(POV : Aldo)
"Selamat malam juga Bu...," balas dokter ramah.
Setelah itu dokter memeriksa kembali kondisi kepalaku Dengan didampingi perawat.
"Dokter,apakah kondisi yang dialami anak saya akan berakibat fatal?" tanya ibu kepada dokter.
"Sebenarnya benturan yang di alami saudara Aldo cukup keras,biasanya akan mengakibatkan cidera dibagian tengkorak dan bisa mengalami geger otak.namun melihat kondisi Aldo yang baik baik saja kemungkinan risiko itu tidak terjadi,mengingat saudara Aldo masih bisa berkomunikasi dengan baik dan tidak ada kendala apapun.karena biasanya penderita yang mengalami geger otak itu ingatan nya akan hilang sebagian bahkan semuanya.kita patut bersyukur karena semua itu tidak terjadi pada saudara Aldo." jelas dokter panjang lebar.
"Syukurlah, dok.saya juga berharap tidak terjadi sesuatu yang lebih fatal lagi kepada anak saya." ucap ibu.
"Tapi saya ingatkan tetap harus banyak istirahat,jangan terlalu mikir yang berat berat dan tetap optimis untuk bisa sembuh.dan untuk luka lebam dan pembengkakan dibagian pelipis dan kepala akan saya usahakan melakukan perawatan yang intensif sampai benar benar pulih seperti sedia kala." ujar dokter.
"Terimakasih banyak ya dokter." ucap ibu.
"Sama sama, kalau begitu saya pamit pulang dulu.kalau ada masalah hubungi saja perawat." imbuh dokter seraya melangkah keluar.
Setelah dokter pergi,aku memutuskan untuk tidur.sedangkan ibu memilih tidur dibawah dengan dialasi karpet.
Rencananya besok ibu akan memindahkan aku dikamar VIP supaya lebih nyaman.
---
Keesokan paginya, setelah selesai sarapan bubur yang diberikan oleh perawat,aku dipindahkan ke kamar VIP yang terletak di lantai tiga.suasananya tentu lebih nyaman dan ruangannya jauh lebih besar dari sebelumnya.
Tepat pukul 10.00 pagi,aku kedatangan teman teman ku Renata, Arfan,Dian dan juga amira.mereka begitu kompak membawakan buah tangan untuk ku.ada yang membawa buah,kue,roti dan cemilan lainnya.
Saat mereka datang,aku tak bisa terlalu banyak bicara karena kepala ku terasa sedikit pusing.jadi mereka hanya mengobrol bersama dengan ibu disofa tak jauh dari tempat tidurku.
Menurut Arfan,ke empat pelaku penganiayaan sedang diburu oleh polisi.sedangkan pak Burhan pria yang menolong ku telah dimintai keterangan sebagai saksi setelah dilaporkan oleh ibu tadi pagi.
Entah apa motif mereka berniat menghabisi ku.untung saja malam itu ada pak Burhan yang kebetulan lewat dan langsung mencegah aksi mereka, sehingga para pelaku lari kocar kacir.setelah itu aku tak tau apa yang terjadi karena dalam kondisi pingsan.
Saat mereka tengah mengobrol,tiba tiba Renata mendekati ku didekat ranjang.
"Al,aku gak nyangka akan jadi seperti ini.aku merasa bersalah karena gara gara mengundang mu kerumah orangtuaku dimalam hari,semuanya jadi begini.aku benar benar minta maaf Al," ucap Renata dengan suara lirih.
"Kamu ngapain minta maaf? kamu gak salah ren.ini semua karena sudah takdirnya dan kita gak bisa menghindar apa yang sudah menjadi ketentuan dari yang maha kuasa,dimanapun dan kapanpun kita berada pasti yang namanya musibah tetap akan terjadi." balasku lirih.
Aku bahkan tak kepikiran sejauh ini untuk menyalahkan renata.tapi melihatnya seakan merasa bersalah,aku tak tega.
"Tapi tetap aja aku menyesalkan ini semua, al.seandainya saja aku gak mengundangmu malam itu...," ucapan Renata terputus.
"Ssttt...jangan bicara seperti itu lagi.aku gak mau mendengar nya.aku gak kenapa kenapa kok.kata dokter gak lama lagi juga aku akan sembuh." imbuhku.
"Kalian sedang bicara apa? maaf,ya Renata...Aldo belum boleh diajak ngobrol apalagi sampai mikirin yang berat berat.sejak tadi Tante perhatikan kamu mengajak Aldo bicara serius.kalau mau curhat atau bicara penting soal kerjaan,lebih baik ditunda dulu.aldo butuh banyak istirahat dan fokus pada kesembuhannya."imbuh ibuku tiba tiba menegur Renata.
"Iya Tante,maaf...,saya gak bermaksud membuat Aldo mikirin hal yang serius." ujar Renata seraya kembali ke sofa dan bergabung dengan teman yang lain.
Namun, sepertinya ibu masih saja memperhatikan Renata dengan tatapan tak senang.
"Aku gak apa apa kok bu.aku merasa sudah agak mendingan dari pada kemarin." ujarku pada ibu.
"Kamu itu jangan membantah,aldo.ibu hanya gak mau kamu Kenapa kenapa.dengerin kata dokter,ini semua demi kesembuhan kamu!" tegas ibu.
Aku mengangguk menanggapi ucapan ibu.begitu juga Renata yang tampak tertunduk, mungkin dia merasa bersalah.
Seharusnya ibu tak berbicara seperti itu kepada Renata,aku jadi kasihan melihat nya.begitu juga teman teman yang lain, semuanya menyoroti ke arah Renata.
"ya sudah tante,kalau begitu kami mau pamit pulang dulu ya.maaf kalau kami mengganggu waktu nya, kami doakan semoga Aldo cepat pulih dan bisa beraktivitas kembali seperti biasa." ujar Arfan mewakili teman teman yang lain.
"Iya, arfan.terimakasih banyak atas kunjungan kalian semua.tante gak merasa terganggu, hanya saja kondisi Aldo tidak memungkinkan untuk diajak bicara banyak dulu.semoga kalian semua bisa memahami, maafkan Tante ya Renata...," ujar ibu.
"Iya,tante.saya mengerti...saya akan mendoakan yang terbaik untuk Aldo,kami semua pamit dulu ya,tante.lain waktu kita akan jenguk lagi.assalamualikum...," ucap Renata.
"Walaikumsalam...," jawab ibu sembari mengantarkan mereka sampai ke pintu.
Setelah semua teman teman pulang,kini tinggal aku berdua dengan ibu diruangan ini.
Namun tiba tiba saja aku merasakan pusing yang luar biasa,rasanya seperti berputar putar dengan kecepatan tinggi hingga membuatku merintih.ibu tampak panik dan langsung memanggil dokter keluar ruangan dengan sedikit berlari.
Tak berselang lama,ibu masuk kembali bersama seorang dokter dan juga perawat.
Dokter langsung memeriksa kondisiku dan memberiku obat untuk meredakan rasa pusing yang aku alami.setelah meminum obat dan beberapa saat kemudian rasa pusing sedikit berkurang, ibu terlihat lega dan langsung memelukku.
"Ibu ingat pesan saya semalam, kalau bisa jangan menerima tamu dulu kecuali hanya sekedar diluar ruangan.karena kondisi otak nya sedang dalam masa pemulihan dan butuh banyak istirahat." imbuh dokter mengingatkan ibu.
"Maafkan saya dok,lain kali saya akan lebih hati hati lagi dan tidak akan menerima tamu apalagi sampai mengajak bicara seperti tadi." jawab ibu dengan wajah sayu.
Setelah itu dokter kembali keluar dari ruangan ku.pada saat yang sama aku juga merasakan ngantuk, mungkin karena efek obat yang ku minum tadi.tak terasa akupun terlelap dan terbang ke alam mimpi.
---
(POV : Renata)
Sepulang dari rumah sakit,aku merasa bersalah karena telah membuat ketidaknyamanan dirumah sakit sehingga membuat Tante Vina sampai menegurku.
Aku tak mempermasalahkan karena tau pasti yang namanya orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya.aku sangat memaklumi itu.
Didalam mobil, tiba tiba Dian berbicara seolah sedang menyindir ku.
"Kita semua kan teman,jangan ada yang bawa perasaan apalagi sampai ngobrol berdua dipojokan.itu sangat gak etis apalagi sudah mempunyai pasangan.kesannya gimana...gitu," cetus Dian tanpa menoleh ke arah ku.
Aku tau karena melihat sekilas lewat kaca bagian atas karena Dian duduk di barisan kedua bersama Amira.
Aku tak menanggapi ucapan Dian karena memang dia tak menyebut namaku.aku hanya fokus menyetir pura pura tidak mendengar.
"Kamu ngomongin apa sih Dian, sepertinya sedang galau." ledek Amira.
"Enggak sih, hanya sekedar meluapkan perasaanku saja.udah...,gak usah dipikirin.anggap angin lalu," sahutnya sembari menoleh ke arah jendela.
Aku memang belum menceritakan tentang kondisi rumah tanggaku saat ini.dian, Amira dan juga Arfan tidak tau menahu jika sebentar lagi aku akan menyandang status janda.itu sebabnya mereka menganggap aku telah mempunyai pasangan dan memiliki suami.
Berbeda dengan mereka yang masih betah dengan kesendirian nya,entah mempunyai pacar ataupun calon suami aku belum sempat menanyakan.mengingat saat ini tidak punya banyak waktu untuk sekedar mengobrol santai dan bercengkrama seperti dulu lagi,karena setelah ini kami harus kembali lagi ke kantor.
*****