(POV :Nanda)
Saat ini aku tinggal dirumah baru yang sengaja aku beli untuk sarah.sejak kepergian Renata dari rumahku,aku sudah tak tinggal dirumah itu lagi dan memutuskan untuk pindah dan tinggal berdua dengan Sarah,karena walau bagaimanapun Sarah juga istriku.
Sore hari ini aku akan menghadiri acara syukuran ulang tahun buah hatiku bersama renata dikediaman orangtuanya.
Sebelumnya aku sudah berniat untuk merahasiakan ini dari sarah karena tak mau dia cemburu atau salah paham nantinya.aku juga berniat membeli kado ketika menuju ke sana supaya tak ketahuan oleh Sarah.
Ketika akan bersiap siap dan sudah memakai pakaian rapi,sarah datang menghampiriku.
"Mau kemana bang,rapi sekali?"tanyanya sambil memperhatikan pakaian yang ku kenakan.
"Abang mau keluar ada urusan sebentar ya,"jawabku terburu buru,karena tak ingin Sarah bertanya lebih jauh lagi.
"Urusan apa bang,bukannya ini hari libur.dan kamu udah janji akan nemenin aku ke salon sore ini."cetus Sarah sembari mengikuti langkahku dibelakang.
Sontak aku menghentikan langkah,baru ingat kalau Sarah memintaku mengantarkan nya ke salon sejak sebelum Rena mengundangku,dan aku sudah menyetujuinya.
"Gimana kalau nanti malam aja,sayang.abang hanya sebentar kok,nanti Abang pasti cepat pulang."imbuhku.
"Gak bisa! kalau gitu aku ikut sekalian biar gak perlu menunggu lama, Karena yang namanya menunggu itu sangat membosankan," pinta Sarah.
"gak perlu,Sarah...Abang ada urusan penting gak bisa diganggu,kamu tunggu saja dirumah ya."bujukku.
"Aku curiga, jangan jangan Abang ada urusan dengan calon mantan istri Abang itu kan?makanya gak mau diganggu.iya kan?" cetus Sarah.
"Kamu jangan curiga begitu,sarah.bagaimana pun Rena itu masih sah menjadi istri abang.kami belum resmi bercerai.dan kamu juga harus ngerti posisi Abang yang mempunyai anak bersama Rena"balasku.
"Oh,jadi benar Abang ada urusan dengan wanita itu? makanya gak mau mengajakku ikut serta."seloroh Sarah dengan wajah cemberut.
"Bukan begitu maksud Abang,"
Aku bingung menghadapi sikap Sarah yang keras kepala.namun daripada terus berdebat yang tak kunjung usai,kali ini aku menyerah saja.
"Oke...,Abang jujur sama kamu kalau hari ini kedua anakku sedang ulang tahun dan Abang diundang untuk mengikuti acara syukuran dirumah orangtua Rena.cuma itu saja gak perlu curiga."jelasku jujur.
Mendengar ucapan ku,Sarah langsung memasang raut wajah tak suka.aku bisa membaca dari ekspresi nya itu.
"Kalau begitu aku ikut.aku gak mau Abang dekat dekat lagi dengan Renata karena sebentar lagi kalian akan bercerai."imbuh Sarah dengan wajah datar.
"Gak perlu,sarah.nanti apa kata orang orang melihatku datang bersama wanita ketika menghadiri acara ulang tahun anaknya,Abang gak mau nanti ada omongan miring dari keluarga dan kerabat Rena."timpalku tak setuju.
"Jadi Abang lebih mementingkan perasaan keluarga Rena dari pada perasaanku?"imbuh Sarah tak terima.
Aku mengusap wajah dengan kasar.tak tau harus bagaimana cara menjelaskan pada sarah.benar benar membuatku semakin bingung.
"Sarah...tolong kamu mengerti posisi Abang sekarang.abang hanya sekedar menghadiri acara syukuran anak anak,itu saja.kamu gak perlu khawatir Abang kembali pada rena, karena sepertinya kami memang gak bisa lagi bersatu."ujarku.
"Tapi aku harus tetap ikut untuk mendampingi Abang, karena aku kan istri abang.boleh ya...,"pinta Sarah lagi.
Akhirnya dengan berat hati aku mengizinkan Sarah untuk ikut meskipun dalam hatiku tak rela.sarah memang wanita yang keras kepala dan harus diikuti maunya.aku pasrah apapun yang akan terjadi disana nanti,tentang tanggapan mereka mengenai status ku dengan Sarah.
Aku juga mengingatkan Sarah untuk tidak membuat keributan dan ber ulah disana,dan untungnya Sarah menyanggupi.
Kami berdua lalu berangkat menuju kediaman orang tua Renata meskipun agak sedikit telat.sedangkan sikecil Zidan kami titip kepada baby sitter karena sedang kurang sehat.
Tak lupa juga aku singgah ke toko khusus perlengkapan anak untuk membelikan kado si kembar yang sudah menginjak usia ke dua tahun itu berupa beberapa stel pakaian dan juga mainan.
Sesampainya di depan rumah orangtua renata,tampak tamu undangan sudah ramai memenuhi kursi tamu.sepertinya acaranya sudah hampir selesai dan para tamu undangan tampak sedang menikmati makanan yang sudah disediakan dimeja prasmanan.
Aku mengajak Sarah untuk duduk dikursi kosong yang terletak paling pojok.aku sengaja tidak menghampiri keluarga Rena dulu, sampai situasi benar benar pas untuk aku menyalami semuanya.karena khawatir terjadi kegaduhan yang akan menjadi tontonan para tamu undangan.
Hingga sebagian para tamu sudah mulai pulang,aku berniat menghampiri Renata yang sedang duduk bersama sikembar dan juga keluarganya.
Saat berjalan mendekat ke arah Renata,aku baru menyadari jika diantara mereka ada sindy.karena sudah terlanjur,aku tetap meneruskan langkah ini.
Melihat kedatanganku, Renata lalu memberitahukan kepada Riko dan Rika bahwa ayahnya telah datang.dengan girang keduanya berlari menghampiriku dan aku langsung menggendong sikembar Riko dan Rika dengan penuh kerinduan.
Setelah puas memeluk dan mencium kedua anakku,aku langsung menyalami Renata,ayah,ibu,sindy dan juga kerabat yang lain.begitu juga dengan Sarah.
Namun tak ada sedikitpun raut kebencian di wajah mereka.tampaknya Renata dan keluarganya sudah bisa menerima kenyataan kalau aku sudah mempunyai istri baru,atau memang mereka sudah tak mengharapkan ku lagi.oleh karena itu,diri ini sudah tak perlu lagi untuk diratapi.
Justru keadaan seperti ini yang membuatku merasa tidak dihargai.bahkan Renata menyalami Sarah dengan senyum merekah seolah tak terjadi apa apa.aku semakin galau saja dibuatnya.
Apakah cinta renata sudah benar benar hilang dan tak ada lagi tersisa sedikitpun.ataukah dirinya sudah memiliki tambatan hati yang baru,sehingga tidak punya rasa cemburu lagi denganku.
Aku memang menyadari jika Renata adalah wanita yang sangat cantik, pintar dan juga bersahaja.pasti banyak lelaki yang berlomba lomba ingin mendekatinya,termasuk aldo.aku sangat yakin pasti Aldo mempunyai rasa terhadap renata.aku sangat memaklumi hal itu.
Namun,kabar tentang hilangnya Aldo membuatku terkejut sekaligus penasaran apa yang telah terjadi dengannya.meskipun aku cemburu melihat kedekatannya dengan Renata beberapa waktu lalu,namun sebagai teman aku juga merasa khawatir dengan keadaan yang dialaminya Saat ini.
Saat aku hendak menyalami sindy,ia terlebih dahulu menyindirku dengan kata kata pedasnya.
"Dasar gak punya muka,masih berani beraninya datang dengan membawa gun*iknya.apa urat malunya sudah putus...,udah rela membuang berlian demi batu kali...,"ucap Sindy dengan wajah datar.
"Sindy...," potong Renata dengan suara lirih seraya mengingatkan temannya itu supaya tak meneruskan kata katanya lagi.
Aku hanya diam tak menimpali ucapan sindy yang terkesan blak blakan karena aku tak ingin ada keributan disini.namun aku melihat wajah Sarah sudah memerah, sepertinya ia terpancing dengan kata kata sindiran pedas sindy yang ditujukan kepadaku.
Hampir saja Sarah ingin membalas perkataan sindy,namun segera ku halang dengan menarik tangannya sedikit menjauh.
"Aku gak terima dikatain batu kali,bang...! kenapa Abang diam saja gak belain aku.apa Abang senang melihat aku dihina seperti ini?" ujar Sarah dengan penuh penekanan menahan emosi.
"Sabar,Sarah...Abang hanya gak mau ada keributan disini,malu dilihat orang banyak.mendingan kita pulang saja sekarang,"timpalku dengan suara lirih berusaha menenangkan nya.
Sarah lalu melirik ke arah sindy dengan tatapan penuh dendam.begitu juga dengan sindy melirik tajam ke arah Sarah.
Karena tak ingin terjadi sesuatu,aku segera pamit pulang kepada Renata dan orangtuanya lalu memberikan dua buah kado spesial untuk kedua anak kembarku.
*****