CHAPTER 29

1551 Kata
"Apa semua sudah dapat soalnya?" tanya ibu Valerie. "Sudah bu!" seru salah satu murid. "Latihan ujian diberi waktu 30 menit dari ... sekarang!" seru ibu Valerie memberi aba-aba pada anak didiknya. Semua terlihat sangat serius saat tengah latihan ujian Matematika. Matematika menjadi pelajaran tersulit diantara pelajaran lainnya, teknik hitungan yang sangat beragam membuat murid-murid enggan berlatih serius. Tapi kali ini berbeda mereka sengaja melawan rasa malas demi bisa melewati ujian F.K16 yang semakin dekat. Whuushh ... whussh ... Ditengah keheningan kelas suara penyaring udara yang tadinya senyap saat ini menjadi sangat berisik, mengganggu sebagian dari siswa-siswi. "Aku belum terbiasa dengan hal ini!" gumam salah satu murid perempuan. Tidak sampai 20 menit kelas menjadi sedikit ramai, hilangnya fokus mereka menjadi berantai. *** "Fyuh, dari 20 soal hampir semua cara menghitungnya berbeda-beda," protes siswi kelas 10E. "Aku tidak yakin nilai kita bisa menjadi tinggi," balas siswi lainnya. Ibu Valerie sibuk memberi nilai pada murid-murid setelah itu ia langsung mengirim kembali semua soal kepada anak didiknya. Triing ... bunyi notifikasi berasal dari meja murid-murid telah menerima semua nilai sesuai nama mereka. "Hah! Aku dapat nilai 40!" kejut siswa pria, ia memukul meja berkali-kali karena nilai yang didapat tidak cukup baik untuk masuk 100 peringkat besar. Rasa kecewa dan hampir putus asa menghampiri diri mereka yang mendapat nilai tidak memuaskan. Berbeda dengan mereka yang mendapat nilai sempurna, mereka terlihat bahagia karena usahanya tidak sia-sia. "Satya! Kamu dapat nilai berapa?" tanya Naomi menoleh kearah Satya. Satya tidak membalas ucapannya melainkan ia menunjukkan nilai pada Naomi secara langsung dengan menggeser file yang tertera pada meja Satya ke Naomi. "Hah!" Naomi terkejut melihat nilai 100 dengan nama Satya Pranaditya yang tertera soal ujian hari ini. "Wah kenapa kamu bisa mendapat Nilai 100?" selidik Naomi kebingungan. Wajah Satya yang terlihat lusuh karena kurang tidur hanya bisa berkata pelan saja, "Kakak perempuanku suka mengajariku soal Matematika ..." "Sejak kecil?" selidik Naomi. Satya hanya mengangguk lemah. Naomi merasakan ada yang menyentuh punggungnya dua kali, ia pun menoleh arah kebelakang, "Ada apa?" "Nilaiku sangat cukup jika untuk pamer saja," balas Naomi dingin. "Hehe ... seperti biasa kamu sangat dingin jika berbicara padaku," ucap Asher tertawa kecil. "Tolong arahkan pandangan kalian padaku," tegur ibu Valerie mulai menulis sesuatu pada papan digital. "Seperti yang kalian tahu, nilai kalian saat ini masih belum cukup memuaskan. Beberapa dari kalian masih mendapat nilai buruk." tutur ibu Valerie, "Khusus untuk kalian yang mendapat nilai rendah ada satu pertanyaan. Apa kalian benar-benar sudah belajar?" selidik bu Valerie menatap murid-murid yang mendapat nilai rendah. Sesaat tidak ada tanggapan sama sekali dari murid-murid kecuali sikap mereka berubah menjadi sedikit murung. "Apa kalian ingin mengikuti F.K16? Jika iya lebih baik pikirkan kembali." terang ibu Valerie, "Ibu tau beberapa dari kalian berpikir F.K16, seperti permainan tapi tidak sesederhana itu, kalian diwajibkan membunuh satu sama lain bahkan kawanmu sendiri bisa membunuhmu hanya demi bertahan hidup. Pikirkan kembali!" tutur ibu Valerie. Suasana kembali menjadi sangat hening, walau hanya perkataan yang keluar dari mulut ibu Valerie mereka dapat membayangkan dengan sangat jelas kengerian ujian F.K16. "Ingat! jangan pernah berpikir kalian bisa melewati F.K16 tanpa harus membunuh itu benar-benar sangat mustahil kecuali jika keberuntungan berpihak padamu," tegur ibu Valerie berkali-kali pada anak didiknya. Ting-ting ... ting-ting ... Bell pergantian pelajaran telah menyelamatkan mereka dari ketegangan yang dibuat ibu Velerie. "Tadi sungguh sangat menegangkan, aku tidak bisa berkata apa-apa hingga di selamatkan oleh bell," oceh murid-murid yang merasa terselamatkan. "Asher! Temani aku sebentar menuju kamar mandi," ajak Satya sudah berdiri disebelah Asher. "Ok, lagi pula aku sedang bosan di kelas ini," balas Asher. Saat hendak melangkahkan kakinya Arlo memergoki mereka, "Kalian mau kemana?" "Kami mau ke kamar mandi, apa kamu mau ikut?" tawar Satya. "Aku ikut, kerongkonganku kering," balas Arlo. Mereka pergi keluar dari kelas hendak menemani Satya sambil menyegarkan isi kepala. "Aku sedikit penasaran dengan rencana Arlo Grissham, mengapa dia begitu ngotot untuk mengikuti F.K16?" selidik para gadis mulai bergunjing tentang mereka. "Arlo, Asher, Satya dan baru-baru ini aku mendengar Foxie mengikuti F.K16," balas salah satu murid. "Aku mendengar banyak sekali tentang mereka, bahkan hal-hal buruk yang dulu mereka lakukan," ucap murid gadis masih bergunjing tentang mereka. "Hah! Hal buruk seperti apa?" selidik gadis mulai tertarik dengan ucapan mereka. "Aku mendengar dari mereka, korban langsung Asher Carrington, menurut pengakuan mereka gadis-gadis ini pernah digauli olehnya," jawab salah satu gadis. "Apa benar begitu?" selidik salah satu gadis yang baru saja mengikuti pembicaraan mereka. "Iya benar, aku mendengarnya langsung dari sekolah. "sepertinya ini bisa menjadi berita bagus," gumam gadis tersebut. orang itu pergi keluar kelas untuk. Tuut ... tuut ... "Halo!" sapa si penelpon. "Aku ada informasi bagus untukmu," balas siswi 10E. "Informasi apa? Katakan saja waktuku tak banyak," terang si penelpon. "Asher Carrington, pernah menggauli beberapa gadis di sekolah ini!" jelasnya dengan bersemangat. "Beri aku bukti maka akan aku percayai!" balasnya langsung mematikan sambungan. Gadis itu langsung tersenyum lebar. *** "Apa kalian berpikir untuk membuatnya menjadi hal baru?" tanya Satya duduk di kursi bersebelahan dengan vending machine sambil memegang kopi dingin. "Maksudmu? Aku hampir tidak memahami maksudmu Satya?!" balas Asher. "Setelah melawati ujian F.K16 ini? apa yang akan kalian lakukan?" tanya Satya. "Aku pikir tidak ada yang berubah setelah F.K16 ini berakhir, nanti akan ada F.K16 selanjutnya. Ini akan berulang sampai kita kelas 3 SMA," balas Asher. Glup-glup ... glup ... Arlo meneguk cepat minuman yang dipegangnya, "Ahh, segarnya! Kalian berpikir terlalu jauh, ikuti saja rencana yang sedang kita lakukan," tanggap Arlo cepat. "Hhmm, ucapanmu layak untuk didengar," balas Asher setelah meminum habis kopi dingin yang ia pegang sambil meremas kuat wadah kaleng lalu membuangnya ke tempat sampah. "Asher, Arlo, ayo kita kembali," ajak Satya mengajak temannya. Arlo dan Asher mengikuti langkahnya pergi menuju kelas. Sesampainya ia di kelas ia mendengar seorang guru sedang menjelaskan sesuatu di kelas mereka bertiga. "Satya apa kamu mendengar suara itu?" tanya Asher pada kawannya. "Aku mendengarnya juga, itu sangat jelas tedengar," jawab Satya berhenti sejenak mulai mengamati lewat pendengarannya. Swoosh ... kreek ... klek ... Tanpa ragu Arlo segera membuka pintu masuk, "Permisi pak," ucapnya tersenyum seram. Guru pria yang melihat Arlo mematung, seolah melihat monster dihadapannya. "Kenapa dia langsung masuk?!" ungkap Asher terkejut melihat Arlo masuk ke kelas. "Ayolah kita ikuti Arlo masuk," ajak Satya. Mereka mengikuti langkah Arlo masuk kelas, "Permisi pak ..." ucap mereka berdua berbarengan. "Kalian berhenti!" tegur pak guru. Satya dan Asher langsung terdiam menoleh, kearah pak guru. "Kenapa kalian terlambat?" tegasnya menatap tajam kedua murid. "Habis ke kamar mandi pak!" jawab Asher. "Kenapa bisa sampai terlambat?" selidik pak guru. "Kami istirahat sebentar untuk minum," jawab Satya. "Minum katamu?! Sebentar lagi istirahat sabarlah!" sentak pak guru pada kedua muridnya, "Pergilah! Jangan ikut pelajaranku hari ini!" sambungnya. Satya dan Asher langsung keluar dari kelas, "Hhmm hari ini kita sungguh sial," gumam Asher. "Kita sependapat, Arlo masih di dalam sedangkan kita ada diluar sangat tidak adil," balas Satya. "Aku benci mengatakan ini, untungnya kita tidak perlu khawatir akan nilai." ucap Asher lega walau sesak, "Kita mau kemana?" sambungnya. "Ke kantin saja," jawab Satya melangkah terlebih dahulu menuju kantin. "Apa kita perlu melapor pada pada guru?" tanya Asher mengikuti langkah Satya. "Tidak perlu! Kita masih banyak urusan," jawab Satya dingin. "Baiklah," balas Asher percaya pada ucapan Satya "Satya, sebentar lagi istirahat apa kamu ingat janji kita kemarin?" selidik Satya menguji ingatan kawannya. "Aku ingat hampir semua ucapanmu kemarin," balas Asher. "Kita akan melakukannya setelah bell istirahat berbunyi," tutur Satya. "Apa kamu percaya akan ucapanku?" tanya Satya dingin masih berjalan menuju kantin. "Aku percaya akan ucapanmu!" seru Asher semangat. "Lebih baik jangan percaya akan semua rencanaku, jika sesuatu saat semua rencana ini gagal, kamu punya rencana cadangan lainnya," tutur Satya. "Mengapa kamu berkata seperti itu?" selidik Asher. "Antisipasi jika terjadi sesuatu padaku," jawabnya. "Baiklah akan aku percayai semua ucapanmu," balas Asher. Mereka duduk di meja tempat biasa mereka berkumpul di kantin. "Satya, ini pertama kalinya aku membolos pelajaran, kantin ini terlihat sangat berbeda," ungkap Asher tersenyum geli. "Aku sudah mengalaminya," balas Satya. Ruang kantin yang luas, hanya berisi kursi tanpa pemakai membawa kesan sunyi. Walaupun ada 7 orang di kantin termasuk pemilik kantin dan pegawainya. Banyak poster-poster digital klub tertempel di kantin ini terkadang poster kelompok F.K16 ikut terpampang untuk mencari sebuah anggota baru. Aroma makanan yang menusuk-nusuk penciuman sering kali memancing pelanggan datang kecuali saat jam pelajaran berlangsung. "Apa kamu mau pesan sesuatu?" tawar Asher. Tersenyum tipis, "Boleh saja asal kamu yang bayar," jawab Satya pada rekannya. "Baiklah lagi pula aku punya hutang banyak padamu," balas Asher. Asher pergi menuju pelayan kantin, "Permisi tolong pesankan aku 2 kopi dingin serta kue kering," "Baik, tunggu sebentar akan kami persiapakan terlebih dahulu," balas Pelayan. 5 menit kemudian ... Pelayan memberikan nampan berisi pesanan, "Ini tuan," "Terima kasih," balas Asher. "Bukannya pelajaran belum selesai ya?" selidik Pelayanan. "Iya belum, kami tidak di perbolehkan mengikuti pelajaran hingga selesai." jawab Asher, "Mungkin setelah ini kami akan kembali di panggil oleh wali kelas," sambungnya. "Oh aku mengerti, semoga harimu menyenangkan," balas Pelayan. "Terima kasih," ucap Asher sembari menenteng nampan berisi pesanannya menuju Satya. "Kenapa lama sekali?" keluh Satya menunggu temannya tak kunjung datang. "Aku sedang berbincang pada pelayan sebentar," balas Asher sambil menaruh nampan yang ada di meja. "Aku harap itu bukan pembicaraan tentang situasi kita saat ini," ujar Satya. "Tebakanmu memang tak pernah salah," puji Asher sembari menyeruput kopi dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN