"Nenek!" seru Anyelir menyapa Ibu tiri Shakalon.
Kedua perempuan berbeda usia itu saling memeluk. Ini agak mengherankan untuk keluarga Malik sebenarnya. Entah bagaimana bisa Anyelir terlihat akrab dengan Ibu tirinya Shakalon. Padahal Shakalon dan Ibu tirinya seperti musuh bebuyutan.
"Halo, keponakanku!" sapa Rayen menghampiri Anyelir namun ditarik Milan, istrinya.
"Sama keponakan sendiri masih aja ganjen!" sungut Milan. "Balik kantor sana!" usirnya.
Marayen Malik atau yang biasa disapa Rayen adalah adik kedua Shakalon. Berbanding terbalik dengan Abang dan adiknya yang selalu serius, Rayen justru sebaliknya. Lelaki itu paling bisa mencairkan suasana di rumah. Bisa dibilang, Rayen menuruni sifat Andreas Malik yang suka bercanda.
Milan menggelengkan kepalanya heran. Kenapa juga ia mau dijodohkan dengan lelaki seperti Rayen. Padahal selain wajahnya yang tampan, otak Rayen kurang sepersen. Ada saja tingkahnya. Sudah tahu Shakalon galak, sangat protektif pada Anyelir, bisa-bisanya Rayen menggoda Anyelir, bahkan hendak memeluk perempuan itu. Milan berdecak. Lama-lama ia menyerah juga menjadi istrinya Rayen. Bisa ditukar tambah tidak, ya?
"Kamu ke sini sama siapa, Nye? Diantar supir?" tanya Milan menghampiri keponakannya. Ia menyodorkan segelaa jus apel pada perempuan itu.
"Iya, aku diantar supir, Tante," ujar Anyelir meneguk jusnya. "Kok sepi? Oh ya. Lagi kerja semua ya."
Kirana, Ibu tiri Shakalon yang juga Ibu kandung Majen itu—mengelus rambut sebahu Anyelir. Perempuan itu duduk anteng di sampingnya setelah menyapanya sangat heboh. Ia boleh saja tidak akur dengan Shakalon, tapi dengan Anyelir, ia tidak bisa. Cucunya ini kelewat lucu untuk ia musuhi. Toh, Anyelir memang anak yang baik juga penurut.
Penurut... Kirana tidak tahu saja bagaimana Anyelir saat bersama Shakalon. Perempuan itu akan berubah menjadi pemberontak, hobi menantang Shakalon, sekali diladeni Shakalon, Anyelir berubah ciut.
Anyelir tiba-tiba bergidik. Ia teringat kejadian seminggu yang lalu di dapur. Shakalon sangat menyebalkan! Lagi-lagi lelaki itu sengaja menggodanya, kemudian meminggalkannya dengan pipi semerah tomat. Apa maksudnya sih? Lelaki itu juga mengada-ada mengatakan bahwa ia cemburu karena Krystal menginap di rumah Shakalon. Woah! Cemburu? Mimpi saja sana!
"Sabtu besok kamu nggak ada acara, kan? Kalau ada acara, batalin ya, Nye," kata Kirana.
Anyelir menahan gelas jusnya di atas paha. Sembari memeganginya, perempuan itu bertanya, "Nggak ada acara apa-apa sih, Nek. Emang kenapa?"
Milan menyambung, "Daddy kamu nggak bilang apa-apa, Nye?"
"Ha? Bilang apa, Tante?" tanya Anyelir bingung.
Kirana menggeleng lalu berdecak. "Mungkin Kalon sibuk banget sampai lupa ngasih tahu."
Anyelir meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja. "Ada apa sih Nek, Tan?" tanya Anyelir meletakkan kedua tangannya ke paha Milan dan Kirana.
"Sabtu besok Kakek kamu ulang tahun...." Milan bergumam. Heran juga kenapa Shakalon bisa melupakannya. "Eh, Nye. Emang kamu sama Daddy kamu nggak pernah ngobrol apa? Kok bisa nggak tahu Kakek kamu mau ulang tahun?"
Anyelir meringis. Ia menunjukkan raut wajah yang sedih. "Bukan nggak pernah ngobrol, Tante. Tapi pagi-pagi banget Daddy udah berangkat. Waktu aku tidur, Daddy baru pulang. Jadi, ya gitu deh...." Anyelir menjelaskan lantas mengangkat kedua bahunya.
Kirana mengelus rambut Anyelir lagi. "Pasti kesepian banget di rumah sendirian ya?"
Dengan cepat Anyelir menggeleng. "Nggak, kok, Nek. Kadang aku ditemenin sama Bibi."
Milan beranjak dari sofa. "Kalau kamu kesepian, kamu ke sini aja. Di sini ada banyak orang yang bisa kamu ajak ngobrol, Nye. Asal jangan Rayen aja orangnya!"
"Kenapa? Tante cemburu?"
Milan bergidik. "Bukan cemburu. Rayen, tuh, bawa virus b**o! Bisa-bisa kamu ikutan setengah gilanya dia!"
Anyelir terkekeh. "Tapi Om Rayen orangnya seru banget loh, Tan. Emang Tante Milan nggak seneng punya suami yang moodbooster, gitu?"
Lagi, Milan bergidik. "Moodbooster apa? Yang ada aku stress! Mau aku tukerin sama singkong satu karung kalau bisa!"
Milan dan Rayen ini pasangan yang lucu. Milan yang hobi marah-marah, sementara Rayen tidak pernah berhenti menggoda istrinya. Walaupun keduanya menikah karena dijodohkan, sepertinya Rayen menyayangi Milan dengan tulus.
Ini juga akan terjadi pada Shakalon dan Krystal nanti....
***
"Apa? Minggir. Aku mau lewat!"
"Jangan pergi dulu!" Anyelir merentangkan kedua tangannya menghalangi langkah Shakalon.
Shakalon melonggarkan dasinya. Ditatapnya Anyelir dengan tatapan dingin sekaligus tajam. "Apa?"
Anyelir menggaruk ujung hidungnya. Saat Shakalon melonggarkan dasinya barusan malah membuatnya jadi salah fokus. Ia jadi membayangkan bagaimana reaksi Shakalon saat pertama ia mencium bibir lelaki itu. Akh, sial. Anyelir jadi mengingatnya lagi, kan.
"Apa? Aku nggak ada waktu berantem sama kamu."
"Kenapa kamu nggak bilang kalau Kakek mau ulang tahun?" tanya Anyelir. "Kamu sengaja nggak ngasih tahu aku, kan? Beruntung tadi siang aku ke rumah keluarga Malik!"
Dahi Shakalon mengernyit. "Ngapain kamu ke sana?" tanya Shakalon sengit. "Siapa yang mengizinkan kamu ke sana tanpa tanya aku dulu?"
"Harus izin kamu dulu?" Anyelir mendengkus. "Aku ke sana karena di sini kesepian. Nggak ada orang yang bisa aku ajak ngobrol. Lagipula aku ke sana cuma main. Bukan bongkar rahasia kamu. Tenang aja, aku nggak akan bikin rugi, kok."
Pandangan Anyelir berubah sedih. Shakalon bukan tidak peka. Tetapi lelaki itu berusaha membangun benteng yang tinggi agar tidak mudah luluh lantas merusak semua rencana yang telah ia susun.
Berhari-hari Shakalon memikirkannya. Tidak seharusnya ia dan Anyelir berada dalam hubungan seperti ini. Ia harus ingat jika ia membayar Anyelir untuk menjadi putrinya. Tidak boleh sampai melewati batas. Entah itu Shakalon, atau Anyelir sendiri.
"Ck," decak Shakalon. Tidak dihiraukannya raut sedih Anyelir. "Kamu berlagak seolah kamu keturunan Malik sungguhan, ya? Kamu pikir, mereka keluarga kamu? Bukan. Tolong diingat. Kamu, itu cuma anak palsu aku. Kamu bukan bagian dari Malik. Jadi, jangan berlagak seolah kamu cucu Andreas Malik sungguhan. Ngerti, kan? Aku nggak perlu ngulang kata-kata aku?"
Seperti dihujam ujung belati yang tajam, Anyelir kehilangan napasnya untuk beberapa detik. Perempuan itu terdiam, memandangi wajah tampan Shakalon. Dalam hati perempuan itu menahan sakit, kata-kata yang Shakalon ucapkan barusan seperti menyadarkan dirinya. Siapa ia dan siapa Shakalon.
Benar. Anyelir mengangguk sendiri. Anggap saja Shakalon memang sedang mengingatkan dirinya.
Lagipula apa salahnya kalau Anyelir berusaha berbaur dengan keluarga Shakalon? Bukankah seharusnya Shakalon berterima kasih padanya? Ia datang ke sana, berusaha mengakrabkan diri agar mereka semua tidak curiga tentang rahasia Shakalon yang diam-diam membayar dirinya untuk menjadi anak palsunya. Bukan bermaksud sok, apalagi berlagak kalau ia adalah bagian dari keluarga Malik. Tanpa Shakalon mengatakannya, Anyelir sudah paham kok.
"Oke." Anyelir menelan ludah. "Lain kali aku bakal izin ke kamu dulu. Makasih, kamu udah ingetin aku soal ini."
"Hmm." Shakalon bergumam, ia melepaskan jas kemudian menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.
Pandangan mereka berpencar. Anyelir agak menunduk, sementara Shakalon melemparkan pandangannya ke anak tangga yang kosong. Sejujurnya ia ingin menatap perempuan itu sebentar. Hanya tiga detik saja. Tapi keegoisan Shakalon mengalahkan perasaannya.
"Aku balik ke kamar." Anyelir bergumam sebelum membalikkan badan. "Aku bakal cari alasan supaya nggak perlu datang ke acara ulang tahun Papa kamu."
Ingin sekali Shakalon menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. Anyelir seketika murung. Setelah mengatakan perempuan itu tidak akan pergi ke ulang tahun papanya, d**a Shakalon seperti dicubit. Apalagi langkah Anyelir yang lesu saat menaiki anak tangga.
"Nggak, Lon. Nggak usah." Shakalon menunduk, memarahi dirinya sendiri. "Fokus ke tujuan awal lo. Fokus. Ini cuma godaan sesaat aja. Cepat atau lambat lo bakal lupa juga." Lelaki itu membungkuk, seperti merapalkan mantra, Shakalon tidak berhenti menggerutu.
Sementara itu, Anyelir pergi ke kamarnya dengan perasaan tak keruan.
Anyelir harus segera melupakan Shakalon. Cepat atau lambat, ia akan lebih tersakiti jika ia tidak berhenti detik ini juga. Sungguh. Ia benar-benar bukan berada di level Shakalon Malik.