(POV : Renata)
Hari ini merupakan jadwal sidang perceraian ku dengan bang Nanda.aku sengaja meminta izin kepada atasan untuk bisa menghadiri persidangan ku hari ini.semoga saja sidang berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.
Seperti biasa,aku didampingi oleh pak Arya selaku pengacara dan juga ayah.kami memasuki ruang sidang dan selang beberapa saat kemudian terlihat bang Nanda juga memasuki ruangan sidang dengan wajah lesu.ia datang seorang diri tanpa didampingi pengacara.
Sidang pun dimulai.saat hakim membaca putusan sidang tidak ada kendala yang berarti,bang nanda terlihat pasrah dan terus menundukkan wajahnya.namun itu tak akan membuatku merasa iba.
Aku sudah benar benar ingin lepas dari kehidupan sosok yang bernama lengkap Nanda pratama,yang telah mewarnai hidupku sekaligus menorehkan luka di hatiku selama lebih kurang tiga tahun.selangkah lagi aku akan menyandang status janda.
Menyandang status janda bukanlah sesuatu hal yang aku inginkan,akan tetapi jika rumah tangga yang dijalani sudah tidak sehat dan adanya penghianatan pasti akan membawa dampak buruk bagi kehidupan selanjutnya.
Tidak ada wanita yang mau diduakan.jika tetap dijalani,maka bisa dipastikan akan terjadi konflik yang berkepanjangan dan tak pernah usai.kecuali salah satu diantara keduanya ada yang mengalah dan memilih mundur demi bisa membuat hati lebih tenang.
Saat pak hakim mengetuk palu,maka berubah lah status ku saat ini.aku berucap syukur dan tanpa sadar air mataku menetes.bukan karena sedih,tapi karena bahagia karena sudah terlepas dari beban pikiran yang mengganggu ku.ditambah lagi hak asuh anak jatuh ketanganku.aku sangat merasa bahagia.
Tampak bang Nanda mengusap matanya berkali-kali, menandakan bahwa ia sedang menangis.namun ia berusaha menyembunyikan nya dariku.aku tak bisa memastikan apakah dia menangis bahagia atau justru merasa sedih bahkan menyesal.hanya dia dan tuhan yang tau.
Perlahan bang Nanda menoleh ke arahku dan mengulurkan tangannya,aku membalas menyalami nya untuk terakhir kali.
"Rena...,titip anak anak ya.abang selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.semoga kamu bahagia selalu dan mendapat pengganti yang lebih baik daripada abang.maafkan Abang sudah menyakiti hatimu...," ujar bang nada dengan suara parau.
"Iya bang,aku juga mendoakan semoga rumah tangga Abang bersama Sarah bahagia, jangan ada lagi pengkhianatan.cukup sekali saja Abang melakukan kesalahan.jangan khawatir aku akan menjaga anak anak kita dengan baik.mendidik mereka,memberi perhatian dan menyekolahkan mereka kelak disekolah yang terbaik." balasku.
"Terimakasih kamu sudah berlapang d**a menerima takdir ini.semoga kebahagiaan selalu menyertai mu,Rena." ucap bang Nanda dengan wajah tertunduk.
Setelah selesai mengucapkan kata kata terakhir,aku memutuskan untuk keluar dari ruang persidangan dan disambut oleh ayah yang sudah menungguku diluar.
Namun aku juga melihat Sarah duduk tak jauh dari ayah,sedang menunggu bang Nanda keluar dari ruang sidang.ia menatap sinis ke arahku,aku mencoba membalasnya dengan senyuman.
"Gimana nak,apa sudah selesai?" tanya ayah padaku.
"Alhamdulillah yah, sekarang aku sudah lega.lepas sudah beban pikiran dan mulai saat ini aku sudah resmi bercerai dari bang Nanda." jawabku tersenyum.
"Ayah turut senang mendengarnya,kamu sudah lepas dari lelaki pengkhianat seperti Nanda.sekarang kamu sudah kembali menjadi tanggung jawab ayah.ayah berharap semoga kelak kamu mendapat pengganti yang lebih baik dan bertanggung jawab yang bisa membimbing kamu dan juga anak anak." imbuh ayah sembari menepuk bahuku.
"Emang ada yang mau sama janda beranak dua? kalau pun ada,pasti jodohnya gak jauh jauh dari lelaki tua yang sudah berstatus duda." tiba tiba Sarah menyahut dari arah samping.
Sontak aku dan ayah langsung menoleh kearahnya.
"Kamu siapa? apa keperluan mu mengurusi anak saya?" tanya ayah menatap tajam ke arahnya.
"Lah, emang ada yang salah dengan ucapan ku?" sahut Sarah merasa tak bersalah.
Ayah yang sudah terpancing emosi segera berdiri menghampiri Sarah yang masih duduk santai dikursi tak jauh dari kami.
Diwaktu yang bersamaan,tiba tiba bang Nanda datang menghampiri kami semua.
"Ada apa ini?" tanya bang Nanda heran dan langsung mendekati Sarah.
"Bang...,mereka marahin aku," ujar Sarah dengan wajah mengiba sambil memegang lengan sang suami.
"Nanda! tolong ajari istri kamu untuk berkata sopan kepada orang lain.saya sudah cukup diam sedari tadi karena gak mau ribut dengan istri barumu ini,tapi tiba tiba dia memancing duluan dengan kata kata yang kurang pantas," imbuh ayah dengan nada penuh penekanan,karena tak mau terdengar oleh orang lain.
"Sarah,kamu apa apaan sih? kan tadi sudah Abang ingatkan jangan membuat masalah disini." ujar bang Nanda mengingatkan Sarah.
"Jadi Abang lebih percaya sama mereka, Abang gak pernah sekalipun percaya dengan ucapan ku...," protes Sarah dengan wajah cemberut.
"Sudah,sudah...! kamu selalu saja seperti ini.mendingan kita pulang saja sekarang.ayah...,rena...,aku minta maaf dengan ucapan Sarah tadi,pasti sudah membuat kalian tersinggung.aku akan menasehati nya supaya tidak sembarangan lagi dalam berucap." ujar bang Nanda.
Mendengar itu,Sarah langsung menghentakkan kakinya ketanah dan melangkah pergi meninggalkan kami.mungkin dia kesal karena sang suami lebih membela kami daripada dirinya.aku dan ayah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah nya yang seperti kekanak Kanakan.
"Ya sudah...Nanda,ayah maafkan.lebih baik sekarang kamu susul istrimu pulang daripada jadi ribut seperti ini.bukankah itu istri pilihan kamu sendiri? sekarang nikmati saja apa yang sudah menjadi pilihan mu.jangan lupa bersyukur ya Nanda...," ujar ayah sambil menepuk pundak bang Nanda beberapa kali.
Bang Nanda terlihat menundukkan wajah mendengar ucapan ayah barusan.melihat ekspresi nya sepertinya dia sangat malu.
"Iya,ayah.kalau begitu aku pamit pulang dulu.assalamualaikum...," ujar bang Nanda menyalami ayah dan aku, lalu segera melangkah menyusul sang istri yang sudah menunggu diparkiran.
"Walaikumsalam...," jawab kami serempak, kamipun lalu memutuskan untuk segera pulang.
Aku berencana akan mengajak ayah dan ibu beserta anak anak untuk jalan jalan, kebetulan aku mendapat keringanan oleh atasan untuk libur kerja hari ini.jadi,aku menggunakan kesempatan waktu yang jarang ku dapatkan untuk berlibur bersama keluarga.
Aku memilih tempat wisata yang terdapat di pinggiran pantai yang dilengkapi dengan area bermain dan juga berbagai fasilitas hiburan lainnya.
Sungguh,aku sangat bahagia hari ini.selama ini belum pernah punya waktu untuk sekedar mengajak kedua orang tuaku jalan jalan seperti ini.
Aku mencoba menikmati waktu luang bersama keluarga dan melupakan segala kesedihan yang aku alami selama menjadi istri bang nanda.aku berusaha membuang jauh jauh dan melupakan segala kenangan bersama mantan suami.aku akan memulai hidup baru dan dengan suasana yang baru pula.
Aku juga tak ingin memikirkan untuk mencari pengganti bang nanda,aku ingin lebih fokus mencari uang demi masa depan kedua anakku.aku ingin membuktikan bahwa tanpa bang Nanda,aku bisa hidup sendiri dengan hasil keringat sendiri.
Tiba tiba aku mendapat kabar dari Arfan bahwa pelaku penganiayaan terhadap Aldo sudah berhasil ditangkap.aku sangat bersyukur, begitu juga dengan kedua orang tuaku.semoga saja mereka mendapatkan hukuman yang setimpal.
*****