Shakalon Bisa Gila!

1276 Kata
"Kamu yakin Anye nggak ada di sana?" "Bener, Om. Malahan Anye nggak masuk sekolah hari ini." "Nggak masuk?" Shakalon nyaris memekik. "Iya, Om. Saya sama yang lain udah coba hubungin nomor Anye tapi nggak diangkat," jelas Talita di telepon. "Kira-kira kenapa ya, Om? Apa Anye lagi sakit? Karena beberapa hari ini dia kayak murung di sekolah." Shakalon meremas ponsel di tangan. Anyelir membuat masalah lagi kali ini! "Kamu tahu siapa aja murid yang dekat sama Anye di sekolah?" Talita diam sejenak. "Akhir-akhir ini Anye lagi deket sama Btara, Om." Siapa lagi itu Btara! "Lelaki atau perempuan?" "Hah?" Shakalon menahan geram. "Yang namanya Btara, itu lelaki apa perempuan? Kamu ada nomor dia? Tolong kirim ke saya sekarang juga." "Saya nggak ada, Om. Lagian nggak terlalu kenal juga karena beda kelas. Tapi, tunggu. Coba saya tanya ke Sisi sama temen yang lain." "Oke. Terima kasih." Panggilan berakhir dengan Shakalon yang mengakhiri lebih dulu. Kepalanya dibuat pusing setelah Pak Dimas mengatakan kalau Anyelir tidak ada saat lelaki itu menjemputnya. Pak Dimas menunggu sampai jam enam sore di depan gerbang sekolah, dan Anyelir tidak kunjung keluar. Shakalon sibuk menghubungi teman-teman Anyelir. Dari kedua gadis kemarin, serta ada tiga gadis lainnya. Shakalon heran, bagaimana cara perempuan itu bergaul di sekolah dan hanya memiliki lima orang teman saja. Di tengah keramaian pesta ulang tahun sang Papa, Shakalon jadi tidak fokus karena Anyelir tiba-tiba menghilang. Padahal tadi pagi mereka masih makan bersama sebelum perempuan itu pergi ke sekolah tanpa bermpamitan padanya. Shakalon pikir Anyelir hanya ngambek biasa karena kata-katanya kemarin. Ia juga memiliki keyakinan kalau perempuan itu tidak akan ngambek lama-lama. Paling dua atau tiga juga kembali seperti biasa. Shakalon menghubungi nomor terakhir yang dikirimkan Talita. Walaupun kesal, Shakalon menaruh harapan pada pemuda bernama Btara itu. Kalau memang Anyelir bersama pemuda itu, apa yang mereka lakukan sampai bolos sekolah? Apa Anyelir mulai jatuh hati pada lelaki lebih muda? Huh. Apa Anyelir tidak bisa mencari lelaki yang lebih dari anak sekolah? "Kalon." Suara lembut Krystal menyapa. Perempuan itu menghampiri Shakalon lalu mengapit lengan lelaki itu. Krystal hendak menanyakan keberadaan Anyelir. Sampai sang Kakek meniup lilin dan membuat permohonan, Anyelir tidak kunjung datang. Ke mana Anyelir? Bukan hanya Krystal mencarinya. Tetapi juga seluruh anggota keluarga Malik. "Ck!" Shakalon mendecakkan lidah, ia mulai kehabisan kesabaran. "Kenapa, Lon? Wajah kamu kayak orang lagi panik." Krystal melepaskan lengan Shakalon dan menatap calon suaminya bingung. "Anye belum pulang sampai sekarang." Shakalon menekan nomor Btara sekali lagi. Lebih dari tiga kali ia berusaha menghubungi pemuda itu, tetapi tidak kunjung diangkat juga. "Kamu udah telepon ke nomor Anye? Kata temen-temennya gimana?" Krystal ikut panik. Shakalon menyudahi menelpon Btara. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Ia bergegas pulang lebih dulu berniat mencari Anyelir. Selain suka menantangnya, Anyelir juga sekali membuatnya panik. Sejak awal perempuan itu masuk sekolah sudah membuat ulah dengan membuat babak belur tiga orang siswi lain. Kemudian dua minggu yang lalu pulang dalam keadaan mabuk. Maunya Anyelir apa sebenarnya? Apa perempuan itu sengaja melakukannya agar Shakalon kesal? "Bang! Lo mau ke mana? Acaranya belum selesai," ujar Majen menahan langkah Shakalon. Shakalon menyentakkan tangan Majen. "Gue ada urusan penting. Sampaikan ke Papa aja kalau gue nggak bisa lama-lama di sini." Majen kekeuh. Ia menahan lengan Shakalon walau lelaki itu tidak suka disentuh oleh dirinya. "Urusan penting apa sih, Bang? Lo selalu gitu kan. Kapan sih lo mentingin Papa? Yang ulang tahun itu Papa lo, bukan cuma Papa gue doang." Tatapan Shakalon menajam. Ia malas berdebat dengan siapa pun sekarang. Di kepalanya hanya ada Anyelir serta keselamatan perempuan itu. Bagaimana kalau pemuda bernama Btara bukan anak baik-baik? Bisa saja Btara menjebak Anyelir, kemudian... ah, s**t! Shakalon membenci pikirannya. "Anyelir hilang. Dia nggak ada masuk sekolah dan sampai sekarang belum pulang ke rumah." Majen tersenyum sinis. "Anak lo udah besar. Dia bukan anak TK yang lo takutin bisa keluar tapi nggak bisa pulang sendirian." Shakalon semakin panas. Majen sedang menguji kesabarannya. "Lo ngeremehin banget? Gimana kalau Anyelir diapa-apain sama orang? Apalagi yang gue dengar dari temennya yang lain, Anye kemungkinan pergi sama temen cowoknya!" Majen menyeringai. Dilepaskannya tangan Shakalon. "Lo Daddy-nya Anye apa gebetannya? Anye pergi sama cowok, suka sama cowok ya itu semua wajar. Anak lo udah tujuh belas tahun! Bahkan yang SMP aja udah panggil Ayah sama Bunda." Shakalon mendorong d**a Majen. "Urusin urusan lo sendiri. Nggak perlu ikut campur tentang masalah gue atau pun Anye." Dada Majen didorong Shakalon cukup kuat sampai tubuh lelaki itu menabrak meja dari belakang. Shakalon pergi begitu saja, bahkan tidak berpamitan pada Mama dan papanya. Shakalon boleh saja khawatir terhadap keselamatan putrinya. Tapi apa tidak bisa tinggal lama di sini sedikit lagi? Majen yakin Anyelir baik-baik saja. Bisa saja perempuan itu sedang bersenang-senang dengan temannya, kan? *** Shakalon dibuat naik darah sejadi-jadinya sekarang. Anyelir tidak ditemukannya di mana-mana. Ia bukan hanya menghubungi Talita dan keempat temannya yang lain. Bahkan sampai mendatangi rumah mereka satu per satu sekaligus rumah Btara. Sesampainya di rumah Btara, pemuda itu tidak ada di rumahnya. Katanya, semenjak pagi, Btara belum pulang juga. Kemungkinan sedang nongkrong atau main game di rumah temannya. Shakalon ingin marah, nyaris saja emosinya meledak jika ia tidak menahannya. Marah pun percuma. Btara mau pun Anyelir tidak ia temukan. Shakalon memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Sedari tadi ponselnya terus berdering. Di antara panggilan telepon sampai pesan singkat dikirimkan dari nomor Krystal yang menanyakan keberadaannya juga tentunya kabar mengenai Anyelir yang hilang. Ia saja tidak tahu di mana Anyelir. Bagaimana ia bisa menjawab? Mobil Shakalon memasuki halaman rumahnya. Ia disambut oleh dua orang satpam. Shakalon mempercepat langkahnya hingga masuk ke dalam. Di rumah tampak sepi, tidak ada seorang pelayan yang datang menyambutnya. Ia mengangkat sebelah tangannya dan melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Hampir jam dua belas malam. Ke mana Anyelir? Astaga. Perempuan itu sungguhan menguji kesabarannya! Apa jangan-jangan Anyelir kabur? Tidak. Anyelir tidak boleh kabur sebelum rencananya berhasil! "Pak—" Shakalon mengabaikan sapaan salah seorang pelayan. Lelaki itu menaiki satu per satu anak tangga dengan langkah tergesa. Tuannya sangat aneh. Tidak biasanya terlihat panik seperti itu. Memangnya kenapa? Ada apa? Atau ada hal yang mereka lewatkan? Begitu Shakalon sampai di lantai atas, tujuan utamanya adalah kamar Anyelir. Tanpa mengetuk, tanpa ragu, lelaki itu menerobos masuk ke dalam kamar Anyelir. Kamar Anyelir masih rapi. Tidak ada tanda-tanda kamarnya dimasuki. Bahkan seprainya masih terpasang rapi. Shakalon kian panik. Ia mencoba memeriksa ke semua tempat. Ke balkon, ke dalam kamar mandi, dan Anyelir tidak ia temukan juga. Shakalon mengusap wajahnya kasar. Diembuskannya napas berat. Sebenarnya Anyelir ke mana? Kalau Btara pergi nongkrong bersama teman-temannya tanpa Anyelir, lalu Anyelir pergi bersama siapa? Talita dan keempat temannya sedang berada di rumah semua. Sebelah tangannya merogoh ke dalam saku celana, mengeluarkan ponsel sembari memandanginya sedih. Ia sudah berusaha menghubungi nomor Anyelir tapi tidak diangkat. Pesannya pun tidak dibaca. Jemari Shakalon menghidupkan layar ponsel. Walau kecil kemungkinan panggilannya akan direspons. Lelaki itu tidak mau berhenti berusaha. Ia harus menemukan Anyelir. Ia bisa gila kalau Anyelir menghilang dari kehidupannya. Keheningan di kamar Anyelir tiba-tiba mencair dengan suara dering ponsel. Shakalon beranjak dari ranjang Anyelir. Masih menempelkan ponsel ke telinga, Shakalon mencari sumber suara. Dering ponselnya ada di sekitar kamar Anyelir. Apa itu artinya.... Shakalon mengantongi ponselnya begitu saja. Suara dering yang ia dengar dari dalam lemari. Tanpa membuang waktu lagi, Shakalon membuka lemari perempuan itu. Dan, benar saja, Anyelir ada di sana, sedang tidur dalam posisi duduk sambil menggenggam ponselnya. Otomatis Shakalon duduk berjongkok, menarik tubuh Anyelir yang jauh lebih kecil darinya. "Anye? Hei," panggil Shakalon kelewat khawatir. "Anyelir? Anye." Pipi Anyelir ditepuknya beberapa kali. Anyelir menggeliatkan badan. Ia terkejut saat mendapati dirinya berada di pangkuan Shakalon. Keterkejutan Anyelir tidak sampai di situ. Karena, dalam sekejap saja tubuhnya sudah berada dipelukkan Shakalon Malik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN