. "Kayaknya... aku juga mulai sayang sama Anye. Apa itu udah cukup jadi modal buat aku buka hati kamu?" *** Hampir jam sebelas lewat, tetapi Anyelir kenapa belum pulang juga? Shakalon duduk di sofa, kemudian berdiri lantas mondar-mandir sembari memandang jam di dinding. Mereka pergi dari jam tujuh, dan sekarang belum pulang juga! Memangnya pesta apa yang digelar oleh anak remaja di zaman sekarang? "Ah, shit." Shakalon mengumpat, mengarahkan kedua tangannya mengusap belakang kepalanya. Seharusnya ia meminta alamat di mana pesta digelar. Kenapa hanya meminta nomor ponsel dua bocah itu saja. Ah, Shakalon memang bodoh! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Anyelir? Oh, atau... mereka malah merayakan ulang tahun di sebuah kelab? Tidak! Shakalon akan murka kalau sampai Anyelir pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dari informasi yang ia dapatkan sebelum Anyelir setuju menjadi putri palsunya, Shakalon mencari tahu tentang perempuan itu. Di mana tempat lahirnya, nama orang tua, tentang pendidikan, apa pun tentang Anyelir, ia mencari tahu sampai ke akar-akarnya. Ia tidak ingin sembarangan menjadikan seseorang sebagai putrinya. Dari informasi yang ia dapatkan pula, Anyelir bukan tipikal perempuan nakal yang suka kelayapan di sana-sini. Shakalon mengetahui jika sebelumnya perempuan itu bekerja di dua tempat sekaligus sebelum menjadi putri palsunya. Terlepas dari keberanian Anyelir padanya, ia punya keyakinan Anyelir adalah perempuan baik-baik. Shakalon bahkan berani bertaruh kalau Anyelir belum pernah mencicipi alkohol. Salah satu pelayan berjalan melewatinya. Terdengar suara bel dari luar. Seketika Shakalon beranjak dari sofa dan meminta pelayan kembali ke dalam, sementara ia yang akan membuka pintunya. "Baik, Pak." Pelayan tersebut berbalik, memutar badan kemudian meninggalkan Shakalon sendiri di dekat pintu. Pasti itu Anyelir dan teman-temannya. Tunggu saja. Shakalon akan mengomeli Anyelir habis-habisan setelah ini! Pesta ulang tahun remaja macam apa sampai pulang selarut ini?! Pintu dibuka lebar-lebar. Bahkan Shakalon akan membuka mulut sebelum akhirnya mendelik melihat Anyelir dipapah oleh salah satu temannya tadi dan seorang satpam rumah. Darah Shakalon mendidih, Anyelir sedang menantangnya? "Om...." Talita, terserah nama siapa gadis itu. Shakalon tidak peduli namanya. "Anye—" Tanpa mengatakan sepatah kata pun Shakalon langsung menarik tubuh Anyelir sampai menubruk dadanya. Talita mengatupkan bibir, begitu pun dengan seorang satpam. Shakalon memang selalu menyeramkan setiap kali marah. "Maaf, Om..." Suara Talita terdengar kecil. "Ya udah, ya udah." Shakalon menahan geram. "Kamu boleh pulang!" Tanpa perasaan lelaki itu menutup pintu rumahnya sampai Talita tersentak mundur. Sialan. Yang mabuk Anyelir, kenapa malah ia yang jadi tumbal dimarahi Ayah temannya? Kan, Anyelir minum atas kemauannya sendiri. Bukan karena dipaksa, apalagi dicekoki. Shakalon menggendong tubuh Anyelir. Sepertinya minuman yang diteguk Anyelir dalam jumlah banyak sampai mabuk berat begini. "Biar saya aja yang bawa Non Anye ke kamarnya," ucap seorang pelayan menghampiri Shakalon. "Nggak usah. Bibi balik ke kamar aja istirahat. Biar saya yang bawa Anye." "Beneran, Pak?" "Iya, Bi." Shakalon benar-benar membawa putrinya sendiri ke kamar tanpa menyuruh pelayan. Wanita berusia empat puluhan itu menatap kagum pada majikannya. Walaupun Anyelir ditemukan setelah usianya menginjak tujuh belas tahun, tetapi Shakalon sangat menyayangi Anyelir. Bukan hanya apa yang dikenakan, atau teman-teman yang akan pergi dengan putrinya yang diperhatikan sampai dirasa lelaki itu aman. Tetapi apa yang akan dimakan Anyelir pun diperhatikan juga. Contohnya beberapa hari yang lalu saja. Shakalon meminta semua pelayan, apalagi yang bertugas di dapur untuk menyimpan makanannya lebih dulu. Untuk makanan yang akan dimakan Anyelir, Shakalon harus memastikannya apakah benar aman atau tidak. Anyelir pernah meminta dibuatkan ayam goreng dan sambal terasi. Sebelum dua hidangan itu dibawa ke meja makan, Shakalon secara khusus datang ke dapur hanya untuk mencicipi sambalnya lebih dulu. Shakalon mengatakan sambalnya bisa dipastikan aman sebelum dimakan putrinya. Jika itu terlalu pedas atau menurutnya terlalu asin, Shakalon akan meminta pelayan membuatkan sambal yang baru. Kalau sampai Anyelir sakit perut karena makanan yang mereka buat, maka habislah mereka. Shakalon merebahkan Anyelir ke ranjang perempuan itu. Setelah melepaskan sepatu yang dikenakan Anyelir, Shakalon menarik selimut hingga setinggi d**a Anyelir. Shakalon diam sejenak, ia hendak pergi ke bawah memanggil pelayan. Gaun Anyelir perlu diganti dengan piyama agar tidur perempuan itu lebih nyaman. Lengan Shakalon ditarik. Anyelir yang semula berbaring kini duduk di ranjang sambil memeluk lengan Shakalon. Lelaki itu mengernyit, setengah gugup karena tiba-tiba dipeluk seperti itu. "Kamu ganteng tapi galak," cerocos Anyelir memeluk Shakalon dari samping. "Hmm... nyebelin juga sih. Hobi banget ngatur-ngatur. Emang aku anak kecil ya? Aku anak remaja beneran ya? Padahal usia aku sebentar lagi dua puluh empat tahun! Kenapa sih? Usia kita cuma beda.... ehm.... empat belas? Oh, tiga belas tahun doang kayaknya." Anyelir melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya berpindah ke pinggang Shakalon. Kedua mata Anyelir memejam, bibirnya bergerak mengeluarkan suara khas orang mabuk. Shakalon melepaskan tangan Anyelir. Pasti perempuan itu tidak sadar sudah memeluknya. Begitu Anyelir sadar besok, Shakalon akan menggodanya habis-habisan. Ia suka saat kedua pipi Anyelir berubah merah. "Kamu salah strategi, ganteng!" Anyelir menangkup kedua pipi Shakalon. "Seharusnya.... kamu jadiin aku istri kontrak aja. Kenapa harus jadi anak, sih? Aku aja selalu geli kalau harus panggil kamu Daddy di depan keluarga Malik sama Krystal! Kamu tuh... terlalu muda jadi Ayah aku. Alu pikir, kita lebih cocok jadi pasangan. Iya, kan, Lon?" Kalau Anyelir sadar besok, dan ingat apa saja yang telah ia katakan sampai memeluk Shakalon seerat ini, Anyelir akan mengubur dirinya hidup-hidup. "Anye, kamu terlalu mabuk." Shakalon menarik tangan Anyelir dari pipinya. Anyelir menelan ludah kemudian menggeleng. "Kata siapa aku mabuk? Aku sadar, nih!" Anyelir melebarkan kedua matanya secara paksa. Kepalanya mendongak, kedua tangannya kembali berada di pipi Shakalon. Tatapan keduanya saling bertemu. Shakalon merapikan anak rambut Anyelir, menahan punggung perempuan itu agar tidak jatuh. Anyelir tertawa, memandangi wajah Shakalon sedekat ini malah membuat degupan jantungnya semakin kurang ajar. "Jantung aku deg-degan, masa," oceh Anyelir meletakkan telapak tangannya di d**a. "Kamu nggak mau kita ganti kontrak aja? Ah... kayaknya sih nggak mungkin. Kamu selalu bilang menikah sama kayak nambah masalah baru. Ya, ya. Aku inget." Tiba-tiba Anyelir menarik tubuhnya dengan setengah berdiri di depan Shakalon. Masih memegangi pipi lelaki itu, secara mengejutkan Anyelir mencium kening Shakalon, kedua pipi Shakalon secara bergantian lantas duduk lagi sambil terkekeh. "Aku boleh cium yang ini?" Ibu jari Anyelir mengusap bibir Shakalon. "Oh, oke. Karena kamu diem, aku anggap iya." Oh, s**t! Shakalon mengumpat dalam hati bersamaan dengan Anyelir mencium bibirnya. Shakalon membulatkan matanya. Ia tidak habis pikir jika Anyelir akan seberani itu menciumnya. Sebelah tangan Shakalon sampai memegangi pinggang Anyelir kala perempuan itu membuat setengah badannya berdiri dan tidak melepaskan ciumannya. Shakalon yang semula terkejut justru sekarang tampak menikmatinya. Ia menyibak rambut sebahu Anyelir ke belakang punggung. Memperdalam ciumannya sampai Anyelir terjatuh merebahkan diri di atas ranjangnya. "Ueeeek!" Di tengah-tengah ciuman mereka berlangsung, Anyelir tiba-tiba mendorong dadanya lantas muntah. Dan kalian tahu, muntahan Anyelir mengenai setengah badan Shakalon. Sialan. Shakalon tidak berhenti mengumpat. Bisa-bisanya perempuan itu muntah setelah memancing dirinya. Akh, apa yang harus ia lakukan setelah ini! Astaga, Anyelir benar-benar ya Tuhan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN