Kenan termenung duduk di sofa. Masih terngiang di telinganya semua ucapan Kinanti semalam. Pikirannya sangat kacau hingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, meski mata terpejam, tetapi tak lena. "Kinanti, sesakit itukah hatimu hingga begitu membenciku. Dulu kau selalu mencintai sepenuh hatimu. Namun, sekarang semua rasa itu sudah hilang darimu. Bodoh, harusnya aku memahami-mu kala itu sehingga kita tidak mengalami rasa sakit itu sekarang," monolog Kenan sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit. Kenan hendak berdiri, tetapi baru saja ia bangkit sudah tumbang dan tidak sadarkan diri. Pras menerobos masuk ke dalam ruangan Kenan setelah ketukan pintu tidak ada jawaban dari si empunya. "Tu--Tuan Kenan! pekik Pras sambil setengah berlari mendekati Kenan. "Tuan, apa yang terjadi dengan An

