Pasrah Atau Teriak?

1470 Kata
"Non Anye cari apa? Mau saya bantu, Non?" Anyelir mengangkat dagu, mengusap belakang lehernya dengan gerakkan canggung. "Nggak, kok, Bi. Aku cuma mau bikin s**u di dapur." "Oh," gumam pelayan. "Saya yang buatin aja, Non. Apa mau diantar sekalian ke kamar?" "Eh, nggak usah." Anyelir menggerakkan kedua tangannya. "Aku buat sendiri. Ini udah malem, Bibi balik kamar dan istirahat aja." "Tapi, Non—" Anyelir menyela, "Nggak apa-apa. Cuma buat s**u doang. Daddy nggak akan marah." Siapa yang tidak akan takut jika dimarahi Shakalon. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan putrinya ini, semua pelayan, supir, sampai dua satpam di depan juga akan kena amukannya Shakalon. Berbeda dengan ayahnya, Anyelir sebenarnya tipikal anak yang mandiri. Jika tidak ada Shakalon, Anyelir sering membantu pelayan di dapur. Dalam hati pelayan merasa was-was. Kalau sampai Shakalon tahu putrinya terjun ke dapur membantu memasak, padahal ada tiga pelayan khusus, bisa-bisa mereka semua akan diusir dari rumah Shakalon dan akan digantikan dengan pelayan baru. Mereka tidak ingin itu terjadi. Terlepas Shakalon itu galak, tapi gaji yang diberikan Tuan mereka cukup besar. Pelayan tersebut bergegas pergi ke kamarnya setelah berpamitan dengan Anyelir. Putri tuannya itu sangat baik. Bahkan sangat sopan kepada semua pelayan dan orang-orang yang bekerja di rumah Shakalon. Anyelir meletakkan gelas ke atas pantry tanpa minat. Membuat s**u hanyalah alasan Anyelir saja. Ia mana pernah susah tidur—kecuali setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Iya. Saat ia mabuk dan membuat masalah dengan Shakalon. Anyelir mendesis, mendongakkan wajah sembari menarik rambutnya sangat kesal. Ia kenapa sih? Kenapa juga ia tidak bisa tidur sebelum melihat lelaki itu pulang ke rumah. "Aish." Anyelir menarik tangannya, tatapannya ia turunkan ke bawah menatap gelasnya yang masih kosong. Shakalon sengaja mengabaikannya atau cuma perasaannya saja? Semenjak pertengkaran mereka dua hari yang lalu, Shakalon tampak cuek padanya. Seringkali melengos, menghindari saling menatap. Padahal Anyelir berharap lelaki itu bersikap seperti biasanya saja. Kenapa? Shakalon marah karena Anyelir dengan kurang ajar mencium lelaki itu? Apa karena Anyelir tidak sengaja muntah dan mengenai bajunya? Akh, sial. Kalau hanya karena itu, Anyelir akan sangat kesal. Tapi, kalau alasan Shakalon menghindarinya karena Shakalon marah karena ia menciumnya, Anyelir ingin mengubur diri saja. Seketika ia sadar. Ia bukanlah level-nya Shakalon. Ia sangat jauh jika dibandingkan dengan Krystal. Krystal cantik, perempuan itu kaya, pendidikan yang sepadan dengan Shakalon. Nyaris sempurna. Mereka akan sangat sempurna, mungkin saja akan membuat orang-orang iri saat menatap mereka. Kedua bahu Anyelir turun sangat lesu. Memikirkan perbedaan di antara ia, Shakalon dan Krystal, sama seperti membedakan antara langit dan bumi. Anyelir menepuk kedua pipinya agak keras hingga perempuan itu memekik kesakitan. "Ayo sadar, Anye. Sadar." Anyelir menepuk-nepuk pipinya. "Harus sadar posisi lo, oke! Sadar lo ada di mana, Krystal di mana! Ayo sadar, Anye! Eh, tapi nama gue Saiva, ding." Baru beberapa bulan menyandang nama Anyelir, sepertinya ia sudah nyaman dengan nama itu. Ia bahkan melupakan nama aslinya siapa. Anyelir meringis, tiba-tiba ia membayangkan kontraknya menjadi anak Shakalon sudah habis dan mau tidak mau ia akan kembali menjadi Saiva Elmaira. Bukan Anyelir Malik lagi. Lamunan Anyelir tersentak, hampir saja menyenggol gelasnya dan jatuh. Buru-buru ia menahan gelasnya kemudian menegakkannya kembali. Dari luar terdengar suara mobil. Pasti itu Shakalon! Akhirnya lelaki itu pulang juga! "Hai, Anye," sapa Krystal, berdiri di samping Shakalon. Langkah Anyelir berhenti tidak jauh dari tempat Krystal dan Shakalon berdiri. Pandangannya terarah pada lengan Shakalon yang digandeng perempuan itu. Sesaat, Anyelir merasakan dadanya sesak. Seperti kesulitan bernapas padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Ia juga tidak memiliki riwayat sakit asma. Kenapa ini? Masa cuma karena melihat Krystal menggandeng Shakalon, ia seperti cacing kepanasan. "Kak Krys?" Anyelir menyapa kembali Krystal. "Kok... bisa pulang sama Daddy malem begini, sih?" Sebisa mungkin Anyelir mengatur ekspresi wajahnya. Shakalon bahkan hanya meliriknya kurang dari dua detik, kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Dan yang paling penting, Shakalon tetap diam saat perempuan itu menggandeng lengannya. "Saya sama Daddy kamu baru pergi makan malam," jawab Krystal sumringah. "Karena kita pulang kemalaman, saya izin ke Daddy kamu untuk menginap semalam di sini." Anyelir meneguk ludahnya, kasar. Rasa sesak di dadanya seperti naik lebih tinggi. Anyelir diam sejenak, kira-kira tiga detik sebelum akhirnya berpamitan pada Krystal. "Aku balik ke kamar dulu ya, Kak. Aku harus tidur cepat karena besok pergi sekolah." Anyelir menggigit dalam pipinya. Kesepuluh jari perempuan itu meremas ujung atasan piyamanya. "Selamat malam, Anye. Tidur yang nyenyak, ya," seru Krystal begitu Anyelir membalikkan badan kemudian berjalan menuju anak tangga. "Hmm... atau cuma perasaan aku aja?" Krystal beralih ke Shakalon. "Anye kelihatan kayak lagi sedih. Dia kenapa? Habis kamu marahin?" Shakalon mendengkus kasar. "Dia udah besar, nggak perlu dimarahin lagi." "Tumben aja gitu." Krystal masih kekeuh dengan penglihatannya. "Itu jelas Anye lagi murung. Kamu nggak mau nyusul Anye, Lon? Coba tanya dia kenapa. Aku takut ada yang ganggu dia di sekolahnya." Shakalon menurunkan tangan Krystal dari lengannya. "Diganggu apa? Dia itu preman di sekolahnya. Yang ada aku yang khawatir temennya dibuat babak belur lagi!" Krystal yakin ada sesuatu dengan Anyelir. Tidak biasanya Anyelir terlihat murung. Biasanya selalu ceria dan ramah saat menyapanya. Krystal melirik Shakalon lagi. Lelaki itu melepas jasnya lantas berjalan menaiki anak tangga. *** Sudah hampir jam tiga pagi, Anyelir belum bisa memejamkan matanya. Perempuan itu memiringkan badannya ke kanan lalu ke kiri dan berakhir mengerang kesal. "Akh, sialan!" Anyelir menjambak rambutnya sendiri. Ia tidak mengira kalau Krystal akan menginap di rumah Shakalon malam ini. Dan apa katanya? Mereka sehabis pulang makan malam bersama sampai pulang larut? Woah! Makan malam apa sampai pulang jam dua belas malam lewat?! Anyelir menyibak selimutnya kemudian turun dari ranjang. Sekarang ia berniat membuat s**u di dapur. Kata orang, sehabis meminum s**u hangat bisa membuatnya mengantuk. Memangnya iya? Sayang sekali Anyelir tidak menyimpan obat tidur. Kalau sampai besok ia begini terus, ia akan meminta resep obat tidur pada dokter. Oh, atau ia minta saja pada Majen? Adiknya Shakalon yang satu itu, kan, seorang dokter. Walaupun tidak meyakinkan juga sih. Mana ada dokter yang hobi keluyuran! Kepala Anyelir bergerak ke kanan ke kiri. Sebelah tangannya memegangi tengkuknya. Tidak bisa tidur sama seperti membuat badannya sakit-sakit. Apalagi saat Anyelir memaksa matanya memejam. Bukannya bisa tidur nyenyak, kepala Anyelir malah pusing. Bahkan sampai mual. Anyelir sampai di tangga terakhir, ia hendak ke dapur membuat s**u. Tahu begitu ia membuatnya sejak tadi supaya bisa tidur. Sekarang sudah jam tiga lewat, kalau mau tidur pun rasanya nanggung sekali. Jam enam nanti ia harus bangun dan bersiap pergi ke sekolah. Kalau begini, Anyelir ingin pensiun saja menjadi anaknya Shakalon Malik, ya Tuhan! Selain banyak godaannya, Anyelir juga tidak sanggup melihat Shakalon dan Krystal pergi berduaan. Apalagi sampai gandeng-gandengan seperti tadi! Sampai di ambang pintu, Anyelir menajamkan pandangannya. Sosok lelaki bertubuh tinggi tegap sedang berada di dapur menyibukkan diri mengaduk sesuatu. Anyelir menarik napas panjang. Ia pergi ke dapur untuk membuat s**u, kenapa harus bertemu Shakalon, sih! Kenapa juga lelaki itu belum tidur! Kan, Krystal ada di rumah ini. "Kenapa balik badan?" Teguran Shakalon berhasil membuat Anyelir membeku selama tiga detik. Ternyata telinga lelaki itu cukup peka, ya. Padahal Anyelir sudah melambankan langkahnya agar Shakalon tidak mendengarnya. "Nggak jadi." Anyelir belum mau menghadapkan badannya. Posisinya masih sama, memunggungi Shakalon di belakang sana. "Kamu sedang menghindar? Kenapa? Malu?" Anyelir menggigiti bawah bibirnya. Menghindar? Anyelir mengatupkan bibir menghalangi tawanya yang bisa saja lolos. Shakalon tidak berkaca ya? Bukankah lelaki itu sendiri yang menghindarinya? Lucu sekali. Anyelir sampai tidak tahan menawahan tawanya lebih lama. "Ngapain juga malu," gumam Anyelir. "Udah kejadian juga. Jujur aja deh, kamu menikmatinya juga, kan? Iya dong?" Anyelir memberanikan diri menatap Shakalon. "Terlepas aku level kamu apa bukan. Aku tetap perempuan dan kamu lelaki. Nggak mungkin juga kamu cuma diem aja waktu kita ciuman?" Rahang Shakalon mengeras. Anyelir mengatakannya begitu santai, seolah yang dikatakannya barusan adalah hal sepele, padahal Shakalon nyaris tidak waras semenjak kejadian malam itu. "Iya, kan? Nggak mungkin kamu cuma diem aja. Yang namanya kucing dikasih ikan asin mana—" Tubuh Anyelir ditarik dengan cepat. Seperti sekali kedip saja tubuhnya sudah berada dalam dekapan Shakalon. Anyelir menahan napas, jantungnya berdentum-dentum tidak keruan. Anyelir memundurkan kepalanya kala Shakalon mendekatkan wajahnya. "Kamu mau apa? Lepasin!" seru Anyelir mendorong d**a Shakalon. "Nanti ada yang lihat! Kamu mau rahasia terbongkar apa?!" tanyanya panik. Anyelir mulai panas-dingin. Tiba-tiba saja panik. Selain takut ketahuan orang lain, posisi mereka juga terlalu rapat. Tatapan Shakalon hanya tertuju ke matanya, kemudian turun ke bibirnya. "Jangan macam-macam ya! Atau aku teriak?" "Teriak aja." Shakalon menantang Anyelir. Ia tahu sampai di mana keberanian perempuan itu. "Kenapa? Kamu kesal karena Krystal ikut pulang sama aku? Kamu cemburu? Serius?" "Siapa yang cemburu! Nggak usah mengada-ada!" elak Anyelir. Shakalon meletakkan telapak tangannya ke pipi Anyelir, membuat gerakkan dengan mengelusnya naik-turun. Anyelir mencengkram ujung piyamanya. Ia ingin berontak, ia ingin berteriak, tapi rasanya kenapa sulit sekali sih! Shakalon benar-benar membuatnya mati kutu! Shakalon sialan! Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia harus pasrah? Atau teriak? Tidak! Itu sama saja bunuh diri!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN