Aku Ingat! Kenapa?

1496 Kata
Kepala Anyelir terasa berat saat ia terbangun. Ia menengok ke setiap sudut kamarnya dan mendapati seorang pelayan barusan masuk. Anyelir memegangi kepalanya lantas menyibak selimut yang menutupi setengah badannya. "Pasti pusing ya, Non?" sapa pelayan, berdiri di dekat ranjang Anyelir sambil memegangi sapu. "Iya, Bi. Aku mabuk pas pulang ya?" desis Anyelir masih memegangi kepalanya. "Iya, Non. Semalem Non Anye sampai nggak sadar, terus digendong Pak Kalon sampai masuk kamar," jelas pelayan. "Digendong?" pekik Anyelir tidak percaya. "Ka—ah, Daddy. Maksud aku, Daddy gendong aku sampai ke kamar, gitu?" Pelayan mengangguk. "Iya, Non. Sehabis dibawa ke kamar, Non juga muntah sampai ke bajunya Pak Kalon. Terus saya dipanggil buat gantiin baju Non Anye." Sontak saja Anyelir menurunkan kepalanya dan memandangi tubuhnya yang mengenakan setelah piyama. Bahkan ia lupa apa yang ia kenakan semalam. Tunggu. Bukan masalah siapa yang menggantikan gaunnya sekarang. Tapi ada hal yang lebih penting. Kata Bibi barusan, ia muntah dan mengenai badan Shakalon? Mampus! Sebentar lagi ia akan dibantai lelaki itu dengan kata-katanya yang pedas. Anyelir sudah mencari masalah dengan Shakalon. Ya Tuhan, kenapa Anyelir bodoh sekali sih? Kenapa juga ia harus minum sampai mabuk! "Non Anye nggak mau mandi? Pak Kalon udah nunggu di bawah." "Daddy masih di rumah?" tanya Anyelir panik. Kenapa juga Shakalon di rumah, sih! Biasanya Shakalon akan berangkat pagi-pagi sekali. Kalau semalam saja ia sudah membuat masalah dengan muntah di baju lelaki itu, sama saja Anyelir akan mendapat masalah. Ia akan menjadi bulan-bulanan Shakalon! Astaga! Anyelir yakin sebentar lagi ia akan dibuat kesal dengan berbagai tingkah laku Shakalon yang sejak kemarin sudah menyebalkan. "Iya, Bi. Aku mau mandi," ujar Anyelir berdiri sempoyongan. "Mau saya bantu Non Anyelir?" tawar si pelayan. Anyelir menggeleng. "Nggak usah, Bi. Aku bisa sendiri kok. Permisi ya, Bi..." Sambil berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi, sepertinya Anyelir belum mengingat apa yang dilakukannya pada Shakalon, dan apa yang membuat lelaki itu jengkel selain muntahannya mengenai baju Shakalon. Daddy gadunganya adalah orang kaya. Baju yang terkena muntahannya akan dibuang dan membeli yang baru dan lebih mahal. Tetapi, ada hal yang belum disadari Anyelir. Melihat Anyelir masih santai begitu, jelas Anyelir tidak mengingatnya. Atau belum mengingatnya. Anyelir berdiri di depan cermin kamar mandi. Dengan mata setengah memejam perempuan itu menggosok giginya. Setengah mengantuk juga tetapi kepalanya yang berat efek mabuk semalam tidak bisa membuatnya tidur lagi. Ah, sialan. Padahal semalam ia hanya minum satu gelas bir berukuran paling kecil. Kenapa efeknya bisa separah itu sih? Ia bahkan tidak ingat jika sudah muntahannya mengenai baju Shakalon. Apa yang harus ia lakukan nanti saat bertemu Shakalon? Apa ia perlu mengatakan maaf? Ya, ia harus minta maaf. Terlepas lelaki itu sangat menyebalkan, Anyelir mengakui bahwa ia memang salah. "Hmm." Anyelir berhenti menggosok giginya. Tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang di kepalanya. Anyelir menyudahi menggosok gigi kemudian berkumur. Sambil berkumur di westafel kamar mandi Anyelir diam memandangi wajahnya, kemudian pindah ke bibirnya. Seperti bergerak sendiri, Anyelir mengusap bibirnya. Dan.... "g****k!" Anyelir memekik keras sambil memegangi kepalanya. Seketika kedua bahunya turun dan kepalanya menggeleng. "Gue udah gila! Sumpah!" Anyelir memukul kepala dan bibirnya bergantian. Ingatan semalam sepertinya muncul begitu saja kala perempuan itu tanpa sengaja memandangi bibirnya sendiri. Kedua mata Anyelir mendelik, bibirnya mengatup namun dalam hati terus mengumpat. "Nggak, nggak mungkin dong!" seru Anyelir tidak percaya. Walaupun Anyelir kurang meyakini apa yang mampir di kepalanya sekarang, Anyelir dengan jelas mengingat kejadian semalam. Saat ia memeluk dan mengoceh di depan wajah Shakalon. Kemudian mencium Shakalon sampai ia berbaring di bawah lelaki itu. Sampai bibir mereka saling beradu kemudian.... Ia muntah. Dan muntahannya mengenai baju Shakalon! Sepertinya Anyelir memang sungguhan gila! Apa yang ia lakukan, astaga! Anyelir tidak punya keberanian bertemu Shakalon sekarang! *** Rasanya Anyelir ingin berbalik dan mengunci diri di kamar saja. Setelah melihat punggung lelaki itu yang dibalut setelah jas berwarna biru tua, Anyelir merasakan desiran hebat di dadanya. Apa ini? Kenapa desiran yang ia rasakan jauh lebih kuat dari biasanya, padahal yang baru dlihatnya cuma sekadar punggung Shakalon. Anyelir memegangi kedua pipinya lantas menggeleng. Ia sungguhan tidak ingin bertemu Shakalon sekarang. Ia ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Ia masih menyayangi nyawanya. Anyelir belum ingin mati muda karena terkena serangan jantung! "Non Anye...." Sapaan pelayan lain membuat Anyelir mengentakkan tangan kemudian mengepalkannya. Karena sapaan pelayan barusan berhasil menarik perhatian Shakalon hingga memutuskan untuk menoleh ke belakang. Deg! Nyawa Anyelir seperti ditarik paksa oleh malaikat. Cuma karena Shakalon menatapnya selama tiga detik, selama itu pula kesadaran Anyelir seperti hilang. Ia kecewa karena Shakalon tidak menyapanya, bahkan terkesan cuek padahal semalam.... akh, sial. Kenapa Anyelir malah berharap Shakalon akan bersikap manis padanya. Itu, kan mustahil. Anyelir membuang pandangannya ke objek lain. Ia tidak memiliki keberanian menatap Shakalon. Bahkan melirik kurang dari dua detik saja tidak. Anyelir menelan ludah, menundukkan kepalanya sangat dalam sembari mengoleskan selai kacang ke rotinya. Tahu-tahu Shakalon menarik roti di tangan Anyelir beserta selai kacang di atas meja. Tatapan lelaki itu dingin, tajam, membuat Anyelir mati kutu. "Kenapa?" tanya Anyelir menatap Shakalon takut. "Apa?" Shakalon menutup tempat selai kacangnya kemudian menarik selai cokelat. "Kenapa kamu nggak—ah, sial." Anyelir menggeleng cepat. Buru-buru diralatnya. "Kenapa roti sama selainya kamu tarik? Aku mau makan rotinya!" Shakalon dengan santai mengoleskan selai cokelat ke roti yang baru. Roti milik Anyelir yang telah diolesi selai kacang tadi ia singkirkan. "Makan ini aja." Shakalon meletakkannya ke atas piring. "Cukup sekali kamu pulang mabuk. Jangan pernah lagi, ngerti?" "Emang kenapa? Aku semerepotkan itu saat mabuk apa?!" Shakalon berdecak. "Perlu saya jelaskan—semerepotkan apa kamu saat mabuk? Oke, saya akan—" "Nggak perlu!" Anyelir memotongnya dan menggeleng. "Saya minta kamu jangan pernah mabuk lagi karena ada alasannya. Selain merepotkan, kamu juga makin kelihatan bodoh." Anyelir mendelik diejek begitu oleh Shakalon. "Kamu sadar nggak, yang tadi kamu oles ke roti kamu itu apa?" "Selai," jawab Anyelir ketus. "Kamu sadar itu selai kacang?" Anyelir diam. Kedua matanya mencari-cari roti pertamanya. "Astaga," desah Anyelir hendak menepuk kepalanya namun ditahan Shakalon. "Apalagi, sih?!" Shakalon menarik tissue, dan membersihkan tangan Anyelir yang terkena olesan selai kacang tanpa disadari. "Kayaknya salah saya jadiin kamu anak SMA," dengus lelaki itu sambil membersihkan tangan Anyelir dengan telaten. "Seharusnya saya minta kamu berperan jadi anak SD aja ya?" "Maksud kamu apa? Aku kayak anak kecil, gitu?!" "Jangan coba-coba mabuk kalau emang nggak bisa. Efeknya bisa bikin bahaya. Salah satu contohnya kamu makan makanan yang bisa bikin alergi kamu kambuh," tambah Shakalon. Dan yang paling penting adalah membahayakan Shakalon, astaga. "Cepet makan dan pergi ke sekolah. Pak Dimas udah nunggu kamu di luar," kata Shakalon. "Bi! Bibi...." Dua orang pelayan datang menghampiri Shakalon di meja makan. Kedua wanita itu berdiri di samping kursi Shakalon, menunggu majikannya akan mengatakan sesuatu. "Lain kali saya nggak mau ada selai kacang di atas meja makan." Shakalon meletakkannya ke pinggir meja. "Kalau saya lihat selai kacang di meja sekali lagi, saya nggak mau lihat kalian lagi." "Maaf, Pak. Kami nggak akan menaruh selai kacang lagi," kata pelayan Shakalon ketakutan. "Ya udah, bawa selai itu pergi atau buang sekalian!" perintah Shakalon. "Iya, Pak. Kita buang sekarang." Dua pelayan Shakalon membawa selai kacangnya pergi bersama mereka. Karena selai kacang, mereka jadi dimarahi bahkan diancam akan dipecat. Anyelir yang melihat itu barusan menggelengkan kepalanya. Shakalon selalu suka membesar-besarkan sesuatu. Yang namanya orang lupa itu hal wajar. Ketimbang karena selai cokelat lelaki itu sampai mengancam. Padahal yang alergi itu Anyelir. Bukan Shakalon. Shakalon bersiap akan beranjak dari kursi. Sebelum lelaki itu pergi, ia berkesan pada Anyelir. "Ingat pesan saya. Jangan mabuk lagi." Anyelir melengos, menggigit rotinya dengan perasaan kesal. "Padahal gue ini yang mabuk," dumel Anyelir. "Kamu nggak mabuk aja selalu bikin ulah, apalagi mabuk," cerocos Shakalon. "Pokoknya saya nggak mau kamu pulang mabuk lagi kayak semalam!" Anyelir menyudahi sarapannya lantas berdiri. "Kalau nggak mau lihat aku mabuk lagi, ya udah diem aja. Biarin aja aku tidur di depan pintu kek, di mana kek, di lantai kek!" Shakalon mengepalkan tangan, setengah memejamkan mata selama tiga detik. "Kamu nantang saya?" "Nggak," jawab Anyelir bersedekap. "Aku cuma jawab sesuai apa yang kamu bilang. Kamu tadi bilang nggak mau lihat aku mabuk, kan? Ya udah. Pura-pura nggak lihat aja. Anggap aja aku lagi tiduran di lantai." Shakalon menarik lengan Anyelir. Perempuan itu tersentak, apalagi jarak di antara mereka berdua sangat tipis. Anyelir bisa merasakan tubuh tegap Shakalon mengungkung tubuhnya yang jauh lebih kecil dan pendek. "Kamu udah bikin saya nggak waras semalam," bisik Shakalon menahan geram. "Atau kamu memang sengaja mancing saya, terus pura-pura muntah?" "Apa sih!" sentak Anyelir, berusaha mendorong d**a Shakalon. "Aku nggak pura-pura! Apalagi berniat mancing kamu! Aku beneran mabuk semalam!" Shakalon belum mau melepaskan tangan Anyelir. Semakin perempuan itu berontak, maka semakin Shakalon merapatkan tubuh mereka. "Berarti kamu ingat apa yang terjadi semalam?" Anyelir meneguk ludahnya susah payah. Sialan. Shakalon sedang memancingnya ya? "Iya! Aku ingat! Terus kenapa? Kamu mau apa?" Tidak berniat menjawab, Shakalon malah melepaskan Anyelir. Dientakkannya begitu saja pergelangan tangan Anyelir lantas meninggalkan perempuan itu seorang diri dengan wajah memanas. "Sha—akh! Sialan." Anyelir meredam suaranya. Ia tidak ingin pelayan di rumah mendengarnya bertengkar dengan Shakalon kemudian menuai curiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN