"Beberapa minggu ini Satya sering pulang malam, apa dia punya banyak tugas yang menumpuk di sekolah?" gumam Anstasya akhir-akhir khawatir akan kegiatan adiknya yang sering pulang malam.
Anastasya melirik jam digital yang kini menunjukkan jam 8 malam. Ia kembali melamun di ruang tengah menatap layar tv hitam di sofa panjang sambil memeluk bantal.
Swooshh ... kreek ... klek ...
Pintu rumah terbuka Anastasya segera mendatangi arah pintu dan ia kembali kecewa, sebab yang muncul bukanlah orang yang ada dipikirannya saat ini.
Anastasya langsung memberi wajah masam yang tidak sadar dilihat oleh adik laki-lakinya.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Kyle menenteng makan yang berada didalam plastik.
"Aku kira itu Satya," jawab Anastasya kembali ke sofa dalam posisi tertelungkup dengan wajah terbenam bantal.
"Kenapa khawatir dia sudah remaja, dia juga bukan perempuan tidak ada yang salah jika dia pulang malam terus." balas Kyle duduk di sofa tunggal menaruh makanan ringan dimeja sambil menyetel tv, "Apa kamu mau?" tawar kyle menunjukkan kue kering pada kakaknya.
Anastasya melambaikan tangannya, "Aku tidak moau." balasnya tidak jelas karena wajahnya masih terbenam bantal.
"Kakak yakin mau nolak kue kering ini?" pancing Kyle sambil membuat bunyi-bunyi seolah makanan yang ia makan adalah makanan terenak.
"Lagian kenapa kakak khawatir banget sih sama Satya padahal dia bukan adik kandung kakak," keluh Kyle menatap detil kue kering yang akan dimakannya.
Napas Anastasya tiba-tiba tersesak. Ia langsung mengangkat wajahnya dari bantal, "Fuu ... haaa ... b-bicara apasih dia sudah jadi keluarga kita, adik kandung atau bukan! Satya tetap jadi adikku dan adik kamu juga," demikian tegur Anstasya pada adiknya.
"Lagian sedari tadi murung terus, jadi sengaja aku pancing!" balas Kyle menyodorkan kue kering pada kakaknya.
Anastasya langsung mengambil kue kering dari adiknya dan langsung memakannya.
"Gimana enak enggak rasanya?" tanya Kyle pada kakaknya.
"Enak banget! Kamu beli dimana?" tanya Anastasya.
"Aku beli di toko kue sewaktu dulu kita bertiga beli patungan untuk ulang tahun kakak," jawab Kyle tersenyum.
"Hhmm, apa iya?!" jawab Anastasya bingung.
"Waktu dulu kakak ulang tahun ke 10. Dulu ibu beli kue yang dihias kado." ucap Kyle "terus enggak sengaja kesenggol, jatuh deh akhirnya, inget enggak?" sambungnya sambil fokus memakan kue kering.
"Hhmm, enggak inget," jawab Anastasya terlamun.
"Haha, yang penting ga fatal," balas Kyle tertawa.
Whoosh ... kreek ... klek ...
"Siapa itu?" selidik Anastasya beranjak dari sofa dan menuju pintu.
Tap ... tap ... tap ...
Anastasya langsung mematung melihat adik bungsunya yang tengah melepas sepatu sembari bersender menunggunya.
Satya menaruh sepatu ke dalam rak yang berada di dekat pintu.
"Kamu udah makan belum Satya?" tanya Anastasya pada adiknya yang tengah melewati dirinya.
"Ahh ... aku cape males makan," balas Satya dingin.
Satya berjalan menuju tangga yang berada disebelah kirinya, "Hay, kak Kyle!" sapa Satya yang berada di ruang utama.
"Ya ... mau enggak?" tawar Kyle yang tengah sibuk memakan kue kering.
Satya sudah tidak terlihat di pandangan Kyle karena terhalang dinding, "Taruh aja di kulkas." jawab Satya "Aku ngantuk mau tidur," sambungnya
"Ini kue kering masa ditaruh ke kulkas?!" kejut Kyle terheran.
"Yah terserahlah!" seru Satya menggema hingga terdengar dari bawah.
Anastasya merasa kesal terhadap adiknya, "Tuhkan, Satya bisa dingin banget,"
Kyle hanya menanggapi dengan senyuman saja, "Ya udahlah dia lagi capek juga,"
"Tapi ini baru jam setengah 8 loh," rengek Satya.
"Bukannya kakak udah tau? kalo jadwal Satya beberapa minggu ini padat." terang Kyle, "Sebentar lagi ujian semester dan ini pertama kalinya bagi Satya harus melewati ujian F.K16, bukannya itu wajar?" tuturnya.
Anastasya hanya terdiam mendengar keterangan Kyle. Kedua kakak Satya, sejak memasuki bangku SMA tidak pernah mengikuti ujian F.K16 karena kepintaran yang dimiliki mereka hingga menjadi sangat mustahil untuk masuk.
***
Satya langsung tersungkur di kasur magnet dengan kringat yang masih menempel pada tubuhnya. Kaki yang belum sepenuhnya ke kasur magnet dan hanya menggoyang goyangkan kaki serta matanya menatap langit-langit lampu redup.
"Lean, data siswa!" perintah Satya pada AI lensanya, "sambungkan ke speaker bluetooth dan jelaskan secara rinci," titahnya.
AI milik Satya bergender wanita, "Baik, tuan!" balas Lean, "Bluetooth terkoneksi memulai menjelaskan,"
Satya melucuti semua pakaian yang menempel pada tubuhnya, tak lupa ia melepas earphone dan lensa yang terpasang pada mata serta telinganya. Ia langsung pergi keluar dari kamar berniat untuk membasuh tubuhnya yang penuh dengan keringat.
"Jhonas Blake, kelas 3A keahlian dapat mengenali seluruh makanan beracun dan dapat membuat penawarnya,"
"Jin Huang, kelas 3D Ahli beladiri taekwondo serta dapat membuat peta topografi dan mengenali lingkungan baru dengan mudah,"
"Aziel Blake kakak dari Jhonas Blake kelas 3F Ahli berburu serta menggunakan berbagai jenis jebakan,"
"Miko Hwang, kelas 2B Ahli dalam membuat sebuah kamuflase,"
... washh ... wash ... klik ...
Shower telah dimatikan Satya mengelap tubuh dan memakai handuk, setelahnya ia langsung kembali ke kamar.
Satya memilah baju dan langsung memakai pakaian tidur berbintik hitam, ia pergi ke meja belajar dan membuka laptop. Ia membuka media sosial serta website sekolah menilik satu persatu kegiatan mereka hingga larut malam.
***
Tring! ... tring ...
Alarm berbunyi kencang, Satya tertidur di meja belajar dengan laptop menyala.
Matanya langsung terbelalak melihat jam waker menunjukkan jam 6.30 pagi. Ia mandi dan pergi menuju sekolah dengan terburu karena tak mau kejadian memalukan itu menghampirinya.
"Satya, sarapanmu!" seru Anastasya melihat adiknya terburu-buru pergi keluar, "Lagi-lagi seperti ini," gumamnya melihat makanan yang telah disediakannya sembari membawanya ke lemari.
Satya berlari sekencang mungkin, "Hah ... hah Aku harap kali ini tidak telat," gumamnya terengah-engah.
Bus sekolah sudah di depan matanya. Ia mulai memelankan langkahnya, "Aku berhasil sampai," batinnya sambil menarik napas panjang.
Di saat yang sama Felicia berada di belakang Satya, "Satya kita ketemu lagi disini, rasanya seperti Deja vu," ungkapnya.
"Hah?" Satya tidak mendengar sebagian ucapan Felicia.
"Tidak jadi, yuk duduk disana!" seru Felicia menunjuk bangku kanan deret ke 4.
Felicia duduk didekat jendela bersebelahan dengan Satya yang masih terlihat menarik napasnya.
20 menit perjalanan.
Felicia sesekali bersender di pundak Satya sambil memegang tangannya yang lebih besar dari Felicia.
Wajah Satya begitu tegang saat itu, bukan gugup karena Felicia melainkan karena pandangan penumpang yang mayoritas laki-laki menatap tajam dirinya. Satya hanya memejamkan mata lalu memalingkan pandangannya kearah jendela yang berada di dekat Felicia.
Bus telah berhenti di sekolah Boulevard.
"Sudah sampai!" ucap Satya menepuk pipi tirus milik Felicia, "Jangan terlalu nyaman," sambungnya.
"Mmhhm, maafkan aku," ucap Felicia.
Mereka beranjak dari kursi penumpang dan turun dari bus. Felicia mendahului Satya yang berada di belakangnya.
Satya langsung tertelungkup tidur di bangkunya dengan menggunakan tasnya.
Naomi mengendap-endap dan langsung menggebrak meja Satya.
Brakk! ...
Gebrakan keras mengagetkan seluruh kelas, termasuk Satya yang menjadi korban pertama Naomi dipagi hari.
"Kenapa kamu terlihat lesu?" selidik Naomi melihat wajah Satya
"Aku habis begadang," jawab Satya masih berusaha tidak terlelap dengan tas sebagai bantal serta wajahnya mengarah kesamping kanan.
"Pasti karena rencana yang kamu buat saat ini ya?" selidik Naomi yang berdiri berada disebelah Satya.
Satya hanya menyeringai tidak mengeluarkan sepatah katapun pada Naomi.
Asher datang dari belakang merangkul Satya, "Hei, begadang lagi ya?" selidiknya sambil menjepit leher Satya sedangkan Naomi kembali ke bangkunya.
Satya melepas rangkulan temannya, "Beri aku waktu satu jam dan jangan bicara padaku,"
"Ok," balas Asher melangkah menuju bangku yang berada disamping kirinya.
Ting-ting ... ting-ting ...
Jam pelajaran pertama telah dimulai, hari ini sedikit berbeda karena pelajaran hari ini adalah ujian harian MTK.
"Selamat pagi!" seru ibu Valerie menyapa.
"Selamat pagi bu!" sapa murid-murid.
"Oh iya, sesuai kesepakatan hari ini kita ujian harian." tutur ibu Valerie, "Baik, aku beri kalian lima menit untuk membaca kembali catatan kalian hari ini," sambungnya.
Mereka kini terlihat serius dari pada sebelumnya setelah F.K16 tinggal hitungan minggu mungkin itu yang membuat mereka terlihat berbeda.