Ruangan Osis yang begitu rapi dan simpel membuatnya enak dipandang mata, walau begitu daya tarik dari tempat ini tidak hilang hanya karena kesederhanaan desain ruangan yang dibuat.
Sentuhan teknologi pengaman yang sederhana namun efektif serta penempatan tata ruang yang bagus menjadi gambaran identitas para anggota Osis.
Lukisan besar terpampang pada dinding tepat dibelakang kursi ketua Osis serta menghadap langsung kepintu membuatnya mudah untuk dilihat.
Ada satu alasan mengapa lukisan laki-laki pemegang tombak periode zaman romawi. Tatapan matanya sengaja dibuat hidup untuk menakuti seseorang jika ada orang yang berniat jahat ataupun jahil diruangan ini.
Satya dan Naomi
berjalan duduk menuju sofa panjang pada bagian kiri arah pintu masuk. Meja bersih dihias oleh keranjang buah segar dan setangkai bunga mawar yang saling bersebelah.
Lemari besar pada bagian kiri dekat meja ketua Osis yang diisi oleh berbagai piala para pendahulu Osis sebelumnya.
"Berapa lama kita harus menunggu?" tanya Satya pada gadis disebelahnya.
"Aku tidak tau," jawab Naomi singkat.
Mereka kembali terdiam.
"Satya, rencana apa lagi yang akan kamu jalankan?" selidik Naomi, "Apa aku boleh mengetahuinya?" sambungnya.
"Boleh saja, Nanti akan aku jelaskan setelah bertemu dengan ketua Osis," ucap Satya, "Aku tidak bisa memberi tahu sekarang," sambungnya.
Suasana kembali hening.
"Oh iya, aku punya sesuatu untukmu." cetus Naomi sembari merogoh tasnya, "Ini buat kamu," ujarnya memberi sebuah rosario pada Satya.
"Eehh! Rosario tapi harusnya rosario ga boleh dibuat kalung," ucap Satya terkejut.
"Enggak papa pasang saja," paksa Naomi memasangkan rosario dileher Satya.
Saat Naomi memasangkan rosario pada leher Satya, mereka dipergoki oleh ketua Osis dari balik pintu.
"Hei, kamu lagi apa?" kejut ketua Osis.
Mereka berdua langsung terkejut mendengar hal itu keluar dari mulutnya.
"A-aku memasangkan kalung rosario pada Satya," bela Naomi tergugup.
"Aku tidak yakin akan ucapanmu Naomi," balas ketua Osis.
"Iih kenapa ga percaya sih!" rengek Naomi mengerutkan dahinya.
"Aku yakin bukan cuma itu yang ada dipikiranmu." balas ketua Osis, "Pasti cari-cari kesempatan buat peluk dia ya!," ledek ketua Osis menyeringai puas.
"Bagaimana pendapatmu Satya? Haha ..." tanya ketua Osis tertawa keras.
"Eeehh! ketua tau namaku?" tanya Satya kebingungan.
"Tentu saja aku tau tentangmu walau ini pertama kali kita bertemu." jawab ketua Osis, "Banyak sumber aku tau tentangmu terutama pada Naomi," sambungnya menyeringai sambil menatap Naomi dengan pandangan jahil.
"Ih, tante mah!" teriak Naomi dengan nada tinggi.
"Eeehhh! kalo mau sekedar pelukan sih, aku tidak apa-apa," balas Satya sedikit terkejut.
Spontan kepala Naomi seperti mengeluarkan asap sambil tertunduk malu mendengar ucapan teman laki-lakinya.
"Haha ... dia mengatakannya!" tawa keras ketua Osis sambil melihat Naomi yang salah tingkah.
Ketua Osis kini melangkah menuju kursinya, "Ok Satya, apa ada yang ingin kamu tawarkan padaku?" ucapnya dengan wajah serius.
"Aku ingin meminta bantuanmu untuk memberi beberapa orang yang ahli bertahan hidup di alam liar," pinta Satya mulai berdiskusi.
"Orang yang ahli ya ... ada beberapa orang yang sesuai kriteriamu," balas ketua Osis sambil membayangkan beberapa orang yang sesuai Satya maksud.
"Kamu yakin sudah tau beberapa orang yang cocok dengan kriteriaku?!" kejut Satya Antusias.
"Iya tapi ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi," balas ketua Osis.
"Apa saja syaratnya?" tanya Satya spontan tanpa berpikir panjang.
"Hhmm, sayangnya bukan aku yang akan memberimu syarat-syarat tersebut," jawab ketua Osis tersenyum menyeringai.
"Ha! Maksudmu bagaimana?" selidik Satya kurang memahami maksud ketua Osis.
"Sperti yang aku bilang, bukan aku yang akan memberi syarat-syarat tersebut tapi mereka." jawab ketua Osis, "Orang yang kamu minta adalah orang besar di kelompoknya, jika kamu masih tetap maju bersiaplah menerima syarat itu walau sulit sekalipun," tuturnya.
"Walaupun begitu aku akab tetap maju," balas Satya meyakinkan diri.
"Baikah kalau begitu, akan aku beri tahu nama-nama mereka serta kelebihan mereka." balas ketua Osis mulai mencatat selanjutnya mengirim melalui lensa, "Satya, siapa Nama AI lensamu?" tanya ketua Osis.
"Jean," jawab Satya.
ketua Osis mulai bertransaksi dengan Satya yang berisi nama, kelas, bakat, semua informasi tersebut hasil dari tes berdasarkan kepribadian dan daya tangkap dalam menilai sesuatu yang terekam pada lensa.
"Hanya inu informasi yang bisa saya beri pergunakan dengan baik." balas ketua Osis, "Tapi, ingat jangan beri tahu siapapun tentang informasi ini," tuturnya.
"Jika ini informasi rahasia kenapa diberikan padaku?" balas Satya menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu berniat membantu semua orang bukan? Naomi menceritakan semuanya padaku," jawab ketua Osis tersenyum memandangi Naomi.
"Seperti yang kamu dengar dari Naomi itu termasuk salah satu keinginan paling egois yang aku miliki," balas Satya
"Apa kamu yakin bisa membantu semuanya melewati proses F.K16?" tanya ketua Osis sembari bersender dikursi serta menggoyang-goyangkan samping kiri dan kanan.
"Aku tidak berharap bisa membantu semua orang maka dari itu aku perlu mendapat banyak bantuan disekitar lingkungan sekolah," balas Satya.
"Apa kamu tidak berpikir rasa simpati kita terhadap sesama sudah luntur!" seru ketua Osis.
"Tentu saja aku menyadari hal ini maka dari itu aku tidak terlalu berharap banyak." balas Satya, "Aku cuma berharap mereka bisa melindungi diri masing-masing," sambung Satya.
"Baiklah, jangan pernah memaksakan diri," ucap ketua Osis beranjak dari kursi dan mendekati Satya.
ketua Osis tiba-tiba memeluk Satya dan terlihat membisikkan sesuatu di dekat telinganya.
Gerakan tiba-tiba ketua Osis membuat Naomi terkejut, padahal posisi Satya dan dirinya hanya 30cm dari sofa yang mereka duduki.
Wajah Naomi nampak jengkel dengan mengerutkan dahi seperti kesetanan. Naomi berusaha tidak melihat respon Satya ketika ia dipeluk oleh tantenya.
"Aku Linda," ucap ketua Osis memperkenalkan diri setelah memeluk Satya sambil berjabat tangan.
"Aku belum sanggup, jika terjadi sesuatu," ujar Satya
"Aku tidak memaksamu," balas Linda.
"Terima kasih, nanti akan aku beri kabar selanjutnya padamu," ucap Satya meninggalkan ruang Osis bersama Naomi.
Tap ... tap ...
Mereka berjalan menelusuri lorong kelas 2, tidak ada pembicaraan apapun selama menuju aula utama.
"Sepertinya perjanjian sebelumnya aku tidak akan mengganggumu lagi mulai dari sekarang," ucap Satya pada Naomi setelah sampai aula utama sekolah.
Naomi terdiam sesaat dengan wajah murung, "I-Ini jam berapa?" cetus Naomi tergugup menunjukkan senyum yang dipaksakan.
Satya bingung ketika mendengar pertanyaan teman sekelasnya, "Bukannya lensa sudah ada jam didalamnya?" selidiknya dengan nada datar.
Tangan kanan Naomi memegang lengan kirinya, "Yah, jam digitalku error," balasnya beralasan.
"Sekarang pukul 5 sore." ucap Satya, "Sepertinya sebentar lagi perpustakaan akan tutup kamu harus segera mengambil barangmu yang tertinggal," tutur Satya.
"Apa kita masih bisa bertemu?" tanya Naomi kembali.
"Pertanyaan macam apa itu?! Kita teman satu kelas," jawab Satya tertawa kecil.
"Aku hanya ingin bilang seperti itu saja," balas Naomi tertawa kecil.
"Baik aku sudahi dulu ya, dah! Sampai besok!" ucap Satya pergi menuju lapangan hendak memberitahu rencananya pada mereka.
***
Swooshh ... Jleb ... Swoosh ... Jleb ...
Anak panah melesat tajam mengenai target latihan.
Tet ...
"Kecepatan tembak 120km/jam," ucap robot yang memberi semua informasi tembakan saat mengenai target bidik.
"Wow! Badanmu kecil tapi daya serangmu kuat juga," ucap Foxie pada Felicia.
"Hehe ... sebenarnya saat masih smp aku sering memenangkan lomba memanah hingga tingkat Nasional," terang Felicia kembali mengambil anak panah yang berada di pinggulnya.
Swoosh ... Jleb ...
"Kecepatan tembak 130km/jam," ucap robot.
"Wow! aku kira itu kecepatan maksimalmu." puji Foxie kembali, "Kini giliranku," sambungnya.
Foxie kembali menegakkan tubuh posisi sempurna, tangan kiri memegang busur dan tangan kanan memegang panah beserta tali panah yang dikaitkan.
Foxie menarik anak panahnya hingga tangan kanan sejajar dengan bahu kanan.
Swooshh ... Jleb ...
Tiba-tiba tombak melesat dan menukik melewati kepala Felicia dan Foxie yang tengah bersiap menembak.
"Kecepatan tembak 180km/jam," ucap Robot.
Foxie yang terkejut mendengar suara robot itu berucap. Ia tidak sadar sedikit mengendurkan tangannya dan anak panah terlepas dari cengkraman.
"Ha!" kejut Foxie melihat anak panah yang ia genggam terlepas.
"Kecepatan tembak 80km/jam," ucap Robot.
Ia segera menengok arah melesatnya tombak tersebut yang melewati dirinya dengan wajah cemberut.
"Berhentilah menjahiliku Asher," ucap Foxie mengrenyitkan dahinya.
"Hehe ... maaf aku kira tidak ada yang memakai arena ini," balas Asher tertawa kecil.
Felicia hanya terdiam melihat mereka berseteru dan lebih memilih kembali berlatih memanah.
Foxie masih memasang wajah cemberut pada Asher. Kemudian, Ia baru menyadari sesuatu yang hilang pada latihan kali ini.
Foxie melihat sekeliling gedung olahraga, "Asher, kemana perginya Satya?" tanya Foxie yang satu regu dengannya.
"Dia pergi kesuatu tempat," jawab Asher.
"Dimana tempatnya?" selidik Felicia dengan wajah khawatir.
"Aku tidak tahu tempatnya yang jelas dia sedang berusaha membuat rencana ini berhasil," terang Asher pada mereka berdua.
"Rencana apa lagi kali ini?!" ucap Foxie terheran.
Whoosh ... Kreekk ... Klek
Cahaya dari luar masuk melalui pintu membuat semua orang yang berada didalam langsung menyadari seorang telah masuk.
"Panjang umur Satya, kami baru saja membicarakanmu." celoteh Asher menyapa kawannya, "Bagaimana rencanamu hari ini?" tanya Asher melihat Satya yang mendekat kearahnya.
"Aku harap itu benar." balas Satya, "Sesuai dengan bayanganku, Asher besok minta seseorang untuk mengurus regumu dan reguku," pinta Satya yang kini sudah ada di depan matanya.
"Untuk apa?!" tanya Asher kurang memahami maksud Satya.
"Aku akan mengajakmu bernegosiasi dengan beberapa orang, kamu bantu aku," jawab Satya menepuk pundak kawannya.
"Ok, akan aku lakukan," balas Satya.
"Kalian mau kemana?" tanya Foxie saat mendengarkan percakapan kedua teman laki-lakinya.
"Kami akan pergi bernegosiasi kembali dengan seseorang," balas Satya.
"ohh, nanti aku kabari ke Arlo," balas Foxie.
"Apa kamu jago memanah?" tanya Asher pada Satya yang kini ia anggap sahabat terbaiknya.
"Aku tidak pernah mencobanya," balas Satya.
"Ayolah coba saja, aku tidak pernah melihatmu melakukan sesuatu dengan serius kecuali dengan semua rencana yang kamu buat ini," ucap Asher.
"Aku sedang tidak bersemangat olahraga kali ini," keluh Satya.
Asher langsung memaksa Satya dengan memberi busur dan panah, "Coba saja, tembak objek itu," tunjuk Asher mengarah ke sebuah target manekin.
"Coba saja tembak target itu," ucapnya," ujar Foxie.
"Ha! Kenapa kalian memaksaku ... hanya satu kali saja dan aku mau berlatih hal lain!" oceh Satya pada mereka.
"Baiklah terserah padamu saja. Tapi, jika kamu bisa mengenai target bagian kepalanya," tantang Asher pada kawan pemalasnya.
Satya tidak membalas ucapan temannya. Ia pun langsung membidik kepala manekin yang berjarak 25 meter, ia menari anak panah kebelakang.
Whooshh ... Jleb ...
Anak panah langsung melesat tajam mengenai kepala manekin. Tanpa berbicara sepatah dua kata Satya pergi menaruh busurnya di pembatas.
Tet ...
"Kecepatan tembak 160km/jam," ucap Robot.
Asher, Foxie dan Felicia hanya melihat Satya pergi meninggalkan mereka yang hendak mengejek Satya.