PERTEMUAN

1080 Kata
(POV : Aldo) Perlahan aku mencoba membuka mataku.samar samar aku melihat sekeliling ruangan yang serba putih,sepertinya ini rumah sakit karena banyak terdapat peralatan medis memenuhi ruangan yang berukuran seluas kamar ini. Namun,kenapa aku berada disini?sejak kapan aku berada disini,dan siapa yang membawaku ketempat ini.dimana ibu dan juga kerabatku,aku sendirian tak ada seorangpun yang menemani.aku benar benar tak ingat apa yang sebenarnya terjadi. Perlahan aku berusaha untuk duduk dan mencoba mengingat kejadian yang aku alami.apakah aku telah mengalami kecelakaan? aku raba kaki,tangan dan seluruh tubuhku,tidak ada yang terluka atau cidera.namun pada saat aku memegangi kepalaku,aku merasa seperti dibalut perban yang lumayan tebal. 'Ya tuhan,apa yang telah terjadi pada diriku?' batinku berucap. Tak lama kemudian, datang seorang perawat memasuki ruangan ini dengan senyum ramah. "Alhamdulillah,akhirnya mas sadar juga."ujarnya seraya mendekatiku. "Maaf suster..., apa yang sebenarnya telah terjadi padaku?" tanyaku penasaran. "Menurut informasi yang kami dapat,mas mengalami penganiayaan oleh beberapa orang preman pada malam Selasa lalu.dan seseorang telah membantu membawa mas ke rumah sakit ini,sedangkan pelaku penganiayaan itu berhasil kabur."jelas suster. "Kalau boleh tau,siapa nama orang yang telah membantu ku dan membawa kerumah sakit?" tanyaku lagi. "Maaf mas,saya kurang tau.tapi biasanya dia akan datang setiap hari untuk menjenguk mas." jawab suster. "Jadi sudah berapa lama saya berada disini sus,kalau boleh tau sekarang hari apa?dan mengapa orangtua saya tidak menjenguk?" tanyaku. "Tenang,mas.jangan terlalu banyak pikiran dulu,karena dikhawatirkan akan mengganggu daya ingat dan menjadi semakin pusing.lebih baik istirahat saja tenangkan pikiran,supaya lebih rileks.saya akan panggilkan dokter dulu." jawab suster seraya melangkah keluar. "Saya gak akan bisa tenang sus,sebelum semuanya jelas.sekarang tolong jawab dulu pertanyaan saya tadi." pintaku dan menahan nya supaya tidak keluar dulu. "Baik,saya akan menjelaskan kalau mas mengalami koma sejak malam Selasa lalu hingga sekarang hari Kamis baru sadar.artinya mas mengalami koma selama tiga hari.dan mengenai keluarga mas sepertinya belum mengetahui perihal kejadian ini,karena mas tidak punya identitas maupun ponsel yang bisa dihubungi. Kemungkinan ponsel beserta dompet sudah raib di tangan perampok itu.apakah mas ingat pada saat kejadian malam itu?" tanya suster lagi. Akupun mencoba mengingat ingat kejadian yang aku alami hingga aku tak sadarkan diri. "Saya ingat,malam itu pulang dari rumah teman dan ditengah perjalanan tiba tiba sekumpulan preman menghadang ku dan memecahkan kaca mobil ku.lalu mereka mengeluarkan aku dengan paksa dan menyerang ku secara bertubi tubi hingga aku tak sadarkan diri."jelasku pada suster. Suster mendengarkan ceritaku dengan seksama. "Aku turut prihatin dengan musibah yang menimpa mas.semoga saja cepat diketahui oleh keluarga dan melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib dan supaya pelakunya cepat tertangkap." imbuh suster. "Iya,suster.aku juga berharap demikian.kalau boleh aku ingin pinjam ponselnya untuk menelpon orangtuaku," pintaku. "Boleh,sebentar ya mas.sebaiknya saya panggil dokter dulu untuk mengecek kondisi mas." ujarnya sembari buru buru melangkah keluar. Tak lama kemudian,sang suster kembali masuk bersama seorang dokter dan langsung memeriksa kondisi di kepalaku lalu mengecek suhu tubuh ku. Dokter mengatakan jika aku mengalami benturan cukup serius namun tidak membahayakan.meskipun demikian,aku harus tetap menjalani perawatan intensif sampai benar benar pulih.aku lega mendengar pernyataan dari dokter. Setelah selesai ,Dokter pamit untuk keluar.lalu suster segera mengambil ponsel miliknya dari saku seragamnya dan menyerahkannya padaku. Tanpa membuang waktu,aku segera menelepon ke nomor ibuku.tak menunggu waktu lama,terdengar suara ibu mengangkat panggilan dariku. Setelah aku memberitahu ibu tentang keberadaan ku,terdengar ibu menangis bahagia dan bersyukur setelah mengetahui kabarku yang sedang berada di rumah sakit. Ibu mengatakan akan segera datang menjengukku.aku tau perasaan ibu sebagai orang tua pasti sangat mengkhawatirkan ku selama tiga hari ini. Setengah jam kemudian,terdengar suara ketukan pintu dari luar.aku menduga pasti yang datang adalah ibu.dan benar saja,tanpa menunggu aba aba ibu langsung masuk dan berteriak memanggil namaku sambil menangis. "Aldo....,hu hu huu...," "Alhamdulillah,kamu selamat nak.ibu sangat khawatir dengan kamu gak ada kabar sama sekali."ucap ibu dengan berurai air mata sambil memelukku. "Iya,bu.aku bersyukur tuhan masih melindungi aku.tapi mobil dan semua barang milikku raib dibawa perampok.maafkan aku gak bisa mempertahankan semuanya." ujarku membalas pelukan ibu. "Gak usah kamu pikirkan itu,yang penting kamu selamat itu sudah cukup buat ibu,nak.harta bisa dicari,tapi nyawa tidak bisa diganti dengan apapun.tapi ibu ingin bertanya,siapa yang telah membawa kamu ke rumah sakit ini?" tanya ibu seraya menatapku sayu. "Aku juga gak tau Bu.karena aku juga baru sadar dari koma dan langsung menelepon ibu tadi.kata suster dia pasti akan datang untuk menjengukku malam hari." imbuhku. "Kalau begitu kita tunggu saja kedatangannya malam ini.lebih baik sekarang kamu istirahat saja, sepertinya kepalamu mengalami benturan,ya?" tanya ibu sambil memperhatikan kepalaku yang dibalut perban. "Iya bu.tapi untung saja tidak sampai membuatku hilang ingatan.aku hanya mengalami pusing saja." jawabku tersenyum berusaha kuat dihadapan ibu. Setelah berbicara dengan ku,ibu segera menelpon polisi untuk mengabari bahwa aku sedang berada di rumah sakit harapan. Ibu mengatakan sudah melaporkan kejadian ini kepada polisi dua hari yang lalu,dan polisi telah menemukan mobilku dipinggir jalan dalam keadaan rusak dibagian kaca. Ibu juga berniat menelepon sahabatku Arfan untuk memberi tahu tentang kabarku yang sudah ditemukan ,namun sayangnya ibu tak mempunyai nomor handphone miliknya.kemungkinan besok ibu akan mendatangi perusahaan untuk melaporkan kepada atasanku tentang kondisi ku saat ini. *** Malam hari sekitar pukul 20.00,aku terbangun.namun tak kudapati ibu disampingku.tapi diluar kamar terdengar suara ibu sedang mengobrol dengan seseorang.sepertinya suara laki laki. Cukup lama ibu berbincang dengan orang tersebut diluar ruangan.aku tak bisa mendengarkan percakapan keduanya karena pintu dalam keadaan tertutup. Sekitar sepuluh menit kemudian,ibu pun masuk menemui ku dengan wajah bingung. "Ada apa Bu? sepertinya ibu habis mengobrol dengan seseorang.siapa Bu?" tanyaku penasaran. "Aldo,itu tadi orang yang telah menyelamatkan mu dari serangan perampok dan membawamu kerumah sakit.awalnya dia gak mau menyebutkan namanya,tapi setelah ibu paksa akhirnya dia mau juga. Pria itu bernama pak Burhan,dia mengatakan telah diancam oleh ketua perampok untuk tidak melaporkan kejadian ini kepada polisi,itu sebabnya pak burhan tidak berani untuk membuat laporan karena takut nyawanya terancam. Namun anehnya ketua perampok itu adalah seorang wanita.berarti kejadian ini sudah terencana dan kemungkinan mereka sudah membuntuti mu jauh sebelum kejadian. "Ibu mau bertanya sama kamu,apa kamu punya musuh selama ini,Aldo?" tanya ibu penasaran. "Musuh? aku merasa gak punya musuh,Bu.aku juga heran,padahal aku merasa gak punya masalah dengan siapapun,apalagi dengan wanita."sahutku merasa heran. "Tapi kenapa ini semua bisa terjadi? apa hanya kebetulan saja atau barangkali salah sasaran.hmm...ibu gak habis pikir."ujar ibu dengan suara melemah. "Tunggu saja,bu.pasti semuanya bakal terungkap siapa dalang dari semua ini.yang pasti mereka harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah mereka lakukan,dan mereka harus mengganti semua kerugian yang aku alami."imbuhku menguatkan ibu. Pada saat kami berbicara serius, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.ibu bergegas membukakan pintu, ternyata dokter beserta satu orang perawat ingin kembali memeriksa kondisi ku. "Selamat malam pak dokter," sapa ibu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN