CHAPTER 30

1198 Kata
Ting-ting ... ting-ting ... "Baik, berhubung jam pelajaran telah berakhir, silakan istirahatlah terlebih dahulu," ucap Pak guru. "Akhirnya aku bisa lepas dari pelajaran ini," ucap siswa beranjak dari kursinya. Keadaan menjadi ramai setelah palajaran selesai, tak ada rasa tegang yang menghambat para pelajar, ekspresi mereka langsung berubah ceria. Naomi mendatangi Arlo, "Arlo bukannya tadi mereka pergi bersamamu kenapa hanya mereka saja yang dihukum?" protesnya. "Kenapa kamu tanya padaku?! Aku tidak tahu isi pikiran guru itu," balas Arlo "Ayo ke kantin!" ajak Naomi, "Pasti mereka saat ini berada disana," sambungnya. "Foxie apa kamu mau ikut kami?" tawar Arlo pada teman sekelasnya. "Hah?! Nanti aku menyusul," balas Foxie sedang melakukan sesuatu. "Ok baiklah, akan aku tunggu," ucap Arlo meninggalkan Foxie di kelasnya. Tap-tap ... Arlo dan Naomi berjalan menelusuri lorong kelas hendak menuju kantin, Banyaknya jendela di sepanjang lorong membuat sirkulasi cahaya menjadi sangat baik, walau begitu udara di bumi sangat buruk dan tidak sebanding dengan hangatnya cahaya. "Apa kamu yakin saat ini Satya dan Asher sedang berada di kantin?" tanya Arlo. "Aku yakin! Firasat seorang perempuan tidak pernah salah dalam menilai yang tak pasti," ucap Naomi dengan percaya diri. *** "Mereka ada dimana?" ucap Naomi kebingungan melihat ramainya pengunjung kantin. "Apa kamu masih yakin firasat perempuan selalu benar?" ledek Arlo, "Aku hanya Felicia di meja biasa kita duduk," sambungnya. "Aku juga tahu itu, mungkin mereka sedang memesan sesuatu hingga harus meninggalkan Felicia sendirian," balas Naomi masih sibuk mencari-cari Satya dab Asher. "Sedang apa kalian!" seru Foxie memergoki keberadaaan Arlo dan Naomi saat sedang mengamati dari kejauhan. Eeehh!" ucap Naomi terkaget mendengar ucapan Foxie, "Fyuhh, aku pikir kamu itu orang asing yang mau menyergapku," sambungnya mengelus d**a. "Maaf jika aku telah mengagetkanmu," ucap Satya. "Tak apa, jantungku masih kuat kok," balas Naomi. "Apa yang telah kalian lakukan?" tanya Foxie. "Aku sedang mencari Satya dan Asher," balas Naomi. "Kenapa kalian berdiri disini?" selidik Foxie masih melihat gerak-gerik temannya. "Jangan pernah berpikir kalau kami mengintai," ucapnya dingin. "Hhmm itu cuma tebakanmu saja," balas Foxie, "Ayolah kita berkumpul dengan Felicia, sepertinya jika disana kita dapat lebih banyak informasi tentang mereka," rengek Foxie. Naomi menurut permintaan Foxie, yang hendak menghampiri Felica. "Felicia!" seru Foxie sembari memeluk teman sebayanya. "Kemana Satya dan Asher?" tanya Felicia. "Aku kira ia bersama kalian?!" jawab Felicia ikut kebingungan, "Apa sedang terjadi sesuatu pada mereka?" selidik Felicia. "Iya, seperti yang kamu pikiran saat ini," balas Naomi "Mereka tidak boleh mengikuti pelajaran sampai jam pelajaran selesai," ujar Foxie. "Hallo, Arlo! Ini Asher," ucapnya. "Halo! Iya aku tahu," balas Arlo menjawab panggilan. "Apa kalian semua berkumpul di kantin?" "Oh, iya mereka ada disini!" jawab Arlo. "Kami sekarang berada di ruang konseling," ucap Asher. "Apa?! Aku tidak bisa mendengarnya disini sangat ramai," balas Arlo menutup telinga sebelahnya. "Kami berada di ruang konseling!" teriak Asher merasakan situasi yang dialami saat ini. "Kalian berada di ruang konseling?!" kejut Arlo mendengar percakapan, "Apa kalian butuh bantuab dari kami?" Asher langsung menutup sambungan terburu-buru. "Ada apa Arlo?" tanya Foxie dengan respon cepat karena Arlo "Satya dan Asher saat ini berada di ruang konseling," jawab Naomi. Foxie menggeleng, "Hhhmm, kenapa selalu mereka yang mendapat masalah," "Apa mereka meminta bantuan dari kita?" tanya Felicia. "Mereka tidak membutuhkan bantuan saat ini, tunggulah!" seru Arlo. "Mari kita duduk dan memesan sesuatu agar tidak terlalu gelisah," ucap Arlo. "Baiklah aku akan pergi menuju ruang guru untuk menemui mereka!" seru Naomi. "Sabarlah! Tunggu saja sampai ia kembali kesini," ucap Arlo berusaha mengghentikan Naomi, "Jika mereka masuk ruang konseling, itu bukanlah hal besar," sambungnya. "Aku akan berusaha mempercayaimu!" balas Naomi walau pikirannya sedikit kacau memikirkan teman prianya. *** Swooshh ... kreek ... klekk ... "Cepat-cepat tutup panggilanmu ..." seru Satya lirih sambil menyenggol lengan Asher. "Sudah aku tutup panggilannya tenanglah," ujar Asher "Baiklah, masalah apa lagi yang telah kalian lakukan?" selidik ibu Valerie pada anak didiknya sembari membuka laporan E.B.D miliknya. "Kami hanya ke toilet sebentar setelah itu kami mampir ke Vending machine sembari istirahat," tutur Satya. "Laporan disini sedikit berbeda." ucap ibu Valerie, "Dari laporan kalian sengaja membolos pelajaran," sambungnya. "Tidak, itu benar-benar sangat berbeda dari faktanya," ucap Asher, "Faktanya kami bertiga Arlo, Aku dan Satya pergi ke kamar mandi bukannya berdua," bela Asher. "Ok baik, aku akan percaya jika ada seseorang yang melihatnya langsung," terang ibu Valerie. "Kenapa tidak cek rekaman dari kamera lensa yang kami miliki?" tawar Asher. "Aku baru memikirkannya." balas ibu Valerie ke siswa, "Tapi, kenapa kamu bisa tau kegunaan tersembunyi lensa ini?" sambungnya. "Aku kebetulan mengetahui ini dari teman perempuanku," balas Asher. "Rahasiakan ini dari yang lain!" ancam ibu Valerie. "Iya terserahlah, semuanya," balas Asher. "Aku akan keluar terlebih dahulu," ucap ibu Valerie meninggalkan ruang konseling. 10 menit berlalu ... Whoosh ... kreek ... klek ... Ibu Valerie masuk kembali, ia segera duduk, "Sesuai bukti yang ada kalian tidak bersalah, sekarang kalian bebas keluar ingat! Jangan pernah terlibat masalah," Asher tersenyum, "Sepertinya itu akan sulit untuk kami," sembari menatap kawannya. "Iya seperti itulah! Mungkin kami akan sering mengalami masalah, hidup tanpa masalah tidak akan membuat kami berkembang," balas Satya menaikkan sebelah garis bibirnya. Whoosh ... Kreek ... klek ... Satya serta Asher segera keluar dari ruang konseling, mereka sempat berpapasan dengan pak tua sesaat setelah bertemu di kelas. Pak tua itu pergi sambil membawa peralatannya keluar dari ruang guru. "Apa pak tua itu di keluarkan dari sekolah?" selidik Satya memperhatikan pak tua. "Mungkin saja, biarlah itu bukan urusan kita," balas Asher berjalaab di belakang Satya. Whoosh ... Kreek ... klek ... Satya membuka pintu keluar ruang guru, "Sepertinya aku, sedikit berlebihan soal tadi," "Haha ... biarlah ... paling tidak, kita bisa menyombongkan diri," balas Asher tertawa keras. "Ayo kita lanjutkan rencana yang tertunda ini," ajak Satya pergi meninggalkan ruang guru. "Kita mulai dari mana?" tanya Asher. Satya memperhatikan langkahnya, "Kita akan memulai dari kelas 2 terlebih dahulu," "Kalau begitu aku akan menghubungi teman kita agar tidak terlalu khawatir," tutur Asher menjauh dari mereka. *** "Biasanya berapa lama mereka di ruanv konseling?" tanya Felicia. "Lebih cepat dari pada ruang isolasi." terang Arlo yang sudah pernah masuk ruang konseling, " Apa perkiraanku benar?" "Aku kira akan lebih lama dari ruang isolasi," balas Felicia, "Sangat benar," sambungnya mengacungkan jempol. Slurrpp ... "Sebentar lagi jam istirahat berakhir, kenapa terasa begitu cepat," ungkap Foxie sembari menyeruput jus buah. "Banyak dari kalian mungkin tidak menyadarinya, Beban pikiran yang banyak terkadang membuat presespsi waktu sedikit cepat atau lambat tergantung pemikiran seorang," ujar Naomi menyendokkan kue lalu ia arahkan ke mulut. "Aku tidak tau jika ada teori seaneh ini," celoteh Foxie sedikit menyindir ucapan Naomi. "Ya begitulah, jika kalian terlalu fokus menggunakam otot," balas Naomi menyombongkan diri. "Sudahlah, kita punya urusan yang tertunda, janganlah membuat urusan lain," lerai Arlo. Triing ... Muncul dering sambungan suara berasal dari lensa, "Asher, ada apa?" Mendengar salah satu kawannya mengucapkan nama Asher gadis-gadis langsung memasang telinga, mereka menghentikan pertengkaran sesaat serta kegiatan lainnya. "Kami sekarang sudah keluar dari ruang konseling dan sedang menuju lorong kelas dua." ujar Asher, "Kami tidak akan mengunjungi kantin dan mungkin saja tidak akan mengikuti latihan olahraga kali ini," sambung Asher. "Ok, akan aku atur regu kalian nanti," ucap Arlo. "Sampai ketemu nanti di kelas," balas Asher. Tut ... tut ... Sambungan terputus ... "Apa yang Asher katakan?" selidik Foxie. "Mereka akan langsung menjalankan rencana," jawab Arlo pada kawan-kawannya. "Jadi mereka langsung melaksanakannya?!" kejut Naomi, "Bernegosiasi dengan mereka akan membutuhkan banyak tenaga!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN