(POV : Nanda)
Saat aku baru melangkah pergi,tiba tiba Renata memanggil dan menghampiriku.
"Bang...,aku mau bicara sebentar."ujarnya.
"Ada apa Rena?" tanyaku sembari menoleh dan menghentikan langkahku.
Rena lalu mengajakku sedikit menjauh dari keramaian supaya bisa berbicara empat mata tanpa ada yang mengganggu.
"Bang Nanda,minggu depan adalah jadwal sidang perceraian kita,jadi aku mohon jangan dipersulit lagi,karena aku sudah mantap ingin berpisah dari Abang.abang juga sepertinya sudah bahagia dengan istri barunya.jadi tolong permudah aku melalui proses persidangan ini.aku juga ingin kita berpisah secara baik baik,jangan ada permusuhan diantara kita.jalin silaturahmi seperti biasa, karena walau bagaimanapun juga kita mempunyai buah hati yang butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua nya."tutur Renata dengan wajah sayu.
Aku menarik nafas dalam,aku sangat mengerti apa yang dia harapkan.namun tak dipungkiri sebenarnya aku kurang bahagia menjalani rumah tangga bersama Sarah.namun semuanya sudah terlanjur.
"Baik,Abang tidak akan mempersulit lagi.abang juga menyesal atas perbuatan Abang selama ini yang sudah mengkhianati kamu,Rena.
Tapi tolong,jangan batasi abang untuk bertemu dengan anak anak kapan saja.abang janji untuk selalu menafkahi anak kita."ujarku.
"Ya,aku tak akan membatasi Abang mau jenguk anak anak kapan saja silahkan.dan mengenai nafkah itu terserah abang saja,karena saat ini aku juga sudah bekerja diperusahaan lama."jawab Rena.
Aku terkejut mendengar penuturan nya,jadi Rena sudah bekerja lagi?itu tandanya dia sudah bisa hidup tanpa aku dan tak akan membutuhkan ku lagi dalam hidupnya.
Apalagi Aldo juga bekerja diperusahaan yang sama dengan renata, lelaki yang kuduga sedang dekat dengannya saat ini.pupuslah sudah harapanku untuk bisa kembali pada rena.
"Abang senang mendengar kamu sudah bekerja lagi.tapi nafkah anak-anak tetap tanggung jawab Abang sebagai ayah.dan kamu juga jika membutuhkan uang lebih boleh minta sama Abang,pasti dengan senang hati Abang berikan...,"imbuhku.
"Gak perlu bang,karena Abang juga saat ini punya istri dan anak yang harus dinafkahi,jangan sampai gara gara aku kalian jadi ribut atau menimbulkan salah paham.aku gak mau itu terjadi.aku berharap rumah tangga Abang tetap langgeng jangan ada lagi kata perpisahan.aku sudah ikhlas menjalani takdir yang telah digariskan Tuhan untuk ku.aku yakin dibalik semua ini pasti ada hikmahnya."tutur Rena.
"Kamu memang wanita yang baik rena.abang gak menyangka hatimu seluas itu,jarang jarang ada wanita yang berlapang d**a dan menerima apapun yang sudah ditakdirkan.gak ada dendam ataupun amarah yang kamu tunjukkan pada Abang dan juga Sarah."tuturku memujinya.
Ditengah percakapan kami berdua,tiba tiba Sarah memanggil ku.
"Bang Nanda...,aku sudah menunggu lama dimobil ternyata Abang berduaan disini dengannya.apa yang Abang lakukan disini?"cecar Sarah sembari berjalan menghampiri ku.
Melihat Sarah datang,aku terkejut dan segera berpamitan kepada Renata.
"Ren, Abang pamit pulang dulu ya...titip anak anak.salam untuk semuanya."ujarku buru buru meninggalkan Rena yang juga tampak terkejut dengan kedatangan Sarah.
Iya, kalian hati hati dijalan."jawab Rena.
Sesampainya di mobil,Sarah tak henti mengomeli ku dan mencecarku dengan kata kata yang kurang pantas.aku memilih diam tak menanggapi apapun yang diucapkannya.aku sedang malas berdebat karena tak akan ada ujungnya.
Karena sudah lelah mendengar ocehannya yang tiada henti,akupun mengalihkan pembicaraan.
"Sarah,kamu jadi kan mau ke salon?kalau gitu biar Abang antar sekarang mumpung belum terlalu malam."imbuhku.
"Gak jadi! sudah hilang semangatku,aku hanya ingin pulang sekarang."tegasnya.
"Ya sudah,kalau memang gak jadi kita pulang sekarang ya,"ujarku sembari memutar arah menuju kediaman kami.
Sarah hanya bergeming tak mau menanggapi.sampai dirumah pun dia hanya diam tak sedikitpun mau berbicara denganku.sarah langsung masuk ke dalam kamar dan tidur membelakangiku.aku tau pasti dia sedang marah dan cemburu melihatku berbicara empat mata dengan renata tadi.
Aku sudah mencoba meminta maaf dan membujuknya supaya tidak marah dan mempermasalahkan lagi,namun bukan Sarah namanya jika tetap tak peduli apapun yang kuucapkan.aku benar benar lelah menghadapi sikapnya yang kekanak Kanakan.
Akhirnya aku memilih merebahkan diri disamping sarah sembari menatap langit langit kamar.
Menjelang tidur,aku masih saja terbayang bayang penyesalan karena telah menduakan rena.aku teringat semua yang ada didalam diri Rena. senyumnya, suaranya,sikapnya,masakannya dan juga kelembutannya dalam memperlakukan ku.
Andai waktu bisa diulang,aku ingin lebih berfikir jernih lagi sebelum melakukan sesuatu.sekarang semua sudah terlanjur,aku juga harus bertanggung jawab dengan istri baruku.jika aku kembali mengulangi hal yang sama terhadap istri baruku sarah,aku akan lebih berdosa lagi telah menyakiti dua orang istri.aku tak akan mengulangi kesalahanku untuk kedua kalinya.
Cukup ini menjadi pelajaran berharga dalam hidupku.aku tak ingin gegabah dalam bertindak,karena penyesalan selalu datang terlambat.
Karena mata ini tak bisa juga terpejam,aku memutuskan keluar kamar untuk sekedar mencari angin segar.sayup sayup aku mendengar suara tangisan anakku,Zidan dari dalam kamar nya.
Karena penasaran,aku segera menghampiri kamar anakku.kudapati Zidan sedang digendong oleh baby sitter dalam keadaan menangis dengan wajah pucat.
"Kenapa dengan Zidan bi?"tanyaku panik.
"Zidan demam tinggi pak,badannya panas sekali.tadi saya mau memberi tahu bapak dan ibu tapi sepertinya sudah tidur."jawab bi Sri dengan wajah cemas.
"Kalau begitu kita bawa ke dokter sekarang.siapkan semua keperluan Zidan,aku akan memanggil ibunya ke kamar,"ucapku buru buru meninggalkan bi Sri dan Zidan untuk membangunkan Sarah.
Setelah ku beritahu,Sarah tampak terkejut dan cemas.kami segera turun dan tanpa mengganti baju kami langsung bergegas masuk mobil membawa anak kami Zidan menuju rumah sakit ibu dan anak.
Sesampainya di rumah sakit,Zidan langsung ditangani oleh dokter.dokter mengatakan Zidan mengalami demam tinggi dan harus dirawat inap untuk mendapatkan perawatan yang intensif.
Aku menghembuskan nafas kasar,baru saja menyesalkan yang sudah terjadi,kini sudah ditimpa dengan ujian baru dalam rumah tangga ku bersama sarah.namun aku berusaha tetap kuat dan terus berdoa semoga Zidan baik baik saja dan segera sembuh seperti sediakala.
Malam ini aku berniat menginap untuk menjaga anakku di rumah sakit bersama Sarah, sedangkan bi Sri kami perkenankan untuk pulang dengan dijemput oleh sopir.
"Bang,ini semua pasti gara gara kamu! coba saja tadi abang gak pergi di acara anaknya Renata pasti Zidan bakal cepat ditangani."cetus Sarah tiba tiba.
"Cukup,sarah.jangan saling menyalahkan,anak Renata juga anakku.kamu yang ngotot ingin ikut dan kamu rela menitipkan anak kita pada bi Sri dalam kondisi kurang sehat.cobalah berfikir lebih dewasa jangan egois."timpalku menahan emosi.
Sarah hanya bergeming tak bisa menjawab sepatah kata pun ucapanku.
"Dalam kondisi seperti ini harusnya kamu lebih banyak bersabar dan berdoa minta kepada tuhan untuk kesembuhan anak kita.bukan malah menyalahkan abang.kalau kamu begini terus,bisa bisa Abang gak sanggup menghadapi sikapmu,Sarah."tambahku lagi.
"Iya,bang.aku minta maaf dan gak mengulangi lagi.aku hanya cemburu melihat Abang dekat dengan Renata."jawab Sarah dengan wajah tertunduk.
"Kamu memutuskan untuk menikah dengan pria yang sudah berkeluarga harus siap lahir batin menerima kalau perhatian Abang terbagi antara anak Abang dengan istri pertama,Sarah."cetusku mencoba memberi pengertian.
*****